My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Jangan Berhenti



Jansen pulang lebih malam karena dia berusaha menghindari orang yang mengikuti dirinya. Dia semakin yakin jika orang itu adalah utusan ibu tirinya karena ayahnya tidak mungkin melakukan hal itu. Entah apa yang diinginkan oleh ibu Richard, wanita itu benar-benar tidak akan berhenti sebelum dia mati.


Jansen sengaja berputar-putar untuk mengelabui orang yang mengikutinya. Dia melakukan hal itu karena dia harus menutupi rahasia agar tidak ada yang tahu jika dia tinggal bersama Elena. Jika ibu tirinya tahu, Elena pasti akan berada di dalam masalah.


Dia kembali saat waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Jika tidak demi mengelabui ibu tirinya dan Richard, dia tidak akan melakukan pekerjaan yang menguras tenaga. Ternyata tidak mudah apalagi untuk dirinya yang baru pertama kali melakukan pekerjaan berat itu.


Ketika Jansen kembali, dia justru mendapati Elena dan Mariana sedang tidur di sofa. Itu karena mereka tertidur setelah menyusun rencana untuk menjebak ayah tiri Mariana yang akan mereka jalankan besok. Elena tidak mau menunda karena semakin cepat semakin baik.


"Mariana," Jansen memanggil Mariana yang hampir terjatuh dari sofa tapi dia tidak menyentuh Mariana sama sekali.


Mariana hanya bergerak sedikit, dia kembali tidur. Jansen menggeleng, dia ingin berteriak tapi dia tahu itu sia-sia. Jansen menghampiri Elena lalu menyentuh dahi Elena dengan perlahan untuk membangunkannya.


"Elena, jangan tidur di sini," ucapnya. Jensen berjongkok dan memainkan tangannya ke wajah Elena yang lembut.


"Hei, mau bangun ada tidak?" Jansen mencium rambut Elena, dia jadi tidak ingin berhenti tapi dia tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Elena!" usapan tangan Jansen di dahinya mengejutkan Elena. Kedua mata Elena terbuka, dia sedikit terkejut saat melihat Jansen berasa di sisinya.


"Jansen?" Elena mengusap matanya yang masih mengantuk.


"Kenapa tidur di sini? Apa kau menunggu aku?"


"Tidak, mana Mariana?"


"Sedang tidur di sana!" Jansen memberanikan diri, untuk mencium dahi Elena. Kedua mata Elena melotot, tatapan matanya tak lepas dari Jansen yang tersenyum setelah melakukan hal itu.


"Aku pikir kau akan memukul aku?" tanyanya basa basi.


"Lain kali akan aku pukul!" Elena bergegas bangun. Apakah yang dikatakan oleh Mariana benar jika Jansen menyukainya?


"Aku gendong sampai ke kamar, bagaimana?"


"Tidak perlu!" Elena beranjak sambil menguap, sebaiknya dia kembali tidur di kamar karena dia harus pergi lebih pagi. Elena membangunkan Mariana dan memintanya untuk tidur di kamar dan dalam keadaan mengantuk, Mariana pergi ke kamar terlebih dahulu.


"Pergilah mandi, di kulkas ada makanan jika kau lapar!" ucap Elena yang sudah hendak pergi ke kamar.


"Tunggu, laptopnya!" Jansen mengambil laptop Elena dan tanpa sengaja menekan sebuah tombol hingga layarnya menyala. Jansen pun melihat jika sebuah surat pengunduran diri sedang dibuat.


"Apa ini, Elena?" tanyanya.


"Apanya?" Elena sudah melangkah mendekati Jansen untuk mengambil laptopnya.


"Kenapa kau membuat surat pengunduran diri?"


"Aku ingin mengundurkan diri dan mencari pekerjaan di tempat lain. Apa lagi?"


"Kenapa, Elena? Apa ada yang mengganggumu atau ayahku mempersulit dirimu?"


"Tidak, Tidak ada yang seperti itu. Aku hanya ingin pindah saja!"


"Bohong!" Jansen menyimpan laptop ke atas meja lalu melangkah mendekati Elena.


"Pasti telah terjadi sesuatu yang membuatmu ingin pindah. Katakan padaku, Elena. Aku akan melindungimu jika ada yang berani padamu di kampus!"


"Jangan asal bicara, Jansen. Aku bisa mencari pekerjaan lain sedangkan kau, tinggal beberapa bulan lagi jadi jangan menyia-nyiakan kesempatan karena akan sulit bagimu jika sampai kau dikeluarkan!"


"Aku tidak keberatan jika harus dikeluarkan, Elena. Kali ini jangan membanting aku!" pinta Jansen yang tiba-tiba saja memeluk Elena.


"Sebentar saja, ijinkan aku memelukmu sebentar saja!"


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, Jansen. Sebaiknya kau lepaskan!"


"Tidak. Katakan padaku kenapa kau mau berhenti. Pasti ada penyebabnya!"


"Tidak ada penyebab khusus. Ibumu salah paham padaku dan aku tidak mau dia semakin salah paham. Hanya itu saja."


"Kenapa dia salah paham padamu? Apa semua gara-gara aku"


"Tidak, bukan. Semua yang terjadi tidak ada hubungannya denganmu jadi tidak perlu khawatir."


"Baiklah, tapi aku tidak mau kau mengundurkan diri, Elena," Jansen semakin memeluknya erat sampai membuat Elena kesulitan bernapas.


"Lepas, apa kau ingin membunuhku?!" ucap Elena.


"Maaf tapi jangan berhenti, please," pintanya memohon. Pelukannya pun sudah sedikit melonggar.


"Aku rasa tidak ada pengaruhnya mau aku tetap menjadi dosen di sana atau tidak jadi tidak perlu berlebihan!"


"Ada!" Jansen melepaskan Elena dan mendorong tubuhnya sedikit menjauh. Kedua tangan Jansen masih berada di bahu Elena, mereka berdua pun saling pandang.


"Mungkin keberadaanku tidak berarti bagimu tapi bagiku, kau sangatlah berarti. Bagiku kau adalah penyemangat untukku berubah. Jika kau pergi, maka semangatku pun pergi. Hanya beberapa bulan lagi aku akan lulus, aku harap kau tetap mengajar di sana sampai aku menyelesaikan semuanya. Aku sedang mengelabui mereka dan jika kau tidak ada, maka tidak ada alasan lagi untukku berada di sana dan mereka akan tahu apa yang aku lakukan!"


"Bodoh. Kau tidak memerlukan aku hanya untuk mengelabui musuh!"


"Aku memerlukan dirimu, Elena. Jika kau pergi maka aku pun pergi!" ucap Jansen.


"Jangan melakukan hal bodoh. Kau harus berpura-pura menjadi pemuda yang tidak berdaya!"


"Sebab itu jangan pergi karena aku butuh dirimu. Tinggal beberapa bulan lagi, tolong temani aku sampai kuliahku selesai!"


Elena menghela napas. Dia tidak suka selalu dicurigai oleh ibu tiri Jansen tapi jika kepergiannya justru menggagalkan rencana yang sedang Jansen buat, maka dia akan menghancurkan semuanya meski dia tidak tahu apa yang sedang Jansen rencanakan.


"Please, Elena. Aku membutuhkan dirimu!" Jansen kembali memeluknya, berharap Elena tidak mengundurkan diri dan bersedia tinggal sampai dia lulus.


"Baiklah," terpaksa Elena menyetujui padahal dia sudah akan mengirimkan lamaran pekerjaan di kampus lain. Meski dia tahu jika ibu Richard akan kembali mengancam tapi dia akan menjauhi Richard agar keadaan tidak semakin buruk. Demi Jansen dia akan bertahan di kampus itu karena dia khawatir, pemuda itu akan kembali berulah seperti kehilangan pawangnya.


"Terima kasih.  Aku sangat berhutang budi padamu dan aku, akan membayarnya menggunakan hidupku!"


"Jangan berlebihan, aku tidak butuh hidupmu!"


"Jika begitu, bagaimana dengan tubuhku? Aku sedang melatih otot agar aku bisa tahan semalaman!"


"Apa?" Elena tak mengerti namun dalam sekejap mata Jansen sudah mengangkat dagunya.


"Mau mencoba kekuatan otot bibirku?" tanyanya.


"Jangan coba-coba!"


"Sttss!" Jansen sudah mengangkat dagu Elena dan mendekatkan bibir mereka berdua. Kedua mata Elena melotot, napasnya tertahan dan jantungnya berdegup cepat. Bibir Jansen semakin dekat namun naas, lutut Elena diangkat secara refleks sehingga mengenai asetnya yang berharga. Jansen berteriak keras, kedua tangannya pun sudah berada di asetnya yang terasa nyeri.


"Ka-Kau... Menghancurkan masa depanku!" ucapnya yang jatuh berlutut.


"O-Otot bagian itu kurang keras!" teriak Elena yang sudah berlari pergi. Jansen meringis, harga yang harus dia bayar untuk sebuah ciuman cukup mahal dan sialnya dia tidak dapat.