
Meski sudah menyetujui putrinya akan menikah tapi Edward yang sangat menyayangi Elena belum rela melepaskan putrinya. Jansen tidak menunda karena dia takut keluarga Elena berubah pikiran. Dia dan Elena tentu saja langsung menyiapkan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan di Colorado. Jansen sudah menghubungi ayahnya dan memintanya untuk datang begitu juga dengan yang lainnya.
Di saat semua sibuk, Edward justru menghilang. Dia seperti tidak rela putrinya akan menikah. Amanda yang sedang sibuk membantu putrinya jadi pusing, dia pusing mencari keberadaan suaminya yang entah ke mana. Mereka juga mencari di California tapi Edward juga tidak ada. Mendadak semua jadi sibuk mencari Edward yang hilang entah ke mana tapi ketika acara sudah tiba, Edward tiba-tiba saja pulang.
"Kau pergi ke mana Edward?" tanya istrinya yang sangat lega karena suaminya telah kembali.
"Menenangkan pikiran."
"Menangkan pikiran bagaimana? Kau membuat kami semua panik!"
"Ada apa denganmu, Edward? Jika ada sesuatu katakan pada Mommy dan Daddy, jangan memendamnya sendirian," ucap ibunya. Mereka semua sudah berkumpul karena hari ini adalah hari pernikahan Elena dan Jansen.
"Aku hanya tidak rela Elena menikah begitu cepat."
"Jangan seperti itu, kau tidak bisa menahannya apalagi Elena anak perempuan!" ucap ayahnya.
"Kak Ed, seharusnya kau datang padaku dan berguru padaku!" ucap Jacob.
"Tidak perlu, kau pasti akan membuat taruhan lagi denganku!" tolak Edward.
"Apa kak Ed takut? Kali ini hadiahnya Daddy yang memberi sponsor!"
"Apa? Kenapa aku?" protes ayahnya.
"Daddy sudah lama tidak memberi hadiah, benarkan?"
"Tidak... tidak, aku menolak!" tolak ayah mereka.
"Dad, apa kau tidak mau membacakan isi hati saat Elena hendak menikah?" tanya Ivy, menantu Edward secara tiba-tiba.
"Isi hati apa?" tanya Edward.
"Oh, aku ingat. Apa kau ingat bagaimana pernikahan Henry dan Ivy duliu? Sepertinya kau juga bisa mengungkapkan isi hatimu!" ucap Amanda.
"Wah, ide bagus!" ucap semuanya.
"Tidak, tidak mau!" tolak Edward.
"Ayolah, lakukan. Daddy akan memberikan hadiah jika kau melakukannya!"
"Loh, bukannya Daddy tidak mau?" tanya Jacob.
"Jika kakakmu mau melakukannya, maka Daddy tidak keberatan!"
"Tidak mau!" tolak Edward karena dia tidak pandai bicara.
"Ayolah kak Ed, aku juga akan memberi hadiah."
"Hei, jangan memaksa. Edward tidak seperti kalian yang pandai bicara!" ucap Samantha.
"Ck, Mommy penghancur suasana!"
"Ck, Mommy mengganggu!" ucap Jacob.
"Sudah sana, Mommy ingin bicara dengan kakakmu!"
"Mommy mau bicara apa?"
"Edward, Mommy tahu apa yang kau rasakan. Melepaskan anak perempuan itu memang rasanya berbeda. Waktu Olivia menikah, Mommy juga merasakannya tapi kita tidak boleh menghalangi. Sebagai orangtua kita harus memberikan dukungan apalagi Elena akan pergi meninggalkanmu karena dia harus mengikuti suaminya."
"Inilah yang tidak aku inginkan, Mom!" Edward memeluk ibunya karena dia memang belum bisa melepaskan putrinya.
"Hei, putra Mommy jangan menangis!"
"Aku tidak menangis!" ucap Edward.
"Mommy tahu apa yang kau rasakan tapi kita semua sudah merasakan bagaimana perasaan saat melepaskan anak perempuan meski Jacob belum karena Valerie belum menikah!"
"Ijinkan aku seperti ini sebentar!" pinta Edward.
"Baiklah, kau memang membutuhkannya. Nanti kita minta hadiah dari Daddy dan Jacob, Mommy yang akan memintanya untukmu."
"Tidak perlu, Mom. Mereka hanya bercanda."
"Hadiahnya untuk Elena, kau tidak perlu khawatir karena mereka memang harus memberikannya."
"Tidak perlu, Mom," tolak Edward.
"Boys, kemari!" Samantha memanggil suami dan putranya lalu menagih hadiah yang mereka ucapkan tadi. Padahal mereka ingin menggoda Edward agar mengungkapkan isi hati saat pernikahan Elena tapi mereka justru harus mengeluarkan uang tanpa bisa mendengarkan isi hati si pria kaku di keluarga mereka. Perintah sang ratu memang tidak bisa ditolak karena akibatnya fatal.
Jhon dan Jacob tidak berdaya, mau tidak mau mereka harus memberikan hadiah pada Elena. Edward yang tadinya tidak rela melepaskan putrinya sudah merasa lebih baik oleh sebab itu, Edward merasa jauh lebih baik meski masih ada perasaan berat ketika melihat putrinya menggunakan gaun pengantin.
Sebagai seorang ayah, dia harus mengantar putrinya menuju altar. Rasanya sangat berat tapi dia harus bisa melakukannya.
"Kak Ed, jangan menangis!" ucap Jacob dengan pelan.
"Berisik!" Samantha justru menjewer telinga putranya karena mengganggu.
Edward menggeleng, tapi berkat adiknya dia jadi tidak canggung lagi apalagi si kembar berjalan di depan dan menabur bunga sembarangan sehingga terlihat lucu. Jansen sudah menunggu di altar, ayahnya dan Richard juga datang serta seluruh mantan anggota Black Circle yang dia undang dan dia modali.
Acara pernikahan itu berjalan dengan baik, dua pengantin saling mengucapkan sumpah setia mereka disaksikan oleh keluarga. Hati sang ayah tetap saja campur aduk tapi dia tidak akan menangis karena adiknya yang tengil itu akan menggodanya sampai seumur hidup.
Elena dan Jansen sudah dinyatakan sebagai suami istri setelah mereka mengucapkan sumpah setia mereka. Sorakan pada mantan anggota Black Circle memenuhi ruangan, sorakan itu sebagai ungkapan selamat untuk mereka berdua. Bob yang tadinya tak menduga akan hubungan Elena dan Jansen cukup terkejut tapi dia turut senang apalagi keluarga Elena yang bukanlah orang biasa. Ternyata mereka sudah bersikap sombong dengan orang yang salah. Richard yang dulunya sempat mengejar Elena pun merasa malu, ternyata dialah yang tidak pantas untuk Elena dan dia sadar kana hal itu. Selama ini, ibunya memang sudah bersikap sombong pada orang yang salah.
"Kakak ipar, selamat!" para mantan anggota geng Black Circle memberikan selamat untuk mereka berdua. Mariana bahkan memeluk Elena saat memberikan selamat. Dia sedang hamil saat itu. Tiga tahun tidak bertemu, mereka sangat senang dapat bertemu dalam keadaan yang berbeda. Sebagian dari mereka sudah sukses dan sebagian dari mereka masih merintis karier. Mereka semua menemukan jalan yang harus mereka tempuh dan sebagian dari mereka bangkit tanpa campur tangan keluarga. Elena sangat senang karena mereka semua sudah menemukan jalan hidup masing-masing.
Pernikahan yang berjalan dengan meriah, Elena mendapatkan banyak selamat dari keluarga juga pada sahabatnya. Para tamu yang datang pun memberikan selamat untuk mereka. Leo yang baru bergabung di dalam keluarga itu merasa sangat senang karena dia benar-benar diterima oleh keluarga besar Elena. Leo sudah dibawa pergi oleh si kembar karena mereka memiliki hobi dan keahlian yang sama.
Pesta yang meriah, pengantin yang berbahagia. Elena dan Jansen saling pandang dan tersenyum saat mereka berdansa untuk menikmati waktu mereka. Tidak perlu masa pacaran yang lama, mereka bahkan tidak melakukannya dan langsung memutuskan untuk menikah tapi mereka akan berpacaran setelah menikah.
Jansen akan membawa Elena kembali ke London setelah acara itu selesai dan mereka akan membangun keluarga mereka di sana. Mungkin setelah ini mereka akan memiliki beberapa orang anak dan mereka akan membangun keluarga Mereka yang bahagia.