My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tidak Boleh Kalah



Mendadak akhir pekan bukan hari yang menyenangkan bagi Richard karena tidak ada yang bisa dia lakukan selain berada di rumah saja. Setelah cukup lama tidak memiliki pacar, dia tidak pernah lagi menghabiskan waktunya di luar untuk bersenang-senang. Rasanya ingin mencari Elena tapi di mana dia harus mencari?


Richard tampak suntuk, begitu juga dengan ibunya yang sedang memikirkan cara untuk menyingkirkan Elena. Ambisinya mendadak menjadi semakin besar. Siapa pun Elena dia tidak peduli namun rasa penasaran akan wanita itu justru memenuhi hatinya. Seperti biasa, rumah itu terasa hampa karena semua memiliki kesibukan masing-masing.


Bob berada di dalam ruangannya, sibuk dengan pekerjaan karena memang hanya uang dan reputasi saja yang dia kejar selama ini. Dia bahkan tidak berusaha mencari tahu di mana Jansen tinggal dan apa yang sedang Jansen lakukan saat ini. Dia pun tidak memikirkan bagaimana cara Jansen mencari uang untuk biaya kuliah yang sebentar lagi harus dia bayar. Yang ingin dia dengar adalah keberhasilan Jansen dan dia tidak peduli dengan prosesnya.


Suara teriakan istrinya mulai terdengar di luar sana. Akhir-Akhir ini Anne jadi sering memarahi Richard gara-gara Richard ingin mendekati seorang wanita. Bob jadi sakit kepala, istrinya semakin cerewet saja. Ocehan Anne masih terdengar sehingga membuat Bob memijit pelipis. Sebaiknya dia melihat apa yang Anna ocehkan. Setelah Jansen tidak membuatnya sakit kepala lagi tapi kenapa sekarang jadi Richard?


"Sudah Mommy katakan jangan mendekati wanita itu, Richard!" ucap Anne. Bob menebak jika Anne pasti melarang putranya untuk mendekati Elena yang semakin membuat Richard penasaran.


"Mommy selalu saja melarang. Aku mau pergi!" ucap Richard.


"Mommy tahu kau mau pergi mencari wanita itu!" teriak Anne.


"Jika iya memangnya kenapa?" Richard pun mulai pusing dengan sikap ibunya yang jadi semakin cerewet dan menyebalkan.


"Richard, kau tidak boleh pergi!" teriak ibunya.


"Cukup, Anne!" teriak Bob yang baru keluar dari dalam ruangannya.


"Jangan menghalangi aku, Bob. Aku tidak mau Richard mengejar wanita yang tidak jelas itu!" ucap Anne.


"Dia ingin mengejar siapa, jangan menghalangi!" ucap Bob.


"Aku tidak sudi, Bob. Richard harus menikah dengan wanita yang sederajat. Apa kau tidak malu jika ada yang berkata menantumu hanya seorang dosen yang tidak jelas asal usulnya nanti?  Setelah Jansen, jangan sampai Richard mencoreng nama baikmu hanya gara-gara seorang wanita!" teriak Anne. Dia sudah berusaha keras untuk menyingkirkan Jansen dari rumah itu dan dia sudah berhasil oleh sebab itu dia tidak mau putranya mengacaukan semuanya dan mengecewakan sehingga semua harta benda yang Bob miliki justru jatuh di tangan Jansen sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa.


"Dengarkan perkataan ibumu, Richard. Kau adalah harapanku satu-satunya saat ini. Jansen sudah sangat mengecewakan aku jadi aku harap kau tidak mengecewakan aku seperti Jansen karena aku tidak ragu untuk mengusirmu seperti aku mengusir Jansen!"


Richard hanya bisa diam mendengar perkataan ayahnya. Hanya ingin mendekati wanita yang dia inginkan kenapa tidak boleh? Apakah ini yang dirasakan oleh Jansen sehingga dia memberontak dan menjadi liar di luar sana? Tidak, dia tidak boleh seperti Jansen. Tapi bukan berarti dia akan berhenti mengejar Elena. Dia akan mencari tahu siapa Elena, mungkin saja wanita itu bukan wanita sembarangan. Sebaiknya dia tidak meremehkan seperti ibunya.


"Kau dengar itu Richard?" tanya ibunya.


"Aku tahu, aku hanya keluar untuk mencari angin karena bosan."


"Jangan pulang terlalu malam!" ucap ibunya. Akhirnya Richard patuh juga. Memang dia harus disadarkan agar tidal seperti Jansen yang hanyalah seorang sampah.


Richard pergi, untuk mencari angin segar dan mencari seorang teman yang bisa membantunya mencari tahu siapa Elena. Rasa penasarannya semakin menjadi apalagi dia disemakin dilarang oleh ibunya. Semoga saja tebakannya benar sehingga ibunya tidak melarang lagi dirinya mendekati Elena. Dibandingkan wanita lain, dia lebih tertarik dan penasaran dengan Elena. Untuk saat ini dia akan menjadi anak yang patuh karena dia tidak mau dianggap seperti Jansen oleh ayahnya karena Jansen hanyalah sampah namun pemuda yang mereka anggap sampah saat ini, sedang berjuang untuk dirinya sendiri.


Panasnya teriak sinar matahari tidak menyurutkan semangatnya untuk bekerja. Itu pekerjaan sampingan yang berat tapi dia memang harus melakukannya untuk mengelabui musuh. Setiap hendak melakukan pekerjaan kasar itu, dia selalu ingat jika dia adalah seorang pecundang.


"Aku akan kerjakan!" meski sedang beristirahat tapi Jansen tetap melakukannya agar dia tidak dipukul lagi.


"Bukankah dia putra Bob Howard?" tanya seorang pekerja yang lain.


"Mana mungkin? Putra seorang pejabat menjadi kuli, apa kau sudah gila?" ucap yang lainnya.


"Mungkin saja dia dibuang oleh ayahnya!" teriak yang lain.


Suara tawa mereka terdengar, Jansen tidak mempedulikan tawa mereka karena dia memang sudah dibuang oleh ayahnya. Dia tahu ayahnya tidak peduli, dia mau mati atau hidup dia rasa ayahnya tidak akan peduli sama sekali. Bagi ayahnya yang ada di matanya hanya Richard dan ibunya. Bukannya iri, dia tidak iri sama sekali karena sejak lama dia memang sudah tidak ada lagi bagi ayahnya.


"Jansen, seseorang menitipkan sesuatu padamu!" seorang pekerja yang bersikap baik padanya memghampiri sambil membawa sesuatu untuknya.


"Siapa?" tanya Jansen heran karena tidak ada satu orang pun yang tahu dia bekerja di sana.


"Entahlah, sepertinya calon istrimu!"


Begitu mendengarnya, dia jadi bisa menebak siapa yang dimaksud oleh rekannya. Jansen mengambil barang yang diberikan, ternyata itu adalah makanan. Setelah mengucapkan kata terima kasih, Jansen mencari tempat sepi untuk makan. Sudah dia duga jika Elena, sepertinya Elena tahu jika dia bekerja di sana tapi bukankah itu bagus? Dengan begini Elena bisa melihat kesungguhannya.


Elena benar-benar tidak memandang rendah dirinya meski sudah tahu jika dia hanya bekerja sebagai kuli bangunan saja. Elena bahkan mengirimkan makan siang untuknya dan yang membuatnya berpikir dengan keras saat ini adalah, tantangan yang diberikan oleh Elena padanya. Apakah Elena serius dengan perkataannya kemarin? Dia tidak yakin tapi dia akan tetap berusaha memantaskan dirinya.


Jansen mengambil ponsel, untuk menghubungi Elena karena dia ingin berterima kasih pada Elena yang begitu baik. Tidak saja memberi tumpangan tapi dia pun makan gratis meski Elena berkata dia akan menagihnya suatu saat nanti tapi di jaman seperti itu, mencari orang baik tidaklah mudah.


"Aku sudah mendapatkan kiriman yang kau titipkan," ucap Jansen ketika Elena sudah menjawab panggilan darinya.


"Bagus, segera nikmati selagi hangat."


"Terima kasih, Elena. Aku berhutang banyak padamu. Aku berjanji tidak akan mengecewakan dirimu dan akan memantaskan diri untuk dirimu. Aku pasti akan membuktikannya padamu."


"Sudah aku katakan, jangan hanya dimulut saja. Asal kau tahu, menjadi calon suamiku sangatlah berat dan tidaklah mudah. Selesaikan kuliahmu terlebih dahulu lalu buat gebrakan yang bisa membuat aku kagum!"


"Itu sudah pasti terjadi, asal kau mau menunggu."


"Jika begitu bekerjalah dengan benar, Jansen!" ucap Elena yang saat itu sedang berdiri di sisi jalan untuk berbicara dengan Jansen.  Dia tidak tahu jika Richard yang melihatnya tanpa sengaja mencuri dengan apa yang dia bicarakan. Richard terlihat kesal karena Elena menyebut nama Jansen.


Apa Elena sedang bersama dengan Jansen saat ini? Tapi bagaimana mungkin? Rasanya tidak ingin percaya tapi dia yakin jika dia tidak salah mendengar jika Elena menyebut nama Jansen. Kurang ajar, dia kalah satu langkah dari pada Jansen.


Pecundang itu justru maju satu langkah. Tidak saja menjadi saingan di rumah tapi Jansen pun ingin bersaing akan wanita dengannya. Tidak boleh, dia tidak boleh kalah. Dia harus menjadi pemenang dan dia harus mendapatkan Elena karena dia yang menginginkan wanita itu untuk pertama kali. Jangan sampai Jansen menertawakan dirinya karena dia kalah.