My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Belum Layak



Fajar sudah menyingsing ketika mereka selesai menggiring anggota Blood's Rose ke kantor polisi. Mereka memberikan penjelasan sebentar dan setelah itu mereka membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing tapi mereka berjanji akan menjenguk Leo bersama-sama saat siang.


Elena dan Jansen pulang ke rumah karena mereka harus pergi ke kampus tapi mereka juga ingin beristirahat sebentar apalagi luka-luka yang ada di tubuh Jansen harus diobati terlebih dahulu sebelum Jansen pergi ke kampus. Mariana yang tidak ikut karena dia bertugas menangani dua rekannya yang terluka sudah kembali dan menunggu mereka dengan cemas. Dia khawatir dengan keadaan bosnya juga keadaan Leo.


Suara motor yang terdengar tidak jauh membuat Mariana beranjak dari tempat duduk. Mariana keluar dari rumah, dia sangat senang saat Elena dan Jansen kembali. Untuk menyusul Jansen, Elena menggunakan motor milik Mariana. Motor yang dibawa oleh mereka berhenti secara bersamaan, Elena turun terlebih dahulu dan dia terlihat begitu terburu-buru.


"Kakak ipar, bagaimana?" Mariana menghentikan pertanyaannya karena Elena melewatinya begitu saja. Mariana sangat heran, kini tatapan matanya tertuju pada Jansen yang mengangkat bahu karena dia juga tidak mengerti dengan sikap Elena.


"Bos, bagaimana dengan keadaan Leo?"


"Lei berada di rumah sakit!


"Apa dia terluka parah? Apa dia baik-baik saja?" tanya Mariana khawatir.


"Kau bisa mengajak yang lain untuk melihatnya nanti.


"Baiklah, tapi apa kau membuat kakak ipar marah xj ?" tanya Mariana.


"Tidak!"


"Jika tidak kenapa kakak ipar seperti itu?" tanya Mariana curiga.


"Tidak tahu, jangan banyak bertanya karena aku mau istirahat!" ucap Jansen.


"Astaga, Bos. Tubuhmu penuh luka!" pekik Mariana yang baru menyadari keadaan bosnya.


"Aku tahu, sebab itu aku butuh istirahat dan tolong ambilkan kotak obat untukku!" pinta Jansen seraya masuk ke dalam namun Elena yang sudah masuk terlebih dahulu ternyata sudah mempersiapkan obat untuk mengobati luka-lukanya.


"Lepas bajumu!" perintah Elena yang sedang meletakkan beberapa keperluan yang dibutuhkan.


"Apa? Jangan di sini, sebaiknya di kamar saja!" ucap Jansen bercanda tapi dia mendapatkan lirikan tajam dari Elena.


"Aku hanya bercanda!" ucap Jansen. Bercanda saja tidak boleh, sungguh wanita yang berbahaya. Elena kembali melangkah pergi untuk mengambil beberapa obat yang diperlukan.


"Aku tidak akan mengganggu, Bos. Tidak perlu khawatir!" ucap Mariana.


"Berisik! Pergi buat sarapan sana!" ucap Jansen.


"Beres!" ucap Mariana sambil melingkarkan jarinya. Mariana melangkah pergi menuju dapur, sedangkan Elena kembali ke ruang tamu di mana dia meninggalkan semua yang dia butuhkan untuk mengobati luka yang ada di tubuh Jansen.


"Kenapa masih berdiri di sana?" tanya Elena.


"Aku ke rumah sakit saja!" ucap Jansen.


"Tidak, jika ada yang melihatmu ke rumah sakit maka kau memberikan peluang pada ibu dan saudara tirimu. Sudah banyak yang terjadi, jangan terlalu manja untuk luka yang kau dapatkan. Jangan memberikan peluang pada musuhmu yang bisa merugikan dirimu sendiri!" ucap Elena.


"Baiklah!" Jansen menaikkan baju kaos yang dia pakai lalu melepaskannya, "Lagi-Lagi aku berterima kasih padamu, Elena. Tidak saja membantu aku tapi kau juga membantu para sahabatku!" ucapnya lagi.


"Aku selalu diajarkan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan!"


"Tapi kau begitu baik, sungguh!" ucap Jansen.


"Baiklah, segera duduk di sana. Aku akan mengobati lukamu."


"Sesuai perintah, Bu Dosen!" Jansen melangkah menuju sofa lalu duduk di sana. Elena mulai mengobati setiap luka yang ada, ada beberapa bagian yang harus dijahit akibat sabetan pisau yang diberikan oleh anak buah Blood's Rose jadi Jansen harus menahan rasa sakitnya akibat alkohol juga mata jarum.


"Aku selalu diajarkan untuk bisa menempatkan diri di mana pun aku berada dan aku harus siap menghadapi situasi apa pun yang aku hadapi!"


"Jika begitu, apa kau benar-benar seorang intel yang sedang menyamar?" Jansen benar-benar menira Elena adalah Intel.


Elena hanya tersenyum, dia tidak akan mengatakan pada siapa pun meski Jansen sangat ingin tahu. Belum saatnya, biarkan saja mereka menerka-nerka. Lagi pula dia tidak mau menggunakan nama besar keluarganya, sebab itulah dia tidak meminta bantuan pamannya yang ada di London,


"Kenapa tidak menjawab?" Jansen meraih tangan Elena, mereka berdua pun saling menatap. Jansen benar-benar penasaran dengan identitas asli yang sedang disembunyikan oleh Elena.


"Kau belum layak untuk tahu siapa aku!" ucap Elena.


"Belum layak? Apa kau akan mengatakan padaku setelah aku layak?"


"Ya, sebelum hal itu terjadi sebaiknya tidak banyak bertanya!" Elena hendak menarik tangannya namun Jansen menahannya.


"Katakan padaku, Elena. Laki-Laki yang layak bagimu seperti apa? Aku ingin tahu standar lelaki yang layak untukmu seperti apa agar aku bisa menjadi seperti yang kau inginkan!"


Elena diam, apa Jansen serius? Waktu itu dia asal bicara agar Jansen memiliki semangat untuk berubah. Pemuda seperti Jansen harus diberi semangat agar dia terdorong untuk berubah tapi sepertinya Jansen menganggap ucapannya serius.


"Lagi-Lagi kau diam, apa tidak mau mengatakannya padaku?"


"Bukan begitu," Elena berpaling sambil menyelipkan rambutnya ke telinga. Kenapa dia jadi merasa situasi di antara mereka sedikit aneh.


"Jadi?" Jansen masih menunggu jawaban darinya karena dia ingin tahu lelaki seperti apa yang pantas untuk Elena.


"Aku tidak suka pecundang, kau tahu itu!"


"Baiklah, aku memang pecundang saat ini tapi nanti, aku akan membuatmu bangga!"


"Jika begitu tunjukkan. Aku tidak butuh pria yang banyak bicara tanpa bukti!"


"Tunggulah!" Jansen menarik Elena lalu memeluknya. Butuh keberanian besar dan dia harap dia tidak berakhir di atas lantai.


"Hei!" Elena sudah mengepalkan satu tangannya.


"Sebentar saja, setelah ini aku tidak akan memelukmu tanpa ijin jadi jangan memukul dan jangan membantingku lagi!" pinta Jansen.


"Lain kali kau akan berada di atas langit ruangan jika berani melakukannya!" ucap Elena yang tidak mencegah Jansen memeluknya.


"Tentang Leo, apa kau serius?" tanya Jansen. Dia tahu Elena pasti membantu Leo tapi keinginannya yang akan menjadikan Leo sebagai adik laki-lakinya, itu di luar dugaan.


"Aku tidak pernah bercanda di situasi yang serius. Setiap orang harus menempatkan diri dengan benar. Ada kalanya bercanda ada kalanya serius tapi harus pada tempatnya jadi jangan bercanda di saat serius dan jangan serius saat bercanda maka dari itu tempatkanlah dirimu dengan benar!"


"Terima kasih, aku belajar banyak darimu!" Jansen semakin memeluk Elena dengan erat. Elena jadi serba salah, situasi jadi terasa canggung karena tidak seharusnya mereka seperti itu, Dia tidak boleh lupa jika Jansen adalah murid yang butuh bimbingannya.


Situasi itu benar-benar membuat Elena semakin tidak nyaman, dia harap ada meteor jatuh agar mereka kembali bersikap normal dan yang dia harapkan terwujud karena Mariana tiba-tiba saja muncul sambil berteriak.


"Sarapan sudah jadi!" Mariana yang sedang berlari menuju ruang tamu menghentikan langkah dan terkejut melihat mereka berdua.


"Ups... So-Sorry!" Mariana melangkah mundur lalu kabur sedangkan Jansen, nasib buruk setelah dapat memeluk Elena karena Elena mencengkeram lukanya secara refleks hingga dia menjerit dan pelukannya terlepas.


"Mariana!" Jansen berteriak di sela rasa sakit apalagi lukanya kembali berdarah.


"Sorry bos!" teriak Mariana yang sudah berlari menuju kamar. Harusnya dia mengintip saja tapi dia tidak menyangka akan melihat pemandangan itu. Elena pun sudah berjalan pergi, Jansen ditinggal begitu saja padahal semua lukanya belum diobati. Semua gara-gara Mariana padahal dia ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Elena agar mereka semakin dekat tapi sepertinya, dia harus berjuang dengan keras untuk menjadi pria yang pantas untuk Elena.