My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Jangan Sampai Lepas



Para anggota Black Circle sudah berkumpul di rumah Mariana untuk membantu Mariana membersihkan rumahnya yang berantakan. Botol-Botol minuman berserakan di mana-mana, pakaian kotor milik ayah tiri dan dan kedua kakak tiri Mariana pun berserakan.


Selama Mariana tidak pulang, tidak ada yang membereskan rumah itu yang selalu digunakan untuk mabuk-mabukan dan pesta yang lainnya. Bau tak sedap akibat sampah yang tak pernah dibuang serta sisa makanan yang sudah membusuk memenuhi setiap ruangan. Rumah itu benar-benar harus dibersihkan dengan benar agar bisa ditempati lagi oleh Mariana.


"Aku benar-benar tidak tahan dengan baunya!" beberapa sahabat Mariana yang membersihkan dapur berlari keluar karena mereka tidak tahan. Mereka bahkan berebut untuk masuk ke kamar mandi namun bau di kamar mandi lebih busuk dari pada bau di dapur oleh sebab itu mereka tidak bisa menahan diri sama sekali.


"Sialan para baj*ngan itu. Rumah ini seperti tempat pembuangan kotoran hanya karena aku tinggal beberapa hari saja!" ucap Mariana. Dia benar-benar kesal karena rumahnya sudah seperti tempat sampah.


"Hei, jangan mengeluh. Kita tidak akan selesai jika kalian terlalu banyak mengeluh!" ucap Elena.


"Tapi baunya benar-benar membuat aku tidak tahan, kakak ipar!" Ucap Rai dan yang lainnya.


"Jangan mengeluh, cepat selesaikan. Setelah selesai kalian mau makan apa, katakan karena aku yang akan traktir," ucap Elena.


"Benarkah? Apa kakak ipar serius?"


"Yes, katakan saja. Apa yang kalian inginkan, aku akan membelikannya."


"Hei, aku ingin kepiting Alaska!" teriak salah seorang dari mereka.


"Aku ingin steak wagyu!" teriak yang lain.


"Hei kalian, orang kaya tapi miskin. Apa kalian tidak pernah makan makanan itu!"


"Jangan malu, kau juga belum pernah memakannya!"


"Ya sudah, aku juga mau steak wagyu!"


"Yee... orang kaya tapi miskin!" pada akhirnya disoraki. Entah yang mana karena anggota geng banyak.


"Hei, jangan memeras karena kakak ipar berbaik hati. Makan pizza saja, jangan membuat bangkrut!" ucap Mariana.


"Ck, dasar penghancur suasana di saat perut sedang lapar!" ucap para sahabatnya.


Mariana terkekeh, mereka selalu cepat jika menyangkut makanan. Itu wajar, mereka adalah anak-anak broken home yang makan seadanya karena tidak dipedulikan.


"Kalian semua, tidak kelaparan, bukan?" tanya Elena. Selama ini dia tidak memperhatikan yang lainnya.


"Tidak, kami hanya jarang makan," jawab mereka bercanda.


"Baiklah, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian tapi mari kita bercerita sambil membersihkan rumah Mariana dan aku ingin kau dulu yang bercerita!" Elena menunjuk salah seorang dari mereka. Sambil menunggu Jansen yang belum datang, mereka bisa berbincang agar pekerjaan itu tidak terlalu melelahkan.


Mereka mulai menceritakan masalah masing-masing pada Elena. Sungguh membutuhkan banyak waktu untuk mengubah mereka tapi dia yakin, Jansen bisa melakukannya meski butuh waktu yang banyak walau begitu, Elena memberikan mereka nasehat karena dia ingin mereka semua berubah. Mereka boleh berada di geng motor tapi dia harap mereka bisa menata hidup mereka jauh lebih baik dari pada saat ini.


Bekerja sambil berbincang benar-benar membuat mereka tidak menyadari jika pekerjaan yang mereka lakukan hampir selesai. Belasan kantung sampah penuh terisi, semuanya tinggal dibawa keluar saja untuk dibuang. Aroma bau busuk sudah tidak tercium, semua sudah bersih dan tentunya semua lelah.


Lantai pun sudah bersih oleh sebab itu, mereka berbaring sambil menunggu Jansen datang membawa makanan. Seperti yang Mariana katakan, mereka membeli pizza karena hanya ada itu saja yang ada karena sudah malam. Elena duduk di dekat jendela seorang diri karenavdia merasa tidak enak badan. Kepalanya mendadak jadi sakit, sepertinya dia terlalu lelah karena banyak masalah yang terjadi beberapa hari belakangan.


Jansen yang mendapatkan banyak pesanan baru tiba. Dia sudah seperti kurir pengantar pizza saja. Kedatangannya disambut oleh para anak buahnya yang lapar, Pizza yang dia bawa menjadi bahan rebutan akibat rasa lapar yang sudah ditahan sedari tadi.


"Kenapa begitu lama, Bos? Kami sudah lapar!"


"Hei, kau tidak lihat aku sudah seperti kurir saja! Makan saja tanpa perlu protes!" Jansen menjatuhkan diri di kursi, akhirnya kursi yang kotor itu bisa diduduki oleh manusia.


"Apa sudah selesai?" tanyanya.


"Bos terlambat, semuanya sudah selesai."


"Mana Elena? Apa dia tidak datang?" Jansen melihat sana sini, untuk mencari keberadaan Elena yang tidak ada.


"Kakak ipar?" Mariana beranjak, setelah melihat kaki Elena. Kaprena lelah mereka jadi tidak melihat Elena duduk di depan jendela. Mariana mendekati Elena, dia tidak tahu jika Elena tertidur karena dia benar-benar lelah.


"Kakak ipar, apa kau tidak mau pizza?" tanya Mariana tapi Elena justru tidur.


"Wah... sstts!" Mariana bergegas meminta para sahabatnya untuk tidak berisik.


"Kenapa?" Jansen justru sudah berdiri.


"Kakak ipar sedang tidur!"


"Oh, yeah?" Jansen melangkah mendekati Elena karena dia tidak percaya.


"Bos, jangan kau cium!" goda anak buahnya.


"Berisik!"


"Kami tidak akan melihat tapi mengintip!" goda yang lain.


"Kurang ajar, tutup mata kalian semua!"


"Wah, bos ada niat!" sorak semua anak buahnya.


"Ck, dasar pengganggu!" Jansen justru curiga dengan keadaan Elena yang tidak biasanya. Jansen hendak menyentuh dahi Elena tapi tiba-tina saja, Elena menahan tangannya dan kedua matanya sudah terbuka.


"Mau apa?"


"Ck, kau benar-benar memiliki kewaspadaan yang tinggi. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Apa kau baik-baik saja?"


"Tidak, antar aku pulang!" Elena beranjak sambil berpegangan. Jangan sampai dia tumbang dan pingsan.


"Kau terlihat tidak sehat, apa kau baik-baik saja?" Jansen ingin menyentuhnya tapi dia tampak ragu.


"Ya, antar aku!" Elena sudah berlalu pergi.


"Kakak ipar, kau baik-baik saja, bukan?" Mariana mendekati Elena yang sedang mengambil tasnya.


"Aku hanya butuh istirahat saja. Kalian semua lanjutkan tapi jangan memaksakan diri, besok masih ada waktu. Pulanglah setelah beristirahat, ingat langsung pulang!" pesannya.


"Baik kakak ipar, hati-hati dengan bos yang bisa menggigit!" mereka masih menggoda Jansen.


"Kalian semua berisik, awas kalian semua!" ancam Jansen.


"Bos, dilarang menyelinap!" teriak mereka semua ketika Jansen mengikuti langkah Elena keluar dari rumah.


"Berisik!" Jansen kembali mengatakan hal yang sama sebelum keluar. Elena sudah menunggu di motor, kepalanya semakin nyeri saja.


"Apa kau bisa? Bagaimana jika naik taksi saja?"


"Tidak apa-apa, aku bisa!"


"Baiklah, pakai jaketku. Udara malam cukup dingin!" Jansen memakaikan jaketnya pada Elena. Elena diam saja, dia malas berdebat atau apa pun dan setelan jaket terpasang, Jansen juga memakaikan helm untuknya. Jarak ke rumah Elena cukup jauh, dia justru khawatir Elena terjatuh karena keadaannya tidak baik.


"Apa kau yakin?" tanya Jansen namun tiba-tiba saja Elena memeluk pinggangnya. Jansen terkejut, apa ini? Dia jadi merasa mendapatkan jackpot.


"Cepat antar aku pulang!" pinta Elena. Dia juga tahu jika dia bisa terjatuh apalagi motor sport cukup tinggi.


"Baiklah, peluk yang erat. Jangan sampai lepas!" Jansen tersenyum, dia benar-benar senang apalagi Elena semakin memeluknya erat. Kapan lagi bisa seperti ini? Dia akan membawa motornya sepelan mungkin agar mereka tidak cepat sampai supaya dia mendapatkan pelukan Elena lebih lama.