
Setelah selesai menjenguk Leo, Jansen pamit pergi karena dia harus segera pergi bekerja. Tubuhnya sedang dipenuhi oleh luka, jangan sampai terlambat dan hari ini dia tidak boleh membuat kesalahan sehingga mendapatkan pukulan. Jangan sampai luka yang masih belum kering kembali menganga akibat kelalaiannya.
Akibat kesalahan waktu itu, dia sudah banyak belajar. Meski kulit tangan menjadi kasar tapi dia tidak peduli karena semua itu demi tujuannya. Begitu Jansen keluar dari rumah sakit, seorang pria mengikuti dirinya. Pria itu adalah orang suruhan Anne yang dia perintahkan untuk melihat apa yang Jansen lakukan selama di luar. Dia khawatir Jansen membuat sebuah gebrakan tanpa dia tahu sehingga dia dan putranya terdepak akibat kelalaian mereka.
Jansen menggunakan motor Elena namun dia tahu ada yang sedang mengikuti dirinya. Jansen pun tidak menghindar. Dia pura-pura tidak tahu dan pergi ke tempatnya bekerja. Bangunan gedung dengan puluhan lantai yang belum jadi menjadi tempat tujuan. Dia diperbolehkan masuk karena penjaga proyek sudah mengenalnya. Sungguh tempat bagus untuk dijadikan tempat menyamar. Dengan begini siapa pun akan menganggapnya pecundang meski itu bukan pekerjaan seorang pecundang tapi bagi seseorang yang menganggap dirinya tinggi, maka pekerjaan seperti itu pasti akan dipandang rendah.
Orang yang mengikutinya pun menyelinap masuk saat penjaga itu sedikit lalai. Dia mencari Jansen sampai akhirnya, Jansen yang sedang bekerja dan yang sedang mengangkat benda berat ditemukan. Foto-Foto Jansen diambil lalu dikirimkan pada Anne.
Anne yang sedari tadi menunggu tentu saja tak membuang waktu. Foto-Foto Jansen yang sedang bekerja kasar cukup mengejutkan dirinya tapi setelah itu, Anne tertawa terbahak-bahak. Ternyata sangat diluar perkiraan, dia memandang Jansen terlalu tinggi tapi nyatanya pecundang tetaplah pecundang. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh pemuda tidak bisa apa-apa itu?
"Kau benar-benar pantas berada di sana, Jansen, Sangatlah pantas!" ucap Anne. Dia benar-benar puas melihat musuh yang harus dia waspadai ternyata benar-benar pecundang. Pekerjaan kasar itu benar-benar pantas untuk Jansen dan pemuda itu tidak akan bisa melampaui Richard karena Richard sudah berada di puncak sedangkan Jansen baru mulai merangkak naik.
"Lihatlah anakmu itu, Gracia. Dia hanya pecundang saja. Kau pasti kecewa padanya, bukan? Anak yang kau bela dengan mengorbankan nyawamu itu, ternyata mengecewakan dirimu dan aku yakin kau pasti kecewa dengannya dan menyesal telah memilih mati untuk dirinya!" Anne mengatakan hal itu tentu saja untuk ibu Jansen. Meski ibu Jansen sudah meninggal, dia pasti bisa melihat putranya yang pecundang.
Anne sangat puas, sekarang dia tidak perlu terlalu waspada pada Jansen tapi dia masih memiliki rencana jahat lainnya untuk pemuda itu. Satu sudah dapat dia kendalikan tapi sesungguhnya Jansen sengaja bekerja di tempat itu hanya untuk mengelabui musuh.
Sekarang yang harus dia waspadai adalah Elena. Dia sudah memberikan peringatan pada Elena dan dia harap Elena tidak mengganggu putranya lagi dan pertemuan besok, tidak boleh gagal sama sekali. Jika Elena masih mengganggu Richard, maka dia tidak akan ragu lagi.
"Anne, kemari sebentar!" teriak Bob memanggil istrinya.
"Ada apa?" Anne bergegas agar Bob tidak menunggunya lama.
"Mengenai pertemuan besok, jangan sampai Richard tidak datang. Aku tidak mau dia mempermalukan aku karena hanya dia harapanku satu-satunya setelah Jansen mengecewakan aku!"
"Tidak perlu khawatir, Richard tidak akan mengecewakan dirimu."
"Aku harap demikian. Setelah dia menikah nanti, aku akan memberikan lima puluh persen saham yang aku miliki!" ucap Bob tanpa ragu.
"Apa? benarkah itu?" Anne sangat terkejut, lima puluh persen? Itu diluar perkiraan apalagi ini baru permulaan.
"Percayalah padaku. Bob. Richard tidak akan mengecewakan dirimu. Dia tidak seperti putramu yang hanya sampah itu dan yang hanya bisa mempermalukan dirimu saja. Setelah ibunya, sepertinya dia juga akan menghancurkan reputasimu dengan sengaja!"
"Aku tidak peduli lagi dengannya, dia sudah keluar dari rumah ini!" dia harus memperlihatkan sikap tidak peduli walau sesungguhnya dia sangat ingin tahu apa yang Jansen lakukan tapi agar putranya tidak mengira jika dia masih peduli hingga membuatnya jadi keras kepala, lebih baik dia diam dan pura-pura tidak peduli dan dia pun tidak ingin Anne terlalu meributkan hal ini. Biarkan saja putranya hidup mandiri di luar sana, Jansen memang harus merasakan kerasnya hidup agar dia bisa menghargai apa yang dia miliki. Jika dia sudah tahu sulitnya mencari uang maka dia akan mulai menghargainya.
"Aku senang kau tidak peduli lagi padanya tapi dia tetaplah putramu yang menyandang namamu. Semua orang tahu jika Jansen adalah putra dari Bob Howard dan jika dia membuat kesalahan maka namamu yang akan buruk, bukan namanya!"
"Tidak perlu memikirkan hal itu, Anne. Aku tahu apa yang aku lakukan sebab itu aku setuju mengusirnya keluar. Sekarang persiapkan putramu dengan baik karena aku tidak mau dia mengecewakan aku besok!" setelah berkata demikian, Bob melangkah pergi.
Anne memandangi kepergian suaminya dalam diam, kenapa dia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Bob? Jangan katakan di balik sikap tidak pedulinya itu tersimpan sebuah rencana yang tidak dia ketahui. Bagaimanapun seorang ayah tidak mungkin tidak peduli. Apa dia saja yang terlalu mempercayai Bob?
Sial! Kenapa dia jadi mencurigai banyak hal tapi sikap Bob memang mencurigakan. Setelah Jansen pergi, dia tidak mencari sama sekali bahkan Bob tampak acuh tak acuh. Apa dia sudah tertipu dengan sikap tidak peduli yang ditunjukkan oleh Bob? Mendadak dia merasa jika dia harus mewaspadai banyak hal.
Dia harus waspada pada Elena agar tidak mengganggu Richard. Dia pun harus mewaspadai Jansen yang mulai menunjukkan prestasinya karena pemuda itu bisa membalikkan keadaan tanpa dia duga dan sekarang dia harus waspada dengan sikap tidak peduli Bob karena di balik sikapnya itu, dia khawatir Bob merahasiakan sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Kurang ajar, kenapa semuanya harus aku waspadai sekarang?!" Anne mengumpat, rencananya bisa kacau dan dia harus mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk membayar mata-mata yang dia utus untuk mengikuti Jansen dan Elena dan sekarang, dia pun harus mencari mata-mata yang lebih handal untuk mengikuti Bob karena dia curiga, diam-diam Bob membantu Jansen tanpa sepengetahuannya sebab itulah Bob sok tidak peduli.
Anne meminta anak buah yang dia utus mengintai Jansen untuk waspada karena dia masih belum tahu dia mana Jansen tinggal. Bisa saja Bob menyiapkan sebuah rumah untuk Jansen, sebab itu pemuda itu dapat hidup dengan nyaman di luar sana. Lagi pula jangan sampai Jansen tahu dan curiga tapi sesungguhnya Jansen sudah tahu sejak awal. Jansen mengajak beberapa rekan kerja yang sangat baik dengannya, mereka memnawa sekop serta batu bata saat menghampiri orang suruhan Anne.
"Hei, apa yang kau lihat?" Orang itu terkejut karena Jansen sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak ada!" dia ingin pergi namun Jansen mencegatnya.
"Aku tahu siapa kau dan aku tahu siapa yang memerintah dirimu jadi katakan, aku tidak takut padanya!"
"Apa kau bilang?"
"Pukul!" ucap Jansen dan pada saat itu, kedua rekannya memukul orang utusan Anne. Tidak saja mereka, yang lain juga memukul karena mereka mendengar orang itu adalah mata-mata. Jansen pun memukul, setelah ini dia mau lihat apakah Anne berani memata-matai dirinya lagi atau tidak.