
Elena jadi serba salah karena ayahnya justru mengambil kursi lalu duduk di dekatnya. Padahal dia ingin berbicara dengan Jansen dan yang lain tapi sekarang dia jadi canggung karena ada ayahnya apalagi ayahnya justru menatapnya tanpa ekspresi seperti yang biasanya ayahnya tunjukkan.
Edward mengangkat satu kaki dan menatap putrinya dengan serius. Tadinya dia ingin melihat keadaan Elena tapi saat melihat senyuman putrinya, dia justru curiga apalagi Elena sedang menghubungi seseorang. Sekarang dia jadi ingin mendengar dengan siapa Elena berbicara. Selain penasaran dengan pemuda yang bernama Jansen, Edward juga ingin tahu apa hubungan Elena dengan pemuda yang bernama Jansen itu. Tidak akan dia biarkan putrinya menjalin hubungan dengan pria sembarangan apalagi dengan pria yang tidak bisa melindungi putrinya sama sekali.
Dia tidak butuh pria yang kaya untuk menjadi menantunya, yang dia butuhkan adalah pria yang bertanggung jawab dan bisa menjaga putrinya, bukan pemuda emosional dengan banyak gaya yang menjijikkan. Pemuda seperti itu mudah dicari tapi yang bertanggung jawab itu sulit apalagi yang bisa menjaga Elena.
"Dad, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elena sambil berbisik. Elena bahkan menutupi ponselnya agar tidak didengar oleh Jansen.
"Melakukan apa? Daddy tidak melakukan apa pun!" ucap ayahnya dengan ekspresi datar.
"Bisakah Daddy keluar sebentar, aku ingin berbicara dengan teman-temanku," pinta Elena.
"Bicara saja, Daddy tidak akan mengganggumu dan Daddy akan pura-pura tidak mendengar apa yang akan kau bicarakan!"
"Please, Dad. Jangan mendengar percakapan anak perempuan aku tidak suka!"
"Kenapa? Apa kau ingin berbicara dengan pacarmu sehingga Daddy tidak boleh tahu?"
"Tidak seperti itu, lagi pula aku tidak punya pacar jadi bisakah Daddy keluar sebentar saja. Aku mau berbicara dengan teman-temanku. Jika Daddy duduk di sini sambil memperhatikan aku dengan ekspresi Daddy yang datar tanpa ekspresi itu, aku jadi seperti sedang diawasi."
"Daddy tidak mengawasi, jadi abaikan saja!" ucap Edward yang masih tidak mau pergi juga.
"Dad," Elena melotot, namun ayahnya cuek saja. Sifat Elena tidak jauh berbeda dengan ayahnya yang pendiam dan lebih cuek.
"Elena, maaf membuatmu menunggu. Mereka semua menyebalkan!" ucap Jansen yang berhasil meloloskan diri dari para pembuat onar yang masih saja cerewet.
"Dad, please," pinta Elena namun ayahnya diam saja.
"Elena, kau masih berada di sana bukan?" tanya Jansen.
"Tunggu sebentar," pinta Elena. Dia hendak turun dari atas ranjang karena dia berniat ke tempat lain agar ayahnya tidak terlalu mendengar. Jujur saja dia merasa tidak nyaman saat berbicara didengar oleh ayahnya. Elena baru beringsut namun ayahnya sudah beranjak dari tempat duduk.
"Daddy akan berbicara denganmu nanti dan pria bernama Jansen itu, kau harus menjelaskannya nanti!" ucap ayahnya seraya berjalan pergi.
Elena bernapas lega, setelah ini dia pasti akan diinterogasi oleh ayahnya dan kemungkinan kakaknya juga akan ikut serta karena dia tahu, mereka pasti paling cepat jika menyangkut laki-laki yang dekat dengannya apalagi mereka sudah tahu mengenai Jansen. Semoga saja Jansen tidak membuat onar saat dia dibawa pergi jika tidak, dia tidak akan bisa membela Jansen di depan ayah dan kakaknya.
"Maaf membuatmu menunggu." ucap Elena saat ayahnya sudah keluar dari ruangan.
"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Jansen. Jujur saja dia sangat mengkhawatirkan keadaan Elena apalagi dia tidak tahu sama sekali dengan keadaan Elena setelah dipukul oleh Anne.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Bagaimana dengan keadaan kalian?"
"Seharusnya itu pertanyaanku, Elena. Bagaimana dengan keadaanmu? Kau baik-baik saja, bukan?"
"Tentu saja, Jansen. Aku sudah bersama dengan keluargaku jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Jadi, kau dibawa pulang oleh keluargamu?" meski dia sudah menebaknya tapi dia ingin memastikan.
"Yeah, maaf membuat kalian khawatir. Aku juga tidak menyangka jika ayah dan kakakku akan datang."
"Apa? Jadi mereka adalah ayah dan kakakmu?" sial, pertemuan pertama yang tidak menyenangkan.
"Yeah, sepertinya pamanku yang menghubungi mereka sebab itu mereka datang."
"Kenapa? Kau tidak mengajak mereka berkelahi saat mereka datang menjemput aku, bukan?" tanya Elena curiga.
"Tidak, tentu saja tidak. Cuma, aku tidak tahu jika mereka adalah kakak dan ayahmu jadi aku berusaha mencegah mereka untuk tidak membawamu. Mereka tidak mengatakan sesuatu tentang aku, bukan?"
"Tidak, tapi sepertinya sebentar lagi akan mereka bahas."
"Sial, aku jadi khawatir. Bagaimanapun mereka adalah calon mertua dan calon kakak iparku!"
"Ck, jangan asal bicara. Tidak mudah untuk jadi suamiku dan tidak mudah mengambil hati mereka!"
"Benarkah? Apa aku harus bisa meyakinkan mereka untuk mendapatkan dirimu?"
"Sudah tentu, bukan? Jadi jangan pikir akan mudah!"
"Baiklah, baik. Aku akan pergi ke puncak gunung Everest terlebih dahulu sebelum pergi menemui mereka untuk memintamu."
"Untuk apa?" tanya Elena. Entah kenapa pembicaraan mereka jadi seperti itu tapi ini kali pertama mereka berbicara seperti itu.
"Melatih kekuatan fisikku, apa lagi!"
"Ck, selesaikan kuliahmu dan jadilah orang sukses yang bertanggung jawab. Itu sudah cukup!"
"Itu sudah pasti, Elena. Aku pasti akan melakukannya tapi, apa kau tidak akan kembali lagi?" tanya Jansen. Ini yang paling ingin dia tahu karena dia sudah menebak jika Elena sudah tidak akan kembali.
"Tidak, aku tidak akan kembali lagi ke sana, Jansen. Petualanganku sudah berakhir."
"Kenapa, Elena? Apa keluargamu tidak mengijinkan kau kembali lagi?"
"Sudah pasti setelah apa yang aku alami jadi dengarkan aku. Sekalipun aku tidak berada di sana, aku harap kalian semua berubah ke arah yang jauh lebih baik. Jangan sia-siakan bantuan yang telah aku berikan, lagi pula semua itu untuk diri kalian sendiri, bukan untukku jadi jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada apalagi untuk diri kalian sendiri!"
"Terima kasih, Elena. Meski kau tidak bersama dengan kami lagi, kami tidak akan mengecewakan dirimu."
"Aku senang mendengarnya, buktikan padaku agar aku tidak kecewa."
"Mereka tidak akan mengecewakan begitu juga aku. Apa kau mau menunggu aku, Elena? Apa kau mau menunggu aku sampai aku menjadi lelaki yang pantas untukmu? Aku akan pergi mencarimu setelah aku yakin jika aku pantas agar aku tidak mengecewakan dirimu dan agar keluargamu menganggap aku pantas untukmu."
"Jika begitu buktikan padaku. Dimulai dari sekarang dan jika dalam waktu tiga tahun kau tidak datang, maka aku tidak akan menunggumu lagi!"
"Waktu tiga tahun yang kau berikan, tidak akan aku sia-siakan dan aku tidak akan mengecewakan dirimu!" ucap Jansen.
"Bagus, mana Leo dan Mariana, aku ingin berbicara dengan mereka semua."
"Aku akan aktifkan kameranya agar mereka bisa berbicara denganmu," Jansen kembali mendekati para anak buahnya yang sudah menunggu sedari tadi.
"Elena ingin berbicara dengan kalian," ponsel diberikan, mereka semua langsung berkumpul untuk berbicara dengan Elena.
"Kakak ipar, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Mariana. Mereka semua bisa melihat keadaan Elena yang masih berada di rumah sakit dalam keadaan babak belur. Jansen duduk di belakang para rekannya dan melihat ke arah ponsel di mana Elena sedang berbicara dengan yang lainnya. Elena tentu saja memberikan nasehat dan meminta Leo untuk mengikuti orang yang akan menjemputnya.
Tiga tahun, waktu yang diberikan oleh Elena sudah cukup baginya untuk membuktikan diri. Yang pertama harus dia lakukan adalah menyelesaikan kuliahnya lalu serius menekuni bisnis yang sesungguhnya sudah lama dia tekuni tanpa ada yang tahu.