
Jansen sudah membeli sebuah rumah untuk dia dan Elena tempati. Selama ini dia tinggal di rumah kontrakan Elena meski dia sudah membeli rumah dan sekarang, dia dan Elena tinggal di rumah itu. Mereka sudah kembali beberapa bulan lamanya. Jansen langsung sibuk dengan pekerjaan, Elena pun sibuk membantunya dalam berbisnis.
Sudah beberapa bulan mereka menikah, hari ini mereka akan mendapatkan kabar gembira. Elena berada di dalam kamar mandi sedangkan Jansen berjalan mondar mandir dan terlihat gelisah di depan kamar mandi.
"Apa kau belum selesai?" tanyanya tidak sabar.
"Tunggu, jika kau tidak sabar maka pergilah cuci baju!" teriak Elena.
"Aku sudah mencuci semuanya, Sayang. Cepatlah, aku sudah tidak sabar!" kali ini Elena tidak menjawab. Jansen semakin gelisah saja. Jansen kembali berjalan mondar mandir sampai akhirnya Elena keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana?" Jansen bergegas menghampiri. Elena diam saja, ekspresinya datar.
"Apa tidak berhasil?" tanya Jansen karena Elena bersikap jika tebakan mereka salah.
"Hei, kenapa diam saja?"
Elena yang tidak pandai mengekspresikan perasaan yang dia rasakan sudah pasti memberikan satu pukulan di perut Jansen.
"Hei, kenapa kau memukul aku?" tanya Jansen tapi seperti ketika mereka kembali bertemu, setelah satu pukulan itu, Elena memeluknya lalu memberikan hasil test pack tanpa berkata apa-apa. Jansen buru-buru melihatnya dan ekspresi wajahnya pun berubah.
"Jadi, juniorku sudah jadi?" tanyanya memastikan. Elena pun menjawab dengan anggukan.
"Oh, mulai sekarang aku yang akan mencuci baju!" Jansen mengangkat Elena lalu memutarnya beberapa kali.
"Jansen, jangan membuat aku mual!"
"Apa mual?" Jansen sudah berhenti memutar Elena dan menurunkannya.
"Tentu saja, kepalaku jadi sakit gara-gara kau!"
"Ayo berbaring, aku tidak akan pergi ke mana-mana hari ini dan mulai sekarang, aku akan memanggil beberapa pelayan untuk membersihkan rumah!" setelah menikah, mereka memang tidak menggunakan pelayan dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama.
"Tidak perlu, aku lebih suka mengerjakan semuanya sendiri."
"Hei, nanti ayahmu akan memukulku karena membiarkan kau mengerjakan pekerjaan rumah saat kau sedang hamil."
"Tidak perlu berlebihan, Daddy tidak akan marah!"
"Kali ini kau harus mendengarkan aku, Sayang. Aku akan meminta seseorang mencarikan pelayan untukmu."
"Jansen, apa kau tidak mau mengabari ayahmu kabar ini?" tanya Elena.
"Apakah perlu?" sesungguhnya hubungannya dengan ayahnya sudah cukup baik meski dia jarang pergi menemui ayahnya.
"Tentu saja perlu. Hubungi ayahmu dan Richard, undang mereka datang. Kita adakan acara makan malam untuk merayakan kabar baik ini. Kita undang teman-teman yang lainnya dan aku akan menghubungi Mommy dan Daddy. Mungkin saja mereka mau datang."
"Wow, jadi kau mau mereka datang?"
"Tentu, sekarang baru jam delapan pagi dan mereka bisa tiba nanti sore jika mereka segera bergegas!"
"Oke... oke, aku cari pelayan dulu. Jangan sampai aku dijadikan lap kaki oleh ayahmu!"
Elena tersenyum ketika Jansen melangkah pergi. Tangannya sudah berada di perut, senyuman pun masih menghiasi wajahnya. Tak menyangka dia akan hamil dalam waktu dekat, rasanya sungguh benar-benat bahagia. Elena segera menghubungi ibunya, kabar bahagia itu tentu saja membuat ayahnya heboh. Seperti yang dia duga, ayah dan ibunya pasti memutuskan untuk datang dan memang itulah yang terjadi.
Jansen pun sibuk menghubungi ayahnya dan teman-teman mereka. Makanan pun mereka pesan karena mereka akan melakukan perjamuan untuk kabar bahagia yang baru saja mereka dapatkan. Semua mereka kerjakan berdua tapi Jansen tetap mencari pelayan. Jangan sampai ketika kedua orangtua Elena datang, mereka justru melihat Elena melakukan perkerjaan rumah yang tak pernah Elena lakukan sebelum menikah tapi sayangnya, dia harus menunggu.
Kabar itu tentu membuat Bob sangat senang. Bob menunggu Richard pulang dan setelah itu mereka bergegas pergi. Ini kali pertama mereka mendatangi rumah Jansen, sekarang Bob tidak bisa meremehkan putranya sendiri karena Jansen sudah membuktikan jika dia bukan pecundang seperti yang dia duga selama ini. Mereka bahkan disambut dengan baik oleh Elena dan Jansen, seperti tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka karena tidak ada yang mengungkit masa lalu.
"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Jansen pada ayahnya.
"Yeah, usaha tidak menghianati hasil. Bagaimana dengan Richard, apa dia masih bekerja dengan sahabatnya?"
"Kau bisa bertanya padanya secara langsung!" ucap ayahnya. Bob menghampiri Elena yang sedang sibuk menata piring lalu memberikan buah tangan yang dia bawa. Jansen pun menghampiri Richard yang sedang duduk sendiri dan tampak termenung.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Richard?" tanya Jansen basa basi. Dia hendak menawarkan pekerjaan jika Richard bersedia.
"Seperti biasa, kenapa?"
"Tidak, aku hanya ingin menawarkan pekerjaan padamu saja jika kau berkenan."
"Terima kasih, aku tidak enak hati padamu."
"Ayolah, tidak apa-apa. Kau begitu bertanggung jawab pada ayahku maka aku akan membantumu. Aku mendapat bisnis baru dan aku ingin kau mengelolanya."
"Apa kau masih mempercayai aku, Jansen?" Richard berpaling, melihat ke arah Jansen.
"Tentu saja, kau lebih berpengalaman dari pada aku dan aku percaya dengan kemampuanmu."
"Tapi sikapku selama ini padamu?"
"Sudahlah, aku tidak mengingatnya lagi. Kita adalah korban dari keegoisan orangtua. Aku tahu kau tidak jahat tapi karena kau tidak berdaya dan harus mematuhi ibumu, kau jadi seperti itu!"
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu di mana ibuku?" sampai sekarang dia masih mencari keberadaan ibunya tapi nihil.
"Aku tidak tahu, aku bahkan tidak melihatnya saat aku menolong Elena."
"Ck, ke mana sebenarnya Mommy melarikan diri?"
"Sebaiknya biarkan saja. Beruntung kau tidak jahat seperti dirinya!" ucap Jansen.
"Aku minta maaf mewakili ibuku, Jansen. Tolong maafkan dirinya yang sudah jahat dan yang telah membunuh ibumu."
"Sudahlah, sebaiknya kau memikirkan mau membantu aku atau tidak."
"Jika kau percaya denganku maka aku akan membantumu!" ucap Richard.
"Aku memang percaya denganmu, Richard," ini kali pertama mereka bisa berbicara seperti itu karena biasanya Richard akan menghina dirinya bersama dengan ibunya yang jahat.
"Guys, apa tidak ada yang mau membantu aku?" tanya Elena yang sedang sibuk mengeluarkan makanan yang mereka beli dari sebuah restoran.
"Aku datang, Sayang!" Jansen segera menghampiri istrinya, begitu juga Richard yang mengikuti Jansen. Dulu dia begitu terobsesi dengan Elena sampai-sampai ibunya menghina Elena tapi sekarang, ternyata dia yang tidak pantas.
Jansen membantu Elena, begitu juga dengan Richard dan Bob. Kebersamaan yang tidak pernah mereka lalui, kini dapat mereka rasakan. Elena bahkan diminta untuk duduk, karena mereka yang akan mengerjakan. Jansen yang selama ini merindukan kebersamaan seperti itu dengan ayahnya benar-benar senang. Bob pun merasakan hal yang sama. Selama ini dia benar-benar telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Meski Richard bukan bagian dari mereka, tapi dia tetap dianggap bagian dari mereka.
"Kakak ipar, kami datang!" terdengar suara yang ramai di luar sana.
"Bagus, pasukan pencuci piring sudah datang!" ucap Jansen karena pelayan yang dia inginkan belum ada.
Elena tertawa, akhirnya tugas suaminya ada yang menggantikan. Para mantan anggota Black Circle datang semua. Ada yang datang sendiri ada pula yang datang dengan pasangan mereka. Semua membawa makanan untuk mereka nikmati bersama karena sudah lama mereka tidak berkumpul. Suasana rumah jadi ramai, mereka semua tetap menyapa Bob dan Richard. Kesenangan mereka tidak sampai di sana karena ketika ayah dan ibu Elena datang, Leo juga datang bersama dengan mereka.
Kehebohan terjadi, mereka mengeroyok Leo yang memiliki nasib yang sangat beruntung. Leo datang untuk mengunjungi Elena dan Jansen, dia tidak datang mencari keluarganya karena dia tidak peduli pada keluarganya yang juga tidak peduli dengannya apakah dia masih hidup atau sudah mati. Amanda dan Edward langsung memeluk putri mereka. Kabar gembira yang tak terduga itu benar-benar membuat mereka bahagia.
Semua sudah berkumpul, suasana rumah yang sepi menjadi ramai. Para mantan anggota Black Circle mulai membuat undian, siapa yang akan mencuci piring tapi semua mengakali Leo sehingga dialah yang harus mencuci piring. Kebersamaan mereka itu, mungkin sulit terulang sebab itulah mereka sangat menikmatinya. Setidaknya hubungan Jansen dan ayahnya sudah lebih membaik begitu juga dengan Richard karena pada dasarnya, Richard tidaklah jahat. Hubungan mereka jadi tidak harmonis gara-gara satu orang yang serakah tapi sekarang, setelah Anne tidak ada bersama dengan mereka, hubungan mereka benar-benar berubah.
End... kali ini beneran, wwkwkk....