My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Hinaan Yang Menyakitkan



Jansen keluar dari kelas karena dia ingin membeli makanan di kantin. Uang puluhan dolar yang dia miliki masih cukup untuknya membeli seporsi makanan untuk mengganjal perut. Asal tidak berlebihan dan membeli apa saja seperti yang sudah-sudah maka dia bisa berhemat dengan puluhan dolar itu.


Seorang mahasiswi cantik menghampiri Jansen karena dia mengira jika dia akan mendapatkan apa yang dia mau seperti yang sudah-sudah. Tidak seorang saja, mahasiswi lain pun menghampiri Jansen untuk meminta sesuatu yang dia inginkan. Mereka segera berjalan di sisi kanan dan sisi kiri Jansen lalu memeluk lengan pemuda itu.


"Jansen, kapan kau akan mengajak kita pergi berkencan lagi?" tanya salah satu dari mahasiswi itu.


"Tidak ada kencan lagi, pergilah!" Jansen menepis tangannya hingga pegangan kedua gadis itu terlepas.


"Kenapa, Jansen? Biasanya kau akan mengajak kami berkencan?!" tanya kedua mahasiswi itu.


"Aku sudah tidak mau berkencan lagi!" Jansen melangkah pergi ke kantin namun kedua mahasiswi itu masih mengikuti karena mereka ingin memanfaatkan Jansen yang bisa memberikan apa saja yang mereka inginkan.


"Kenapa? Tidak biasanya kau menolak seperti ini? Apa kau sudah bosan dengan kami?" perkataan itu diucapkan dengan nada tinggi sehingga orang-orang yang ada di kantin dapat mendengarnya.


"Katakan pada kami, Jansen. Kenapa kau tiba-tiba berubah? Biasanya kau akan mengajak kami kencan dan membelikan apa saja yang kami inginkan!"


"Sudah aku katakan, aku tidak mau berkencan dengan kalian lagi!" ucap Jansen.


"Itu karena dia bukan putra dari Bob Howard lagi!!" tiba-tiba saja seseorang berteriak demikian.


Jansen terkejut, siapa yang baru saja berteriak dan dari mana orang itu tahu masalah yang hanya diketahui olehnya, ayahnya dan sang rektor serta Elena? Apa ada yang menguping percakapannya dengan Elena sewaktu di dalam kelas?


"Apa arti ucapanmu itu?" seseorang bertanya demikian.


"Apa kalian tidak mendengarnya? Dia sudah dibuang oleh ayahnya bahkan ayahnya sudah tidak mau membiayai kuliahnya oleh sebab itu dia sudah tidak memiliki apa pun lagi!" cibiran pedas itu terlontar entah dari siapa karena Jansen tidak melihatnya.


"Apa? Jadi dia sudah tidak memiliki apa pun lagi?" mahasiswi yang tadinya ingin mengajak Jansen berkencan justru melangkah mundur dan tampak enggan.


"Pantas saja dia tidak mau, ternyata dia sudah tidak mampu lagi berkencan dengan kita!" cibir yang lainnya.


Jansen hanya diam, tidak mempedulikan cibiran para mahasiswa itu. Mereka masih tidak berhenti menghina dirinya dan mereka tidak ragu untuk menertawakan Jansen. Entah dari mana gosip itu didapatkan tapi dia yakin bukan dari Elena.


"Sepertinya sekarang dia sudah lebih miskin dari pada kita! Ha... Ha... Ha... Ha....!" Gelak tawa terdengar keras dari para mahasiswa yang ada di kantin tersebut.


"Lihat, biasanya dia akan makan di restoran tapi sekarang dia datang ke kantin. Pasti dia ingin membeli roti!"


"Hei, kalian semua. Apa ada yang mau menyumbang makanan untuk Jansen!" seseorang berkata dengan kejamnya di susul dengan gelak tawa mereka. Jansen mengepalkan kedua tangan dengan erat, penghinaan yang sungguh menyakitkan padahal dia tidak meminta makan pada mereka.


"Ambil itu, jangan sampai kau kelaparan karena ayahmu tidak memberikan uang lagi!" entah sudah keberapa kali penghinaan itu dia dapatkan, yang jelas para mahasiswa itu tidak akan berhenti mencemooh dirinya.


"Hei, jangan lupa dengan jusnya!"


"Ini, punyaku belum habis!" sekotak jus yang sudah hampir habis pun dilemparkan ke hadapan Jansen lalu gelak tawa para mahasiswa yang ingin menjatuhkan mentalnya kembali terdengar. Kedua tangan Jansen semakin mengepal erat, dia diam tapi para pemuda itu semakin menjadi saja. Apakah harus dia pukul satu persatu agar mereka tidak berani menghina dirinya lagi?


Tidak, dia tidak boleh membalas mereka. Dia harus sabar karena dia akan dikeluarkan dari kampus itu. Meski dia tahu setelah hinaan ini, dia akan mendapatkan hinaan yang lainnya tapi dia harus bersabar. Berita yang menyebar dengan cepat itu, dia sangat yakin ada oknum yang sengaja ingin memancingnya untuk melakukan sebuah kesalahan. Dia yakin orang yang menyebarkan berita itu ingin dia dikeluarkan dari kampus.


Meski gelak tawa dan cibiran masih terdengar tapi Jansen berusaha menahan diri agar tidak terpancing karena satu kesalahan fatal yang dia lakukan, maka dia akan dikeluarkan. Jangan sampai dia mengecewakan Elena yang mempercayainya. Lagi pula dia sedang mengelabui musuh dan berpura-pura lemah dan tak berdaya, sebaiknya dia tidak peduli dengan cibiran mereka dan pergi.


Jansen memutar langkah, dia ingin pergi tapi pada pemuda yang masih ingin mencari gara-gara karena mereka tahu jika Jansen tidak mungkin melawan itu kembali berulah dengan melemparkan roti yang sudah dibuka ke kepala Jansen. Langkah Jansen terhenti, tatapan matanya tertuju pada roti yang jatuh ke bawah lalu Jansen meraba kepalanya dan mendapati banyak suas di rambutnya.


"Beraninya kalian?" kali ini dia tidak bisa menahan emosi lagi.


"Wah, akhirnya. Aku kira dia akan lari seperti seorang pengecut!" cibiran itu dilontarkan bersamaan dengan lima pemuda yang sudah melangkah maju. Cukup membuat Jansen memukul mereka maka tugas selesai.


Jansen hendak melangkah maju dengan kedua tangan mengepal erat, akan dia buat mereka masuk rumah sakit agar tidak ada yang mencibir dirinya namun seorang wanita yang baru saja berdiri dari tempat duduk dan melotot ke arahnya menghentikan langkah Jansen karena wanita yang dia lihat sudah pasti Elena yang kebetulan sedang makan siang.


Elena hanya menjadi pendengar sedari tadi, dia ingin tahu sejauh mana kesabaran Jansen menghadapi para pemuda yang hendak menjatuhkan dirinya itu. Selain harus bangkit akibat terbuang, Jansen juga harus mengasah kesabarannya agar tidak main tangan saat ada yang menghina dirinya. Setelah melototi Jansen agar pemuda itu tidak kelepasan, Elena pergi dari kantin. Dia percaya Jansen pasti bisa menahan emosi.


"Kenapa tidak jadi? Tidak ada ayahmu di sini jadi ayo, kita adu tenaga!" salah satu dari kelima pemuda itu menantang dirinya.


"Cih, membuang waktuku saja!" Jansen kembali memutar langkah. Jika tidak ada Elena mungkin dia sudah kehilangan kesabaran dan membuat mereka babak belur hingga berakhir di rumah sakit.


"Kenapa tidak jadi? Apa Jansen Howard yang terkenal dengan kehebatannya takut dengan kami yang hanya berlima ini? Bukankah kau bisa mengalahkan dua puluh orang itu? Tidak mungkin kau takut dengan kami yang hanya berlima saja, bukan?" ucapan itu tentu dilontarkan untuk menantang Jansen.


"Sebaiknya tidak menjadi pengecut karena itu memalukan untuk ketua geng motor seperti dirimu!"


"Pengecut?" Jansen melirik mereka dengan tatapan sinis, "Aku bukan pengecut tapi kalian terlalu lemah untuk menjadi lawanku dan aku tidak sudi mengotori tanganku dengan darah kalian yang kotor!" setelah mengatakan hal itu, Jansen pun pergi karena dia tidak mau berdebat lebih lama dengan mereka.


"Apa kau bilang?" kelima pemuda itu tampak marah dengan cibiran Jansen. Mereka berteriak, namun Jansen sudah pergi dan tidak mempedulikan mereka lagi. Akibat kejadian itu tentu saja membuat mereka sangat marah dan tentunya mereka tidak terima dengan kegagalan oleh sebab itu mereka akan kembali membuat perhitungan dengan Jansen.


Jansen pergi sambil mengumpat, sial. Perutnya lapar dan dia tidak mendapatkan satu roti pun gara-gara para pemuda itu. Lebih baik dia kembali ke kelas saja dari pada ada yang mencariĀ  keributan lagi tapi perutnya yang lapar, membuatnya tidak mudah untuk berkonsentrasi.


Jansen kembali mengumpat, sungguh sial namun sepotong roti dan sekotak jus yang ada di atas meja menarik perhatiannya. Jansen berdiri di sisi meja lalu membaca sebuah memo yang ditinggalkan di bawah kotak jus, "Untuk kesabaranmu!" dan dia tahu siapa yang telah meninggalkan Jus dan roti itu. Apa yang bisa dia katakan pada orang yang begitu baik padanya? Sungguh dia bertemu dengan orang yang luar biasa baik.