
Beberapa motor berada di depan rumah saat Elena kembali dari berbelanja. Elena mengernyitkan dahi, firasat mengatakan jika geng motor pasti kembali lagi ke rumahnya. Khawatir terjadi sesuatu di dalam rumah membuat Elena melangkah dengan cepat. Semoga tidak ada satu pun perabotan yang rusak karena semua yang ada di dalam adalah miliki si pemilik rumah yang tak boleh dia rusakkan dan dia harus menggantinya jika ada yang sampai rusak.
"Kakak ipar!" lagi-lagi dia disambut oleh beberapa pemuda yang sedang mengangkat barang.
"Kakak ipar telah kembali!" teriak yang lainnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Elena.
"Membantu bos membersihkan kamar!"
"Kakak ipar, aku bantu bawa," gadis bernama Mariana yang mengantarnya waktu itu bergegas menghampiri lalu mengambil barang-barang yang dia bawa.
"Seharusnya kalian biarkan saja Jansen bersihkan sendiri kamar itu," ucap Elena.
"Tidak apa-apa, kakak ipar. Kami memang harus saling membantu!"
"Lain kali tidak boleh!" ucap Elena. Dia ingin Jansen mengerjakan semua itu sendirian agar Jansen tahu jika ingin hidup mandiri itu tidaklah mudah dan dia tidak bisa mengandalkan orang lain sesuka hatinya lagi.
"Baik kakak ipar, kami akan mendengarkan perkataan kakak ipar!" jawab anak buah Jansen yang masih mengangkat barang.
"Namaku Elena, panggil aku Elena jangan memanggil aku kakak ipar lagi!" pinta Elena karena dia tidak mau dipanggil kakak ipar oleh anak buah Jansen.
"Kami suka memanggilmu kakak ipar!" mendengar jawaban itu membuat Elena memijit pelipis. Sudahlah, terserah mereka saja.
"Kakak ipar, apa kau ingin memasak?" tanya Mariana yang sudah menyimpan bahan makanan.
"Apa kalian belum makan?" Elena memandangi anak buah Jansen satu persatu dan tidak ada yang menjawab. Elena jadi iba, jangan katakan mereka belum makan.
"Ayo kita buat makanan!" ajak Elena.
"Aku akan membantu kakak ipar!" Mariana terlihat senang dan sudah berjalan kembali menuju dapur. Elena menghampiri kamar yang akan ditempati oleh Jansen untuk melihat sudah sejauh mana kamar itu dibersihkan. Jansen dan beberapa pemuda lain sedang menggeser beberapa barang. Ada yang menyapu, ada pula yang mengelap jendela. Semua itu adalah pekerjaan pertama mereka dalam bersih-bersih. Selama tidak membuat kekacauan maka tidak akan dia cegah.
"Hati-Hati dengan jendelanya. Jangan sampai pecah sehingga aku diusir oleh kakak iparmu!" teriak Jansen pada anak buahnya yang sedang mengelap kaca jendela.
"Sembarangan. Jangan berbicara seolah-olah aku ini istrimu!" ucap Elena tidak terima.
"Selamat datang, kakak ipar!" lagi-lagi dia disambut seperti itu oleh anak buah Jansen yang ada di dalam kamar.
"See, mereka memanggilmu seperti itu dan aku hanya mengikuti aturan mainnya saja!" ucap Jansen.
"Menyebalkan. Aku sama sekali tidak tertarik menjadi kakak ipar kalian!" Elena melangkah pergi sambil menggeleng. Sebaiknya dia memasak saja tapi dia jadi harus membuat makanan untuk mereka semua karena dia tidak tega. Entah mereka dari keluarga berada atau tidak, dia benar-benar tidak tega.
"Apa yang akan kita buat, kakak ipar?" tanya Mariana yang sudah menunggu.
"Kalian ada berapa orang?" tanya Elena.
"Sembilan dan jadi sebelas dengan bos dan kakak ipar!"
"Baiklah, kita buat spageti saja. Lebih mudah dan tidak perlu menghabiskan banyak tenaga."
"Baik, kakak ipar!" jawab Marian tapi gadis itu diam saja karena dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak pernah membuat makanan sebelumnya?" tanya Elena yang curiga jika Mariana juga bukan dari keluarga biasa.
"Maaf kakak ipar, aku tidak pernah membuat spageti," Mariana tersenyum dan terlihat tidak enak hati.
"Baiklah, tidak apa-apa. Tolong rebus airnya menggunakan panci itu!" pinta Elena sambil menunjuk ke arah panci.
Elena mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Beruntungnya dia membeli beberapa bungkus spageti untuk persediaan dan sekarang, dia bisa memberi mereka semua makan meski hanya spageti saja. Mariana mengikuti instruksi yang diberikan oleh Elena, gadis yang tak pernah masuk dapur itu tak menduga jika memasak ternyata cukup menyenangkan.
"Kenapa kau bisa bergabung dalam geng motor Jansen?" tanya Elena. dia ingin tahu kenapa gadis secantik Mariana bisa bergabung dalam geng motor.
"Aku diterima oleh bos dan yang lainnya jadi aku bergabung. Yang pasti mereka sangat baik padaku dan tidak ada yang melecehkan aku."
"Kau dilecehkan?" Elena sedikit terkejut dan melihat ke arah Mariana.
"Ti-Tidak!" Mariana berpaling dan pura-pura mengaduk air yang sedang dia rebus.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Mariana? Katakan, mungkin aku bisa membantumu."
"Tidak ada apa-apa, Kakak ipar. Jangan dianggap serius perkataanku. Aku sangat senang dapat bergabung dengan Black Circle karena mereka baik padaku dan aku merasa mereka semua seperti keluargaku!"
Elena semakin penasaran, dia ingin kembali bertanya tapi suara kaca pecah justru mengejutkan dirinya. Tidak saja satu kali, suara kaca pecah kembali terdengar.
"Guys!" Elena berteriak, pasti para pemuda yang ada di dalam kamar membuat kekacauan.
"Maaf. kakak ipar. Tidak sengaja!" terdengar teriakan anak buah Jansen yang tanpa sengaja memecahkan kaca jendela menggunakan gagang pel.
"Sekali lagi aku mendengar suara kaca pecah maka motor kalian akan aku jual!" teriak Elena mengancam.
"Tidak akan lagi, kakak ipar. Semua aman!" teriak anak buah Jansen.
"Hei, jangan ulangi. Aku benar-benar bisa terusir keluar gara-gara kalian!" ancam Jansen.
"Sorry, bos. Kami perbaiki," jawab anak buahnya.
"Menggunakan apa?"
"Perekat!" jawab anak buahnya serempak.
Elena memasang telinganya baik-baik, sudah tidak ada lagi suara kaca pecah. Sepertinya semuanya aman karena jika ada lagi yang pecah, dia akan memperhitungkan semuanya bahkan Jansen harus mengganti yang sudah rusak itu.
Suara heboh kembali terdengar di luar karena para pemuda itu sedang membersihkan lantai. Tawa dan candaan mereka terdengar, entah apa yang mereka lakukan tentunya membuat Elena penasaran karena suara gelak tawa mereka terdengar nyaring di dalam kamar.
"Jangan melakukan apa pun selain mencuci tomat itu, tunggu aku kembali!" perintah Elena pada Mariana.
"Baik kakak ipar," Mariana.
Elena melangkah menuju kamar di mana suara para pemuda terdengar begitu seru. Pintu kamar sedang dalam keadaan tertutup, Elena pun semakin penasaran. Oleh sebab itulah, Elena membuka pintu kamar dan terkejut melihat apa yang Jansen lakukan dengan para anak buahnya.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Elena marah. Bagaimana dia tidak marah, para pemuda itu justru bercanda dengan merosot secara bergiliran ke atas lantai yang licin karena sudah dituangkan dengan sabun yang begitu banyak. Busa ke mana-mana, lantai yang berair dan licin serta botol pembersih lantai yang sudah kosong berada di atas lantai dan hal itu semakin membuat Elena murka.
"Oh, tidak!" para pemuda itu buru-buru berhenti bercanda lalu berdiri sambil menunduk.
"Siapa yang memulai?" tanya Elena kesal.
Semua saling menunjuk, tidak ada yang mau di salahkan. Elena mengepalkan kedua tangan, niat ingin mendidik satu berandalan tapi dia justru mendapatkan bonus yang tidak masuk akal karena dia yakin dia akan terlibat dengan para berandalan itu padahal dia belum selesai dengan ketuanya.
"Bersihkan dalam waktu setengah jam jika tidak, semua motor kalian akan kau jual untuk ganti rugi!" ucap Elena.
"Jangan, kakak ipar. Segera kami bersihkan!"
Elena melotot ke arah Jansen yang angkat bahu karena bukan dia yang memulai. Elena mendengus dan melangkah pergi. Ini baru hari pertama tapi mereka sudah membuatnya sakit kepala. Entah seperti apa hari berikutnya, dia benar-benar harus menyiapkan banyak obat sakit kepala.