
Setelah ditinggal oleh Elena, suasana jadi berbeda. Jansen pun jadi tidak bersemangat karena Elena pergi begitu saja. Jansen menempati rumah Elena, dia sangat berharap Elena kembali ke rumah itu. Lagi pula tidak ada lagi tempat untuknya pulang selain rumah itu.
Rumah ayahnya sedang dilelang, dia pun tidak peduli. Kampus juga sudah berpindah tangan, perusahaan yang selalu dikelola oleh Richard pun sudah berpindah tangan. Jansen pun mendapat kabar jika jabatan ayahnya sudah dicopot dan Richard sedang mencari pekerjaan, dia pun tidak peduli.
Jansen tidak akan langsung menunjukkan pada ayahnya siapa dirinya. Dia justru masih bekerja sebagai pekerja kasar. Biarkan saja ayahnya bergantung pada putra yang dia banggakan selama ini. Ayahnya harus merasakan akibat dari apa yang dia lakukan selama ini meski sesungguhnya dia bisa membantu ayahnya mendapatkan perusahaan ayahnya kembali tapi dia tidak mau melakukannya. Lagi pula kekuatan yang dia miliki belum cukup dan dia masih harus banyak belajar.
Jansen berada di rumah hari itu, dia enggan pergi ke mana-mana. Mendadak semuanya terasa tidak menyenangkan bahkan mereka tidak pergi balapan untuk mengisi waktu luang seperti yang biasa mereka lakukan. Kedatangan satu orang benar-benar mengubah dunia mereka dan kepergiannya yang secara tiba-tiba juga mengubah mereka.
Jansen berbaring di sofa dan enggan melakukan apa pun. Jika Elena melihatnya seperti itu, dia pasti akan mendapatkan tatapan tajam dari Elena. Elena tidak banyak bicara, dia lebih banyak memberikan tatapan tajam sebagai sebuah isyarat. Mendadak dia jadi merindukan tatapan yang diberikan oleh Elena. Tidak saja tatapan tajamnya, dia juga sangat merindukan keberadaan Elena.
"Elena, kenapa kau tidak menghubungi aku?" Jansen memejamkan mata, sialan. Setelah Elena pergi dia justru sadar jika dia menyukai Elena dan telah jatuh cinta padanya. Suara motor yang begitu ramai di luar sana, membuat kedua mata Jansen terbuka. Yang datang sudah pasti anggota geng motornya. Sepertinya dia harus membubarkan anggota gengnya dan meminta mereka untuk hidup dengan benar dan tidak berbuat ulah lagi.
"Bos, kami datang!" terdengar suara teriakan Mariana dari luar sana.
Jansen segera bangun dan duduk, para anggota geng yang datang menerobos masuk tanpa permisi dan mereka segera menghampiri Jansen yang ada di ruang tamu.
"Kenapa kalian semua datang?"
"Ini akhir pekan, Bos. Kami datang untuk melihat keadaanmu."
"Ck, apa kalian membawa makanan?" tanya Jansen yang belum makan apa pun sejak pagi.
"Aku bawa!" Mariana membawa beberapa kotak pizza yang bisa mereka makan bersama.
"Apa kakak ipar tidak menghubungimu?" Mariana bertanya pada Jansen.
"Tidak, aku bahkan tidak bisa menghubunginya karena nomornya sudah tidak aktif lagi."
"Apa kakak ipar tidak akan kembali lagi, bos?" semua menunduk dan tampak sedih karena mereka semua merasakan kehilangan.
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Kami rindu dengannya, apa kita akan bertemu lagi dengan kakak ipar?"
"Semoga saja, aku juga tidak tahu."
"Ada yang menemui aku semalam," ucap Leo karena memang ada yang menemuinya. Tentunya orang itu adalah utusan Elena yang datang untuk membawa Leo pergi.
"Siapa?" semua memandang ke arah Leo.
"Sepertinya itu utusan kakak karena orang itu berkata besok akan membawa aku pergi."
"Apa?" semua memandang ke arah Leo, jadi Leo benar-benar akan pergi dari mereka?
"Maaf, aku datang untuk berpamitan. Aku akan melanjutkan studyku di tempat lain jadi aku tidak bisa bersama dengan kalian lagi. Maafkan semua kesalahanku selama ini dan terima kasih sudah menerima aku," ucap Leo.
"Sialan, dia benar-benar yang paling beruntung!" mereka semua mengeroyok Leo yang sangat beruntung menurut mereka.
"Apa ayah tirimu akan mendapatkan hukuman yang berat, Mariana?"
"Tentu saja. Ancaman yang dia ucapkan waktu itu, menjadi sebuah bukti jika dia sudah memiliki rencana untuk membunuh aku yang akan dia lakukan kelak dan ancaman yang dia ucapkan bisa digunakan untuk menambah hukuman yang akan dia dapatkan nanti!"
"Bagus, kita semua memang terbantu olehnya tapi dia justru pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata perpisahan!" Jansen mengusap wajah, dia sungguh tak menduga Elena akan dibawa pergi secara tiba-tiba dari mereka.
"Kita tiba-tiba jadi kehilangan seperti ini," semua lesu, tak bersemangat sama sekali. Mereka semua terdiam, pizza yang ada di atas meja tak disentuh sama sekali. Suasana hening itu membuat canggung, mereka semua seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Jansen bahkan enggan menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya apalagi dari nomor yang tidak dia kenal. Dia menebak itu dari ayahnya atau Richard.
"Bos, ponselmu berisik!" ucap anak buahnya.
"Biarkan saja!"
"Berisik, Bos. Matikan saja!"
"Ck, penghancur suasana!" Jansen hendak menolak panggilan tak dikenalnya itu tapi entah kenapa dia merasa jika dia harus menjawabnya. Bagaimana jika ternyata yang menghubunginya adalah Elena? Meski enggan mau tidak mau dia harus menjawabnya dan berharap yang menghubunginya adalah Elena.
"Siapa? Jika tidak penting maka akan aku matikan!" ucapnya tanpa basa basi. Meski dia berharap yang menghubungi adalah Elena tapi itu bisa saja Ayahnya atau Richard.
"Apa ini caramu menjawab panggilan dari seseorang?" Jansen terkejut saat mendengar suara yang sangat tidak asing baginya dan suara itu tentu saja suara dari wanita yang sangat dia rindukan.
"Elena?!" Jansen benar-benar senang karena Elena yang menghubungi tapi begitu mendengar Jansen menyebut nama Elena, yang lain langsung melihat ke arahnya dengan tatapan tidak percaya tapi beberapa detik kemudian, mereka sangat senang.
"Kakak ipar!" mereka semua jadi mengerumuni Jansen.
"Hei, jauh-jauh dariku!" teriak Jansen seraya mendorong mereka satu persatu.
"Kami ingin berbicara dengan kakak ipar, berikan pada kami!" pinta para anak buahnya.
"Enak saja, aku dulu!" Jansen mengangkat ponselnya tinggi karena para anak buahnya justru ingin memperebutkan ponselnya, "Pergi yang jauh!" usirnya. Jansen sudah beranjak dan menjauh dari mereka agar para anak buahnya tidak mengganggu.
"Kakak ipar, ada yang rindu padamu sampai tidak makan sama sekali!" teriak salah satu dari mereka.
"Jangan berisik!" Ucap Jansen.
"Jangan malu, Bos. Bilang saja kau merindukan kakak ipar!" yang lain pun menggoda Jansen.
"Kalian juga rindu, jadi tidak perlu menggoda aku!"
"Tapi yang paling rindu sudah pasti bos, jadi jangan malu!"
"Kalian semua berisik, habiskan semua pizza itu!" Jansen sudah melangkah menuju jendela agar tidak ada yang mengganggu namun anak buahnya masih juga tidak berhenti menggodanya karena Jansen jelas-jelas terlihat sangat senang padahal tadi dia tidak bersemangat sama sekali.
Elena tersenyum mendengar suara mereka yang sangat heboh apalagi mereka masih menggoda Elena. Jujur saja, dia jadi merindukan mereka semua. Mereka semua pasti bingung karena dia dibawa secara tiba-tiba oleh kakak dan ayahnya. Elena belum mengatakan apa pun, dia menunggu suasana tenang karena mereka masih menggoda Jansen. Elena masih tersenyum namun senyumannya mendadak hilang karena ayahnya masuk ke dalam kamarnya dan menatapnya tajam. Putrinya tidak pernah seperti itu sebelumnya. Pria yang bernama Jansen masih menjadi tanda tanya dan senyuman itu, jangan katakan gara-gara pria bernama Jansen yang putrinya panggil saat dia sadar.