
Karena pada minta Extra jadi tak kasih deh biar pada gak kecewa. Ntar Autor dilempar ke kandang buaya kan gawat. wkwkwkwk....
Acara pernikahan sudah selesai. Elena dan Jansen menginap di hotel untuk menikmati malam pernikahan mereka. Setelah ini tentu saja Elena harus berpamitan pada keluarganya karena dia harus mengikuti Jansen. Dia tahu pasti ayahnya yang paling tidak rela melepaskan dirinya tapi dia harus mengikuti ke mana pun Jansen berada.
Acara yang melelahkan serta malam pertama yang juga melelahkan. Elena bahkan belum bangun padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Jansen sudah bangun sedari tadi, dia bahkan sibuk berbicara dengan seseorang mengenai bisnisnya yang tak bisa dia tinggal lama. Oleh sebab itu dia akan langsung mengajak Elena kembali ke London karena dia sudah berada di Colorado cukup lama.
"Baik, aku sudah akan kembali dan besok kita bisa membahasnya lebih lanjut!" ucap Jansen. Elena yang baru bangun mendengar perkataan Jansen, selimut ditarik untuk menutupi tubuhnya yang telanjang tapi dia masih mendengar percakapan Jansen sampai selesai.
"Apa kita akan langsung pulang?" tanya Elena. Dia tidak menyangka begitu cepat padahal dia mengira mereka akan berada di sana beberapa hari lagi.
"Maaf Elena, aku tidak bisa meninggalkan bisnisku terlalu lama," Jansen menghampiri Elena lalu naik ke atas ranjang, "Bagaimana dengan keadaanmu?" tanyanya seraya memberikan kecupan di dahi Elena.
"Aku tidak apa-apa. Jadi kita akan pulang hari ini?"
"Yeah, kau tidak keberatan, bukan? Tidak ada yang mengurusi bisnisku, jadi kita sudah harus kembali."
"Kenapa kau tidak meminta Richard saja yang membantumu?"
"Apa maksudmu?"
"Walau Richard seperti itu, tapi dia bertanggung jawab. Kau bisa melihat jika dia menjaga ayahmu dengan baik. Sudah saatnya kau membantunya. Tidak perlu mengingat yang sudah terjadi, lebih baik memulai dari awal dan membina hubungan baru yang lebih baik."
"Baiklah, aku akan mendengarkan perkataan istriku," tangan Jansen sudah masuk ke dalam selimut dan menyentuh sesuatu di dalam sana.
"Hei, mau apa?" Elena sudah menatapnya dengan tatapan galak.
"Sekali lagi sebelum kita pergi."
"Apa? Singkirkan tanganmu!" teriak Elena tapi Jansen membuang selimut yang menutupi tubuhnya dan yeah, use your imagination.
Mereka kembali menikmati waktu mereka meski Jansen harus mendapatkan pukulan beberapa kali karena dia sengaja menggoda Elena. Menikahi wanita yang galak memang berbeda. Tidak manja tapi perhatian. Elena kembali memukul karena yang manja justru Jansen. Setelah bercinta Jansen justru memeluknya dengan erat dan tak mau melepaskannya.
"Aku mau mandi, Jansen!" Elena berusaha mendorong Jansen yang sudah seperti anak bayi saja.
"Sebentar saja, nanti kita mandi bersama."
"Tidak mau, mandi bersamamu itu akan menjadi berbeda. Bukankah kau berkata kita akan kembali ke London? Kita harus pamit pada keluargaku terlebih dahulu," entah ayahnya mengijinkan atau tidak karena keputusan untuk kembali sangat mendadak.
"Sebentar saja, oke?"
"Jangan memeluk aku begitu kencang!" Elena kembali memukul bahu Jansen.
"Ck, aku akan memelukmu lebih lama!" Jansen justru memeluknya semakin kencang dan sengaja membuat Elena marah.
"Jansen, astaga!" Elena kewalahan karena suaminya yang manja. Jansen juga senang mengganggu Elena, baginya Elena yang sedang marah justru menggemaskan. Keinginan Elena untuk mandi terlaksana beberapa saat. kepalan tinju kembali ditunjukkan pada Jansen agar suaminya itu tidak mengganggunya yang sedang memakai baju.
Mereka pergi dari hotel saat waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Elena pulang ke rumah dan mengatakan pada ayah dan ibunya jika dia akan pulang ke London bersama dengan Jansen hari itu juga. Ekspresi yang ditunjukkan oleh ayahnya sudah pasti terlihat sedih karena keputusan Elena benar-benar mendadak. Jujur saja dia belum rela melepaskan putri kesayangannya. Rasanya sangat berbeda dan tidak sama etika melepaskan putrinya pergi bekerja.
"Kenapa begitu cepat, Elena?" tanya ibunya. Dia juga terlihat tidak rela.
"Jansen berkata dia harus segera kembali karena bisnisnya tidak bisa ditinggal lama," jawab Elena.
"Maaf jika mendadak," ucap Jansen. Dia jadi tidak enak hati dengan ayah dan ibu mertuanya.
"Tapi ini sangat mendadak, apa tidak bisa besok atau dua hari lagi?" tanya Amanda.
"Mom, Jansen sudah berada di sini cukup lama. Tidak ada yang membantunya, jika kami harus segera kembali jika tidak, bagaimana dengan bisnisnya?"
"Kau begitu cepat dewasa dan sudah mau meninggalkan Daddy."
"Dad, aku hanya mengikuti suamiku saja. Anggap seperti aku sedang pergi bekerja."
Edward tidak mengatakan apa pun, dia justru beranjak dan melangkah pergi. Elena dan ibunya saling pandang, mau tidak mau Elena mengejar ayahnya yang sudah masuk ke dalam sebuah ruangan di susul oleh ibunya.
"Dad, kau menangis?" tanya Elena.
"Tidak, untuk apa aku menangis?"
"Aku tahu Daddy menyayangi aku tapi aku sudah menikah dan aku sudah harus mengikuti suamiku pergi."
"Daddy tahu, tapi Daddy belum rela melepaskan dirimu!"
"Akhir-akhir ini Daddy jadi cerewet!" ucap Elena.
"Daddy hanya tidak rela kau dibawa pergi begitu cepat!" ucap ayahnya.
"Aku tahu!" Elena mendekati ayahnya dan memeluknya, "Bagiku Daddy adalah segalanya. Meski aku sudah menikah tapi pria yang paling aku sayangi adalah Daddy," ucapnya lagi.
"Daddy juga sangat menyayangimu!" Edward memeluk putrinya.
"Jadi, sudah bisa melepaskan aku untuk pulang bersama dengan Jansen, bukan?"
"Jika suamimu membuatmu menangis, katakan pada Daddy. Daddy akan langsung pergi ke sana dan mematahkan lehernya!"
"Dad, Jansen tidak akan melakukan hal itu. Meski dia mantan berandalan tapi aku yakin dia tidak akan memperlakukan aku seperti itu!"
"Baiklah, Daddy percaya."
"Terima kasih, Dad!" Elena memeluk ayahnya semakin erat. Amanda yang sudah berada di ruangan itu pun tersenyum. Dia tahu suaminya tidak rela melepaskan Elena dan dia pun merasa berat tapi sekarang, putri mereka sudah memiliki kehidupan dan mereka tidak boleh mencegah.
Setelah mendapatkan ijin, Elena dan Jansen berpamitan. Edward masih saja terlihat tidak rela. Amanda memeluk putrinya dan menangis. Semua mengantar kepergian Elena yang akan tinggal di London mulai sekarang. Mereka memang memiliki kehidupan yang berbeda tapi mereka tetaplah keluarga.
"Jaga dirimu baik-baik dan jadilah istri yang baik untuk suamimu," ucap ibunya.
"Tentu saja, Mom. Aku tidak akan mengecewakan."
"Setelah tiba hubungi Mommy, oke?"
"Pasti!" jawab Elena. Setelah memeluk ibunya, Elena pun berpamitan dengan yang lainnya. Edward memeluk putrinya cukup lama, dia enggan melepaskan. Jansen pun mendapatkan banyak nasehat dari keluarga Elena. Leo bahkan mengantar kepergian mereka berdua karena dia tinggal bersama dengan kedua orangtua angkatnya sekarang.
"Jaga dirimu baik-baik., Elena!" ucap ibunya saat Elena sudah berada di mobil.
"Bye, guys!" Elena melambai pada keluarganya, perasaan sedih pun dia rasakan tapi yang paling sedih adalah ayahnya. Edward melangkah pergi, tidak mau melihat kepergian putrinya. Edward masuk ke dalam kamar untuk menyendiri tapi ketika ibunya masuk ke dalam, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Samantha menghibur putranya karena dia tahu Edward membutuhkan itu.