
Setelah makan para pemuda itu tidak langsung pulang. Semua masih berkumpul di rumah Elena untuk menghabiskan waktu mereka di sana karena mereka enggan pulang. Elena yang ingin tahu apa yang terjadi dengan para pemuda itu mencoba berbaur, mungkin dia bisa mendengar sedikit tentang mereka.
Beberapa botol minuman cola serta camilan yang dibeli secara mendadak sudah tersedia. Mereka semua duduk di lantai membentuk lingkaran. Mereka terlihat serius namun semua tatapan mata justru tertuju pada Elena yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Kenapa kalian menatap aku seperti itu?" tanya Elena. Mendadak dia jadi merasa jika para pemuda itu seperti sedang penasaran.
"Kakak ipar, apa kau seorang intel yang sedang menyamar?" tanya salah satu pemuda itu yang sangat ingin tahu akan identitas Elena.
"Apa? Siapa yang mengatakan hal itu padamu?"
"Kami hanya menebak saja, kakak ipar. Aksimu barusan, kau pasti bukan orang biasa."
"Benar, kami menebak kakak ipar adalah intel yang sedang menyamar tapi jika bukan berarti kakak ipar adalah seorang anggota mafia!" ucap yang lain.
"Bukan, aku bukan intel dan bukan mafia. Aku hanya seorang dosen yang memiliki hobi sedikit berbeda!" jangan sampai ada yang tahu identitas aslinya lalu mereka semua menjadi segan. Dia lebih suka mereka semua seperti itu, tak segan padanya hanya karena statusnya yang tidak biasa.
"Tidak mungkin!" ucap Jansen, "Meski hobi, kau tidak mungkin memiliki skill dan kemampuan yang begitu baik dalam menembak dan mengalahkan musuh. Hobi berbahaya seperti itu memerlukan medan untuk latihan dan harus terjun secara langsung agar bisa memiliki kemampuan menghadapi musuh seperti yang kau lakukan. Kau sudah terlatih karena kau tidak ragu sama sekali saat menyerang orang-orang itu dan ketika kau menghentikan mobil yang membawa Mariana, butuh latihan keras untuk melakukan aksi yang cukup berbahaya itu. Siapa sebenarnya kau, Elena?" tanya Jansen.
Semua menatapnya, dengan tatapan ingin tahu. Mereka pun berpikiran sama seperti yang Jansen pikirkan. Mendadak suasana jadi hening, atmosfer di sekitar mereka pun menjadi berat. Mereka menunggu jawaban dari Elena dengan jantung berdebar karena mereka sudah sangat ingin tahu.
"Aku hanya dosen, hanya dosen. Aku baru lulus dan setelah itu aku datang ke kota ini untuk menjadi seorang dosen. Bagaimana mungkin aku seorang intel dan anggota mafia seperti yang kalian sebutkan? Aku rasa tebakan kalian terlalu jauh!" ucap Elena.
"Tidak mungkin. Bagaimana dengan kemampuanmu?" tanya Jansen.
"Sudah aku katakan itu hanya hobi. Meski hobi jika kau menekuninya dengan benar pasti bermanfaat. Aku perempuan jadi aku harus bisa membela diriku sebab itu, aku pun belajar bela diri ketika masih sekolah!" mendapatkan jawaban seperti itu tentu saja membuat mereka tidak puas tapi tidak ada yang berani bertanya lagi. Yang paling tidak percaya dengan perkataannya sudah pasti Jansen. Dia justru menebak jika Elena seorang anggota penegak hukum yang menyamar menjadi dosen. Besok dia akan mulai mencari tahu, dia akan mengintai untuk melihat apa yang Elena lakukan setelah selesai mengajar.
"Kenapa diam, apa tidak percaya dengan perkataanku?" tanya Elena.
"Tidak!" jawab mereka serempak.
"Baiklah, tidak perlu pedulikan aku siapa yang pasti aku hanya seorang dosen yang akan menolong kalian. Sudah malam, sebaiknya kalian pulang karena besok pagi aku sudah harus berada di kampus dan tidak boleh terlambat!" ucap Elena.
"Sudah sana pulang. Ingat, langsung pulang dan jangan mencari perkara dengan yang lainnya!" perintah Jansen.
"Baik, Bos!" masing-masing dari mereka bergegas untuk pulang tapi di antara mereka ada yang tidak beranjak sama sekali. Jansen mengantar anak buahnya pergi dan kembali memberi pesan agar mereka tidak mencari perkara dengan siapa pun. Waktu itu mungkin dia tidak peduli anak buahnya mau berbuat apa tapi sekarang, dia harus memperingati mereka.
"Mariana, kenapa kau tidak pulang?" tanya Elena karena Mariana diam saja tak beranjak sama sekali seperti yang lain.
"Aku harus pulang ke mana, kakak ipar. Saat aku pulang nanti, si tua bangka itu pasti akan memukul aku dan kedua baji*angan itu, aku rasa mereka tidak akan melepaskan aku setelah kejadian ini. Mereka pasti akan marah besar dan aku tidak mau mendapat pelecehan lagi serta siksaan dari mereka!" ucap Mariana sambil memeluk dirinya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," Elena menghampiri Mariana dan duduk di sisinya, "Aku sudah membereskan mereka berdua jadi mereka tidak akan mengganggumu lagi," ucap Elena.
"Apa yang telah kakak ipar lakukan pada mereka?"
"Aku sudah mengirim mereka ke dalam penjara. Mereka sudah mengakui perbuatan yang mereka lakukan tapi itu tidak cukup, kau harus bekerja sama denganku jika kau ingin menjebloskan mereka ke dalam penjara selama puluhan tahun lamanya agar mereka tidak lagi bisa mengganggumu."
"Meski mereka sudah berada di dalam penjara, aku tidak bisa kembali karena ada si tua bangka itu. Dia pasti akan sangat murka dan memukuli aku apalagi saat dia tahu kedua putranya berada di dalam penjara gara-gara aku," Mariana semakin memeluk dirinya. Dia benar-benar tidak mau pulang karena dia takut. Elena menghela napas, sepertinya dia harus menampung gadis itu lagi karena dia tidak tega.
"Terima kasih, kakak ipar. Terima kasih," Mariana memeluk Elena, dia benar-benar terbantu karena adanya Elena.
"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih. Pergilah beristirahat, kau pasti lelah setelah melewati hari yang berat!"
"Aku akan membereskan ini semua!" Mariana beranjak, dia harus membereskan bekas camilan dan botol yang sudah kosong sebelum dia pergi beristirahat. Elena tersenyum tipis, lagi-lagi dia memberi tumpangan tapi dia tidak tega apalagi Mariana seorang wanita. Jangan sampai terjadi masalah karena dia membiarkan Mariana pulang. Sepertinya rumahnya itu akan menjadi tempat penampungan anak-anak bermasalah tapi ada baiknya Marian tinggal bersama dengannya karena dengan adanya gadis itu, tidak akan ada yang salah paham saat ada yang tahu jika Jansen tinggal dengannya. Setidaknya ada untungnya Mariana tinggal dengannya meski dia harus menampung satu orang lagi.
Setelah anak buahnya pergi, Jansen masuk ke dalam. Mariana dan Elena sibuk membereskan sisa makanan dan memasukkanya ke dalam tong sampah. Dia lupa memerintahkan anak buahnya untuk membereskan semua itu sebelum mereka pergi. Sekarang mereka jadi terlihat tidak bertanggung jawab.
"Mariana, setelah ini kau mau pulang ke mana?" tanya Jansen.
"Aku akan menginap di sini mulai sekarang, Bos. Mohon bantuannya," ucap Mariana.
"Apa? Jangan katakan kau akan tinggal di sini!"
"Kakak ipar sudah memberi ijin," ucap Mariana sambil tersenyum.
"Ingat, hanya sementara. Kau, cepat cari kerja agar kau mampu menyewa rumah dan Mariana, setelah semua selesai kau harus kembali ke rumahmu!" ucap Elena.
"Baik, kakak ipar!" jawab Mariana.
"Sisanya bereskan, aku mau istirahat!" Elena melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua.
"Hei, kenapa kau pun tinggal di sini?" tanya Jansen setelah Elena pergi.
"Tenang, Bos. Tidak akan lama. Aku tidak akan mengganggu waktumu dengan kakak ipar."
"Jangan asal bicara, Elena akan marah!"
"Bos, apa kau mau aku bantu agar bisa dekat dengan kakak ipar?" tanya Mariana sambil berbisik.
"Jangan melakukan hal yang tidak perlu jika tidak mau diusir!"
"Ayolah, Bos. Kau pasti ingin tahu jati diri kakak ipar, bukan? Aku akan bantu jika bos mau," ucap Mariana.
"Aku akan?" ucapan Mariana terhenti karena Elena keluar dari dapur.
"Mariana, ayo beristirahat!" ajaknya.
"Bye, Bos. Tidak boleh menyelinap ya!" goda Mariana.
"Sembarangan, sana pergi!" usir Jansen.
Mariana melambai sambil mengatakan sesuatu yang membuat Jansen penasaran. Jansen melotot, sedangkan Mariana tersenyum dan melangkah pergi. Jansen mengumpat, gara-gara Mariana dia jadi penasaran. Semoga dia tidak kelepasan lalu menyelinap ke dalam kamar Elena secara diam-diam hanya untuk mencari tahu jati diri Elena yang sebenarnya.