
Elena meminta bantuan pamannya, Samuel Archiles yang sudah menjadi seorang pembisnis di London selama puluhan tahun. Sesungguhnya dia benar-benar tidak mau menggunakan kekuasaan keluarganya karena dia ingin hidup mandiri dan dia ingin mengatasi masalahnya seorang diri tapi kali ini, kesabarannya sudah habis.
Kesombongan ibu tiri Jansen sudah melewati batas dan dia tidak tahan dengan orang seperti itu yang lupa langit dan bumi. Ibu tiri Jansen merasa jika dia yang terhebat dan memiliki segalanya jadi hari ini, dia akan membuat wanita itu melihat jika dia tidak boleh memandang remeh orang lain oleh sebabĀ itu, dia membutuhkan bantuan pamannya untuk menghancurkan mereka dengan perlahan. Sesuai yang dia inginkan, Samuel langsung bergerak tanpa membuang waktu apalagi Elena berkata jika dia dihina ketika Samuel menanyakan alasan Elena hendak menghancurkan Bob. Sebagai pamannya, tentu saja dia tidak terima Elena dihina hanya karena sekarang dia sedang bekerja.
"Bicara yang jelas, Richard!" teriakan Bob mengejutkan Anne yang sedari tadi tampak angkuh.
"Apa yang terjadi?" Anne melangkah mendekati Bob yang masih berbicara dengan Richard.
"Aku juga tidak tahu, Dad. Tiba-Tiba saja investor terbesar kita menarik sahamnya dan setelah itu pengusaha lain pun melakukannya. Sekarang saham milik kita semakin merosot dan kita sudah mengalami kerugian ratusan ribu dolar. Aku sedang mengupayakan tapi aku tidak berjanji apakah aku bisa mencegah pengusaha yang lainnya."
"Sialan, katakan yang jelas kenapa semua itu bisa terjadi. Tidak mungkin tidak ada asap jika tidak ada api!" ucap Bob tanpa menyadari jika istrinyalah yang telah menyulut api.
"Aku tidak tahu, sudah aku katakan aku tidak tahu!" Richard terdengar frustasi karena dia juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
"Sial, selidiki dengan benar!" perintah Bob. Tidak mungkin hal itu ulah Elena, dia tidak percaya. Pasti hanya kebetulan saja.
"Apa yang terjadi?" tanya Anne.
"Saham perusahaan tiba-tiba saja jatuh. Investor terbesar kita tiba-tiba menarik semua sahamnya lalu diikuti dengan yang lainnya."
"Bagaimana bisa?" Anne terkejut. Dia tampak berpikir lalu melihat ke arah Elena. Apakah benar semua itu ulahnya? Tidak, tidak mungkin. Mana mungkin? Semua yang terjadi pasti hanya hanya karena kebetulan semata. Berandalan itu hanya menggertak saja dan tidak mungkin memiliki power apa pun.
"Bagaimana, apa masih ingin lanjut?" kali ini Elena yang menantang dan terlihat angkuh.
"Ini pasti hanya kebetulan saja, tidak perlu sombong!" ucap Anne.
"Oh... Jansen, apa kau benar-benar ingin mereka hancur dengan perlahan?" tanya Elena acuh tak acuh.
"Yeah, tidak menyenangkan langsung hancur, bukan? Aku ingin mereka menerima prosesnya dengan perlahan hingga kesombongan mereka terhempas jatuh, sejatuh-jatuhnya."
"Teganya kau berkata seperti itu, Jansen. Kau benar-benar tidak memiliki simpati bahkan kau sudah terlihat tidak sabar melihat kehancuranku!" ucap ayahnya.
"Maaf saja, Dad. Uang yang kau miliki tidak bisa aku nikmati padahal aku adalah putra kandungmu. Yang menikmatinya justru ******* itu dan putranya, lalu untuk apa aku bersimpati? Untuk sekolah di kampus milikmu saja aku harus bayar sedangkan anak orang lain makan tidur di rumahmu tanpa perlu membayar bahkan bisa menikmati harta milikmu tanpa susah payah jadi untuk apa aku bersimpati? Dari pada mereka yang menghabiskan harta milikmu dan jangan lupa, ada jerih payah Mommy di sana jadi lebih baik milikmu habis begitu saja dari pada dihabiskan oleh mereka yang sejak awal menginginkan uangmu jadi nikmati saja prosesnya! Meski kau sudah miskin dan tidak memiliki apa pun tapi kau tetap ayahku dan hal itu tidak bisa diubah. Aku pun bersedia menampungmu meski kau sudah mengecewakan aku tapi mereka? Kita lihat apa yang akan mereka lakukan setelah kau tidak memiliki apa pun lagi!"
"Kurang ajar. Kau justru menginginkan ayahmu hancur!" teriak Anne tidak terima.
"Lima belas menit, sebaiknya siapkan hati kalian!" ucap Elena.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Anne dan di waktu yang bersamaan, Bob kembali mendapatkan telepon dari asistennya.
"Sir, sebaiknya kau segera datang karena telah terjadi sesuatu!" ucap sang asisten.
"Ada apa lagi?" firasatnya buruk, jangan katakan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Sebaiknya kau segera datang!" ucap asistennya.
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" sial, jangan katakan ada masalah lagi. Bob menatap Elena dengan tatapan tajam, benarkah apa yang sedang terjadi gara-gara wanita itu? Sebenarnya siapa Elena Jackson? Sepertinya dia harus mencari tahu. Belum terlambat dan dia rasa isu yang mereka dengar tentang Elena tidaklah benar karena wanita itu seperti memiliki kekuasaan.
"Ada apa lagi?" tanya Anne pada suaminya.
"Apa semua ini gara-gara kau?" Anne melotot ke arah Elena dengan tatapan tidak senang.
"Aku hanya sampah, ingat apa yang kau katakan tentang aku lalu apa yang bisa aku lakukan?" Elena justru pura-pura tidak melakukannya.
"Jangan mengelak, semua ini pasti ulahmu!" teriaknya.
"Lalu, bukankah kau begitu sombong tadi? Aku rasa hanya seperti ini saja tidak mungkin bisa langsung membuat kesombonganmu terhempas jauh. Oh.... atau kau mau berlutut di bawah kakiku lalu meminta aku menghentikan semua ini dan setelah itu kau akan merangkak keluar?" kini Elena mengembalikan perkataan Anne.
"Kurang ajar. Hanya begini saja, jangan terlalu sombong. Kami tidak akan jatuh miskin. Sebaiknya kau bersiap karena kalian akan aku keluarkan secara tidak terhormat setelah ini!" setelah berkata demikian, Anne mengikuti Bob pergi. Bob melirik putranya sejenak, Jansen tidak peduli sama sekali karena dia memang ingin ayahnya kehilangan semuanya agar ayahnya melihat seperti apa istri dan anak orang lain yang dia bela.
"Nikmati prosesnya, Nyonya," ucap Elena sebelum Anne dan Bob benar-benar keluar dari ruangan itu. Anne menelan ludah, Elena pasti bercanda saja tapi sudah dua kejadian yang terjadi dan jika tidak ada kejadian apa pun lagi maka dia akan menganggap semua itu hanya kebetulan semata. Nanti dia pasti akan membuat perhitungan lagi, tunggu saja.
"Ayo kembali ke kelas!" ajak Elena.
"Hei, kita tidak jadi keluar?" tanya Jansen.
"Sudah aku katakan padamu, tidak akan ada yang bisa mengeluarkanmu. Pelajaran sudah akan dimulai jadi bersikaplah biasa. Masalah ini hanya kita yang tahu jadi tidak perlu khawatir tapi jika ada yang tahu maka?" Elena melirik ke arah rektor yang sedari tadi menonton tanpa mengatakan apa pun.
"Aku tidak akan mengatakan apa pun, tidak perlu khawatir!" ucap sang rektor yang sekarang takut dengan Elena.
"Kau memang harus menjaga mulutmu jika tidak mau berakhir tragis dan mengenai isu yang beredar?"
"Akan segera aku redakan, kau tidak perlu khawatir!"
"Bagus. Jika sampai aku masih mendengar isu itu maka aku akan melemparmu ke dalam kandang singa!"
"Tidak... Tidak, segera aku kerjakan!" sang rektor buru-buru pergi.
Elena mendengus dan melangkah pergi. Sungguh pertunjukkan yang melelahkan. Tapi semua terjadi secara tiba-tiba dan dia pun tidak bisa bertahan di kampus itu lagi. Bagaimanapun bendera perang sudah berkibar dan dia harus pergi dari sarang musuh.
"Elena, sekarang katakan padaku. Siapa sebenarnya kau?" tanya Jansen yang semakin curiga dengan identitas Elena.
"Kenapa? Apa kau juga takut denganku?"
"Tidak, aku tahu kau bukan orang biasa jadi katakan padaku siapa kau!"
"Aku hanya Elena, Elena Jackson. Aku seorang dosen, tidak ada yang istimewa dariku!"
"Bohong, jika kau bukan siapa-siapa lalu kenapa kau bisa menghancurkan ayahku dalam sekejap mata?"
"Jansen, aku dan kau tidak jauh berbeda. Aku sedang mencari pengalaman dan belajar hidup mandiri. Yang memiliki power adalah keluargaku, bukan aku jadi aku memanfaatkan sedikit kekuasaan yang mereka miliki untuk membalas ibu tirimu yang sombong. Aku tidak memiliki apa pun karena aku hanya dosen. Cam kan itu!"
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi!"
"Bagus, kembali ke kelas!" Elena berjalan pergi terlebih dahulu. Meski dia dari keluarga berada dan dari keluarga yang memiliki kekuasaan tapi dia hanyalah Elena dan dia sedang berusaha membuat keluarganya bangga. Gara-Gara kesombongan Anne dia jadi meminta bantuan pamannya tapi dia tidak menyesal bahkan dia tidak akan berhenti untuk menjatuhkan orang sombong seperti Anne.