
Keadaan Elena semakin memburuk, suhu tubuhnya semakin tinggi. Elena bahkan tidak bisa bangun karena dia tidak bertenaga dan kepalanya sakit luar biasa. Jansen berjalan mondar mandir di dalam kamar dia sangat mencemaskan keadaan Elena namun dia tidak bisa melakukan apa pun.
Mariana sudah dia panggil untuk membuat bubur. Dia tidak mau melakukannya karena tidak bisa dan dia takut meracuni Elena. Jangan gara-gara makanan yang dia buat membuat Elena diare jadi lebih baik dia mencari aman saja.
Elena memeluk selimut dengan erat, dia menggigil hebat di dalam selimut. Padahal dia mengira keadaannya akan membaik tapi nyatanya, keadaannya justru memburuk.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Elena? Apa kau baik-baik saja?" Jansen duduk di samping Elena, tangannya pun sudah berada di dahi Elena untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Dingin, Jansen," ucap Elena. Sungguh hari yang buruk.
"Jika begitu ijinkan aku memelukmu sebentar. Kau tidak keberatan, bukan?"
"Aku lapar," ucap Elena tanpa menjawab permintaan Jansen.
"Mariana sedang membuat bubur, tunggulah!"
"Apa kau tidak pergi ke kampus? Bukankah Mariana harus pergi bekerja?"
"Jangan pikirkan hal itu. Keadaanmu lebih penting. Tidak ke kampus satu hari tidak akan jadi masalah, lagi pula aku tidak akan meninggalkan dirimu dalam keadaan seperti ini."
"Maaf, aku jadi merepotkan kalian."
"Jangan berbicara seperti itu. Kami selalu merepotkan dirimu dan sekarang, giliran kami yang menjagamu," ucap Jansen seraya menunduk dan memberikan kecupan di dahi Elena yang terasa sangat panas. {Karena banyak bab yang di revisi jadi adegan ini yang tadinya gak ada jadi ada di bab sebelumnya}
"Aku jadi rindu dengan rumah," ucap Elena. Di saat seperti itu, dia jadi rindu dengan ibunya.
"Ngomong-Ngomomg, selama ini aku tidak tahu kau berasal dari mana. Apa kau mau mengatakannya padaku?" dia baru sadar jika dia tidak tahu sama sekali tentang Elena.
"Colorado, aku berasal dari sana."
"Wow, cukup jauh. Kenapa kau bekerja di sini?"
"Mencari pengalaman, aku ingin hidup mandiri tanpa mengandalkan keluargaku."
"Tiba-Tiba aku jadi malu denganmu, Elena. Aku sungguh membuang waktuku yang berharga hanya untuk diakui namun semua jadi sia-sia."
"Sudahlah. Waktunya membuktikan diri, bukan menyesali!"
"Kau benar. Terima kasih, kau datang ke kota ini untuk mengadu nasib sehingga aku bisa bertemu denganmu," Jansen kembali mencium dahi Elena. Jika Elena tidak datang dan menjadi dosen di kampus ayahnya, mana mungkin dia dan Elena bisa bertemu? Entah apa jadinya dia, mungkin saja dia masih menjadi berandalan yang sibuk mencari perhatian ayahnya.
Elena tersenyum tipis, dia datang mencari pengalaman tapi siapa yang menduga dia justru terlibat dengan Jansen dan teman-temannya yang memiliki masalah namun mengenal mereka justru membuatnya menikmati waktunya sehingga dia tidak merasa bosan di negara asing. Tangan Jansen bergerak di dahinya lalu turun ke wajahnya. entah kenapa dia tidak bisa berhenti. Jari jemarinya tak berhenti bermain hingga tiba di bibir Elena. Mereka berdua mendadak terdiam dan saling pandang. Suasana jadi terasa aneh bahkan jantung mereka tidak bisa diajak kompromi.
Jantung Elena berdegup, itu bukan karena dia sedang sakit. Semua itu gara-gara pemuda yang menatapnya tanpa berpaling. Dengan perlahan, Jansen menunduk. Kali ini tanpa meminta ijin dan semoga saja tidak ada gangguan. Jantung Elena semakin berdegup dengan kencang apalagi wajah Jansen sudah semakin mendekat. Dia bahkan bisa mendengarnya. Kedua mata Elena terpejam hingga akhirnya dia bisa merasakan kecupan lembut mendarat di bibirnya.
Mereka berdua salah tingkah setelah melakukan hal itu. Itu ciuman pertama Elena dan itu adalah pertama kali Jansen mencium wanita yang dia sukai. Elena dapat merasakan wajahnya yang panas, selimut pun ditarik hingga menutupi seluruh kepalanya.
"A-Aku akan melihat Mariana sebentar!" ucap Jansen seraya beranjak. Sial, ini bukan pertama kalinya dia mencium wanita tapi entah kenapa dia jadi gugup luar biasa.
Elena membuka selimut, saat terdengar suara pintu tertutup. Tanpa dia sadari, jarinya sudah berada di bibirnya. Apa dia menyukai Jansen? Dia tidak tahu tapi jika tidak, dia tidak akan mengijinkan pria itu menciumnya. Rasanya jadi sedikit aneh, dia jadi memiliki perasaan pada muridnya sendiri tapi hal itu tidak dilarang, bukan?
"Ada apa denganmu, bos?" tanya Mariana.
"Tidak ada apa-apa. Apa kau belum selesai?"
"Tentu saja sudah. Apa bos mau membawakan bubur untuk kakak ipar?" tanya Mariana yang sudah meletakkan bubur ke atas nampan.
"Aku mau pergi membeli obat. Kau jaga Elena dan suapi dia makan."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku takut keadaan kakak ipar memburuk. Aku juga harus pergi bekerja tidak lama lagi ."
"Tidak perlu khawatir, aku hanya pergi membeli obat saja. Jika demamnya tidak juga reda maka aku akan membawanya ke rumah sakit. Sekarang aku pergi membeli obat penurun panas terlebih dahulu."
"Baiklah," Mariana membawa bubur yang masih panas ke dalam kamar sedangkan Jansen pergi untuk membeli obat. Tidak ada yang tahu jika hari ini akan terjadi sesuatu pada mereka, Jansen pun tidak curiga sama sekali apalagi Elena yang sedang sakit. Dia pun tidak mengingat jika hari ini adalah batas waktu yang dia berikan pada ayah dan ibu tiri Jansen.
"Kakak ipar, aku membawa bubur," Ucap Mariana yang masuk ke dalam kamar.
"Aku jadi merepotkan dirimu."
"Jangan berkata seperti itu. Aku sangat berhutang budi pada kakak ipar. Sekarang aku harus membalas kebaikan kakak ipar," sepertinya dia ambil cuti saja, dia jadi tidak tega meninggalkan Elena apalagi Jansen pasti tidak bisa membuat makanan atau semacamnya.
"Aku tidak melakukan apa pun, Mariana. Mana Jansen, apa dia pergi ke kampus?"
"Tidak, bos pergi membeli obat. Sekarang kakak ipar makan terlebih dahulu tapi maaf jika tidak enak."
"Tidak apa-apa," Elena berusaha untuk bangun, Mariana pun buru-buru membantu hingga Elena bersandar di ranjang.
"Apa kakak ipar baik-baik saja?" Mariana tampak cemas. Suhu tubuh yang panas dan sakit kepala yang yak juga kunjung reda membuat Elena tidak bertenaga sama sekali.
"Sepertinya hari ini aku hanya bisa tidur saja."
"Tidak apa-apa, kami akan menjagamu kakak ipar."
Elena mengangguk, senyuman tipis menghiasi wajahnya. Sungguh, dia merasa lelah. Mariana menyuapinya makan namun tidak banyak karena Elena merasa mual. Mulutnya pun terasa pahit sehingga membuatnya tidak berselera makan.
"Sebaiknya kakak ipar berbaring, aku akan mengambil kompres."
"Tolong buatkan aku minuman hangat, Mariana," pinta Elena sebelum Mariana keluar dari kamarnya.
"Baiklah, aku tidak akan lama," Mariana membawa mangkuk bubur yang masih tersisa setengah dan setelan itu keluar dari kamar. Dia membuat minuman hangat terlebih dahulu dan membawanya ke dalam kamar dan setelah itu dia keluar lagi untuk mengambil handuk dan air hangat untuk kompres.
Situasi aman-aman saja namun langkah Mariana terhenti ketika dia ingin kembali ke dalam kamar karena ada yang mengetuk pintu. Mariana tidak curiga karena dia mengira Jansen telah kembali atau salah satu sahabatnya yang datang untuk menjenguk Elena.
"Sebentar!" teriak Mariana karena pintu kembali diketuk. Baskom berisi air disimpan dan setelah itu Mariana melangkah menuju pintu.
"Kalian berisik!" ucap Mariana karena pintu kembali diketuk. Dengan perasaan kesal, Mariana membuka pintu namun dia terkejut saat melihat orang-orang yang berdiri di depan pintu. Mariana berteriak keras dalam beberapa detik kemudian dan hal itu membuat Elena terkejut. Ada apa? Dia berusaha memanggil Mariana tapi tidak ada jawaban sama sekali.