My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Lagi-Lagi Gagal



Keadaan Elena semakin memburuk saja gara-gara angin malam dan tentunya gara-gara Jansen berlama-lama supaya dia mendapatkan pelukan Elena lebih lama. Kapan lagi dia bisa mendapatkan pelukan tanpa adanya bantingan? Waktu yang harusnya ditempuh dalam waktu satu jam jadi satu setengah jam dan karena hal itu, suhu badan Elena jadi panas saat mereka tiba.


Jansen turun terlebih dahulu dari atas motor namun setelah dia turun, dia terkejut karena Elena hampir terjatuh dari motor. Jansen buru-buru menangkap tubuh Elena dan kembali terkejut saat merasakan suhu tubuh Elena yang panas. Pantas saja Elena memeluknya begitu erat,


"Hei.. kau baik-baik saja, bukan?"


"Kenapa kau membawa aku berputar-putar?" tanya Elena.


"So-Sorry, aku lupa jalan dan petanya hilang!" sungguh alasan yang tak masuk akal. Dia kira Elena hanya sakit kepala biasa tapi gara-gara dirinya keadaan Elena justru semakin memburuk.


"Bawa aku masuk, Jansen. Kepalaku seperti mau meledak!" pinta Elena.


"Baiklah!" Jansen menggendong Elena dan membawanya masuk. Elena tampak lemas, dia rasa memukulnya saja Elena tidak akan mampu karena Elena terlihat tidak bertenaga sama sekali.


"Apa kau punya obat di rumah?" tanya Jansen.


"Tidak, aku tidak punya."


"Lalu bagaimana? Kau harus minum obat jika tidak keadaanmu akan semakin memburuk."


"Aku hanya butuh istirahat. Jangan ajak aku bicara, aku lelah!" pinta Elena.


"Baiklah!" Jansen membawanya masuk ke dalam kamar lalu membaringkan Elena dengan perlahan di atas ranjang. Dia sangat ingin meninggalkan Elena agar Elena bisa beristirahat tapi dia tidak bisa meninggalkan Elena begitu saja.


"Maaf, tolong jangan memukul aku setelah keadaanmu pulih!" Jansen membuka sepatu yang Elena gunakan dan setelah itu dia berlalu pergi.


Elena mulai menggigil saat Jansen kembali dengan air hangat dan handuk yang akan dia gunakan untuk membersihkan kaki Elena.


"Tolong jangan memukul aku nanti!" pintanya seraya membersihkan kaki Elena dengan handuk basah. Jansen belum menyadari keadaan Elena yang menggigil bahkan Elena berusaha mencari selimut.


"Dingin," ucap Elena seraya meraba kasur untuk mencari selimutnya.


"Apa?" Jansen yang sedang membersihkan kaki Elena berpaling sejenak namun dia kembali membersihkan kaki Elena.


"Dingin, Jansen!" ucap Elena.


"Hah? Jangan katakan kau meminta kehangatan padaku!" Jansen benar-benar salah paham.


"Selimut, bodoh!" Elena berteriak dan gara-gara hal itu, kepalanya berdenyut dan rasanya sakit luar biasa.


"Sorry, aku kira kau butuh kehangatan karena dingin," Jansen bergegas mengambil selimut untuk Elena.


"Sepertinya kau sudah bosan hidup. Ck, kepalaku tambah sakit saja!"


"Keadaanmu semakin memburuk, Elena. Aku akan pergi membelikan obat untukmu!" Selimut sudah menutupi tubuh Elena tapi dia masih terlihat menggigil.


"Sudah malam, besok saja. Cukup berikan aku kompres," pinta Elena.


"Tidak apa-apa, pasti masih ada toko obat yang buka," Jansen sudah beranjak dan berlalu pergi membawa air kotor serta handuk yang dia gunakan untuk membersihkan kaki Elena yang dia rasa kotor. Untuk pertama kali, dia melakukan hal itu tapi dia tidak keberatan sama sekali. Setelah keluar dari kamar, dia kembali lagi dengan air hangat serta handuk lain untuk kompres. Jangan tanya dia tahu dari mana, dia mencari tahu dari internet. Hal seperti itu saja dia tidak tahu, lalu bagaimana dia bisa menjadi laki-laki yang berguna untuk pasangannya nanti?


"Aku pergi sebentar," ucapnya setelah meletakkan kompres ke atas dahi Elena.


Elena hanya tersenyum tipis tanpa membuka kedua matanya yang berat. Jansen jadi semakin tidak tega padahal Elena tidak pernah seperti itu tapi memang, manusia ada batasannya. Elena selalu sibuk membantu mereka, dia rasa Elena jarang menikmati waktunya karena sibuk membantunya dan kawan-kawan.


Jansen pergi untuk mencari obat, suasana sudah sepi karena apotek sudah tutup namun dia tidak menyerah. Meski udara sangat dingin malam itu dan dia sudah cukup jauh untuk mencari obat, dia tidak peduli sama sekali. Jansen menghentikan motornya sejenak ketika berada di atas jembatan. Tatapan padanya tertuju pada pemandangan kota yang indah, Jansen berdiam diri di sana dengan banyak pikiran.


Lima belas menit dia berada di sana dan setelah itu dia pergi untuk mencari obat. Sekalipun dia sudah cukup jauh tapi dia tidak juga menyerah sampai akhirnya, obat yang dia inginkan ditemukan. Jansen bergegas kembali untuk memberikan obat itu pada Elena.


"Elena, aku sudah mendapatkan obatnya," Jansen membangunkan Elena yang sedang tidur. Elena tampak pulas, Jansen kembali memanggil namun tidak ada respon. Tatapan matanya jatuh pada obat yang ada di tangan lalu berpindah ke gelas yang ada di atas meja dan setelah itu tertuju pada bibir Elena.


Jansen menelan ludah, apa ini keberuntungan lainnya? Sepertinya malam ini dia akan mendapatkan banyak keberuntungan. Tanpa membuang waktu, obat dikeluarkan lalu dimasukkan ke dalam mulut lalu air diteguk. Meski dengan alasan meminumkan obat tapi dia bisa mendapatkan bibir seksi Elena.


Kini dia sudah siap, Jansen pun sudah menunduk sambil memajukan bibirnya. Jantungnya berdegup dengan begitu cepatnya, sedikit lagi dapat. Dia bahkan mengintip untuk melihat Elena yang masih tidur. Baiklah, jantungnya tidak bisa diajak bekerja sama. Padahal dia sudah sering mencium wanita tapi kali ini dia seperti orang bodoh yang tidak pernah melakukannya. Jansen semakin mendekatkan bibirnya dan semakin dekat, dia yakin akan berhasil.


"Apa yang mau kau lakukan?" Jansen terkejut dan karena pertanyaan Elena yang tiba-tiba membuatnya harus menelan obat yang ada di mulut. Lagi-Lagi gagal.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Elena lagi.


"Ti-Tidak, tidak ada!" Jansen jadi gugup karena kepergok.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan jika tidak kedua bibirmu itu akan menempel untuk selamanya!" ancam Elena.


"Aku sudah membangunkanmu jadi aku pikir?"


"Jangan pikir yang tidak-tidak. Kenapa kau tidak tidur?"


"Aku membelikan kau obat, sekarang kau sudah bangun jadi minumlah obatnya."


"Bukankah sudah aku katakan besok saja?"


"Keadaanmu semakin memburuk, Elena. Aku khawatir padamu jadi minum obatnya!" Jansen mengambil obat yang baru serta air, dia juga membantu Elena untuk duduk di atas ranjang agar mudah meminum obatnya.


"Sudah malam, apa ada apotek yang masih buka?"


"Tentu ada, meski jauh. Sekarang minum obatnya, aku harap besok keadaanmu sudah membaik!"


Elena mengangguk, dia juga berharap begitu. Sangat tidak menguntungkan sakit di saat yang tidak tepat karena musuh yang sedang sakit hati bisa memanfaatkan situasi. Semoga saja apa yang dia khawatirkan tidak terjadi apalagi dia tahu, ibu Richard tidak mungkin mau merangkak di bawah kaki Jansen seperti syarat yang dia berikan.


"Apa kau masih merasa kedinginan? Jika masih maka aku akan memelukmu asalkan kau tidak keberatan," ucap Jansen.


"Apa kau sedang merayu aku?"


"Anggap saja demikian. Aku ingin dekat denganmu dan menjadi lelaki spesial untukmu, apa tidak boleh?" tanya Jansen.


"Aku tidak sedang tidak cari pacar!"


"Jika begitu aku jadi pendaftar pertama saat kau membutuhkan pacar!"


"Jika begitu mengantrilah dengan benar," ucap Elena yang kembali berbaring setelah meminum obatnya.


"Benar tidak mau aku peluk?"


"Pergi peluk kaktus terlebih dahulu barulah kembali, mungkin kau akan beruntung!" meski Elena berkata demikian, dia bersandar di bahu Jansen untuk mencari kehangan dari tubuh pria itu. Jansen terkejut, namun senyuman menghiasi wajahnya. Tidak bisa belum bisa mencium bibir Elena, perlahan tapi pasti hubungan mereka akan semakin dekat.


Jansen mendekap Elena dengan erat, ciuman di dahi pun diberikan. Elena memejamkan kedua matanya, dia jadi mengantuk karena Jansen membelai kepalanya tiada henti. Seperti itu juga tidak apa-apa, untuk sesaat dia ingin menikmati waktunya yang seperti itu dengan Jansen.