
Elena yang sudah selesai buru-buru kembali karena dia khawatir para pemuda itu membuat kekacauan. Seharusnya dia memberikan kunci rumahnya agar mereka bisa menunggu di rumah. Sekarang dia jadi cemas, jangan sampai dia diusir karena dia baru tinggal di sana.
Jansen dan anak buahnya tentu sudah tidak sabar menunggu, mereka semua duduk di teras rumah Elena. Jansen yang belum mendapatkan kunci cadangan tentu saja tidak bisa masuk ke dalam. Sepertinya dia harus memintanya setelah ini.
Mereka menunggu cukup lama dan ketika terdengar suara motor, mereka buru-buru beranjak untuk melihat siapa yang datang. Mereka terlihat senang karena Elena sudah kembali oleh sebab itu, ketika Elena sudah turun dari motor dia disambut oleh mereka bahkan Mariana berlari ke arahnya untuk memeluknya padahal Elena belum sempat membuka helm yang dia kenakan.
"Akhirnya kau kembali kakak ipar, akhirnya kau kembali!" Mariana tampak lega karena penyelamatnya telah kembali.
"Selamat datang kakak ipar!" yang lain menyambut kedatangan Elena dengan antusias.
"Sstt, jangan berisik. Jangan sampai ada yang mengira jika aku adalah ketua kalian!" pinta Elena sambil melepaskan helmya.
"Apa kakak ipar baik-baik saja?" tanya Mariana yang mulai memeriksa keadaan Elena dari depan ke belakang.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik-baik saja, semua berkat bantuan kakak ipar. Terima kasih kakak ipar," Mariana kembali memeluknya. Dia benar-benar berterima kasih karena jika tidak ada Elena, dia yakin dia sudah dijual oleh kedua kakak tirinya.
"Nanti kita bicara lagi, sekarang masuk dulu ke dalam. Jangan sampai ada yang curiga dengan keberadaan kalian di depan rumah!"
"Baik, kakak ipar!" jawab mereka semua.
Elena melangkah maju untuk membuka pintu rumahnya. Yang paling ingin tahu akan keadaannya adalah Jansen, namun dia berdiri di belakang saja tanpa melepaskan pandangannya dari Elena. Sebuah perasaan lega dia rasakan karena Elena baik-baik saja.
Elena masuk terlebih dahulu, senjata api yang dia bawa dilepaskan satu persatu. Malam ini dia benar-benar kelepasan karena dia tidak mau terjadi hal buruk pada Mariana. Sekarang dia sangat menyadari jika semua pemuda itu melihat ke arahnya dengan tatapan ingin tahu. Entah bagaimana caranya dia menjelaskan pada mereka jika mereka bertanya yang pasti dia harus bisa menutupi identitasnya.
"Ada makanan di dapur, kalian bisa memakannya!" ucap Elena. Sebaiknya dia menyimpan senjata apinya terlebih dahulu dan mandi sebelum dia mendapatkan banyak pertanyaan dari pemuda yang penasaran.
'"Aku yakin kakak ipar bukan orang biasa," ucap salah satu pemuda itu pada Jansen setelah Elena pergi.
"Dia memang bukan orang biasa. Apa kalian tidak melihat apa yang baru saja dia lakukan? Tidak heran dia bisa mengalahkan kita semua waktu itu!" ucap Jansen.
"Jangan-Jangan kakak ipar adalah seorang intel yang sedang menyamar di kampus untuk menangkap penjahat!"
"Wah, ini sangat masuk akal!" Mendadak pemuda yang penasaran itu sudah duduk di lantai dan membentuk sebuah lingkaran untuk berdiskusi tapi dengan suara yang cukup pelan. Tentu saja yang mereka bahas adalah, siapa sebenarnya Elena.
"Dari pada intel, aku lebih curiga jika dia adalah seorang anggota mafia yang sedang menyamar menjadi dosen!" ucap yang lainnya.
"Bagaimana menurut kalian, dia intel atau anggota mafia?" tanya Jansen. Setelah melihat aksi Elena, kedua opsi itu sangat masuk akal. Mungkin yang anak buahnya katakan sangat benar. Mungkin saja Elena adalah intel yang sedang mencari buronan yang menyamar menjadi dosen atau salah satu mahasiswa. Sepertinya dia harus mencari tahu akan hal ini.
"Mau intel atau anggota mafia, apa bos tidak berniat mendekati kakak ipar?" pertanyaan dari salah satu anak buahnya tentu membuat yang lain melihat ke arah orang yang melontarkan pertanyaan itu.
"Bos bisa belajar banyak dari kakak ipar. Bos juga tidak rugi jika bisa mendapatkan kakak ipar menjadi kekasih bos karena tidak saja cantik tapi kakak ipar juga sangat keren!"
"Wah, ide bagus. Kami akan membantumu untuk mendapatkan kakak ipar, Bos!" ucap yang lainnya.
"Jangan bercanda, aku tidak memiliki apa-apa jadi aku tidak pantas!"
"Sebab itu bos harus menunjukkan pada kakak ipar jika bos pantas mendapatkan cintanya. Kami akan membantu sampai bos dan kakak ipar menjadi sepasang kekasih!" ucap para anak buahnya.
"Yes, kita akan membantu!" sorak mereka.
"Hei, sebaiknya jangan karena aku tidak mau membuatnya marah!"
"Apa yang kalian lakukan di sana?" pertanyaan Elena membuat mereka semua berpaling.
"Apa kalian tidak mengambil makanan yang ada di atas meja?" tanya Elena.
"Belum, kami menunggu kakak ipar!"
"Baiklah, ayo kita makan," ajak Elena.
"Elena, sebentar!" pinta Jansen seraya beranjak.
"Ada apa?" Elena yang sudah mau pergi ke dapur menghentikan langkahnya, sedangkan para pemuda itu sudah meninggalkan mereka.
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Terima kasih karena kau sudah bersedia datang untuk membantuku menolong Mariana," ucap Jansen seraya mendekati Elena.
"Tidak masalah, aku menolong karena aku peduli dengannya!"
"Hm, aku sangat?" Jansen menghentikan perkataannya karena tingkah laku anak buahnya yang berdiri cukup jauh di belakang Elena. Mereka memberi isyarat agar Jansen segera memeluk Elena ada pula yang memberi isyarat agar Jansen mencium Elena. Dua orang sedang memperagakan adegan pelukan agar Jansen melakukannya sedangkan dua pemuda lain memperagakan adegan ciuman di mana Jansen harus mencium Elena dan apa yang dilakukan oleh kedua pemuda itu justru membuat Jansen mual.
"Cepat, Bos. Peluk, peluk" Bisik mereka.
"Cium, kau harus segera menciumnya, Bos!" bisik yang lainnya. Jansen melotot sebagai isyarat pada mereka untuk pergi. Bisa-Bisa dia babak belur jika dia melakukannya dan karena sikap mencurigakannya itu membuat Elena sangat heran.
"Ada apa?" tanya Elena sambil berpaling ke belakang karena dia ingin tahu apa yang sedang Jansen lihat. Para pemuda yang sedang menggoda Jansen buru-buru berpaling dan melangkah pergi sambil bersiul seolah-olah mereka tidak melakukan apa pun. Jansen memijit pelipis, benar-benar anak buah yang heboh.
"Apa yang ingin mau katakan?" Elena kembali berpaling ke arah Jansen.
"Aku sangat berterima kasih, hanya itu," ucap Jansen.
"Baiklah, sekarang ayo makan!" Elena berjalan pergi, sedangkan Jansen berdiri di tempat. Mendadak perkataan anak buahnya mulai sedikit mempengaruhi dirinya. Elena tidak saja cantik, dia juga hebat dan jika dilihat, bentuk badanya juga sangat bagus.
"Apa kau tidak mau makan?" tanya Elena karena Jansen diam saja.
"Tentu saja aku mau!" Jansen melangkah mengikuti, gara-gara anak buahnya dia jadi memandangi Elena dengan pandangan yang berbeda.
"Kakak ipar, dapat dari mana semua makanan ini?" tanya Mariana yang sudah sibuk mengeluarkan semua makanan yang ada di atas meja.
"Anggap saja aku baru bertemu dengan orang baik saat pulang!" ucap Elena.
"Wah, sudah lama tidak makan enak!" mereka semua antusias setelah melihat semua makanan yang ada. Karena mereka semua berasal dari keluarga yang broken home jadi mereka merasa sudah lama tidak makan makanan seperti itu..
"Kalian bisa menghabiskan semuanya tapi setelah ini, aku ingin kalian bercerita padaku apa yang sedang kalian alami selama ini sehingga kalian bisa menjadi anak-anak nakal. Mungkin aku bisa membantu kalian satu persatu. Apa kalian keberatan?"
Semua saling pandang dan menunduk, mereka seperti enggan. Elena tahu mereka pasti memiliki pertimbangan sendiri, mungkin dia harus pelan-pelan.
"Baiklah, jangan dipikirkan perkataanku. Sebaiknya kita makan!"
"Baik, kakak ipar!" Jawab mereka.
Semua saling membantu, mereka tampak bersenang-senang. Jansen memperhatikan para anak buahnya, selama ini mereka tidak pernah percaya pada siapa pun karena mereka tidak pernah diterima di dalam keluarga dan mereka tidak pernah akrab dengan orang asing begitu cepat tapi Elena Jackson, begitu mudah mengambil hari mereka semua. Haruskah dia mengikuti saran para anak buahnya mengambil hati Elena? Sepertinya akan sulit untuk dilakukan apalagi saat ini, dia masih seorang pecundang.