My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Hanya Pecundang



Kelima anak muda yang mendapatkan tugas untuk membuat Jansen melakukan kesalahan mulai mencari kesempatan untuk bertindak. Mereka beda kelas dengan Jansen tapi mereka mencoba mengambil peluang untuk mencelakai Jansen.


Kelima pemuda itu berpencar, cukup mencari perkara dan membuat Jansen memukul salah satu dari mereka saja maka misi mereka akan sukses. Jansen diawasi setelah pelajaran selesai. Sekarang bukan pujian lagi yang dia dapatkan dari mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kampus itu tapi yang dia dapatkan adalah sindiran-sindiran pedas yang tidak menyenangkan.


Kelima pemuda yang sedang mencoba mencari perkara dengan Jansen diam-diam mengikuti. Jansen tahu itu, tapi dia mengabaikannya. Dia tidak mau mencari perkara dengan siapa pun, dia harus berusaha bersabar menghadapi segala kemungkinan yang ada di sana.


Jansen melangkah cepat, dia harus menghindari para pemuda yang entah memiliki tujuan apa. Dia tahu hampir semua mahasiswa yang ada di sana membenci dirinya. Sekarang dia sadar jika dia telah banyak membuat ulah dan telah banyak membuat orang sakit hati. Dulu dia hanya bermain-main saja tapi sekarang, dia tidak mau bermain-main lagi karena waktunya bermain-main telah selesai. Dia benar-benar telah membuang waktunya selama lima tahun di kampus itu tapi dia bukanlah pecundang seperti yang orang-orang kira tapi dia memang hanya memperlihatkan sisi buruknya saja selama ini.


Kelima pemuda yang berpencar mulai kehilangan jejak. Mereka saling bertemu namun Jansen yang cerdik sudah tidak terlihat. Hanya umpatan yang bisa mereka ucapnya namun rencana lain telah mereka putuskan oleh sebab itu, mereka kembali berpencar untuk menghindari Jansen.


Jansen sangat puas, kelima pemuda itu pasti ingin mencari gara-gara dengannya. Jika dia tidak mengingat syarat yang harus dia lakukan, sudah dia pukul kelima pemuda itu babak belur. Dia harus bisa bertahan di kampus itu sampai akhir karena dia tahu dia tidak akan mudah diterima di kampus lain. Lagi pula jangan sampai ada yang curiga karena biaya untuk pindah kampus tidaklah murah. Saat ini dia adalah pecundang, pecundang yang diusir oleh ayahnya dan dia adalah pecundang yang tidak memiliki uang. Jansen Howard adalah seorang pecundang dan semua orang harus beranggapan demikian. Apa pun yang terjadi, tahun ini dia harus lulus dan dia sudah bertekad meski dia tahu rintangannya pasti banyak.


Setelah menghindari kelima pemuda itu, Jansen ingin mencari tempat nyaman tanpa gangguan untuk beristirahat namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena dia dicegat oleh pemuda lain. Kali ini tidak saja lima orang, Jansen sampai menghitung jumlah mereka yang ternyata berjumlah dua puluh orang. Entah kenapa dia merasa tidak asing dengan wajah-wajah mereka.


"Apa mau kalian?" tanya Jansen. Kedua tangan sudah mengepal erat, semoga dia tidak kelepasan. Jika harus lari, dia akan lari meski akan dianggap sebagai pecundang.


Kedua puluh pemuda itu melangkah maju, Jansen melangkah mundur karena dia tidak tahu apa yang hendak para pemuda itu lakukan. Dia kira mereka ingin mengajaknya berkelahi tapi semuanya berubah ketika kedua puluh pemuda itu mendadak berlutut di bawah kakinya karena kedua puluh pemuda itu adalah para pemuda yang mengeroyoknya waktu itu. Mereka mencari Jansen karena mereka ingin Jansen mencabut tuntutan untuk mereka yang dilakukan beberapa jam yang lalu tentunya Jansen tidak tahu akan hal ini.


"Jansen, tolong maafkan kami!" ucap Mereka serempak.


"Apa-Apaan? Jangan cari perkara denganku. Sebaiknya kau pergi!" ucap Jansen.


"Kami tahu kami salah, kami minta maaf. Tidak akan kami ulangi lagi, oleh sebab itu cabutlah tuntunan untuk kami semua dan kami akan menjadi anak buahmu mulai hari ini!" ucap mereka.


"Jangan pura-pura, sekarang masa depan kami ada di tanganmu. Jika kau tidak mau mencabut laporan itu maka masa depan kami akan terancam karena kami tidak mau dipenjara!" ucap Mereka.


"Wah, bagaimana ya?" kini dia bisa bersikap angkuh agar tidak diremehkan oleh para pemuda itu lagi.


"Aku dipenjara gara-gara kalian dan aku rasa, kalian pun harus merasakan apa yang telah aku rasakan di dalamĀ  penjara!" Jansen mengangkat wajahnya, dia benar-benar bersikap angkuh agar kedua puluh pemuda itu percaya jika dialah yang membuat laporan itu.


"Tolong segera cabut laporan itu, Bos. Kami bersedia melakukan apa pun perintahmu dan kami bersedia menjadi anak buahmu asalkan kau mencabut laporan itu!"


"Buktikan jika begitu, aku akan melihat sejauh mana niat kalian karena aku tidak akan ragu menjebloskan kalian ke dalam penjara jika kalian berani macam-macam padaku!" Jansen pura-pura mengancam. Dia harus bersikap meyakinkan meski dia belum memastikannya dari Elena.


"Kami akan membuktikannya, Bos. Katakan pada kami, apa ada yang mengganggu dirimu? Kami pasti akan menjagamu dari orang-orang yang hendak mengganggumu!" ucap mereka.


"Baiklah, tunjukkan padaku kesungguhan kalian. Aku akan mempertimbangkannya nanti tapi jangan mengikuti aku. Jangan sampai ada yang tahu dan jangan sampai ada yang mengira aku memanfaatkan kalian. Jika sampai ada yang berani maka habislah kalian. Aku tidak akan ragu dan segan menjebloskan kalian semua ke dalam penjara!" ucap Jansen. Aktingnya cukup meyakinkan oleh sebab itulah, mereka semua jadi ragu dan takut atas ancamannya.


Tidak ada satu pun dari mereka yang mau masuk penjara, mereka tidak mau memiliki reputasi buruk karena masa depan mereka terancam dan jika mereka ingin bebas dan tetap melanjutkan kuliah mereka, maka mereka harus bisa membuat Jansen mencabut laporan itu padahal Jansen tidak tahu apa pun atas apa yang terjadi pada kedua puluh pemuda itu.


Jansen melangkah pergi, dia ingin mencari keberadaan Elena untuk mencari tahu akan hal ini. Para pemuda itu pun membubarkan diri. Mereka sudah boleh ke kampus karena keadaan mereka sudah pulih total akibat perkelahian yang terjadi dan sekarang, mereka tidak akan mencari perkara lagi apalagi dengan Jansen. Sekarang mereka baru sadar, bukan ayah Jansen atau rektor yang harus mereka takuti tapi seseorang yang tidak mereka ketahui dan orang itu ada di belakang Jansen.


Kelima pemuda yang sedang mengincar Jansen kembali mencari Jansen. Mereka akan mencari perkara dengannya. Beberapa benda kotor sudah berada di tangan, mereka pasti dapat melempar Jansen meski hanya satu telur busuk saja agar Jansen terpancing lalu memukul mereka. Misi yang cukup mudah tapi mereka tidak tahu dua puluh pemuda yang semula cari gara-gara dengan Jansen kini sudah menjadi sekutu.


Mereka memang menyebar tapi mereka mengawasi Jansen dari jauh sehingga mereka tahu gerak gerik beberapa pemuda yang mencurigakan terlihat di sekitar Jansen. Salah satu pemuda yang sedang sial sudah siap melemparkan telur busuk ke arah Jansen tapi tiba-tiba saja, dua orang menangkapnya lalu memukulnya sampai babak belur. Pemuda itu sungguh tidak mengerti tapi kedua puluh pemuda yang sedang berada di ujung tanduk, akan menjadi pengawal bayangannya.