
Lantai kamar yang mendadak menjadi tempat bermain perosotan oleh para anak muda yang tidak memiliki pekerjaan itu tentu sudah mereka bersihkan karena mereka takut Elena memarahi mereka jika mereka tidak segera membersihkannya. Jansen pun tidak mau mengambil risiko, jika dia ditendang keluar maka dia akan menjadi gelandangan karena tidak ada lagi tempat untuknya bernaung.
Jangan sampai dia kembali ke rumah ayahnya dalam waktu singkat bahkan belum dua belas jam dia terusir keluar. Jika sampai hal itu terjadi, Richard dan ibunya sudah pasti menjadi orang pertama yang akan menertawakan dirinya di susul dengan ayahnya yang akan mencibir dan menghina dirinya karena dia akan dicap tidak mampu hidup tanpa bantuannya.
Elena pun sudah kembali ke dapur untuk membuat makanan. Dia harap tidak ada lagi yang membuat kekacauan tapi entah kenapa dia tidak tega dengan mereka karena dia tahu mereka memiliki masalah masing-masing dan yang membuatnya penasaran saat ini adalah Mariana karena perkataan yang tak sengaja disebutkan oleh gadisĀ itu.
Elena jadi memikirkannya, apa benar gadis itu mengalami pelecehan seperti yang dia katakan? Dia yakin Mariana tidak mungkin asal bicara dan dia sangat ingin tahu karena dia ingin membantu. Anggap saja dia sudah gila, tapi entah kenapa hati kecilnya berkata jika dia harus membantu mereka meski mereka tidak ada hubungannya sama sekali tapi dia tidak suka melihat ketidakadilan berada di depan mata. Mungkin dia lahir dari keluarga yang penuh kasih sayang dan serba berkecukupan oleh sebab itu, dia tidak tahan melihat mereka yang sengat membutuhkan bantuan. Selagi dia mampu, tidak ada salahnya.
Mariana yang sudah selesai mencuci tomat tersenyum ketika mendapati Elena telah kembali sambil menggerutu. Beruntungnya gadis itu tidak membuat kekacauan yang bisa membuatnya sakit kepala. Para pemuda itu sudah cukup, jangan pula yang lainnya terlibat.
"Apa mereka selalu seperti itu?" tanya Elena pada Mariana.
"Yeah, mereka memang selalu melakukan apa yang mereka mau tapi mereka semua sangat baik."
"Apa yang kalian lakukan selain melakukan balapan liar?" mendadak dia jadi seperti wartawan yang ingin banyak tahu akan kehidupan pada pemuda yang bermasalah itu.
"Apa kakak ipar mau ikut dengan kami? Kakak ipar pasti akan merasa sangat senang karena bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan!"
Elena belum menjawab, dia justru berpikir. Sepertinya dia harus melakukannya jika dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kelompok anak nakal itu. Meski dia sudah tahu permasalahan Jansen walau sedikit tapi dia pun ingin tahu apa yang dialami oleh para pemuda itu terutama apa yang dialami oleh Mariana.
"Bagaimana kakak ipar, kami akan melakukan balapan lagi besok malam dan kakak ipar bisa ikut jika kakak ipar mau."
"Baiklah, aku harus mencoba hal menyenangkan yang kalian lakukan!" tidak akan ada yang mengenali dirinya jika dia menggunakan helm. Jika memang Mariana mengalami pelecehan maka dia harus membantunya karena dia tidak bisa diam saja.
Jansen dan anak buahnya sudah hampir selesai ketika aroma makanan tercium. Mendadak perut mereka berbunyi karena lapar. Mereka saling pandang lalu mengeluarkan uang dari saku mereka. Hanya ada beberapa puluh dolar saja dan uang itu akan mereka gunakan untuk membeli bensin.
Karena aroma makanan yang cukup menggoda, mereka pergi ke dapur lalu bersembunyi di balik dinding. Aroma yang tercium benar-benar membuat perut lapar bahkan air liur pun mulai menetes. Elena yang sedang menuang saus ke atas spageti terkejut ketika melihat para pemuda itu menatapnya dengan tatapan memohon dan ekspresi memelas. Tiba-Tiba dia seperti diteror oleh anak-anak yang sedang lapar dengan piring kosong yang diketuk menggunakan sendok lalu mereka akan berkata, 'lapar' secara berulang-ulang.
"Hay, kakak ipar," sapa mereka semua.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Elena pada mereka.
"Kami hanya lapar saja, kakak ipar. Aroma makanan yang sudah membawa kami ke sini."
Elena menggeleng, lagi-lagi perasaan tidak teganya muncul. Para pemuda itu benar-benar seperti kehilangan pawang dan tersesat. Sepertinya kedatangannya ke London tidak saja untuk bekerja tapi kedatangannya pun untuk membimbing para anak nakal itu.
"Hei, ini tidak gratis!" ucap Mariana.
"Dengan kakak ipar pasti gratis!"
"Sembarangan. Kakak ipar bilang dua puluh dolar untuk satu porsi," ucap Mariana bercanda.
"Jangan perhitungan, Mariana. Kakak ipar pasti tidak menginginkan uang kita!"
"Berhenti berdebat, apa kalian sudah selesai?" tanya Elena.
"Jika begitu segera cuci tangan dan makan!" ucap Elena.
"Wuah, kakak ipar memang terbaik!" mereka berbondong-bondong mendekat untuk mencuci tangan mereka karena mereka memang sedang lapar.
"Mana Jansen, apa dia belum selesai?" tanya Elena karena Jansen tidak terlihat.
"Sebentar lagi bos pasti akan datang kakak ipar jadi abaikan saja," jawab salah satu pemuda yang sudah mengambil piring karena tidak sabar.
"Hei, para pengkhianat!" teriakan Jansen terdengar karena mereka belum selesai dan dia sudah ditinggalkan.
"Lapar bos, makan dulu!" jawab salah salah satu anak buahnya.
"Awas kalian nanti!" teriak Jansen.
Elena menggeleng, para pemuda itu tidak sabar untuk mendapatkan makanan. Mariana yang mengambilkan untuk mereka sedangkan Elena keluar dari dapur karena dia ingin melihat apa yang sedang Jansen lakukan dan dia pun ingin memanggil Jansen untuk makan terlebih dahulu.
"Hei!" Elena sudah berdiri dan bersandar di pintu sambil bersedekap dada. Jansen melihat ke arah Elena sejenak dan setelah itu dia kembali membereskan barang-barang yang mereka pindahkan tadi.
"Aku belum selesai!" ucapnya.
"Tinggalkan saja dulu, pergilah makan dengan mereka."
"Kau membuatkan makanan untuk mereka?"
"Yeah, tinggalkan saja terlebih dahulu dan makan!"
"Terima kasih, Elena. Tidak saja aku, tapi mereka pun menyusahkan dirimu. Aku benar-benar berterima kasih padamu!"
"Tidak perlu berterima kasih, lain kali kalian harus membayarnya karena kebaikanku tidaklah gratis!" ucap Elena yang sereya melangkah pergi.
Jansen mengikuti, perkataan Elena memang terdengar sedikit pedas tapi dia tahu Elena adalah wanita baik yang mau membantu mereka. Hari pertama sudah merepotkan Elena dan dia tahu hari-hari berikutnya pasti akan lebih merepotkan lagi tapi dia tidak akan mengecewakan Elena karena ini adalah awal untuknya untuk membuktikan diri jika dia bukan pemuda yang tidak berguna seperti yang orang-orang kira.
"Bos, kakak ipar, cepat makan sebelum habis!" panggil anak buahnya yang sedang makan.
"Kalian tidak sopan mendahului Tuan Rumah!" ucap Jansen.
"Maaf, kakak ipar."
"Sudahlah, makan saja sebelum dingin!" Elena duduk di samping Mariana yang segera mengambilkan makanan untuknya. Meski hanya makan spageti tapi mereka semua terlihat senang apalagi para pemuda itu yang tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu dan makan bersama dengan keluarga mereka tapi hari ini, mereka justru seperti keluarga karena mereka tampak bersenang-senang.
Elena jadi tahu kenapa mereka bisa berkumpul dan dia menebak kebersamaan yang mereka lalui selama bersama pasti lebih menyenangkan dari pada kebersamaan mereka dengan keluarga mereka yang sesungguhnya karena mereka memang tidak dianggap di dalam keluarga mereka.