
Setelah kepergian Leo, beberapa dari mereka pun mengikuti jejak Leo. Mereka juga tidak menyukai keberadaan Elena seperti Leo. Geng itu kini pecah menjadi dua akibat selisih paham. Rai yang baru saja terlibat adu pukul dengan Leo jadi terpancing emosi.
Mereka semua tahu Leo, pemuda yang selalu menyendiri yang sulit di ajak bicara. Leo juga jarang menonjolkan diri, dia lebih tertutup dari pada yang lainnya. Jika bukan karena bos mereka, sepertinya mereka semua tidak akan mempedulikan Leo.
Elena yang bersama dengan mereka jadi tidak enak hati. Semua gara-gara dirinya meski dia tidak begitu mengerti kenapa perkelahian itu terjadi. Yang pasti dia bisa melihat jika Leo dan beberapa yang lainnya tidak menyukai dirinya. Memang bukan hal yang mustahil. Dia tahu pasti ada yang tidak bisa menerima kehadirannya apalagi dia adalah orang asing yang tiba-tiba saja hadir di antara mereka.
Sepertinya dia tidak boleh terlalu sering bersama dengan mereka agar kesalahpahaman itu tidak terjadi lagi. Suasana hening, mereka jadi canggung. Sepertinya balapan mereka akan batal. Kesenangan mereka pun tidak jadi akibat hal itu.
"Tolong jangan diambil hati, kakak ipar," ucap Mariana.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?" tanya Elana.
"Rai?" Mariana memandangi Rai, dia juga tidak tahu apa yang Rai dan Leo ributkan.
"Leo mencurigai kakak ipar dan mengira kakak ipar ingin merebut posisi Bos. Aku sudah menjelaskan tapi dia tidak percaya!"
"Konyol, dia selalu seperti itu. Terlalu curiga dengan orang lain tapi kenapa yang lain mengikuti?" tanya Mariana.
"Mereka pasti sepemikiran dengan Leo dan mengira kakak ipar ingin mengganti posisi bos kita!" jawab Rai.
"Dasar mereka bodoh!" ucap Mariana.
"Sudahlah, rasa khawatir mereka itu wajar. Itu tandanya mereka setia pada Jansen," ucap Elena. Dia bisa memakluminya, mungkin saja Leo dan yang lain memiliki alasan kuat sehingga mereka takut posisi Jansen direbut olehnya.
"Tolong jangan marah kakak ipar, Leo memang memiliki sikap tidak bersahabat semenjak bos membawanya dan memperkenalkannya pada kami."
"Jadi Jansen yang membawanya?"
"Benar kakak ipar. Kami bahkan tidak begitu tahu apa yang terjadi dengannya karena sikap Leo begitu tertutup!"
"Baiklah, aku tidak menyalahkan dirinya. Aku tidak bisa meminta kalian semua menyukai aku. Lagi pula memang aku yang salah, tidak seharusnya aku terlalu akrab dengan kalian. Leo mengira aku menginginkan posisi Jansen dan itu sangat wajar. Aku benar-benar orang yang kebetulan yang melewati batas!" ucap Elena.
"Kakak ipar kenapa bicara seperti itu? Apa kakak ipar marah?" tanya Mariana.
"Tidak, aku tidak akan marah untuk hal ini apalagi aku yang salah. Sebaiknya kita membubarkan diri sebelum ada yang datang."
"Bagaimana dengan balapannya?"
"Kita lakukan lain kali. Aku rasa tidak bijak bersenang-senang di saat sebagian anggota kalian pergi."
"Baiklah, Leo benar-benar menghancurkan suasana!" Mariana tampak kesal, begitu juga yang lainnya padahal mereka sudah siap untuk adu balap."
"Sudahlah, jangan berbicara seperti itu. Sebaiknya kita pulang, lagi pula sudah malam. Jangan sampai keluarga kalian mencari lalu kalian mendapatkan hukuman!" ucap Elena.
"Baiklah, lain kali kita akan berkumpul lagi dan melakukan balapan!" mau tidak mau mereka membubarkan diri tanpa jadi mengadu kecepatan dan pulang ke rumah masing-masing. Elena dan Mariana juga pulang bersama. Mariana belum bisa pulang ke rumahnya karena dia belum bisa kembali sebelum ayah tirinya ditangkap oleh polisi.
Jansen sudah berada di rumah ketika mereka tiba tapi Jansen tertidur di sofa akibat lelah. Mereka masuk dengan perlahan sehingga Jansen tidak terbangun. Mariana yang sangat ingin bosnya tahu tentu saja menyelinap keluar ketika Elena sedang mandi. Hanya bosnya saja yang bisa membujuk Leo dan menjelaskan pada Leo jika Elena tidak mungkin merebut posisi bosnya.
Mariana buru-buru melangkah menuju ruang tamu lalu mengguncang bahu Jansen agar Jansen segera bangun supaya dia bisa segera meminta Jansen menghubungi Leo. Meski sudah malam tapi dia ingin Jansen segera menghubungi Leo.
"Bos, bangun!" ucap Mariana sambil mengguncang bahu Jansen.
Jansen yang tertidur dengan pulas akibat lelah tidak bergeming. Mariana kembali membangunkan dirinya tapi Jansen tidak juga bangun. Mariana jadi kesal tapi dia tidak bisa berbuat banyak.
"Mariana, pergilah mandi!" teriak Elena yang baru saja keluar dari kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Baik, kakak ipar!" jawab Mariana. Mariana melihat ke arah Elena yang melangkah menuju dapur dan setelah itu dia melihat Jansen yang sedang tidur tapi sebenarnya dia sedang pura-pura.
Jansen yang pura-pura sedari tadi mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat kepergian Mariana. Salahkan dirinya yang mengganggu orang sedang tidur. Dia benar-benar sangat lelah, itu karena banyaknya pekerjaan yang harus dia kerjakan. Jansen hendak bangun karena dia mau masuk ke dalamnya namun dia urungkan dan dia kembali pura-pura tidur karena Elena keluar dari dapur dan melangkah menuju arahnya.
Elena meneguk air dingin yang dia ambil dari kulkas. Langkahnya terhenti di sisi kursi di mana Jensen berbaring dan kembali pura-pura tidur. Tatapan mata Elena tak berpaling dari Jansen yang sedang tidur. Entah kenapa yang jadi berdebar justru Jansen padahal Elena hanya diam saja memperhatikannya.
Cukup lama Elena memperhatikan Jansen. Dia tahu Jansen hanya pura-pura saja, entah untuk tujuan apa dia sendiri tidak tahu.
"Tidak perlu pura-pura tidur. Pindah ke kamar jika tidak kau akan masuk angin!" ucap Elena.
"Ck, ternyata kau tahu aku hanya pura-pura saja!" Jansen membuka kedua mata, percuma dia menahan napas dan merasa gugup. Ternyata Elena sudah tahu.
"Bagaimana harimu?" tanya Elena yang duduk di sisi Jansen ketika Jansen sudah bangun dari tidurnya.
"Seperti biasa, kenapa kalian cepat kembali? Apa balapannya tidak menyenangkan?" Jansen melihat ke arah Elena dan tak berpaling lagi karena dia tidak berniat berpaling. Wajah manis Elena sangat enak dipandang dan tidak membuat bosan tapi jika tatapan matanya sudah tajam, sebaiknya tidak memandanginya terlalu lama karena ada aura menakutkan dari ekspresi wajah manisnya.
"Kami tidak jadi balapan," jawab Elena.
"Kenapa? Tidak mungkin kalian dikejar oleh polisi, bukan?" kini tangan Elena diraih, Jansen mengelus punggung tangan Elena bahkan memberikan sebuah kecupan di sana.
"Jangan melakukan hal itu!" ucap Elena yang berusaha menarik tangannya.
"Aku hanya memegang dan mencium tangan wanita yang aku sukai, apa itu salah?"
"Menyebalkan, kau seperti melakukan pelecehan!"
"Ups, sorry. Tapi aku tidak berniat melakukan hal itu."
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan tapi aku ingin kau berbicara dengan anak buahmu terutama Leo. Katakan aku tidak berniat mengambil posisimu."
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Berbicarakah dengannya, aku tidak suka ada keributan. Jika memang keberadaanku membuat kalian bertengkar, maka aku tidak akan berada di tengah-tengah kalian lagi," ucap Elena.
"Maafkan mereka, Elena," ucap Jansen seraya mengusap kepala Elena dengan perlahan, "Mereka semua anak-anak tersesat seperti aku jadi maafkan mereka terutama Leo. Dia memiliki masalah yang cukup pelik, sebab itu dia lebih pendiam di bandingkan yang lainnya."
"Baiklah, aku harap mereka tidak salah paham terlalu berlebihan tentang aku. Sudah malan, sebaiknya segera tidur," Elena beranjak, dia harap Jansen berbicara dengan Leo sehingga Leo tidak salah paham lagi dengannya.
"Tunggu Elena!" pinta Jansen seraya meraih tangan Elena.
"Ada apa?" Elena menarik tangannya agar terlepas namun Jansen menggenggam tangannya dengan erat bahkan Jensen menarik Elena hingga Elena jatuh ke atas pangkuannya. Elena sudah akan marah akibat tindakan Jansen tapi suara pintu yang diketuk dengan keras oleh seseorang mengejutkan mereka berdua.
Elena mendorong Jansen dan beranjak dengan terburu-buru, sedangkan Jansen mengumpat karena ada yang mengganggu. Elena melangkah menuju pintu diikuti oleh Jensen. Entah siapa yang datang padahal sudah sangat larut tapi ketika pintu dibuka, dua anggota Black Circle tumbang ke dalam sambil memegangi perut mereka yang mengeluarkan darah akibat tertusuk pisau.
"Apa yang terjadi?" teriakan Jansen mengejutkan Mariana yang ada di dalam kamar.
"Bos.. Leo," salah satu dari mereka berusaha mengatakan apa yang terjadi meski sulit.
"Ada apa dengan Leo?" tanya Jansen.
"Leo.. dia ditangkap oleh Blood's Rose," ucap yang lainnya.
"Apa?" Jansen sangat terkejut mendengar apa yang anak buahnya katakan.
Elena diam memperhatikan, Blood's Rose? Siapa Mereka? Kenapa Jansen tampak marah dan khawatir? Mariana yang baru keluar dari kamar terkejut melihat kedua rekannya bersimbah darah di atas lantai. Jansen terdiam dengan kedua tangan mengepal, sebaiknya dia segera pergi untuk menyelamatkan Leo.