My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Pemuda Tak Berguna Yang Beruntung



Kedatangan Jansen yang secara tiba-tiba tentu saja mengejutkan Elena. Dia sengaja memukul Jansen karena dia ingin memastikan yang sedang berdiri di hadapannya saat ini benar-benar Jansen atau bukan. Setelah memastikannya barulah Elena memeluknya.


Mereka berdiri cukup lama di sisi jalan untuk melepas kerinduan mereka. Waktu tiga tahun ternyata dapat mereka lewati tanpa bertemu, tanpa saling bertukar informasi tapi mereka saling mempercayai. Elena percaya jika Jansen akan datang dan Jansen percaya jika Elena akan menunggunya.


"Kenapa kau datang lebih cepat?" tanya Elena seraya melepaskan pelukannya. Dia jadi tidak enak hati karena ada Leo.


"Apa tidak boleh? Aku sengaja karena ingin memberikan kejutan untukmu," ucap Jansen.


"Bukannya tidak boleh, kau mengejutkan aku dan aku tebak pasti Leo yang membantumu!"


"Selain dia, tidak ada lagi yang bisa aku mintai tolong!"


"Sudah aku duga, kalian pasti membuat janji!" Elena mendekati Leo.


"Maaf tidak memberi tahu jika aku akan datang untuk menemuimu, kak," ucap Leo.


"Tidak apa-apa, kebetulan Mommy dan Daddy ingin bertemu denganmu jadi kau bisa ikut aku pulang."


"Hei, lalu bagaimana denganku?" tanya Jansen.


"Apa kau juga ingin bertemu dengan kedua orangtuaku?" tanya Elena.


"Tentu saja, bukan? Seperti yang aku katakan, aku akan memintamu pada kedua orangtuamu saat aku datang untuk menemuimu."


"Baiklah, tapi kau harus tahu jika tidak mudah menghadapi ayah dan kakakku. Jangan sampai kau memamerkan uang yang kau miliki, mereka akan langsung menendangmu jika kau berani menyebutkan uang yang kau miliki!"


"Aku tahu, Elena. Aku datang karena aku serius jadi aku tidak akan main-main saat bertemu dengan keluargamu nanti."


"Bagus, tunjukkan padaku nanti jika kau serius karena tidak saja harus meyakinkan mereka tapi kau pun harus meyakinkan aku!" tentu dia tidak akan sembarangan menerima Jansen jika pemuda itu tidak serius.


"Ck, sudah tiga tahun tapi kau masih saja seperti dulu. Apa tidak mau aku peluk lagi?"


"Tidak mau, aku mau pergi!"


"Mau ke mana, kami ikut!" ucap Jansen.


"Aku mau pergi ke panti asuhan. Kalian pergilah, aku akan mengabari kalian setelah aku selesai!"


"Kami tidak punya tujuan, Elena. Kami ikut kau saja."


"Baiklah, tap kalian harus menunggu!"


"Tidak apa-apa," ucap Jansen. Mau tidak mau Elena mengajak mereka serta ke panti asuhan. Meski dia senang dengan kedatangan Jansen dan Leo tapi dia tidak boleh melupakan tanggung jawabnya. Elena melakukan tugasnya seperti biasa. Jansen dan Leo menunggunya sambil bermain dengan beberapa anak yang ada di panti.


Elena sudah mengabari kedua orangtuanya jika Leo sudah kembali dan akan pulang bersama dengannya. SelainĀ  mengabari mereka akan kedatangan Leo, Elena juga mengatakan pada kedua orangtuanya jika Jansen juga datang. Kabar yang diberikan oleh putrinya tentu saja membuat Amanda dan Edward terkejut. Edward segera menghubungi putranya dan memintanya untuk pulang, dia bahkan tampak uring-uringan tidak jelas.


Selama ini, Elena tidak pernah membawa pria mana pun pulang dan hari ini, putrinya akan membawa seorang pria pulang ke rumah. Dia tidak akan membiarkan putrinya dibawa darinya begitu saja apalagi jika pria yang dibawa pulang oleh putrinya nanti tidak memenuhi syarat.


Henry yang dimintai pulang pun sudah kembali. Dia sangat heran mendapati ayahnya tampak gelisah tak seperti biasanya.


"Ada apa dengan Daddy?" tanya Henry pada ibunya.


"Adikmu akan pulang dengan kekasihnya, sebab itulah dia seperti itu!"


"Wow, benarkah?" Henry tampak terkejut tapi dia menebak jika pria tiga tahun lalu itu benar-benar datang untuk adiknya.


"Apa yang bisa membuat ayahmu jadi seperti itu jika bukan adikmu."


"Sudahlah, Elena pasti tahu mana yang terbaik untuknya. Dia juga tidak akan sembarangan mencari pasangan hidup."


"Aku akan yang berbicara dengannya!" Henry menghampiri ayahnya yang tampak uring-uringan.


"Kau terlihat sibuk, Dad?"


"Aku tidak sibuk, apa kau buta?" ucap ayahnya.


"Daddy sibuk, tidak perlu bohong!"


"Ck, pergi sana, Jangan mengganggu aku!"


"Ayolah, Dad. Aku tahu kau seperti ini karena Elena hendak membawa pacarnya pulang."


"Bagus jika kau sudah tahu, jadi pergi sana!"


"Dad, jangan seperti ini. Elena sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan pilihan. Kita tidak boleh mencegahnya apalagi dia sendiri yang menentukan pasangan hidupnya. Kita tidak berhak melarang. Aku tahu apa yang Daddy khawatirkan tapi percayalah pada Elena, dia pasti tidak salah!"


"Daddy tahu. Kau belum berada di posisiku jadi kau tidak tahu bagaimana perasaan seorang ayah yang hendak melepaskan putrinya tidak lama lagi!"


"Baiklah, baik. Tapi jangan terlalu berlebihan seperti itu. Rileks, Dad. Rileks," ucap Henry.


"Berisik, sana pergi!" usir Edward.


Henry menggeleng, ayahnya memang seperti itu jika menyangkut adiknya. Semoga saja pacar adiknya tidak mendapatkan pukulan dari ayahnya yang sedang gelisah itu. Waktu berjalan dengan cepat, Elena pun sudah kembali bersama dengan Leo dan Jansen. Mereka sudah ditunggu, ini kali pertama Leo bertemu dengan kedua orangtua Elena, dia disambut dengan baik oleh Amanda dan Edward juga Henry tapi tidak bagi Jansen yang mendapat tatapan tajam dari Edward, ternyata pemuda itu yang akan membawa Elena pergi.


Leo diajak oleh Amanda, sedangkan Henry dan ayahnya sudah berada di ruang tamu dengan Elena dan Jansen. Ekspresi wajah Edward yang kaku semakin kaku saja. Tidak ada senyuman yang diperlihatkan olehnya, Elena bahkan memberikan isyarat pada kakaknya tapi Henry hanya angkat bahu.


"Katakan, untuk apa kau datang menemui kami?" tanya Edward.


"Tentu saja untuk melamar Elena. Aku datang setelah tiga tahun menunggu dan aku ingin meminta Elena pada kalian."


"Memintanya? Apa kau mengira Elena adalah barang?" Edward semakin terlihat tidak senang.


"Tidak, bukan begitu. Maaf jika perkataanku menyinggung. Aku benar-benar serius pada Elena oleh sebab itu aku untuk melamarnya."


"Apa yang kau lihat dari Elena? Apa yang kau sukai darinya?' tanya Edward.


"Kebaikan hati dan keberaniannya."


"Oh, jadi apa yang kau miliki sehingga kau begitu berani ingin melamar putriku?" saat mendapatkan pertanyaan itu, Jansen melihat ke arah Elena yang cuek saja. Baiklah, ternyata dia harus menghadapinya seorang diri.


"Jawab yang benar, jika tidak aku akan melemparmu keluar!" ucap Henry.


"Maaf sebelumnya, aku bukan siapa-siapa karena selama ini aku hanyalah pemuda yang tersesat dan aku pun berasal dari keluarga yang bermasalah. Aku bisa berubah berkat bantuan Elena. Aku memang memiliki bisnis yang tidak seberapa tapi aku yakin aku bisa lebih sukses lagi saat bersama dengan Elena meski saat ini tak seberapa dan tidak ada apa-apanya dibandingkan milik kalian tapi aku berjanji akan menjadi lelaki yang lebih baik lagi untuk Elena. Aku pun berjanji tidak akan menyakitinya. Jika aku berbohong dan sampai menyakiti Elena, kalian bisa mencari aku dan melakukan apa pun padaku!"


Edward menatap Jansen dengan tajam, dia bisa melihat jika pemuda itu tidak berbohong karena ekspresi wajahnya terlihat serius bahkan Jensen tidak menutupi keadaannya dan keadaan keluarganya. Elena tersenyum secara diam-diam, Jansen menjawabnya dengan baik karena ayahnya lebih senang dengan orang yang jujur. Suasana hening, tidak ada yang bersuara tapi tiba-tiba saja Edward berdiri dari tempat duduknya.


"Jika kau serius pada putriku maka segera nikahi putriku!" ucap Edward seraya melangkah pergi.


"Dad, itu berarti?"


"Jika dia berani menyakitimu maka aku yang akan pergi membuat perhitungan dengannya!" ucap ayahnya.


"Kau dengar, Daddy tidak main-main," ucap Henry.


"Aku juga tidak main-main," ucap Jansen.


"Bagus, selain ayahku kau pun harus menghadapi aku nantinya!" Henry pun melangkah pergi, sedangkan Elena berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya dari belakang. Jansen hanya memperhatikan, ternyata Elena dibesarkan dari keluarga yang baik. Dia tidak boleh mengecewakan mereka apalagi Elena adalah wanita mahal yang tak bisa didapatkan oleh sembarangan orang dan dia adalah pemuda tak berguna yang sangat beruntung.