My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tunjukkan Dan Buktikan



Karena hari ini akhir pekan jadi Elena berada di rumah. Mariana sudah pergi bekerja, dia memiliki janji dengan sang pengacara untuk menangani kasusnya agar cepat selesai. Elena benar-benar menyerahkan semua itu pada sang pengacara. Dia tidak ikut andil lagi meski dia harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar sang pengacara. Padahal dia belum mendapatkan gaji pertama tapi uang yang dia keluarkan sudah melebihi gaji pertama yang akan dia dapatkan nanti.


Jansen masih berada di rumah karena jamnya bekerja sebagai kuli bangunan belum tiba. Jansen berada di dalam kamar untuk berbicara dengan seseorang untuk membicarakan sesuatu yang rahasia. Suasana di rumah cukup damai, karena Elena berada di ruang tamu dan Jansen berada di dalam kamar.


Jansen sudah selesai, saatnya dia pergi bekerja. Penampilannya cukup oke, dia tidak boleh terlihat seperti seorang pekerja kasar. Dia bahkan tidak berniat membawa motor Elena untuk hari ini. Hanya untuk hari ini saja karena Mariana berkata jika mereka ingin mengajak Elena mengadakan adu balap.


Elena masih serius ketika Jansen mendekatinya. Aroma parfum yang digunakan oleh Jansen mengalihkan perhatian Elena sehingga Elena mengangkat wajah dan melihat ke arahnya. Jansen tersenyum, gara-gara Mariana membuatnya jadi ingin mencoba mendekati Elena. Sudah banyak wanita yang dia dekati dan pacari selama ini dan mereka semua begitu mudah dia dapatkan tapi wanita yang sedang duduk itu, seperti wanita mahal yang sulit tersentuh olehnya meski dia memiliki banyak uang.


"Apa sudah mau pergi?" tanya Elena yang kembali memeriksa pekerjaannya.


"Belum, sebentar lagi tapi dari mana kau tahu aku akan pergi?" Jansen duduk di sisi Elena lalu mengambil buku yang ada di atas meja dan melihatnya.


"Jangan menyentuh itu" ucap Elena.


"Aku hanya melihat saja," jawab Jansen. Dia pura-pura melihat buku tapi sesungguhnya dia melirik Elena sesekali.


"Usiamu masih cukup muda, kenapa kau bisa menjadi dosen?" tanya Jansen. Dia ingin mengenal Elena lebih jauh. Tidak hanya tahu sebagai dosennya dan penolongnya tapi dia ingin mengenal Elena sebagai seorang wanita.


"Aku belajar dengan benar karena aku bercita-cita menjadi dosen sebab itu aku bisa lulus di usiaku yang masih muda bahkan aku sudah mendapatkan gelar S 3 meski aku masih muda," ucap Elena tanpa bermaksud menyombongkan diri.


"Waw, sepertinya IQ yang kau miliki sangat bagus!"


"Jika tidak maka aku tidak akan bisa menjadi dosen!"


"Baiklah, aku sudah kalah darimu!"


"Ini bukan pertandingan, Jansen. Lakukanlah dengan benar, bukan untuk orang lain tapi untuk dirimu sendiri. Tidak akan ada yang mengambil darimu apa yang sudah kau pelajari jadi kau harus melakukan untuk dirimu sendiri dan lakukan dengan benar. Setidaknya lakukan untuk cita-citamu atau untuk tujuan hidupmu!"


"Aku tahu dan sedang aku lakukan!"


"Bagus, kau seorang pria jadi kau harus memiliki tujuan hidup. Jangan menyia-nyiakan waktumu yang berharga karena waktu yang sudah terbuang tidak akan kembali lagi!"


"Terima kasih atas nasehatmu, Elena. Kau menjadi dosen seperti ini, apa kedua orangtuamu tidak melarang?"


"Tidak, mereka justru mendukung keputusanku untuk menjadi dosen."


"Pasti sangat menyenangkan memiliki orangtua yang mendukung keputusan apa yang kita inginkan!" saat mengatakan hal itu, tatapan mata Jansen menerawang. Seandainya dia memiliki ayah yang yang peduli dan mendukung dirinya, mungkin dia tidak akan menjadi anak nakal hanya untuk mencari perhatian ayahnya.


'Kenapa? Apa ayahmu tidak mendukung apa yang hendak kau lakukan?" tanya Elena yang sudah berpaling dan menatap ke arah Jansen.


"Jika dia mendukung dan peduli padaku maka aku tidak akan seperti ini."


"Kenapa ayahmu tidak peduli? Pasti ada alasannya bukan?" setelah sekian lama, akhirnya dia bisa mengorek informasi kenapa Jansen bersikap seperti itu.


"Yeah, seharusnya kau sudah tahu. Semenjak ayahku membawa ******* itu dan anaknya masuk ke dalam rumah, hubungan kami berubah dan semua semakin menjadi buruk bagiku setelah ibuku bunuh diri. Ayahku seperti mati bersama dengan ibuku karena dia tidak pernah lagi ada untukku!"


"Tapi duniamu tidak berhenti sampai di sana!" ucap Elena, kini dengan sedikit lembut.


"Apa yang kau lakukan sudah salah, Jansen. Seharusnya kau membuktikan pada ayahmu dengan cara yang berbeda, bukan dengan cara memberontak lalu membuat kekacauan di mana-mana!"


"Kau tidak tahu bagaimana rasanya diabaikan, Elena. Setiap kali aku berpendapat, selalu dianggap salah. Semua perhatian dan pujian diberikan pada Richard sampai-sampai aku tak dianggap dan seperti tidak ada di rumah di mana kau dilahirkan juga dibesarkan. Aku dianggap bagaikan orang yang lewat saja, setiap kali apa yang aku lakukan selalu saja dianggap salah oleh ayahku sedangkan Richard, selalu benar baginya dan aku terbuang secara halus!"


"Baiklah, aku memang tidak tahu bagaimana rasanya tapi belum terlambat untukmu memperbaiki diri. Sekarang kau sudah tidak tinggal di rumah itu lagi, kau pun tidak dibiayai oleh ayahmu lagi jadi buktikan pada ayahmu jika kau bukan sampah dan pecundang seperti yang duga. Tunjukkan pada ayahmu jika kau bisa melampaui Richard dengan kemampuan dirimu sendiri, bukan dari kekuasaan yang ayahmu miliki. Aku sudah membantumu dan aku harap kau tidak mengecewakan aku. Lagi pula kau harus melakukannya untuk dirimu sendiri dan kau pun harus melakukannya untuk almarhum ibumu agar dia bangga di alam sana."


"Terima kasih untuk nasehat yang kau berikan. Aku sedang melakukannya dan aku tidak akan mengecewakan dirimu!"


"Bagus, kau memang harus melakukannya. Bekerjalah dengan baik karena suatu hari nanti aku akan menagih semua uang yang sudah aku keluarkan untukmu!" ucap Elena.


"Apa? Jadi semua itu tidak gratis?" Jansen pura-pura terkejut.


"Tentu saja tidak. Tidak ada yang gratis jadi kau harus menggantinya!"


"Ck, bagaimana ini? Aku rasa aku tidak bisa menggantinya untuk seumur hidupku. Kau tahu aku masih belum lulus dan akan sangat sulit mencari pekerjaan bagus karena reputasi burukku selama ini."


"Aku tidak peduli, kau harus mencari pekerjaan yang benar untuk membayar semua uang yang telah aku keluarkan untukmu!"


"Bagaimana jika begini saja, aku punya solusinya karena aku tidak mungkin mampu membayar uang yang kau keluarkan untukku dan untuk teman-temanku!" ucap Jansen.


"Solusi apa? Langsung saja tanpa perlu bertele-tele!"


"Hm, bagaimana jika kau menjadikan aku sebagai calon suamimu saja? Aku akan membayar uangmu dengan menjadi suamimu dan aku akan menyerahkan hidupku padamu!"


"Apa?" Elena berpaling dan melotot dengan ekspresi tidak senang.


"Bagaimana? Aku akan membayarnya dengan menjadi suamimu jadi aku akan terikat denganmu untuk seumur hidup!"


"Jangan bercanda, aku tidak berencana menikah dalam waktu dekat!" ucap Elena.


"Tidak apa-apa, jadikan aku sebagai calon suamimu maka aku akan menunjukkan padamu jika suatu saat nanti aku akan membuatmu bangga!"


"Bicara sangat mudah Jansen, tapi prosesnya tidak mudah."


"Aku tahu, aku tahu tidak ada yang mudah. Tapi jika aku bisa menjadi seperti yang kau inginkan, apa kau akan mempertimbangkannya dan mau menjadi aku sebagai calon suamimu?"


"Kita lihat nanti," Elena tersenyum lalu menepuk wajah Jansen. Pemuda itu terkejut namun Elena sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Tunjukkan padaku dan buktikan jika kau memang serius ingin menjadi calon suamiku. Kau harus ingat satu hal, keluargaku tidak menerima sampah. Aku akan melihat seberapa keras kau akan berjuang untuk memantaskan diri dan ingat satu hal, aku bukan wanita murahan dan gampangan yang bisa kau dekati dengan mudah lalu kau jadikan pacar!"


"Aku tahu!" ucap Jansen.


"Bagus. Aku tidak mencegah jadi bersungguh-sungguhlah!" ucap Elena sebelum dia melangkah pergi.


Jansen tak melepaskan tatapan matanya dari Elena. Tak menyangka Elena menerima tantangan darinya. Bukankah ini menarik? Sekarang dia jadi memiliki tujuan pasti untuk mengubah kehidupannya dan akan dia buktikan pada Elena jika dia bisa memantaskan diri meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti karena itu hanya perkataan yang dia lontarkan secara asal.