
Anne terkejut saat mendengar suara tembakan itu. Sebelum dia melihat keluar, Anne memberikan satu tendangan lagi di perut Elena dan setelah itu dia berlari keluar. Entah siapa yang datang, dia harap para penjahat yang dia bayar dapat menanganinya.
Bangunan yang dia gunakan adalah bangunan terbengkalai yang belum jadi. Situasi saat itu masih terang benderang. Anne yang berlari untuk melihat apa yang terjadi menghentikan langkah karena dia melihat Jansen menerobos bersama dengan sekumpulan anak muda. Tidak hanya itu saja yang membuatnya terkejut, Jansen dan kumpulan anak muda itu membawa senjata api yang entah mereka dapatkan dari mana.
Mereka tidak takut sama sekali, senjata api yang ada di tembakan sana sini karena tak adanya pengalaman dalam menggunakan senjata api tapi tidak ada satu pun yang takut akan hal itu. Seluruh anggota Black Circle menerjang masuk tanpa peduli siapa musuh yang mereka lawan. Jiwa muda justru membara, aksi yang memicu adrenaline yang tak boleh dilewatkan apalagi mereka datang untuk menyelamatkan orang yang telah banyak membantu mereka.
Jansen memimpin di depan. Senjata api laras panjang milik Elena di tembakkan ke arah musuh. Meski tembakan pertama meleset, namun tidak untuk yang kedua. Setidaknya aksi gila mereka cukup membuat musuh terpukul mundur. Siapa yang dapat menghentikan kegilaan mereka? Bob yang mengikuti mereka saja tak bisa berkata apa-apa. Dia cukup terkejut ketika melihat geng motor yang dipimpin oleh Jansen sudah berkumpul di rumah Elena. Dia ingin melaporkan hal itu pada polisi tapi Jansen justru mencegah.
Sungguh, selama ini dia tidak tahu apa pun tentang putranya. Senjata api yang mereka ambil di rumah Elena pun membuatnya cukup terkejut dan pada saat itu dia sadar jika apa yang dikatakan oleh Jansen tentang Elena adalah benar jika Elena bukanlah orang biasa.
Selama ini dia selalu tenggelam di dalam pekerjaannya dan kehidupannya. Yang dia kejar hanya karier juga uang dan dia melupakan putranya sendiri. Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Jansen bahkan dia menganggap teman-temannya adalah sampah yang meresahkan tapi nyatanya, para anak muda itu menyapanya dengan penuh hormat saat melihatnya.
Dia tidak menyangka jika para anak muda itu begitu antusias untuk menyelamatkan seorang pendatang yang baru menjadi dosen di kampusnya. Sesungguhnya apa yang telah dilakukan oleh Elena sehingga mereka begitu peduli? Dia yakin pengaruh wanita itu cukup besar sehingga dia mendapatkan perhatian yang sangat besar dari pada pemuda itu.
Anne yang melihat itu melangkah mundur, sial. Bagaimana Jansen dan para berandalan itu tahu tempat itu? Celaka, sebaiknya dia lari dari tempat itu apalagi dia melihat Bob juga datang. Jansen kurang ajar tapi dia tak menyangka pemuda itu bergerak lebih cepat dari perkiraan padahal dia belum menghubunginya untuk mengancam.
"Richard, di mana kau?" teriaknya memanggil karena Richard entah pergi ke mana.
"Kenapa? Apa kau panik sekarang?" Elena sudah bersandar di dinding bangunan dan tampak lelah. Dia sudah tidak kuat, sepertinya dia akan pingsan sebentar lagi.
"Diam kau!" teriak Anne marah.
"Percayalah, bukan mereka yang harus kau takuti karena setelah ini kau akan mengalami hal paling buruk di dalam hidupmu di mana tidak pernah kau pikirkan sebelumnya!"
"Jangan membual, memangnya siapa kau?" teriak Anne yang mulai panik.
"Kenapa terlihat takut sekarang? Bukankah tadi kau berkata ingin membunuh aku seperti kau membunuh ibu Jansen?" Elena sengaja memancing, dia tahu yang datang pasti Jansen dan dia ingin Jansen mendengarnya.
"Aku memang ingin membunuhmu. Aku akan membunuhmu seperti membunuh ibu Jansen tapi tunggu saja tanggal mainnya!" teriak Anne yang terpancing dengan perkataan Elena.
"Apa kau mendengarnya, Jansen!" teriak Elena dengan sisa tenaga yang ada.
Jansen yang mendengar itu berhenti menembak, dia juga meminta anak buahnya berhenti menembak. Mereka bahkan berhenti sejenak untuk mendengar apa yang Elena teriakan.
"Apa kau mendengarnya jika dialah yang telah meracuni ibumu sampai mati!" teriak Elena lagi.
Jansen terkejut setelah mendengarnya, begitu juga dengan Bob yang mengikutinya dari belakang. Apa? Apakah benar istri pertamanya mati di bunuh seperti yang di teriakan oleh Elena?
"Diam kau, mau apa kau berteriak demikian?" teriak Anne.
"Anne!!" Jansen berteriak dengan keras. Amarah memenuhi hatinya. Sudah dia duga jika ibunya mati dibunuh oleh rubah jahat itu.
"Kejahatanmu sudah terbongkar, Nyonya? Apa kau tidak mau lari?" cibir Elena.
"Sialan kau, sialan!" Anne kembali mendekati Elena dan memukul wajahnya beberapa kali untuk melampiaskan amarahnya tapi bukannya sakit, Elena justru tertawa dengan kerasnya. Anne melangkah mundur, gila. Sepertinya wanita itu sudah gila.
"Jika tidak lari, kau akan tertangkap dengan mudah, Nyonya. Percayalah, bukan penjara yang akan kau tempati. Selamatkan dirimu selagi kau punya waktu yang bisa kau manfaatkan!"
"Kau hanya bisa menakuti!" teriak Anne. Dia kembali memukul wajah Elena sambil mencengkeram kerah baju Elena.
Elena tak bisa melawan, dia hanya pasrah saja namun tanpa Anne duga, dia menempelkan sesuatu pada pakaiannya. Anne sangat puas saat wajah Elena sudah babak belur. Sekarang waktunya lari untuk menyelamatkan diri. Dia masih memiliki uang, dia bisa hidup dengan uang itu.
"Cepatlah lari, Nyonya. Jika tidak kau akan tertangkap," ucap Elena menakuti sambil menyeka darah yang mengalir dari sela bibir.
"Awas kau!" Anne segera pergi apalagi Jansen dan yang lain sudah menerobos masuk karena para penjahat yang Anne bayar melarikan diri. Anne melarikan diri melalui jendela, dia akan mencari Richard dan mengajaknya melarikan diri tapi sebelum itu mereka harus pulang untuk menjarah isi rumah Bob dan mengambil barang berharga milik mereka.
"Aku akan membunuhmu, ja*ang!" teriak Jansen yang sudah menerobos masuk namun dia tidak mendapati siapa pun.,
"Elena!" Jansen berteriak memanggil karena dia tidak melihat Elena berada yang bersandar di dinding di mana keberadaannya terhalang oleh dinding lainnya.
"Kau begitu lama, Jansen!" ucapan Elena yang lemah dapat dia dengar, sebab itu Jansen dan yang lain berlari ke arah Elena. Mereka sangat terkejut mendapati keadaan Elena yang babak belur di mana terdapat bercak darah di atas lantai.
"Kurang ajar, apa yang dia lakukan padamu?" teriaknya marah. Para anggota Black Circle pun berpencar untuk mencari keberadaan Anna di bangunan tua itu. Bob berdiri mematung, melihat keadaan Elena yang babak belur. Benarkah semua itu dilakukan oleh istri yang dia kira seperti malaikat selama ini?
"Aku sudah tidak kuat lagi, Jansen. Bawa aku ke rumah sakit!" pinta Elena yang berusaha bertahan sedari tadi.
"Di mana dia, Elena. Aku akan membalas apa yang telah dia lakukan padamu!"
"Jangan mempedulikan dirinya, mulai sekarang kau tidak akan melihatnya lagi!"
"Apa maksudmu?"
"Bos, dia tidak ada di mana pun!" teriak anak buahnya yang sudah kembali dan tidak menemukan Anne.
"Cari sampai dapat!" perintah Jansen.
"Sudah aku katakan, tidak perlu. Biarkan dia lari!" ucap Elena.
"Daddy yang akan mengurus mereka!" ucap Bob. Sekarang dia benar-benar melihat siapa wanita yang selama ini dia bela. ternyata yang dikatakan oleh Jansen tentang Anne selama ini sangatlah benar lalu bagaimana dengan Richard? Dia tidak merasakan keberadaan Richard di tempat itu? Apa Richard juga terlibat?
"Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Jansen menggendong Elena yang babak belur dan membawanya pergi. Mereka semua pergi dari tempat itu tanpa menyadari jika sesungguhnya ada yang mengintai mereka dan para penjahat yang melarikan diri, sudah babak belur dan tidak ada satu orang pun dari mereka yang bisa lari.