My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tak Berdaya



Untuk kali ini, Elena tidak berdaya sama sekali karena keadaannya. Dia tidak bisa melawan, untuk memukul seseorang saja dia tidak mampu. Musuh datang di saat yang tidak tepat, dia dibawa paksa bahkan dia tidak bisa membantu Mariana ketika Mariana dipukuli oleh orang-orang yang menculik dirinya.


Elena ditarik keluar dari kamarnya secara paksa, dia pun dilemparkan ke dalam mobil tanpa perasaan. Elena hanya bisa berteriak, kepalanya semakin terasa sakit sehingga dia tidak bisa melakukan apa pun. Sungguh sial. Ini kali pertama dia benar-benar tidak berdaya sama sekali.


Dia dibawa ke sebuah bangunan kosong di mana Anne dan Richard sudah menunggu. Saat melihat mereka berdua, dia sungguh tidak terkejut sama sekali. Sudah dia tebak sebelumnya jika mereka berdualah dalang di balik penculikan itu. Elena kembali ditarik masuk ke dalam ruangan lalu dia didorong dengan kasar hingga membuat Elena jatuh ke atas lantai. Elena hanya bisa berteriak, sungguh perlakuan yang sangat kasar.


"Well... Well, kita lihat siapa yang sedang berbaring di atas lantai ini?" Anne mencibir sambil melangkah mendekati Elena yang tak berdaya di atas lantai setelah dia didorong jatuh oleh para penjahat yang dia bayar.


"Kau sungguh picik. Jika keadaanku tidak sedang seperti ini, percayalah aku bisa memecahkan kepalamu!" ucap Elena, dia berusaha untuk beranjak namun Anne menginjak tangannya menggunakan tumit sepatunya yang lancip. Elena berteriak, Anne menginjak tangannya tanpa perasaan karena dia tidak peduli. Yang dia inginkan adalah membalas wanita sombong yang telah membuat mereka jatuh miskin.


"Pecundang seperti dirimu jangan banyak bicara!" teriak Anne kesal.


"Mom, hentikan. Kau bisa melubangi tangannya!" cegah Richard yang tidak suka melihat apa yang ibunya lakukan pada Elena.


"Diam kau! Aku sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya untuk menyingkirkan setiap orang yang menjadi sainganku dan wanita ini, harus tahu jika dia tidak boleh bersikap sombong!"


"Tapi tidak seperti ini caranya, Mom!" Richard masih mencegah karena dia tidak mau ibunya terlalu kejam apalagi Elena sedang tidak berdaya.


"Diam! Kau sungguh kau tidak berguna. Tapi yang kau katakan sangat benar, bukan seperti ini cara membalas dirinya yang sombong!" Anne menyingkirkan kakinya dari tangan Elena.


Elena memegangi tangannya sambil menahan rasa sakit. Akibat tumit sepatu yang tinggi, sebuah luka berada di sana dan mengeluarkan darah. Dia ingin lihat sampai sejauh mana ibu dan anak itu akan melakukan perbuatan jahat mereka dan dia harap, mereka mengulur waktu cukup lama sampai akhirnya waktu yang mereka miliki habis.


"Kau begitu sombong ingin aku merangkak di bawah kakimu, bukan? Kau ingin aku meminta maaf padamu sambil merangkak di bawah kakimu, bukan? Sekarang jika kau ingin aku lepaskan setelah Jansen datang, merangkaklah di bawah kakiku. Setelah merangkak jangan lupa untuk mencium dan menjilat sepatuku sampai bersih. Aku akan memaafkan dirimu setelah kau melakukannya!" ucap Anne seraya memajukan satu kakinya satu langkah, "Jangan lupa kau harus melakukannya pada sepatu putraku juga!" ucapnya lagi.


"Mom, bukankah itu keterlaluan? Bukankah Mommy menangkapnya untuk mengancamnya saja agar dia menghentikan semua yang terjadi? Kenapa Mommy jadi memintanya melakukan hal yang tak masuk akal itu?" Richard tidak setuju dengan apa yang ibunya inginkan padahal ibunya berkata jika dia ingin mengancam Elena saja.


"Cukup, Richard. Kau harus belajar bagaimana cara menyingkirkan musuh agar kau bisa menjadi orang sukses!"


"Tapi aku tidak setuju dengan permintaan Mommy yang memintanya merangkak dan menjilati sepatu kita!"


"Kau sungguh lemah, pergi yang jauh jika kau tidak mau melihat. Aku yang akan membereskan hal ini dan dia harus membayar kesombongannya. Dia ingin aku merangkak, maka sekarang dia yang harus merangkak di bawah kakiku!" ucap ibunya.


"Jangan terlalu berlebihan, Mom. Aku sungguh tidak suka dengan apa yang kau lakukan!" Richard berjalan pergi, dia tidak mau lagi melihat apa yang akan ibunya lakukan.


"Sekarang, segera merangkak dan minta maaflah padaku jika kau menginginkan belas kasihan dariku!" ucap Anne.


Elena yang sedari tadi diam, kini mulai tertawa. Tawa pelan yang dia lakukan justru semakin keras dan hal itu membuat Anne kesal. Situasi sedang tidak menguntungkan tapi Elena masih saja bisa tertawa. Apa wanita itu mengira dia sedang bercanda?


"Apa ada yang lucu? Apa kau mengira aku sedang membuat lelucon saat ini?" Anne tampak kesal, dia akan mengajari wanita itu jika situasi yang dia hadapi sedang tidak menguntungkan dirinya dan dia sedang berada di dalam masalah.


"Aku sungguh iba denganmu, Nyonya. Apa kau melakukan hal ini karena kau gila hormat dan haus akan kekuasaan? Sebaiknya kau berhenti karena waktumu sudah dihitung mundur sejak orang-orangmu itu membawa aku secara paksa!"


"Apa?" Anne menatap Elena dengan tajam namun gelak tawanya terdengar karena dia menganggap perkataan Elena hanyalah lelucon semata.


"Kau pandai membual. Memangnya siapa kau? Aku tidak akan pernah takut padamu apalagi gertakan yang kau ucapkan. Sebaiknya kau segera merangkak di bawah kakiku sambil meminta maaf dan setelah itu hentikan semua yang terjadi barulah aku akan melepaskanmu!"


"Di dunia ini, tidak ada yang bisa membuat aku merangkak apalagi sambil memohon. Kau tidak akan bisa mengintimidasi aku meskipun keadaanku sedang seperti ini!" ucap Elena.


"Kau masih saja bersikap sombong!" Anne melangkah mendekat lalu memberikan sebuah tendangan di perut Elena.


Elena yang tak berdaya hanya bisa berteriak sambil menahan rasa sakit. Tubuhnya terdorong ke belakang lalu Anne kembali menendang tubuhnya bahkan menginjaknya. Hari ini dia akan melakukannya sampai puas karena gara-gara wanita itulah membuat mereka berada di dalam masalah dan dia dipermalukan.


"Hari ini aku akan memberikan pelajaran padamu jika kau tidak boleh menantang aku!" teriaknya sambil menendang dan menginjak tubuh Elena. Rasanya sangat puas, benar-benar puas.


"Lakukan sepuasmu, karena waktumu akan tiba nanti!"


"Kau masih saja bersikap sombong. Aku akan membunuhmu seperti aku membunuh ibu Jansen!" teriaknya seraya memberikan tendangan sehingga tubuh Elena kembali terdorong dengan keras hingga membentur dinding ruangan. Darah segar dimuntahkan oleh Elena, seluruh tubuhnya terasa sakit. Dia semakin tidak berdaya, bahkan untuk mengangkat tubuhnya pun dia tidak memiliki tenaga.


"Jadi, kau yang membunuh ibu Jansen?" walau ini bukan urusannya dan dia tidak berhak untuk ikut campur, tapi Anne sudah mengungkitnya dan tidak ada salahnya dia mencari tahu.


"Benar! Apa kau mau tahu? Aku menaruh racun di dalam makanannya lalu aku mengatakan pada Bob jika dia bunuh diri!" teriak Anne dengan keras dan setelah itu, dia tertawa terbahak-bahak. Seperti yang Jansen katakan, ibunya tidak bunuh diri tapi ayahnya tidak percaya sehingga tidak melakukan pemeriksaan.


Anne kembali menendang dan menginjak tubuh Elena, dia akan melakukannya sampai puas namun setelah beberapa injakan dan tendangan, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan serta teriakan orang yang ramai di luar sana.