My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Permintaan Gila Anne



Anne mengangkat dagunya tinggi ketika Elena dan Jansen masuk ke dalam ruangan itu. Sungguh dia tidak menduga dia akan berada di posisi itu begitu cepat, posisi di mana dia akan melihat kedua musuhnya langsung kalah sekaligus. Tidak perlu bersusah payah karena sekarang dia akan menjadi penonton yang bermulut manis.


Elena dan Jansen saling pandang, mereka belum mengerti kenapa mereka dipanggil secara bersamaan namun Elena memang merasa curiga jika semua ada hubungannya dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh para murid serta bisik-bisik di belakang mereka. Firasat buruk, bahkan lebih buruk dari pada yang sudah-sudah.


"Kenapa kau juga dipanggil?" tanya Jansen pada Elena dengan berbisik.


"Bukankah sudah aku katakan padamu? Bersiaplah, sepertinya akan terjadi hal buruk!" ucap Elena dengan suara pelan pula.


"Tidak perlu khawatir, aku ada di sini untuk membelamu!" ucap Jansen. Rasanya ingin menggenggam tangan Elena tapi tidak boleh dia lakukan.


"Apa kalian tahu kenapa aku memanggil kalian berdua ke mari?" Bob beranjak dan berjalan menuju jendela. Sebatang cerutu pun dibakar dan setelah itu dia melihat ke arah Jansen sejenak lalu dia kembali berpaling. Jansen benar-benar mengecewakan dirinya. Padahal dia berharap Jansen berubah setelah diusir keluar dari rumah. Dia mengira Jansen tidak akan melakukan perkelahian lagi tapi nyatanya, dia masih saja melakukan hal itu.


"Maaf, apa kami berdua telah membuat sebuah kesalahan?" tanya Elena.


"Cih, lihatlah. Dia bahkan berpura-pura!" ucap Anne mencibir.


"Diam kau nenek tua, jangan memperkeruh keadaan!" ucap Jansen.


"Apa? Kau memanggil aku apa?" teriak Anne tidak terima.


"Cukup! Jaga sopan santumu, Jansen!" ucap ayahnya dengan suara lantang.


"Bagaimana dia bisa menjaga sopan santun sedangkan dia diajari oleh seorang preman!" Anne kembali mencibir sambil menatap Elena dengan tatapan menghina. Sudah dia duga jika wanita itu hanyalah sampah. Tidak salah dia mencegah Richard untuk menjauhinya dan sekarang, dia akan menendangnya jauh sehingga Richard tidak bisa melihat wajahnya lagi.


"Maaf, tolong bicara yang jelas agar kami mengerti!" pinta Elena.


"Bicara yang jelas, preman seperti dirimu masih saja tidak mengerti!" kini Anne berteriak seraya beranjak.


"Jaga ucapanmu, nenek tua. Kau boleh menghina aku tapi kau tidak boleh menghina Elena!" Jansen sudah tampak emosi, dia hendak melangkah maju tapi Elena menahannya.


"Lihatlah kalian berdua?" Anne semakin menghina mereka berdua, "Kau sungguh pecundang yang tunduk pada wanita!" cibirnya lagi.


"Aku pecundang lalu kau apa? Kau hanya *****!"


"Jensen!" ayahnya berteriak marah. Bob berjalan mendekati putranya, dia sungguh kecewa bahkan kekecewaan yang dia rasakan semakin menjadi.


"Kau sungguh mengecewakan aku. Aku sengaja mengusirmu keluar dan memberikan syarat padamu agar kau tidak lagi melakukan perkelahian tapi apa yang kau lakukan? Kau justru bersama dengan berandalan ini untuk melakukan perkelahian. Kau sungguh tidak bisa melihat maksud di balik sikap keras yang aku tunjukkan padamu. Aku kira kau bisa membuktikan padaku jika kau akan berubah menjadi lebih berguna setelah menjalani hidup yang keras dan tidak melakukan perkelahian lagi agar kau tetap dapat melanjutkan kuliahmu tapi apa? Lagi dan lagi, kau membuat aku kecewa dan harapanku padamu benar-benar sudah tidak ada lagi!" ucap ayahnya yang benar-benar terlihat kecewa.


"Apa maksud dari ucapanmu? Perkelahian apa yang kau maksudkan?" tanya Jansen.


"Kau benar-benar pandai berakting, pura-pura tidak tahu. Sekarang lihat ini!" Anne meminta sang rekor menyalakan televisi agar Elena dan Jansen melihat video perkelahian mereka sehingga mereka tidak bisa menghindar lagi. Begitu rekaman diputar, Elena dan Jansen terkejut melihat perkelahian yang mereka lakukan di rumah Mariana. Sepertinya tanpa mereka ketahui ada yang melihat aksi mereka lalu merekamnya secara diam-diam.


"Kau lihat? Sekarang kau tidak bisa menghindar lagi!" ucap Anne, dia sungguh puas.


"Kami tidak berkelahi, aku dan Elena pergi menyelamatkan sahabatku yang hendak dijual jadi jangan asal menebak hanya karena Video itu sedangkan kalian tidak tahu apa yang sedang terjadi!" ucap Jansen.


"Tidak perlu mengarang cerita, Jansen. Sudah cukup. Apa kau tidak malu? Kau sudah mempermalukan ayahmu sedemikian rupa tapi kau masih juga tidak puas. Apa kau tahu rumor apa yang beredar di luar sana? Kau membuat kekacauan dengan berandalan yang menyamar sebagai dosen itu. Ayahmu hanya memintamu untuk tidak berkelahi lalu selesaikan kuliahmu, kenapa begitu saja sulit?" kini Anne menunjukkan ekspresi prihatin padahal dia tidak peduli dengan Jansen bahkan dia sangat senang Jansen dan Elena berada di posisi itu.


"Kau yang diam, Jansen!" teriak ayahnya.


"Dad, dengarkan aku. Kami pergi membantu Mariana untuk terbebas dari ayahnya yang bejat. Kami terpaksa melawan agar Mariana tidak dibawa pergi untuk dijual oleh ayahnya. Jika kau tidak percaya maka aku akan memanggil Mariana untuk menjelaskan apa yang terjadi!" jelas Jansen.


"Ayolah, Bob. Apa kau mempercayai perkataannya? Dia sudah banyak membohongimu sejak dulu jadi jangan percaya dengan perkataannya apalagi saksi yang dia maksudkan. Dia pasti meminta bantuan salah seorang wanita jaI*ang untuk menipu dirimu!" ucap Anne karena untuk itulah dia berada di sana.


"Sekali lagi kau berbicara, aku tidak ragu untuk merobek mulutmu itu!" kesabaran sudah habis, inilah yang selalu membuat dirinya dan ayahnya bertengkar. Campur tangan orang ketiga semakin memperkeruh suasana di antara mereka.


"Jaga ucapanmu, Jansen. Apa yang Anne katakan sangat benar, kau hanyalah pecundang. Syarat mudah yang aku berikan tidak sanggup kau lakukan bahkan kau bergaul dengan berandalan ini!" Bob melihat ke arah Elena, dia sungguh tidak menduga telah mempekerjakan seorang penjahat sebagai dosen di kampusnya.


"Elena bukan berandalan, kalian tidak tahu siapa dirinya jadi jangan asal bicara tentangnya!"


"Tidak perlu membela. Kau sungguh mengecewakan aku, Jansen. Aku sangat berharap banyak padamu karena aku sudah tidak mendengar tindakan burukmu saat kau keluar dari rumah. Aku pikir kau sudah belajar untuk menjadi lebih baik lalu kembali menjadi putraku yang sukses tapi hari ini, aku benar-benar kecewa setelah melihat video itu serta isu yang beredar. Apa sebenarnya yang kau inginkan, Jansen? Katakan, aku akan mengabulkannya. Apa kau ingin aku mati? Aku akan mati di depan matanya saat ini juga jika itu yang kau mau. Atau kau ingin warisan dariku? Aku akan memanggil pengacara dan memberikan semua itu agar kau puas!" Anna terkejut mendengar perkataan Bob tapi yang bagian akhir.


"Jangan terlalu berlebihan, aku tidak butuh uang dan hidupmu. Sejak dulu aku hanya ingin kau percaya padaku dan mengusir mereka pergi serta mengusut kematian Mommy yang janggal tapi kau tidak pernah mau!"


"Apalagi yang perlu diusut? Ibumu bunuh diri, semua tahu itu!"


"Lihatlah, perkataanku tidak kau dengarkan dan kau tidak percaya padaku tapi perkataan anak orang lain kau dengarkan dengan mudahnya. Aku yang kecewa padamu, sejak dulu aku sangat kecewa padamu!"


"Jangan terlalu berlebihan. Kenyataan ibumu bunuh diri tidak bisa diubah!" ucap ayahnya.


"Bagiku tidak dan akan aku buktikan suatu saat nanti jika ada yang membunuhnya!" ucap Jansen dan tatapan matanya sudah tertuju pada Anne.


"Sudahlah, Bob. Sejak dulu dia memang menganggap aku sebagai dalang kematian ibunya sebab itulah dia tidak bisa menerima aku dan Richard. Sekarang sebaiknya kau mengambil keputusan yang tepat untuk mereka berdua. Dia memang putramu, tapi kau bisa melihatnya, dia tidak akan bisa membanggakan dirimu selain membuatmu malu dan wanita ini," Kini Anne melihat Elena, "Berandalan ini sebaiknya segera kau usir!" ucapnya lagi.


"Sudah aku katakan, Elena bukan berandalan!" ucap Jansen.


"Cukup, Jansen. Tidak perlu membela diri, percuma karena kau hanya akan mendapatkan rasa kecewa saja. Sebaiknya pergi, bereskan barang-barangmu!" ucap Elena. Dari pada menghabiskan tenaga berdebat karena pada akhirnya mereka akan kalah, jadi lebih baik mereka pergi tanpa perlu mempermalukan diri lebih dari pada ini karena orang yang diajak bicara, tidak percaya dengan apa pun yang akan mereka katakan.


"Tunggu, aku belum selesai!" teriak Anne.


"Apa lagi, Nyonya? Tidak perlu khawatir, aku akan mengundurkan diri dari kampus ini."


"Jangan kau kira mudah, datang sesuka hati dan pergi sesuka hati. Aku mengeluarkan kalian berdua secara tidak terhormat dengan reputasi buruk. Percayalah tidak akan ada satu kampus pun yang akan menerima kalian berdua!" ucap Anne dengan angkuhnya.


"Apa hakmu sehingga kau begitu berani mengambil keputusan seperti itu?" tanya Jansen.


"Aku berhak, Jansen. Aku bisa menghancurkan kalian dengan mudah tapi jika dia mau melakukan apa yang aku perintahkan, maka aku akan memberikan keringanan pada kalian!" Anne bersedekap dada, dia tampak angkuh.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Elena.


"Aku ingin kau dan Jansen berlutut di bawah kakiku lalu meminta maaf dan setelah itu merangkaklah keluar sampai menuju gerbang. Jika kau melakukannya maka Jansen tidak akan aku keluarkan. Jangan lupa, aku tahu ada murid baru dan dia pun tidak akan aku keluarkan kecuali dirimu saja. Aku akan bermurah hati jika kau melakukannya!" Anne mengangkat dagunya sedikit tinggi setelah mengatakan permintaan gilanya itu. Dia akan mempermalukan Jansen dan Elena sehingga dia tidak memiliki muka lagi yang bisa mereka tunjukkan di kampus itu.