My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Diambang Kehancuran



Setiap detik yang dilewati membuatnya merasa seperti sedang berjalan di atas bara api yang akan menghancurkan dirinya kapan saja. Itulah yang sedang dirasakan oleh Anne karena setiap detik yang dia lewati, dilewati dengan penuh ketakutan. Tidak ada yang bisa menghentikan apa yang terjadi bahkan mereka terancam bangkrut.


Bob juga tidak bisa melakukan apa pun bahkan dia tidak melakukan apa pun. Dia tampak pasrah membiarkan semuanya terjadi. Anne sangat tidak mengerti dengan sikap Bob yang seolah-olah pasrah padahal mereka sudah berada diambang kehancuran.


Richard pun tidak bisa melakukan apa pun karena dia tahu hanya ibunya saja yang bisa menghentikan semua itu tapi dengan ego dan harga diri yang ibunya miliki sudah pasti ibunya tidak akan mau pergi menemui Elena atau Jansen lalu merangkak di bawah kaki mereka untuk meminta maaf. Waktu yang mereka miliki pun sudah tidak banyak . Mereka memiliki waktu sampai tengah hari sebelum semuanya benar-benar hancur.


"Bagaimana ini, Richard? Apa yang yang harus kita lakukan? Kenapa kalian diam saja?" tanya Anne frustasi. Dia tidak bisa tidur sama sekali gara-gara hal itu.


"Aku rasa Mommy tahu apa yang harus dilakukan!" ucap Richard.


"Apa yang kau katakan? Aku tidak sudi pergi menemui mereka lalu berlutut dan merangkak di bawah kaki mereka!" ucap ibunya.


"Jika begitu jangan tanya bagaimana padahal Mommy tahu bagaimana caranya menghentikan semua ini!"


"Aku tidak sudi. Apa tidak ada cara lain? Bob, kita sudah berada di ambang kehancuran, kenapa kau diam  saja dan tak mengambil tindakan apa pun?"


"Seperti yang Richard katakan, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Anne.  Kau hanya perlu berlutut dan minta maaf maka perusahaan kita akan selamat dan jabatanku pun akan selamat tapi karena kau tidak mau melakukannya, maka jangan tanyakan bagaimana karena tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghentikan semua ini!"


"Kenapa kalian berdua seperti memojokkan aku?" teriak Anne tidak terima. Semua menyalahkan dirinya, bahkan putarnya pun tidak bisa membantu.


"Tidak ada yang memojokkan dirimu, Mom. Memang itulah yang Elena inginkan. Sekarang tergantung dari Mommy, jika Mommy tidak mau maka diam  saja!"


"Kurang ajar, kurang ajar!" Anne berjalan mondar mandir sambil berpikir. Dia tidak terima segala usaha dan upaya yang dia lakukan selama ini justru tak membuahkan hasil apa pun. Sudah sejauh ini, jangan sampai mereka justru menjadi gelandangan yang tidak memiliki apa pun.


"Kau yang memulai, jadi biarkan saja!" ucap Bob.


"Kenapa kau berkata demikian? Sebentar lagi kita akan jatuh miskin, apa kau tidak takut sama sekali?"


"Jika memang harus seperti itu, apa yang bisa aku lakukan? Kalian tidak akan meninggalkan aku saat aku jatuh miskin, bukan?" tanyanya.


"Apa? Aku tidak sudi!" teriak Anne.


"Oh, jadi yang dikatakan oleh Jansen selama ini tentang kalian adalah benar. Ternyata yang kalian inginkan hanya uangku saja!"


"Jangan sembarangan bicara! Jansen hanya anak muda labil yang asal menuduh!"


"Apa, kenapa begitu?" teriak Anne.


"Lakukan, jangan bertanya lagi!" ucap Bob seraya beranjak dari tempat duduknya. Dia ingin lihat sejauh mana Anne akan setia padanya. Dia juga ingin mencari tahu apakah yang dikatakan oleh Jansen selama  ini tentang mereka benar atau tidak. Sebelum dia membuktikannya, dia tidak akan percaya.


"Bob, kau harus melakukan sesuatu!" teriak Anne.


"Yang harus kita lakukan adalah pindah!"


"Dad, kenapa kau tidak pergi menemui Jansen? Mungkin dia akan membantu jika kau yang meminta," ucap Richard.


"Setelah semua yang aku lakukan padanya, apa kau mengira dia akan membantu kita? Sebaiknya turuti saja apa yang Elena mau atau segera bergegas!"


Anne mengepalkan kedua tangan setelah mendengar apa yang suaminya katakan. Semua gara-gara Elena dan Jansen, merekalah sumber masalah yang membuat mereka jadi seperti itu. Bob pergi, meninggalkan mereka. Setelah berbicara dengan putranya dan mengunjungi makam almarhum istrinya, banyak hal yang dia pikirkan dan dia menyadari kesalahan yang dia lakukan selama ini.


Dia memang sengaja diam karena dia ingin melihat apakah Anne dan Richard mau bertahan saat dia sudah kehilangan segalanya atau tidak. Kejadian ini dia manfaatkan untuk menguji kesetiaan mereka namun Anne yang hanya selalu memikirkan masa depan Richard tentu saja tidak terima. Dia tidak rela semua yang mereka miliki saat ini hilang begitu saja. Jika mereka jatuh miskin, mau ditaruh di mana wajah mereka? Reputasi baik yang selama ini mereka miliki dan juga harga diri mereka, semua itu akan hancur dan yang paling tidak dia inginkan adalah, Richard akan sulit menikah dengan putri dari keluarga terpandang.


"Sial, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi! Semua yang aku dapatkan dengan susah payah tidak boleh lenyap begitu saja!" ucapnya.


"Apa Mommy mau pergi menemui Elena dan meminta maaf padanya? Apa Mommy bersedia merangkak di bawah kaki Jansen agar semua ini bisa dihentikan?" tanya putranya.


"Demi dirimu, Richard. Apa yang tidak akan Mommy lakukan? Mommy sudah melakukan banyak hal dan sudah sejauh ini jadi Mommy akan melakukannya. Hanya berlutut di bawah kaki mereka lalu meminta maaf pada mereka saja, bukan? Akan Mommy lakukan tapi kau harus bekerja sama dengan Mommy jika kau ingin semua ini berakhir. Jangan beritahu ayahmu apa yang hendak kita lakukan. Kita akan memberikan kejutan padanya agar dia bangga pada kita nanti. Setelah semua ini percayalah pada Mommy, dia akan memberikan semua yang dia miliki padamu jadi ayo ikut dengan Mommy, kita akan menemui mereka dan memohon padanya!" ucap Anne.


"Aku senang mendengarnya, Mom," Richard sungguh tidak menduga jika ibunya berubah pikiran dan mau meminta maaf pada Elena dan Jansen tapi sesungguhnya ada rencana lain di hati ibunya.


"Aku akan menemani Mommy berlutut nantinya agar Mommy tidak sendirian. Mommy tidak perlu khawatir, Elena wanita yang baik dan aku yakin dia tidak akan mungkin tega melihat Mommy berlutut. Dia pasti hanya ingin menguji kita saja apakah Mommy bersedia melakukannya atau tidak. Percayalah padaku, Mom. Sebelum kita melakukannya, dia pasti sudah akan mencegah!"


"Mommy harap begitu, Richard. Mommy memang salah karena telah bersikap sombong, sekarang ikut aku karena kita tidak memiliki banyak waktu lagi!" ajak ibunya.


Richard mengangguk dan mengikuti ibunya pergi. Bob tidak tahu kepergian mereka karena dia sedang pusing dengan masalah yang sedang terjadi. Dia sendiri benar-benar sudah pasrah untuk kehilangan semuanya. Mungkin ini adalah teguran untuknya yang selama ini mengabaikan Jansen, putranya sendiri karena dia justru membela anak orang lain bahkan tidak ada yang tahu siapa ayah Richard.


Jika memang harus jatuh miskin, maka biarlah dia miskin tapi Anne yang tidak terima sudah pergi dengan putranya untuk menghentikan semua yang sedang terjadi karena dia tidak mau kembali seperti dulu lagi.