
Ayah tiri Mariana dan para rekannya mulai panik karena yang menyergap masuk adalah para polisi. Karena yang diinginkan adalah bukti untuk menyeret ayah tiri Mariana ke dalam penjara jadi Elena sudah membuat siasat terlebih dahulu sebelum dia dan Jansen menghentikan Mariana untuk dibawa pergi. Mereka memang sengaja untuk mengulur waktu sampai polisi datang. Elena pun bekerja sama dengan sang pengacara oleh sebab itu dia pura-pura kalah di waktu yang tepat karena pengacara yang dia percaya memberikan informasi jika dia dan para polisi sudah berada di luar.
Itu pula yang membuat Elena tidak menarik pistolnya karena dia akan terlibat jika dia melukai salah satu dari mereka menggunakan senjata api. Dia akan diinterogasi karena senjata api oleh sebab itulah dia memilih bermain aman. Rencananya berjalan dengan sangat lancar, para polisi masuk ke dalam untuk membekuk ayah tiri Mariana berserta rekannya.
Mereka yang pura-pura tidak berdaya pun segera dibantu. Tidak ada yang curiga sama sekali jika Elena dan Jansen telah membuat keributan bahkan mereka dikira dikeroyok oleh para berandalan itu. Mariana pun sudah terbebas, dia segera berlari ke arah Jansen dan Elena.
"KakakĀ ipar!" Mariana melompat ke arah Elena dan memeluknya.
"Kau sudah tidak perlu khawatir lagi sekarang!" ucap Elena.
"Kau mengejutkan aku, Kakak ipar. Aku kira kau benar-benar kalah," ucap Mariana. Dia mengira Elena dan Jansen benar-benar kalah tapi ternyata mereka memiliki rencana.
"Yang kita inginkan hanya bukti, dengan begini tidak perlu lagi bersusah payah berdebat di pengadilan karena bukti sudah jelas dan pria tua itu tidak akan bisa mengelak lagi!"
"Terima kasih, aku tidak menyangka kakak ipar sudah merencanakan hal ini sebelumnya," dia sangat bersyukur dapat bertemu dengan Elena. Tidak dia saja, dia yakin beberapa anggota Black Circle juga bersyukur bertemu dengan Elena namun sebentar lagi mereka akan berpisah.
"Awas kau, Mariana. Kau begitu berani pada ayahmu ini?" teriak ayah tirinya yang belum dibawa keluar.
"Kau bukan ayahku!" teriak Mariana. Mariana melangkah mendekati pria tua yang menghancurkan kehidupannya dan ibunya. Kali ini dia akan pastikan pria itu mendekam di penjara jika bisa untuk seumur hidupnya.
"Kau mau menyangkal seperti apa pun, ibumu sudah menikah denganku jadi aku adalah ayahmu!"
"Sekalipun kau sudah menikah dengan ibuku tapi kau bukanlah ayah kandungku. Jangan bermimpi begitu tinggi karena hari ini aku akan melemparmu ke dalam penjara beserta dengan kedua putramu yang pecundang itu!" ucap Mariana.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Mariana. Setelah kami keluar nanti, aku akan mengajak kedua putraku untuk mencarimu lalu kami akan membunuhmu. Tunggu saja, waktu itu akan datang dan kami akan meneror hidupmu agar kau tidak bisa hidup dengan tenang!"
Mariana ketakutan mendengar teror yang diberikan oleh ayah tirinya. Itu bukan teror biasa dan dia tahu teror itu pasti akan terlaksana. Maria melangkah mundur dengan kaki gemetar, padahal dia mengira masalah selesai setelah melempar mereka ke dalam penjara tapi dia rasa menjebloskan mereka ke dalam penjara adalah pilihan buruk karena dia justru membuat mereka semakin marah.
"Tunggu sampai waktu itu tiba, Mariana. Kami akan membalasmu dan kau akan kami perkosa sampai mati lalu kami akan membuang mayatmu ke hutan agar di makan binatang buas. Jika kau memiliki keluarga nantinya, kami juga tidak akan melepaskannya!" ancaman itu terdengar begitu mengerikan dan ancaman itu membuat Mariana jatuh terduduk.
"Tutup mulut busukmu itu!" Elena yang sedari tadi mendengar ancaman itu memukul wajah ayah tiri Mariana tanpa ragu.
"Kurang ajar, siapa kau begitu berani memukul aku?" teriaknya.
"Aku yang akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu dan kedua putramu yang pecundang itu karena aku yang menjebloskan mereka ke dalam penjara, bukan Mariana dan semua polisi itu, aku yang memanggilnya. Aku pula yang merencanakan semuanya jadi setelah kalian bebas nanti itu pun jika bisa, maka carilah aku. Aku menunggu dan menantangmu!" ucap Elena.
"Ka-kakak ipar, jangan!" pinta Mariana, dia masih gemetar karena takut karena dia tidak mau Elena jadi target yang diincar oleh tiga pria gila yang telah menghancurkan hidupnya.
"A-Aku?" Mariana mencengkeram kedua tangan, sejak dulu dia memang takut sebab itulah dia tidak bisa melawan ayah tiri dan kedua putranya yang baji*ngan itu tapi sekarang, dia harus bisa melawan mereka apalagi Elena sudah membatunya sejauh ini. Dia tidak boleh menyia-nyiakannya.
"A-Aku tidak takut, aku tidak akan takut!" Mariana beranjak dan berdiri dengan tegak meski kedua kakinya masih gemetar.
"Bagus, kau memang tidak boleh takut apalagi yang dia ucapkan hanyalah gertakan biasa. Mulai sekarang angkat dagumu lebih tinggi, mereka hanya sampah yang tak pantas ditakuti!"
Mariana menunduk, sesungguhnya dia takut tapi dia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya agar Elena tidak kecewa padanya. Ayah tirinya kembali berteriak mengancam tapi dia berusaha untuk tidak takut sama sekali.
"Bawa dia, semua ucapan yang baru dia lontarkan jadikan bukti sebagai sebuah kejahatan yang sudah terencana sehingga hukumannya lebih berat lagi jika bisa seumur hidup!" ucap Elena pada sang pengacara yang sedang menunggunya sedari tadi.
"Baik, Nona. Aku tidak akan mengecewakan anda," sang pengacara meminta polisi yang sudah membekuk ayah tiri Mariana untuk membawa pria tua itu keluar.
Mariana kembali jatuh terduduk, dia benar-benar takut. Jika tidak ada Elena di sana maka dia akan ketakutan setengah mati bahkan dia rasa dia pasti sudah dijual oleh ayah tirinya.
"Terima kasih, kakak ipar. Semua berkat dirimu jika tidak aku tidak akan berada di sini dan seberani ini!" ucap Mariana.
"Sudahlah, mulai sekarang jangan takut dengan apa pun. Sebagai seorang wanita kita harus memiliki kemampuan agar tidak ada yang meremehkan dan menindas kita. Cam itu dan belajarlah lebih giat lagi. Masa depanmu masih panjang, jika kau takut dengan banyak hal maka kau tidak akan bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan!"
"Terima kasih," Mariana beranjak lalu mendekati Elena kembali dan memeluknya, "Aku sangat berterima kasih pada kakak ipar yang sudah membantu aku. Suatu saat nanti, aku akan membalas kebaikan kakak ipar," ucapnya.
"Sudahlah, sebaiknya bersihkan rumahmu tapi aku sudah harus pergi karena aku harus pergi ke kampus."
"Tunggu, Elena!" pinta Jansen.
"Ada apa?"
"Aku lihat kau mendapatkan banyak pukulan, apa kau baik-baik saja?" Jansen memeriksa tangan Elena, lalu kakinya dan setelah itu berakhir dia wajahnya.
"Beruntungnya wajahmu tidak mendapatkan pukulan tapi tanganmu begitu banyak memar, harus dikompres," ucapnya seraya mengusap wajah Elena.
"Mau melakukannya untukku?" tanya Elena.
"Dengan senang hati, Nona. Ayo kita pulang!" Jansen meraih tangan Elena lalu mengajaknya pergi. Mariana pun ingin pergi, dia akan kembali lagi nanti.
Mereka bertiga keluar dari rumah Mariana yang berantakan dan memilih pergi. Akibat perkelahian itu, tidak ada satu pun dari mereka yang sadar jika ada yang melihat kejadian itu dan memvideokan perkelahian Jansen dan Elena saat menyerang ayah tiri Mariana bersama dengan rekannya dan orang itu adalah tetangga Mariana.