
Jansen yang pergi membeli obat akhirnya kembali. Tidak saja membeli obat tapi dia juga membeli buah-buahan untuk Elena. Jansen sudah meminta bantuan Leo untuk meminta ijin karena dia tidak bisa pergi ke kampus. Dia juga sudah meminta ijin pada mandor jika hari ini dia tidak masuk bekerja. Setidaknya dia sudah diterima di tempat bekerja, sehingga semua jadi baik padanya.
Selama di perjalanan kembali, Jansen membeli bunga karena dia ingin memberikan bunga itu pada Elena. Selama ini dia tidak pernah membelikan Elena apa pun, dia justru selalu merepotkan Elena. Sepertinya ketika Elena sudah sembuh, dia harus mengajak Elena untuk berkencan. Mendadak dia jadi tidak sabar.
Jansen membawa motornya lebih cepat. Dia harus cepat kembali. Situasi rumah terlihat seperti biasanya . Tidak ada yang aneh bahkan motor Mariana pun ada di depan rumah. Jansen menghirup aroma wangi bunga saat melangkah menuju pintu. Dia jadi teringat dengan ciuman pertama yang dia lakukan dengan Elena dan dia berniat melakukannya lagi.
Pintu rumah sedikit terbuka, dia masih tidak curiga sama sekali namun ketika Jansen membuka pintu, dia terkejut karena Mariana terbaring di atas lantai dalam keadaan babak belur.
"Apa yang terjadi denganmu" teriak Jansen seraya berlari mendekati Mariana yang pingsan.
"Mariana!" Jansen berteriak memanggil sambil mengguncang bahu Mariana tapi tidak ada respon. Jansen berlari ke dalam, firasat buruk. Kamar Elena menjadi tujuan, jangan katakan ada yang menyerang di saat dia pergi dan di saat Elena sedang sakit.
"Elena!" Jansen berteriak memanggil saat menerobos masuk ke dalam kamar Elena namun kamar itu kosong.
"Elena, di mana kau?" Jansen mencari di dalam kamar namun Elena juga tidak ada. Tidak menyerah, Jansen mencari di segala ruangan yang ada di rumah itu namun hasilnya nihil. Tidak ada cara lain yang bisa dia lakukan selain membangunkan Mariana karena Mariana pasti tahu apa yang telah terjadi.
Sebotol minyak angin dan segelas air Jansen ambil dan setelah itu dia kembali mendekati Mariana yang masih dalam keadaan pingsan.
"Mariana, bangun!" air dipercik, minyak angin digosokkan .
Mariana masih belum sadar, itu karena dia mendapatkan pukulan keras tanpa terduga. Jansen kembali memberinya minyak angin, sampai Mariana sadar dari pingsannya.
"Mariana, apa yang terjadi?" tanya Jansen sambil mengguncang tubuh Mariana. Dia sudah terlihat panik karena Elena tidak berada di mana-mana. Jansen kembali mengguncang tubuh Mariana sampai gadis itu sadar.
"Kakak ipar, kakak ipar?" ucap Mariana.
"Apa yang terjadi, mana Elena?"
Mariana memegangi kepala dan merintih kesakitan, dia ingat meski masih samar. Saat membuka pintu rumah, sekelompok orang asing berdiri di depan pintu. Mereka menerobos masuk lalu memukulnya tanpa belas kasihan. Elena yang sedang sakit dan tak bisa melawan pun dibawa paksa dalam keadaan tidak berdaya. Orang-orang itu mengatakan sesuatu sebelum dia pingsan dan yang sudah pasti mereka menginginkan bosnya.
"Apa yang terjadi, Mariana? Mana Elena, apa ada yang membawanya?" tanya Jansen dengan kemarahan di hati. Satu orang saja yang dia curigai dan dia tidak mungkin salah.
"Mereka menginginkan dirimu, Bos. Mereka berkata akan menghubungi dirimu dan kau tidak boleh menghubungi polisi karena mereka berkata mereka akan membunuh kakak ipar jika kau melakukannya!"
"Sial, sungguh picik!" tidak diragukan lagi jika pelakunya adalah ibu tirinya. Kali ini ayahnya harus melihat seberapa jahat wanita yang telah dia nikahi dan yang telah dia percaya selama ini.
"Aku antar kau ke rumah sakit!" Jansen menggendong Mariana, dia harus menolong Mariana terlebih dahulu.
"Bagaimana dengan kakak ipar? Kau harus segera menolongnya, Bos!"
"Aku akan mencarinya, aku yang akan pergi menolongnya dan Leo yang akan membantu aku menemukan keberadaan Elena!"
"Kau harus cepat, bos. Aku takut terjadi sesuatu pada kakak ipar!"
"Aku tahu tapi aku tidak bisa meninggalkan dirimu seperti ini!" Jansen membawa Mariana pergi terlebih dahulu karena keadaan Mariana juga memprihatinkan. Dian harap tidak terlambat dan berharap Elena baik-baik saja. Kali ini dia akan serius untuk menyingkirkan rubah jahat itu dan ayahnya harus melihat.
Setelah mengantar Mariana, Jansen menghubungi Leo karena dia ingin meminta Leo mencari di mana Elena dibawa. Selama Leo mencari, Jansen pulang ke rumahnya. Si tua bangka itu mungkin tahu dan mungkin saja tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh istri dan anak yang dia banggakan selama ini.
"Keluar kalian berdua!" teriak Jansen setelah dia tiba di rumahnya.
"Kenapa kau berteriak seperti itu, apa kau sudah gila?" teriak ayahnya marah.
"Mana rubah jahat dan putranya itu?" tanya Jansen.
"Mungkin di dalam kamar," jawab ayahnya karena dia tidak tahu di mana Anne dan Richard.
"Di dalam kamar? Apa Daddy tahu apa yang mereka lakukan saat ini?"
"Apa maksudmu?" tanya ayahnya tidak mengerti.
"Mereka melakukan kejahatan, Dad. Mereka menculik Elena!" teriak Jansen marah.
"Apa kau bilang? Jangan asal bicara!" ayahnya masih tidak percaya dengan apa yang Jansen katakan.
"Aku tidak asal bicara dan asal kau tahu, kalian sedang menggali lubang kubur kalian sendiri!"
"Anne, Richard!" teriak Bob karena dia mengira Anne dan Richard berada di dalam kamar mereka.
"Percuma, mereka sedang melakukan kejahatan saat ini dan percayalah dengan apa yang aku katakan, kau tidak saja akan kehilangan perusahaanmu tapi kau juga bisa kehilangan nyawamu!"
"Jangan menakuti, jika mereka memang menculik Elena maka biarkan mereka berada di dalam penjara nantinya!"
"Apa Daddy pikir begitu mudah? Kita tidak tahu siapa Elena Jackson, dia tidak pernah mengumbar identitasnya tapi Daddy bisa lihat sendiri dia bisa menghancurkan perusahaan Daddy dalam waktu hitungan menit. Apa Daddy pikir orang biasa bisa melakukan hal itu? Sebaiknya Daddy berhati-hati dan aku harap Daddy tidak membela mereka lagi!"
"Dari mana kau tahu mereka pelakunya?" tanya ayahnya.
"Percayalah, Dad. Tidak ada orang lain selain mereka karena mereka tidak mau jatuh bangkrut dan sekarang, buka kedua matamu selebar mungkin. Lihat siapa istri dan putra yang kau banggakan itu. Jika kau masih membela mereka, percayalah padaku, sekalipun kau mati, aku tidak akan pernah peduli dan yang paling buruk adalah, saat kau jadi gelandangan di jalan, aku pun tidak akan pernah peduli. Aku akan berpura-pura tidak mengenalimu sekalipun kau memanggil dan memohon padaku. Ini bukan ancaman karena aku benar-benar akan melakukannya!"
Bob mengusap wajahnya yang lelah, apakah yang dikatakan oleh Jansen adalah benar? Apakah Anne dan Richard melakukan hal gila itu?
"Aku datang untuk memberitahu dirimu dan aku harap kau tidak membela mereka lagi apa pun yang terjadi tapi jika kau masih melakukannya, aku pun tidak bisa menolongmu karena sifat bodoh itu ada pada dirimu sendiri!" setelah berkata demikian, Jansen melangkah pergi. Semoga ayahnya tidak memelihara sifat bodohnya itu. Jansen menghubungi Leo terlebih dahulu sebelum dia pergi.
"Bagaimana, Leo? Kau menemukannya?"
"Kakak dibawa ke sebuah bangunan tua!" Leo meretas semua cctv yang bisa dia retas hingga akhirnya dia menemukan keberadaan Elena.
"Kumpulkan yang lain, temui aku di rumah Elena!" perintahnya.
"Baik, Bos!" Leo yang sedang kuliah meminta ijin karena dia harus pergi.
Jansen sudah menyalakan motor, dia akan langsung pergi. Dia tahu Elena memiliki senjata api jadi dia harus menggunakan benda itu untuk menyelamatkan Elena. Dia tahu lawannya tidak boleh diremehkan karena bisa saja Anne membayar penjahat kelas kakap yang sulit dikalahkan.
"Tunggu, Jansen!" teriakan ayahnya menghentikan Jansen yang sudah mau pergi.
"Mau apa?"
"Aku ikut!" ucap Bob. Kali ini dia mau melihat dan membuktikan apakah benar Anne dan Richard begitu gila melakukan perbuatan nekat hanya agar mereka tidak jatuh bangkrut. Tapi jika dilihat dari sifat Anne, sudah pasti dia tidak akan mau merangkak di bawah kaki Jansen dan Elena untuk minta maaf oleh sebab itu, rasanya sangat tdak mustahil.