My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Hari Damai Sebelum Masalah Terjadi



Mereka pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian karena mereka berkeringat akibat aksi yang mereka lakukan. Lagi pula Elena harus mengganti pakaiannya agar lebih sopan dan Jansen harus mandi karena dia merasa badannya bau akibat ditempeli oleh para wanita tanpa baju itu.


Hari damai sebelum hal besar akan terjadi pada mereka karena tidak ada yang tahu jika ada yang melihat keributan yang mereka lakukan. Mariana pun sangat senang karena permasalahan yang dia alami dapat selesai berkat bantuan Elena meski dia harus menjadi saksi di pengadilan nanti untuk menjerat ayah tirinya dengan hukuman yang lebih berat dari pada kedua putranya yang juga baji*ngan. Dia harap seumur hidup agar ancaman mengerikan yang ayah tirinya sebutkan tidak terlaksana. Jujur saja dia sangat takut dengan ancaman itu sebab dia tahu itu bukan ancaman biasa.


Elena sudah mandi dan berganti pakaian, dia sudah berada di dapur untuk minum. Mariana pun sudah siap, dia harus pergi menemui pengacara yang akan membantunya sebelum dia pergi bekerja. Meski Elena tidak melibatkan diri saat proses hukum yang sedang berlangsung tapi pengacara yang dia percaya sudah cukup pandai dalam menjalankan tugasnya. Elena yakin, Mariana akan mendapatkan keadilan untuk perlakuan keji yang telah dia alami selama ini.


"Kakak ipar, bagaimana jika aku antar? Aku ingin melihat kampus itu karena aku berniat mendaftar dan melanjutkan pendidikanku di sana," ucap Mariana.


"Apa kau serius mau kuliah di sana?" tanya Elena.


"Tentu saja, aku benar-benar serius untuk melanjutkan pendidikanku karena aku ingin menjadi orang sukses nantinya. Lago pula ada kakak ipar. Aku akan betah dan bersikap baik selama menjadi murid kakak ipar."


"Bagus, kejarlah cita-citamu dan buktikan pada almarhum ibumu jika kau bisa menjadi putri yang membanggakan dirinya. lakukan untuk dirimu sendiri, bukan orang lain. Seperti yang pernah aku katakan, aku hanya membantu kalian membuka jalan tapi kalian yang menentukan ke arah mana kalian akan melangkah maju."


"Aku pasti akan melakukannya, Kakak ipar. Aku tidak akan pernah mengecewakan almarhum ibuku juga kakak ipar yang sudah menarik aku keluar dari lubang hitam yang menjerat aku selama ini. Jika aku tidak bertemu dengan kakak ipar dan dibantu oleh kakak ipar, aku rasa selamanya mereka akan melecehkan aku dan masa depanku akan semakin hancur karena tidak ada yang bisa membantu aku!"


"Kau hanya membutuhkan keberanian saja, Mariana. Jadilah wanita yang tidak takut dengan apa pun agar kau tidak diremehkan oleh orang lain. Untuk saat ini aku suka dengan semangatmu, jadi buktikan jika kau bisa. Sekarang aku sudah harus pergi, jangan sampai terlambat."


"Aku antar, setelah melihat sekolah itu barulah aku pergi."


"Baiklah, ayo kita pergi," ajak Elena. Mereka berdua keluar dari dapur, Elena mengambil kunci rumahnya terlebih dahulu sebelum dia pergi.


"Bos, kami sudah mau pergi!" teriak Mariana tapi Jansen tidak menjawab karena dia juga sudah mau pergi.


Mariana membuka pintu namun dia dikejutkan oleh Leo yang sudah berdiri di depan pintu. Mariana bahkan berteriak akibat terkejut. Leo sudah menunggu sedari tadi tapi dia tidak mengetuk karena dia tahu dia akan bertemu dengan Elena di luar.


"Leo, kau benar-benar membuat aku terkejut!" teriak Mariana sambil memegangi dadanya.


"Maaf, aku ingin mencari kakak ipar."


"Kami sudah mau pergi, ada apa?"


"Aku ingin berbicara dengannya, sebentar saja."


"Kau ingin bicara apa, Leo?" tanya Elena. Dia memakai sepatu sebentar setelah mengambil kunci rumahnya.


"Maaf mengganggu waktumu, kakak ipar."


"Tidak apa-apa, panggil aku kakak saja karena kau akan menjadi adikku nantinya."


"Te-Terima kasih. Ada yang ingin aku bahas denganmu, Kakak," rasanya jadi aneh tapi dia harus mengatakan pada Elena dengan keputusannya.


"Apa yang hendak kau bahas? Jika penting dan panjang lebih baik tunggu aku pulang karena aku tidak memiliki banyak waktu tapi jika singkat katakan segera!"


"Aku hanya ingin mengatakan jika mulai sekarang aku akan berkuliah di kampus yang sama dengan bos tapi jurusan yang berbeda."


"Apa? Jadi kau juga pindah ke kampus itu?" tanya Mariana.


"Yeah, aku pun sudah diterima di sana dan bisa mulai belajar di kampus itu."


"Sial, kau mendahului aku!" ucap Mariana.


"Itu bagus, walau sebenarnya aku ingin merekomendasikan kampus yang lebih bagus lagi untukmu agar kemampuanmu benar-benar berkembang tapi tidak apa-apa kau berada di sana untuk sementara waktu."


"Tidak apa-apa, Kakak. Aku tidak mau mempersulit dirimu jadi aku melanjutkan kuliahku di sana saja."


"Apa?" Mariana dan Leo terkejut mendengarnya.


"Aku ingin kau mengasah kemampuanmu di sana dan jadilah seorang hacker yang hebat!"


"Aku akan mendengarkan perkataanmu, Kakak," mimpi apa dia semalam? Untuk mengasah kemampuannya dia memang harus bersekolah di tempat yang tepat bahkan dia tidak pernah berpikir akan berkuliah di tempat yang jauh.


"Bagaimana dengan keluargamu, Leo. Apa kau sudah melepaskan mereka?" tanya Jansen yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


"Tidak, bos. Aku memang mengambil barang-barang milikku tapi aku tidak peduli pada mereka!" dia memang tidak peduli mau mereka hidup atau mati tapi keluarganya sudah ada yang membantu mereka setelah hampir dua puluh empat jam diikat. Jangan ditanya seperti apa keadaan mereka, semuanya dalam keadaan lapar dan haus, mereka pun bau luar biasa karena mereka terpaksa buang air seni di tempat bahkan mereka terpaksa meminum air seni sendiri untuk mengobati rasa dahaga namun mereka tidak melaporkan Leo setelah kejadian itu karena mereka  menganggap Leo sudah bukan bagian dari mereka lagi. Lagi pula jika mereka melaporkan Leo, merekalah yang akan mendapatkan malu akibat bullying yang mereka lakukan.


"Jadi kau tinggal di mana?" tanya Mariana pula.


"Aku mengontrak rumah, walau kecil tapi nyaman karena tidak ada yang membullying aku lagi."


"Bertahanlah di sana karena setelah semua yang diperlukan sudah selesai maka akan ada orang yang menjemputmu nanti!" ucap Elena.


"Aku akan sabar menunggu, Kakak."


"Bagus, sudah waktunya pergi. Aku tidak boleh terlambat."


"Tunggu, memar di tanganmu?" Jansen meraih tangan Elena dan menghentikan langkahnya.


"Nanti saja, akun sudah tidak punya waktu."


"Pakai obat, kemarilah!" Jansen menarik Elena karena dia yang akan mengoleskan obat di lengan Elena yang memar.


"Apa kau tidak mendapatkan memar?"


"Aku laki-laki, jadi tidak masalah."


"Bagaimana jika ibu tirimu melihat. Kau tahu dia akan memanfaatkan situasi."


"Aku tidak takut dengannya, Mariana. Biarkan saja dia tahu, aku tidak takut!"


"Baiklah, tapi kita sudah mau terlambat."


"Apa tidak mau aku bonceng?" tanya Jansen.


"Tidak, aku ikut Mariana. Tidak ada yang boleh melihat kita bersama!"


"Baiklah," jawab Jansen pasrah. Setelah mengoles obat, mereka bergegas keluar di mana Mariana dan Leo sudah menunggu.


"Bye, Bos, Jatahmu masih lama!" goda Mariana.


"Ck, kapan aku bisa berada di depan dan atasmu!" ucap Jansen dan pada saat itu, tatapan tajam Elena yang dia dapatkan akibat ucapannya.


"Baiklah, baik. Ototnya masih kurang keras!" ucap Jansen.


Mariana diam-diam tertawa, bosnya pasti masih kesal dengan kejadian waktu itu. Seharusnya dia mengambil videonya secara diam-diam untuk menggoda bosnya kapan saja dia mau. Jansen mengunci pintu sambil menggerutu, sepertinya untuk membonceng Elena saja dia butuh kesempatan.


Hari itu mereka pergi secara bersama-sama, Mariana bahkan mengikuti mereka untuk melihat kampus itu tapi tatapan mata para mahasiswa dan mahasiswi pagi itu sangat berbeda dan tak seperti biasanya. Mereka pun berbisik-bisik di belakang seperti ada yang telah terjadi. Elena dan Jansen menganggap itu hal biasa apalagi mereka datang bersama. Mungkin saja mereka penasaran tapi sesungguhnya mereka sedang membisikkan sesuatu yang serius tentang mereka.