
Elena sudah tidak lagi bekerja menjadi dosen padahal bisa dia lakukan karena banyak kampus yang bisa dia datangi di Amerika. Entah kenapa dia lebih suka menjadi sukarelawan setelah kembali dari London. Elena mengajar di sebuah panti asuhan. Dia tidak dibayar, dia melakukannya dengan sukarela. Lagi pula Elena sedang tidak mau bekerja dan terikat dengan apa pun. Dia lebih suka memiliki waktu bebas.
Meski dia bisa bekerja di perusahaan milik keluarga, tapi dia tidak mau. Beberapa perusahaan yang pernah dia kirimi surat lamaran begitu kembali pun menghubunginya dan meminta Elena untuk bergabung tapi dia menolak dengan alasan berubah pikiran. Sekarang, dia justru lebih menikmati kegiatannya bersama dengan anak-anak panti.
"Elena, makanan sudah siap!" teriak ibunya.
"Sebentar, Mom!" Elena mengikat rambut ke atas dan setelah itu tas diambil karena dia sudah mau pergi.
Elena riang seperti biasanya, dia tidak terlihat sedih sama sekali meski ayah dan kakaknya melarangnya untuk menemui Jansen bahkan dia tidak boleh menghubungi Jansen. Tidak jadi soal, lagi pula dia memang ingin melihat kesungguhan Jansen. Waktu yang dia berikan tinggal dua hari lagi, dia ingin lihat apakah Jansen bisa menemukan keberadaan dirinya atau tidak. Jika Jansen tidak juga datang, maka dia tidak akan menunggu lagi karena dia akan mencari pasangan hidup.
"Apa yang Mommy buat?" tanya Elena setelah dia berada di meja makan.
"Makanan kesukaanmu. Cepat makan sebelum dingin!"
"Di mana Daddy? Apa dia pergi?" tanya Elena seraya menarik kursi.
"Nanti dia akan datang, sepertinya ada yang hendak Daddy-mu bicarakan!" ucap ibunya.
"Membicarakan apa? Apa Daddy ingin membuka perusahaan baru lalu meminta Elena yang mengelolanya?"
"Sepertinya bukan itu!" Amanda mengisi piring putrinya yang masih kosong dengan makanan.
"Jadi, apa yang hendak Daddy bicarakan?" tanya Elena.
"Kita lihat saja nanti. Mommy akan memanggilnya. Sekarang makan!" ucap ibunya.
"Thanks, Mom," Elena tersenyum sebelum ibunya pergi meninggalkan dirinya. Makanan mulai dinikmati, Elena jadi memikirkan keadaan Leo dan juga yang lain. Dia benar-benar tidak menghubungi siapa pun padahal dia ingin menghubungi Mariana. Dia sudah mendengar dari pengacara yang dia percaya untuk membantu Mariana jika kasus Mariana sudah selesai.
Rasanya jadi melegakan. Meski sangat singkat dan banyak kejadian yang terjadi tapi dia belajar banyak hal dari anak-anak bermasalah itu. Jika dia dibesarkan oleh keluarga yang bermasalah seperti mereka, dia yakin dia pun akan memberontak seperti mereka.
Ayah dan ibunya menghampiri, saat Elena sedang menikmati makanannya. Elena sangat heran karena ayahnya memandanginya dengan serius. Pasti ada sesuatu, dia yakin itu.
"Kenapa Daddy memandangi aku seperti itu?" tanya Elena.
"Sudah tiga tahun, apa kau benar-benar menunggu pemuda yang bernama Jansen itu?" tanya ayahnya.
"Begitulah, Dad. Aku memang menunggunya."
"Bagaimana jika dia tidak datang, Elena? Apa kau masih akan menunggunya ataukah kau akan pergi mencarinya?"
"Tentu saja tidak, Dad. Tinggal beberapa hari lagi dari waktu yang aku tentukan. Jika dia tidak datang maka aku tidak akan menunggu dan aku akan mencari pacar!"
"Bagus, kau memang harus melakukannya. Kau adalah putriku, putri dari keluarga kita tidak ada yang boleh mengemis cinta. Kau mengerti maksud Daddy, bukan?"
"Tentu saja, Dad. Aku tidak akan mengemis cinta pada pria mana pun. Jadi Daddy tidak perlu khawatir. Jika Jansen tidak datang di waktu yang sudah aku tentukan maka aku tidak akan menunggunya lagi!"
"Baiklah, Daddy hanya ingin membicarakan ini, Bagaimana dengan kegiatanmu, apa ada kendala?" tanya ayahnya.
"Tidak, anak-anak itu hanya butuh beberapa barang dan aku sedang mengupayakannya."
"Kenapa tidak mengatakannya pada kami, Sayang?" tanya ibunya.
"Baiklah, kapan-kapan Mommy dan Daddy akan pergi ke sana."
"Untuk apa? Mommy tidak akan mengganggu aku, bukan?"
"Tentu saja tidak, kami mau pergi ke sana untuk menjadi donatur."
Elena tersenyum, sudah dia tebak. Dia benar-benar bangga memiliki orangtua yang peduli. Sebab itu dia iba dengan para pemuda yang tersesat itu. Dia memang tidak merasakan bagaimana ditolak oleh keluarga karena dia memiliki keluarga yang penuh kasih sayang.
"Mom, Dad. Leo sudah akan kembali, aku harap kalian bisa menerima dirinya nanti."
"Oh yeah, kapan?" tanya ibunya.
"Entahlah, tapi dalam waktu dekat. Aku akan menghubunginya nanti."
"Kami akan menerimanya, Elena. Seperti Daddy yang diterima oleh nenek dan kakekmu, Daddy akan menerimanya nanti!" ucap Edward. Dia juga anak angkat, anak yang tak diinginkan oleh ibunya. Mungkin dia sudah mati jika tidak ditemukan oleh ibunya yang sekarang bahkan dia sudah seperti anak kandung dan tidak dibedakan sama sekali. Sekarang, dia pun tidak keberatan memperlakukan anak orang lain sebagai anaknya meski anak itu sudah dewasa.
"Thanks, Dad. Kau yang terbaik. Sekarang sudah saatnya aku pergi," ucap Elena karena dia sudah selesai makan.
"Jam berapa kau akan pulang, Elena?" tanya ibunya.
"Mungkin sore, Mom. Aku akan makan di rumah," Elena beranjak lalu memberikan ciuman di pipi ibu dan ayahnya.
"Aku pergi dulu," ucapnya.
"Hati-hati, Sayang, Nikmati harimu," ucap ibunya.
"Thanks. Bye mom, bye Dad!" Elena melambai sambil berjalan keluar. Sudah saatnya pergi ke panti asuhan untuk melakukan kegiatan yang selalu dia lakukan. Berkat anak-anak panti, dia tidak terlalu merasakan lamanya menunggu. Meski begitu, ada rasa rindu di hatinya yang tak bisa dia pungkiri.
Elena diantar oleh seorang sopir pribadi, dia hanya perlu duduk saja sampai tiba di panti asuhan yang jaraknya cukup jauh. Elena bahkan memilih tidur selama di perjalanan sambil menikmati musik dari alat yang terpasang di telinga.
Seperti biasa, perjalanan menuju panti asuhan selalu berjalan lancar. Elena selalu menikmati waktunya tapi tidak dengan hari ini karena tiba-tiba saja, mobil berhenti secara mendadak. Elena terkejut, kedua matanya terbuka padahal dia sudah hampir terlelap.
"Ada apa, kenapa kau berhenti?" tanya Elen pada sang sopir.
"Maaf, Nona. Ada yang menghalangi jalan kita!"
"Apa?" Elena melihat ke depan di mana sebuah mobil sedang menghalangi jalan mereka.
"Bunyikan klakson, mungkin saja mobil itu rusak!" perintah Elena.
"Baik, Nona!" klakson dibunyikan berkali-kali, tapi mobil itu tidak juga menyingkir. Elena mulai kesal, dia ingin kembali memberi perintah tapi seorang pria yang turun dari mobil itu mengejutkan dirinya.
"Leo?" Elena sangat heran karena Leo ada di sana. Tanpa membuang waktu, Elena keluar dari mobil namun dia kembali terkejut melihat pria lain yang sudah berdiri di sisi mobil.
Antara senang dan kesal campur aduk jadi satu. Elena melangkah dengan perlahan, namun langkahnya semakin cepat. Pemuda yang dia lihat sudah tentu Jansen, dia datang lebih cepat dari jadwal yang ditentukan dan dapat menemukan keberadaan Elena berkat bantuan Leo.
"Kakak," Leo memanggil namun Elena sedang melangkah mendekati Jansen. Kedua tangan Jansen terbuka lebar, dia sudah sangat ingin memeluk Elena karena rindu tapi sayangnya, satu pukulan justru Elena berikan di wajahnya.
"Apa? Kenapa kau memukul aku?" tanya Jansen namun setelah pukulan yang dia dapatkan, Elena memeluknya dengan erat. Jansen tersenyum, sungguh sambutan yang tak terduga dan dia pun memeluk Elena untuk mengobati rasa rindu yang sudah dia pendam selama tiga tahun.