
Elena yang dikejar sudah menghilang sehingga orang-orang yang diutus oleh Anne sudah kehilangan jejaknya. Mereka benar-benar tidak dapat menemukan keberadaan Elena. Sungguh wanita yang sangat licin, mereka tak mendapati jejak keberadaan Elena.
Sepertinya target yang mereka kejar sudah tidak ada, tapi tidak jadi soal karena mereka ditugaskan untuk menakuti Elena meski mereka tidak memberikan ancaman untuk Elena. Yang pasti tugas mereka untuk menakuti Elena sudah selesai jadi mereka bergegas pergi dari tempat itu. Elena memang sengaja karena dia tidak mau orang-orang yang mengejarnya melihat Jansen. Jika benar-benar orang itu adalah utusan Richard maka mereka tidak boleh tahu karena dia khawatir, mereka justru melaporkan apa yang sedang Jansen alami pada Richard.
Anne mendapatkan kabar dari orang bayarannya. Dia justru marah dan tidak senang karena orang-orang itu gagal memberikan ancaman pada Elena padahal yang dia inginkan adalah, Elena mendapatkan ancaman agar tidak mendekati Richard lagi.
"Kalian semua tidak becus!" ucapnya dengan penuh emosi.
"Maaf, Nyonya. Kami kehilangan jejaknya. Wanita itu cukup licin, dia berlari dengan begitu cepatnya sehingga kami kehilangan jejak. Kami pun sudah menyebar mencari tapi wanita itu benar-benar tidak kami temukan. Meski kami tidak sempat memberikan ancaman tapi kami sudah menakuti dirinya!"
"Bodoh, aku tidak ingin menakuti dirinya tapi aku ingin kau mengancam dirinya. Aku tidak mau kejadian ini terulang kembali. Lain kali tangkap saja lalu sekap dan setelah itu berikan ancaman padanya!" perintah Anne.
"Baik, Nyonya. Lain kali kami tidak akan ragu!"
"Lain kali aku ingin mendengar kabar baik. Jika bisa berikan shock terapi untuknya!" dia harus membuat Elena tahu diri agar tidak mendekati putranya. Dia tidak sudi Richard menjalin hubungan dengan seorang dosen. Dia yakin wanita seperti Elena pasti ingin memanfaatkan Richard yang terkenal sebagai putra seorang pejabat dan yang memiliki kampus serta beberapa perusahaan. Jangan sampai Richard dimanfaatkan karena dia tidak akan sudi.
Sepertinya dia harus menyusun strategi lain untuk menjauhkan Elena dan Richard. Tiba-Tiba dia merasa kepalanya jadi sakit. Selain harus menyingkirkan Jansen, kini dia pun harus menyingkirkan Elena. Dia harus cerdik agar Richard tidak dimanfaatkan oleh Elena. Selagi dia memikirkan strategi yang harus dia ambil, Richard kembali dengan perasaan kecewa karena dia gagal mengajak Elena untuk jalan bersama.
"Dari mana kau, Richard?" tanyanya sambil sedikit berteriak. Dia sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya jika Richard pergi menemui Elena. Tentu saja dia semakin khawatir akan hal itu karena Richard'lah yang mengejar Elena. Tidak bisa, dia benar-benar harus segera mengambil tindakan bahkan dia tidak ragu untuk melenyapkan Elena agar Richard berhenti mengejar wanita itu.
"Dari bekerja, memangnya dari mana lagi?" jawab putranya yang sedang tidak mood.
"Kau tidak pergi menemui dosen itu, bukan?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Mom, kau tidak sedang ingin berdebat. Memangnya apa salahnya jika aku mendekatinya? Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan apa pun!"
"Sudah Mommy katakan jangan dia, Richard. Apa tidak ada wanita lain selain dia?"
"Wanita memang banyak tapi yang aku ingin dekati hanya Elena jadi jangan menghalangi!" Richard melangkah pergi setelah berkata demikian. Kedua tangan ibunya mengepal erat, Richard jadi mulai membangkang setelah bertemu dengan Elena. Wanita itu benar-benar memberikan pengaruh buruk pada putranya yang selama ini penurut dan sekarang, Richard tidak mau mendengarkan perkataannya sama sekali.
"Sekarang kau benar-benar jadi pembangkang, Richard!" teriaknya meski putranya sudah melangkah pergi. Dia menjerat Bob agar mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik bersama dengan putranya. Dia berusaha menyingkirkan Jansen agar putranya memiliki posisi aman di rumah itu tapi Richard justru jadi berubah gara-gara seorang wanita saja. Jangan sampai Richard hancur gara-gara wanita itu. Sepertinya dia harus meminta para pemuda itu melakukan hal yang lebih ekstrem dari pada menakuti dan mengancam Elena agar wanita itu benar-benar tahu diri dan menolak Richard. Hanya cara itu saja yang bisa membuat Richard berhenti.
Elena sudah kembali. Hari yang cukup melelahkan. Dia tahu kejadian seperti itu akan terulang dan dia harus semakin waspada. Membawa sepucuk pistol di dalam tasnya sepertinya harus dia lakukan untuk jaga diri apalagi dia belum tahu apa tujuan dari orang-orang yang mengejarnya.
Elena menjatuhkan dirinya ke atas sofa, kedua kakinya terasa pegal karena dia berlari menggunakan sepatu haknya. Lain kali dia harus berhati-hati, semua itu pasti gara-gara Richard. Elena memijit betis kakinya tapi dari kejadian itu, dia jadi tahu apa yang Jansen lakukan setelah pulang dari kampus.
Itu sangat bagus, Jansen benar-benar menunjukkan jika dia mau berubah dan menunjukkan jika dia sedang berusaha untuk mencari uang sendiri untuk membayar uang kuliahnya. Sebaiknya dia membuat makanan sebelum mandi, lagi pula dia sudah lapar. Bersantai sebentar untuk menikmati waktu di dalam bathtub bukanlah ide buruk namun satu hal yang tidak dia duga, dia bisa melihat Jansen sedang bekerja. Dia sangat tidak menyangka Jansen mau bekerja sebagai buruh bangunan.
Hanya itu pekerjaan yang bisa Jansen lakukan karena dia belum lulus dari kuliah. Bukan itu saja alasannya Jansen menjadi kuli bangunan, dia memang ingin memulai dari bawah agar tidak mencolok sehingga musuhnya tidak tahu dengan apa yang sedang dia lakukan. Jika musuhnya melihat jika dia hanya seorang pekerja kasar, maka musuhnya akan mengira dia lemah dan tidak berdaya. Dia hanya pecundang jadi dia tidak boleh memperlihatkan sisi lain dari dirinya.
Jansen dipukuli oleh sesama pekerja akibat kesalahan yang dia lakukan karena tanpa sengaja Jansen menjatuhkan pasir ke atas plester yang sudah jadi. Para pekerja yang baru menyelesaikan pekerjaan itu tentu saja murka. Oleh sebab itu Jansen mendapatkan pukulan dari para seniornya. Sungguh pekerjaan yang berat tapi dia harus bisa melewati semua itu tanpa bisa melawan.
Jansen pulang dalam keadaan babak belur. Semoga saja Elena tidak tahu jika keadaan wajahnya akibat pekerjaan pertamanya yang berat tapi sesungguhnya Elena sudah tahu. Saat dia kembali, Elena sedang memeriksa pekerjaannya di ruang tamu. Jansen terkejut karena dia mengira Elena sudah tidur karena sudah malam.
"Kenapa baru kembali?" Elena pura-pura tidak tahu.
"Aku bekerja, seharusnya kau tahu itu."
"Kerja apa?" Elena meletakkan buku yang ada di tangan lalu beranjak dan melangkah mendekati Jansen, "Apa kau bekerja sebagai tukang pukul?" tanyanya sengaja.
"Lalu memar di wajahmu?" Elena masih pura-pura tidak tahu.
"Aku terjatuh dari motor!" dusta Jansen.
"Oh, lain kali hati-hati. Segera pergi mandi, aku akan memanaskan makanan!"
"Baiklah," dia jadi lega karena Elena tidak banyak bertanya lagi tentang memar yang ada di wajahnya. Elena sudah melangkah menuju dapur tapi ucapan Jansen menghentikan langkahnya.
"Elena, mengenai kedua puluh pemuda itu?" Jansen melangkah mendekati Elena karena dia ingin tahu kenapa Elena tiba-tiba menuntut mereka.
"Manfaatkanlah keadaan dengan baik. Kau tahu posisimu dan kau tahu keadaan jadi manfaatkan mereka dengan baik. Tuntutan itu aku buat untuk menggertak mereka saja agar mereka menurut padamu jadi manfaatkan dengan baik!"
"Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih!"
"Sekarang duduk!" perintah Elena.
"Apa yang kau kau lakukan?"
"Duduk saja, jangan cerewet!" Elena sudah mengambil baskom berisi air hangat serta handuk. Memar di wajah Jansen jangan sampai terlihat jika tidak, akan ada yang curiga.
Tatapan mata Jansen tak lepas dari wajah Elena saat wanita itu berdiri di hadapannya dan sedang mengompres wajahnya yang memar. Sungguh dia tidak menduga Elena akan sebaik itu padanya.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Elena?"
"Berbuat baik tidak ada salahnya!"
"Tapi tidak semua orang akan berbuat baik pada orang yang baru dikenal!" Jansen menangkap tangan Elena dan menariknya mendekat. Elena terkejut, mereka berdua saling pandang untuk sesaat.
"Lihat aku, bagaimana menurutmu tentang aku?"
"Maksudmu?"
"Apa kau tidak memiliki debaran saat melihatku, Elena?" tanyanya.
"Debaran?" Elena terkejut karena tangan Jansen sudah berada di wajahnya dan mengusapnya perlahan.
"Yes, Elena. Apa tidak ada debaran yang kau rasakan saat bersama denganku?" Elena ditarik mendekat, mendadak dia jadi gugup karena wajah tampan Jansen cukup dekat. Kedua mata Elena bahkan melotot saat Jansen mengusapkan jari jempolnya ke bibirnya.
"Bolehkah?" tanya Jansen tanpa henti memainkan jarinya di bibir Elena yang menggoda.
"Ja-Jangan!" Elena mendorong Jansen menjauh lalu melemparkan handuk basah ke wajah pria itu. Jansen menyingkirkan handuk basah dari wajahnya, sayang sekali. Seharusnya langsung dia lakukan tanpa bertanya. Elena bergegas melangkah pergi sambil memegangi dadanya di mana jantungnya berdegup kencang. Menyebalkan, pemuda itu mulai pandai menggodanya.
Jansen beranjak lalu mendekati Elena. Dia masih belum selesai oleh sebab itu, Jansen memeluknya dari belakang tanpa permisi lagi. Elena terkejut, dan secara spontan Elena meraih lengan Jansen lalu membanting pemuda itu ke atas lantai. Jansen terkejut, teriakannya terdengar saat tubuhnya membentur lantai yang keras.
"Apa kau sudah gila?" pekik Jansen sambil menahan rasa sakit di punggungnya.
"Ja-Jangan memeluk aku secara tiba-tiba!" Elena melangkah pergi dengan wajah merona. Jantungnya kembali berdegup tak karuan karena Jansen memeluknya secara tiba-tiba seperti itu. Jansen mengumpat, sungguh wanita yang sulit didekati tapi dia akan kembali berusaha melakukannya karena dia ingin mengambil hati Elena.