My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Akhir Dari Leo



Geng Blood's Rose yang hendak melarikan diri sudah terikat. Mereka tidak berdaya lagi karena sudah dikalahkan oleh geng Black Circle. Geng motor yang hanya mencari kesenangan akibat broken home dapat mengalahkan geng yang berisi penjahat yang tak pandang bulu saat melakukan aksi mereka. Kejadian itu tidak akan dilupakan apalagi bos mereka dikalahkan oleh seorang wanita.


Elena memerintahkan dua anak buah Jansen menarik Adam dan mengikatnya. Pria itu akan menerima ganjarannya sebelum mereka ditangkap oleh polisi. Seperti yang dia katakan tadi, dia harus memakai rok tapi di mana mereka akan mendapatkan rok yang bisa dikenakan oleh seluruh anggota Blood's Rose?


Para anggota Black Circle bersorak untuk kemenangan mereka. Tidak menyangka bisa bersenang-senang bersama dan mengalahkan Blood's Rose yang mereka hindari selama ini. Semua itu berkat Elena yang mengajak mereka untuk membantu Leo dan bos mereka.


"Kakak ipar, kau sangat hebat!" mereka berlari mendekati Elena lalu memeluk Elena secara beramai-ramai.


"Hei, jangan menyentuh calon istriku!" teriak Jansen mencegah. Waktu itu dia berakhir di atas lantai karena ingin memekuk Elena tapi para anak buahnya justru dapat memeluknya begitu mudah, Sungguh menyebalkan.


"Bos tidak boleh cemburu!" teriak anaknya.


"Menyingkir kalian semua!" Jansen menarik anak buahnya satu persatu sampai mereka menjauh dari Elena lalu Jansen berdiri di depan Elena, "Jangan menyentuh milikku!" ucapnya lagi. Anak buahnya justru menggodanya sehingga mereka tertawa, Leo yang menyaksikan itu tersenyum. Apa yang dia pikirkan? Dia benar-benar lupa kebersamaaan mereka selama ini akibat dendam.


"Hei!" Rai menghampiri Leo yang masih bersandar di dinding. Leo mendongak, dia tidak menyangka Rai akan datang dan menyapanya.


"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Rai.


"Kau bisa melihatnya," ucap Leo.


"Ayo ke rumah sakit!"


"Tidak, aku belum selesai dengan para sampah yang ada di dalam sana!" ucap Leo.


"Apa yang kau inginkan?"


"Membuat mereka jera!"


"Perkara mudah!" Rai melangkah pergi menghampiri Jansen yang baru selesai mengikat Adam sesuai dengan perintah Elena. Darah yang mengalir dari luka-luka yang ada ditubuhnya mulai mengering. Meski sekujur tubuhnya terasa sakit tapi dia berusaha menahannya.


Rai mengatakan apa yang Leo inginkan oleh sebab itu, Jansen memerintahkan anak buahnya untuk menarik seluruh anggota keluarga Leo keluar. Teriakan keluarga Leo terdengar, mereka ditarik paksa lalu dikumpulkan secara berkelompok. Dengan keadaan tak berdaya akibat banyaknya darah yang keluar, Leo meminta Rai memapahnya karena ada yang hendak dia katakan pada keluarganya.


"Kau benar-benar keterlaluan, Leo!" teriak ayahnya.


"Kalianlah yang sudah keterlaluan," ucap Leo dengan sisa tenaga yang ada. Dia bahkan tidak sanggup berdiri sehingga harus dipapah oleh Rai.


"Kau benar-benar sampah. Lihatlah tindakanmu yang bergabung dengan para berandalan itu!"


"Diam! Mereka bukanlah berandalan, mereka adalah keluargaku karena mereka menerima aku tidak seperti kalian yang memperlakukan aku seperti anjing!" teriak Leo dan akibat teriakannya itu, Leo meringis sakit sambil memegangi dadanya.


"Jangan memaksakan diri, Leo. Kita ke rumah sakit sekarang!"


"Tidak, aku ingin menyelesaikan semuanya saat ini juga agar para sampah ini tidak lagi memperlakukan aku sesuka hati hanya karena aku lemah dan tidak berdaya!"


"Apa yang hendak kau lakukan, hah? Jika kau tidak tinggal dengan kami, lalu kau mau tinggal dengan siapa? Apa dengan para sampah ini?" cibir salah satu kakak tirinya.


"Waktu itu kau hampir mati di jalan karena lari dari rumah tapi pada akhirnya kembali lagi. Bukankah kau membutuhkan kami dan sekarang kau ingin lari lagi? Aku berani bertaruh kau akan merangkak pulang seperti anjing karena kau tidak akan bisa tanpa kami!" cibir kakak tiri yang lainnya.


"Itu karena dia menyukai air cucian kaki kita!" kedua kakak tirinya tertawa, Leo sangat marah. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Leo mengambil pisau milik anak buah Blood's Rose yang terjatuh karena dia ingin membunuh kedua kakak tirinya apalagi jarak yang tidak jauh namun Rai segera mencegahnya.


"Apa yang mau kau lakukan, bodoh!" kedua tangan Leo sudah ditahan agar dia tidak melakukan tindakan bodoh itu dan pisau yang dia dapatkan segera dilucuti.


"Lepaskan aku, aku akan merobek mulut mereka yang sampah itu dan membunuh mereka semua!" ucap Leo penuh emosi.


"Jangan lakukan, kau bisa masuk penjara!"


"Aku tidak peduli. Aku muak dengan mereka semua!" Seharusnya dia membiarkan anggota Blood's Rose memperkosa mereka. Seharusnya bosnya tidak cepat datang.


"Aku yang mau, siapa yang bilang tidak ada?" ucap Elena yang melangkah melewati anak buah Jansen. Semua mata tertuju padanya kecuali Jansen yang tidak terkejut dengan perkataan Elena.


"Siapa kau" tanya ayah Leo.


"Aku siapa, itu tidak penting tapi jawab pertanyaanku baik-baik. Apa benar kau sudah tidak menginginkan Leo lagi?" tanya Elena yang sudah berdiri di sisi Leo. Leo sudah hampir pingsan, dia di antara sadar dan tidak tapi dia masih berusaha bertahan agar dia tahu apa yang hendak Elena katakan.


"Sampah seperti dirinya, siapa yang mau?" teriak kedua saudara tiri Leo.


"Kalian serius akan hal ini?"


"Ambil saja jika kau mau!" ucapan ayahnya sungguh melukai perasaan Leo. Pantas saja ayahnya tidak mencegah dan membela saat dia diperlakukan seperti binatang. Ternyata ayahnya benar-benar tidak menginginkan dirinya.


"Baiklah, semua yang ada di sini adalah saksi jika kalian tidak menginginkan dirinya dan mulai sekarang, aku menjadikan Leo sebagai saudara angkatku!" teriak Elena lantang.


"Apa?" Leo terkejut di balik ketidakberdayaannya.


"Aku tidak punya adik laki-laki jadi kau bisa menjadi adikku mulai sekarang tapi setelah ini, aku ingin melihat kau yang berprestasi!" ucap Elena.


"Sialan, kau begitu beruntung!" beberapa sahabatnya mengeroyok Leo begitu juga Rai.


"Lukaku.. Lukaku!" teriak Leo tapi dia masih dikeroyok karena keberuntungannya dan akibat hal itu, Leo benar-benar pingsan.


"Leo!" para sahabatnya berteriak melihat Leo tidak sadarkan diri. Leo buru-buru dibawa pergi untuk mendapatkan pertolongan.


"Kau pasti menyesal telah mengambil sampah tidak berguna itu menjadi saudaramu!" cibir kedua saudara tiri Leo.


"Aku tidak akan menyesal tapi ingat satu hal, ini pertemuan terakhir kalian dengan Leo karena setelah ini kalian tidak akan bisa bertemu dengan Leo lagi sekalipun kalian mau mati nanti!"


"Ha.. Ha.. Ha! Sampah seperti dirinya tidak berguna sama sekali untuk kami!" tawa kedua saudara tiri Leo terdengar nyaring, tak hentinya mereka mencibir Leo yang mereka anggap sebagai sampah.


"Kembalikan mereka ke dalam dengan keadaan seperti itu!" perintah Elena.


"Apa? Lepaskan kami!" teriak keluarga Leo.


"Maaf saja, kami menemukan kalian dalam keadaan terikat jadi akan kami kembalikan seperti semula. Sampah yang ditemukan pasti akan masukkan ke dalam tong sampah seperti saat ditemukan!"


"Kurang ajar, lepaskan kami!" teriak ayah Leo namun mereka semua dibawa masuk dalam keadaan yang sama. Umpatan dan cacian yang mereka lontarkan tidak ada yang mendengarkan. Setelah selesai dengan mereka, kini giliran kelompok Blood's Rose.


"Tolong lepaskan kami. Mulai sekarang kami akan menjadi anggota Black Circle!" pinta anak buah Adam.


"Sayangnya, aku tidak menerima sampah!" tolak Jansen.


"Kami benar-benar minta maaf!" teriak mereka.


"Bagaimana kita membereskan mereka, bos?" tanya anak buah Jansen.


"Ada ide bagus?" tanya Jansen pula.


"Bagaimana kakak ipar?" mereka justru bertanya pada Elena.


Elena berpikir sejenak sampai akhirnya sebuah ide dia dapatkan. Sebagai ganti rok yang tidak akan mereka temukan dengan mudah, seluruh pakaian anggota Blood's Rose dilucuti namun pakaian itu digunakan sebagai pengganti Rok. Rambut mereka semua dicukur sampai botak lalu wajah mereka didandani sedemikian rupa.


Semua bersenang-senang, mereka mengambil yang diperlukan dari dalam rumah Leo. Make up mahal kedua kakak tiri Leo menjadi sasaran empuk dan setelah mendandani seluruh anggota Blood's Rose seperti wanita, mereka semua diminta merangkak ke kantor polisi dan beberapa dari mereka di paksa untuk menarik bos mereka yang masih tidak sadarkan diri. Adam pun tak luput dari kejahilan para pemuda itu, wajahnya sudah penuh dengan coretan lipstik dan dia sudah seperti badut kekurangan dana. Keluarga Leo pun ditinggalkan begitu saja dalam keadaan terikat dan mereka akan tetap dalam keadaan seperti itu sampai ada yang datang dan membantu mereka.