
Anne pusing tujuh keliling, saham perusahaan semakin turun saja. Bob yang sedang pergi pun belum kembali. Dia justru sakit kepala mendengar telepon yang berdering tiada henti. Richard pun dibuat sakit kepala, dia merasa mereka tidak akan bertahan karena harga saham perusahaan yang semakin jatuh. Keadaan diperparah karena ada karyawan yang lari membawa uang perusahaan. Karyawan itu berbuat demikian karena takut gajinya tidak dibayar akibat perusahaan yang terancam bangkrut.
Semua yang terjadi benar-benar begitu cepat bahkan belum dua belas jam, perusahaan mereka sudah berada di ambang batas. Kepalanya semakin sakit saja ketika melihat Richard jatuh terduduk dan terlihat tak berdaya dan dia tahu telah terjadi hal yang besar.
"Bagaimana, Richard? Bagaimana?" tanyanya.
"Stop bertanya, Mom. Kepalaku sakit!"
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya ibunya.
"Semua gara-gara Mommy. Seharusnya Mommy tidak menyombongkan diri!" kini dia pun menyalahkan ibunya.
"Kenapa kau jadi menyalahkan Mommy?" ibunya tampak tidak terima.
"Memang begitu, bukan? Aku rasa yang harus menemui Elena memang Mommy. Jika Mommy ingin menyelamatkan semua ini maka pergilah temui dia dan minta maaflah sebelum terlambat."
"Aku tidak sudi, aku tidak sudi meminta maaf padanya. Mau ditaruh di mana harga diri yang aku miliki? Jangan meminta aku melakukan hal yang tidak akan aku lakukan. Dari pada kau berada di sini dan menyalahkan Mommy, kenapa kau tidak pergi menemui dirinya dan memintanya memaafkan Mommy? Sekarang Mommy tidak akan melarang, pergilah temui dia. Kau tidak mungkin tega melihat Mommy merangkak di bawah kakinya, bukan?"
"Baiklah, baik. Setelah ini jangan membuat masalah lagi!" entah Elena mau mendengarkan permintaannya atau tidak, dia tidak tahu tapi dia harus mencoba karena dia yakin besok perusahaan mereka pasti sudah hancur.
"Jangan sok menggurui, segera pergi menemui dirinya!" teriak ibunya.
Richard yang sedang pusing mau tidak mau pergi menemui Elena. Dia sudah mendapatkan informasi jika Elena masih berada di kampus oleh sebab itu dia pergi ke sana untuk menemui Elena. Ibunya memang sudah keterlaluan tapi dia yakin Elena yang baik hati pasti mau memaafkan ibunya.
Elena yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya mendapatkan sebuah pesan dari Mariana yang akan menjemputnya. Karena Mariana akan pulang ke rumahnya setelah para baji*ngan itu tertangkap jadi mereka berencana membersihkan rumahnya malam ini. Sebab itu Mariana pulang lebih awal dan berinisiatif untuk menjemput Elena.
Elena sudah keluar dari kampus, dia berencana mengajak Mariana membeli bahan-bahan makanan yang bisa mereka olah untuk para sahabat Mariana yang akan membantu Mariana nantinya. Elena berjalan keluar dengan santai tapi ketika melihat Richard yang menunggu di depan gerbang, Elena menghela napas dan tampak enggan. Rasanya ingin menghindar tapi pemuda itu sudah melihatnya.
"Elena, apa ada waktu sebentar? Ada hal penting yang hendak aku bicarakan padamu. Bagaimana jika kita berbincang sambil menikmati segelas kopi," ajak Richard.
"Bicarakan saja di sini, Richard. Aku tidak punya waktu untuk pergi."
"Hanya sebentar saja, aku berjanji. Lagi pula tidak nyaman berbincang di sini jadi kita pergi ke Cafe untuk berbincang."
"Richard, aku bukan orang yang suka berbasa basi apalagi aku tidak suka ada yang salah paham jadi katakan saja sekarang, apa yang ingin kau bicarakan atau tidak sama sekali!" ucap Elena. Dia sudah mendapatkan peringatan dari ibu Richard jadi dia tidak mau dianggap sedang menggoda Richard.
"Baiklah, baik. Aku ingin membicarakan masalah yang baru saja terjadi," Elena benar-benar wanita yang sulit, bahkan untuk diajak bicara pun sulit. Dia jadi ingin tahu, pria seperti apa yang bisa menundukkan wanita yang terlihat mahal itu?
"Masalah yang baru saja terjadi?" Elena menatapnya tajam, dia bisa menebak apa yang hendak Richard bicarakan.
"Benar, aku tidak tahu apa yang telah terjadi antara kau dan ibuku tapi aku ingin meminta maaf mewakili ibuku. Ibuku sudah tua, dia memiliki emosi yang tidak baik. Aku benar-benar minta maaf padamu karena perkataannya yang sudah menyinggung perasaanmu."
"Oh, jadi orangtua boleh berbicara sembarangan dengan yang mudah, begitu? Apa ibumu merasa dia bisa berbicara sesuka hatinya karena dia sudah tua?"
"Tolong jangan diambil hati, Elena. Ibuku berbicara tanpa pikir panjang!" Richard masih berusaha membujuk, dia harap Elena mau memaafkan ibunya yang mungkin saja sudah menyinggung Elena sedemikian rupa.
"Kau benar, itulah sebabnya aku ingin meminta maaf padamu atas perkataan yang telah menyinggungmu."
"Siapa yang berbuat, dialah yang harus meminta maaf!" ucap Elena.
"Apa maksudmu, Elena?"
"Aku tahu maksudmu menemui aku dan membicarakan hal ini, Richard. Kalian pasti sedang berada di dalam masalah, bukan?"
"Elena, aku tahu?"
"Stop, Richard!" sela Elena seraya menatapnya tajam.
"Jangan melakukan hal yang sia-sia. Sudah aku katakan padamu, siapa yang berbuat maka orang itulah yang harus minta maaf. Apa cara yang kau lakukan ini sopan? Apa ibumu pikir aku akan memaafkannya dan menghentikan semua yang terjadi begitu saja setelah kau datang dan berbicara denganku? Ibumu benar-benar menganggapnya terlalu tinggi!"
"Bukan begitu. Jangan salah paham!" Elena benar-benar wanita yang tidak mudah diajak bicara.
"Katakan pada ibumu, jika dia ingin aku berhenti maka datang dan cari aku. Jangan pernah mengutus orang yang tidak tahu apa pun meski kau putranya. Aku tunggu jika dia mau tapi jika tidak, aku rasa besok siang kalian harus bersiap-siap mendapatkan kabar yang paling buruk!"
"Siapa sebenarnya kau, Elena?"
"Itu tidak penting, Richard. Jangan pedulikan siapa aku, aku hanya mengikuti tantangan yang ibumu berikan saja jadi katakan pada ibumu apa yang baru saja aku sampaikan. Dia meminta aku merangkak di bawah kakinya maka sekarang dia harus melakukannya jika dia mau aku berhenti tapi bukan di bawah kakiku tapi di bawah kaki Jansen!"
"Apa?" Richard justru tidak senang karena Elena menyebut nama Jansen.
"Aku tunggu jika memang ada niat tapi jika tidak, siapkan tisu yang banyak!" Elena melangkah pergi setelah berkata demikian.
Richard mengepalkan kedua tangan, apa semua yang dilakukan oleh Elena untuk Jansen? Entah kenapa dia jadi curiga, jangan katakan jika Jansen bersama dengan Elena saat ini karena jika memang demikian, dia tidak akan terima. Sepertinya dia harus mencari tahu di mana Jansen berada. Richard terpaksa pulang karena Elena sudah pergi. Ibunya yang menunggu dengan tidak sabar ingin tahu apakah putranya berhasil membujuk Elena atau tidak.
"Bagaimana, Richard? Apa kau berhasil membujuknya?" tanya ibunya dengan tidak sabar.
"Sorry, Mom. Dia ingin kau yang pergi menemuinya untuk meminta maaf padanya!" Richard kembali terlihat frustasi karena dia sedang memikirkan hubungan Elena dan Jansen.
"Apa? Kenapa kau tidak berhasil membujuknya?"
"Mom, kau yang telah membuatnya marah jadi dia ingin kau yang pergi meminta maaf dan kau harus merangkak di bawah kaki Jansen!"
"Apa kau bilang?" teriak ibunya murka.
"Aku sudah berusaha tapi itu yang dia inginkan. Jika kau tidak mau melakukannya maka besok siang kita akan kehilangan semuanya!"
"Sialan!" teriak ibunya murka.
Elena benar-benar keterlaluan karena pada akhirnya dia harus merangkak saat meminta maaf dan sialnya dia harus merangkak di bawah kaki Jansen. Dari pada mempermalukan diri, lebih baik dia melakukan cara lain yang tidak merugikan dan mempermalukan dirinya juga putranya.