My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Menutup Jalan



Anne sedang menunggu kepulangan putranya dengan tidak sabar karena dia sudah sangat ingin tahu kabar yang akan putranya sampaikan. Setelah kepergian Jansen, Anne memerintahkah Richard untuk mencari tahu ke mana perginya Jansen. Bukan tanpa alasan mereka ingin tahu, mereka hanya ingin waspada. Jangan sampai Jansen tiba-tiba pulang karena mendapatkan bantuan yang tak terduga.


Mereka harus memantau gerak gerik Jansen selama pemuda itu berada di luar sana agar mereka tidak salah perhitungan oleh sebab itulah, Richard pergi memantau agar mereka tahu di mana Jansen akan tinggal. Tentunya Bob tidak tahu akan hal itu karena dia sibuk dengan pekerjaannya.


Richard kembali tanpa menemukan apa yang dia mau. Dia terlambat sehingga membuatnya kehilangan jejak apalagi Jansen pergi menggunakan sepeda motor. Anne pun buru-buru menghampiri putranya karena dia sudah sangat ingin tahu apakah putranya berhasil mengikuti Jansen atau tidak.


"Bagaimana? Apa kau tahu di mana pecundang itu tinggal?" tanya Anne dengan tidak sabar.


"Aku kehilangan jejaknya, Mom. Mereka begitu cepat oleh sebab itulah aku kehilangan jejak mereka."


"Sial, kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, Richard. Jangan sampai dia kembali lalu menendang kita keluar!"


"Kau terlalu khawatir, Mom. Aku berani bertaruh dia tidak akan bisa menendang kita begitu mudah!"


"Tapi kita harus waspada. Kita harus mencari cara agar dia menjalani kehidupan sulit di luar sana agar dia hidup dalam penderitaan!"


"Itu perkara mudah, kita tidak perlu khawatir karena Jansen tidak akan mudah membalas kita apalagi dia tidak memiliki sepeser uang pun. Selama Daddy tidak memberinya uang maka kita tidak perlu terlalu cemas. Pemuda tidak berguna seperti dirinya, mau kerja apa? Tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan dirinya apalagi dengan reputasi buruknya. Aku akan meminta rekan bisnisku untuk tidak menerimanya bekerja jika dia mencari pekerjaan dan Mommy bisa melakukan sesuatu untuk memperberat kehidupannya di luar sana. Dengan demikian kita tidak perlu mengkhawatirkan dirinya yang tidak akan bisa melakukan apa pun di luar sana!"


"Ide yang sangat bagus. Dari pada kita bersusah payah memantau pecundang itu memang lebih baik kita menutup jalannya. Sekali pecundang tetaplah pecundang jadi kita akan membuatnya semakin menjadi pecundang. Idemu sudah sangat bagus tapi apa yang harus aku lakukan?" tanya ibunya.


"Dengar!" Richard melangkah mendekati ibunya lalu berbisik untuk memberikan ide agar ibunya segera bertindak sehingga kehidupan Jansen semakin sulit di luar sana. Seringai menghiasi wajah Anne, benar-benar rencana yang sempurna dan rencana itu akan dia lakukan besok. Dengan begini Jansen benar-benar akan memiliki masa depan yang suram.


Mereka berdua akan memastikan Jansen tidak akan bisa bangkit apalagi dia sudah berada di luar dan mereka pun tidak akan membiarkan Jansen kembali. Menghasut Bob adalah perkara mudah. Jansen tidak akan berkutik jika mereka menggunakan nama ayahnya untuk menutup semua akses sehingga Jansen tidak melakukan apa pun.


Rencana itu tentu dijalankan oleh Anne tanpa ada yang tahu kecuali dia dan putranya tentu dia menghasut Bob sehingga semua dapat berjalan dengan lancar. Jansen pun tidak akan menduga dengan rencana mereka itu meski dai tahu Anne dan Richard adalah dua orang licik yang akan melakukan apa saja demi tujuan.


Jansen masih berada di rumah saat itu. Dia belum pergi karena Elena memerintahkannya untuk membersihkan rumah dan semua itu sudah sesuai dengan isi perjanjian jika dia mau tinggal di sana. Jansen pun tidak bisa menolak karena dia tidak memiliki tempat tinggal lagi.


Selain menjadi pemuda yang patuh pada perkataan Alena, dia tidak memiliki pilihan lain tapi hanya pada perkataan Elena saja dia akan patuh karena tidak dengan yang lainnya. Elena pun sedang sibuk membuat sarapan. Setelah ini dia akan meminta Jansen pergi terlebih dahulu agar tidak ada yang tahu jika mereka tinggal bersama.


"Jansen, apa kau sudah selesai?" tanya Elena yang masih berada di dalam dapur.


"Sedikit lagi!" jawab Jansen yang sedang membersihkan jendela.


"Tinggalkan. Segera sarapan dan pergi agar kau tidak terlambat!" teriak Elena lagi.


"Apa? Aku belum selesai!"


Jansen menghela napas, yang Elena katakan memang sangat benar.  Dia harus segera lulus dalam tahun ini lalu mencari pekerjaan yang layak agar dia bisa berada di atas tapi dia pun harus mulai mencari pekerjaan hari ini untuk biaya hidupnya.


Pekerjaan ditinggalkan, Jansen pergi ke dapur di mana Elena sudah selesai membuat sarapan. Elena melihatnya sejenak sebelum dia melangkah pergi karena dia mau mandi.


"Segera sarapan dan pergi. Kau bisa menggunakan motorku agar kau tidak terlambat!" ucap Elena saat melangkah melewatinya.


"Bagaimana denganmu? Dengan apa kau pergi?" tanya Jansen.


"Aku pergi menggunakan kereta jadi gunakan motorku dan pergilah terlebih dahulu agar tidak ada yang tahu kita pergi bersama!"


"Terima kasih, Elena."


"Tidak perlu berterima kasih. Jika aku sampai terlebih dahulu sebelum kau dan kau tidak berada di dalam kelas saat pelajaran di mulai maka siap-siap saja, aku akan mencukur rambutmu sampai botak!" ancam Elena.


"Wow, terdengar menakutkan!"


"Segera, berhenti bermain!" Elena sudah melangkah menuju kamarnya untuk mandi.


Jansen pun segera sarapan karena dia harus segera pergi. Beruntungnya Elena mau meminjamkan motornya sehingga dia tidak perlu meminta salah satu anak buahnya datang untuk menjemput dirinya. Setelah terbebas dari penjara, ini kali pertama dia kembali ke kampus.


Kabar dia bisa bebas tentu saja sudah didengar oleh semua murid. Tidak ada yang berani membicarakan Jansen di hadapannya tapi sebagian membicarakan pemuda itu di belakangnya. Ada yang menyambut dirinya tapi beberapa murid justru sangat berharap dia tidak kembali lagi ke kampus karena kampus jadi tenang saat pemuda bermasalah itu tidak ada.


Kedua puluh pemuda yang telah mengeroyoknya tidak terlihat, mereka mendapatkan skor dan belum diijinkan untuk kembali ke kampus. Sang rektor pun sudah dipecat dan diganti yang baru. Suasana jadi berbeda karena Jansen tidak melakukan apa yang dia lakukan seperti biasanya.


Untuk pertama kalinya, Jansen bersikap seperti murid baik lainnya dan hal itu membuat kampus cukup heboh. Entah matahari terbit dari arah mana pagi ini yang pasti itu kejadian langka yang tidak pernah diduga oleh siapa pun. Selama lima tahun, selalu reputasi buruk yang dia lakukan bahkan kekacauan sudah terjadi saat dia datang tapi untuk hari ini, Jansen tidak melakukan seperti apa yang dia lakukan. Jansen bahkan langsung pergi ke kelas dan mengabaikan para wanita yang selalu menempel padanya.


Sungguh aneh, semua orang bahkan tidak percaya begitu juga para guru yang melihat namun rektor baru yang sudah diracuni pikirannya tidak percaya karena dia diminta untuk memantau kelakuan Jansen selama berada di kampus karena satu kesalahan yang dilakukan oleh Jansen, maka dia harus mengeluarkan pemuda itu dari kampus.


"Jansen, rektor mencarimu dan meminta dirimu untuk ke ruangannya," seorang murid yang baru masuk menyampaikan pesan itu padanya.


"Rektor, untuk apa?"


"Tidak tahu, pergilah ke ruangannya!"


Mau tidak mau Jansen pun pergi mencari sang rektor, dia mengira rektor ingin meminta maaf padanya tapi ketika melihat rektor baru membuat Jansen sangat heran tapi yang lebih membuatnya heran adalah, keberadaan ayahnya di dalam ruangan itu bersama rektor baru. Jansen menghela napas, pasti ada hal tidak menyenangkan yang akan disampaikan oleh ayahnya tapi apa pun itu, dia tidak akan berdebat sama sekali dengan ayahnya karena dia tahu saat dia keluar dari rumah, ayahnya pasti semakin tidak peduli dengannya sebab ayahnya memiliki kehidupannya sendiri di mana tidak ada dirinya di dalam kehidupan ayahnya.