
Jansen tidak pernah lagi bisa menghubungi Elena semenjak hari itu. Entah apa yang terjadi tapi dia tidak bisa lagi berbicara dengan Elena. Jansen sudah meminta bantuan Leo tapi Leo berkata jika dia tidak berada di Amerika. Untuk mengasah kemampuannya, Leo dikirim ke tempat lain dan sampai sekarang pun dia belum bertemu dengan Elena. Berbicara dengan Elena saja tidak, dia dituntut untuk benar-benar belajar jadi dia harus fokus.
Meski tak bisa berbicara dengan Elena, Jansen tidak pernah patah semangat. Kuliahnya diselesaikan dengan baik dan setelah itu, dia segera mengembangkan bisnisnya yang memang sedang berkembang. Kemampuannya dalam berbisnis tidak diragukan karena dia memang belajar di bidang itu. Bisnis yang dia bangun saat usianya 21 tahun. Uang yang dia gunakan sudah tentu uang yang diberikan oleh ibunya secara diam-diam ketika ibunya masih hidup.
Tidak ada satu orang pun yang tahu jika dia sedang berinvestasi. Sebelum ibunya meninggal, ibunya selalu berpesan padanya untuk menggunakan uang itu dengan benar. Ibunya juga berkata jika dia ingin melihat Jansen sukses tanpa bantuan ayahnya sebab itulah, Jansen menggunakan uang yang ibunya berikan. Tidak banyak, hanya dua ratus ribu dolar tapi dalam waktu empat tahun, dua ratus ribu dolar yang dia gunakan untuk berinvestasi sudah menjadi jutaan dolar apalagi setelah dia selesai kuliah, Jansen melebarkan sayapnya. Bisnis yang dia tekuni selama tujuh tahun benar-benar berkembang begitu cepat sehingga dia menjadi pembisnis yang sedang diperhitungkan banyak orang.
Meski dia sudah menjadi seorang pembisnis tapi dia merasa jika dia bukan siapa-siapa karena masih banyak pembisnis yang lebih baik dari pada dirinya. Jansen merasa jika dia harus lebih banyak belajar lagi. Saat ini, entah dia sudah layak untuk Elena atau belum, dia tidak tahu. Janjinya pada Elena untuk mencarinya setelah tiga tahun, tinggal sebentar lagi. Dia berusaha mencari keberadaan Elena agar saat waktunya tiba, dia bisa langsung bertemu dengan Elena.
Sudah tiga tahun berlalu semenjak Elena pergi, mereka semua sudah mendapatkan jalan masing-masing, Jansen membubarkan anggota gengnya tapi mereka tetap menghabiskan waktu bersama. Beberapa dari mereka sudah pergi ke negara lain, ada pula yang sibuk melanjutkan perusahaan keluarga dan beberapa kegiatan yang lainnya. Mariana pun sudah menikah, dia menikah dengan seorang polisi yang dapat menerima masa lalunya.
Sudah banyak yang berubah, Richard bekerja di perusahaan sahabatnya sedangkan ayahnya tidak melakukan apa pun bahkan ayahnya sudah mulai sakit-sakitan. Sampai sekarang, Richard masih mencari keberadaan ibunya yang tidak diketahui berada di mana. Tidak ada satu orang pun yang tahu jika ibunya sudah menjadi santapan binatang buas.
Jansen baru saja mendapatkan kabar jika keadaan ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Selama ini dia tidak pernah melihat keadaan ayahnya. Dia ingin lihat apakah Richard benar-benar merawat ayahnya atau tidak. Selama Richard mampu maka dia tidak akan peduli.
Kedatangan Jansen tentu mengejutkan ayahnya. Dia tidak menduga putranya akan datang menjenguk dirinya. Dia sudah mendengar akan kesuksesan yang diraih oleh Jansen apalagi foto putranya selalu berada di majalah bisnis. Dia benar-benar tidak menyangka, padahal dia mengira Jansen hanyalah pecundang yang tak berguna. Gaya Jansen masih seperti dulu, dia masih seperti ketua geng dan tidak terlihat jika dia seorang pembisnis. Meski dia mampu membeli mobil sport dengan harga miliaran tapi dia selalu memakai motor Elena. Ke mana pun dia akan menggunakan motor itu. Ke kantor, menemui rekan bisnis, orang-orang bahkan tidak menyangka jika dia adalah seorang bos.
"Bagaimana dengan keadaanmu?" Jansen bertanya pada ayahnya yang secara kebetulan sedang duduk di luar seorang diri.
"Kau sendiri, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya ayahnya pula.
"Aku baik-baik saja," Jansen duduk di kursi yang ada di sisi ayahnya. Meski rumah itu tidak besar tapi terlihat cukup nyaman.
"Aku dengar kau sakit, apa parah?" Jansen melirik ayahnya sejenak.
"Tidak begitu, Richard sudah membawa aku ke rumah sakit!"
"Bagus, tidak sia-sia kau membesarkan dan menyayangi dirinya karena sekarang dia peduli padamu!"
"Apa kau masih dendam dengan Daddy?"
"Tidak, untuk apa aku dendam denganmu? Kau yang memilih untuk membesarkan anak ja*ang itu dan tidak peduli padaku jadi aku tidak akan dendam karena aku bisa seperti ini dan semua karena usahaku sendiri. Setidaknya Richard bertanggung jawab dan tidak membuangmu!"
"Untuk itu, Daddy minta maaf padamu, Jansen. Daddy memang sudah salah tidak mempercayai dirimu. Daddy bahkan tidak peduli padamu dan lebih mempercayai Anne. Maafkan Daddy, Daddy telah gagal menjadi ayahmu!" ucap ayahnya.
"Ke mana dosenmu itu? Apa dia sudah tidak mengajar di kampus?"
"Sudah tidak. Gara-gara istri kesayanganmu itu, dia dibawa pulang oleh keluarganya sehingga aku tidak bisa bertemu dengannya sampai sekarang!"
"Untuk itu, Daddy juga minta maaf."
"Untuk apa kau meminta maaf? Apa kau begitu mencintainya sampai kau rela menggantikan dirinya untuk meminta maaf?"
"Bukan begitu, Jansen. Seandainya Daddy mempercayai dirimu maka semua tidak akan terjadi."
"Sudahlah, tidak perlu dibahas! Apa Richard masih bekerja?" tanya Jansen karena Richard tidak terlihat.
"Jika dia tidak bekerja, lalu kami akan makan dengan apa? Hanya dia harapan Daddy satu-satunya sekarang!"
Jansen tersenyum, sinis. Oh, ternyata ayahnya pun masih tidak mau mengandalkan dirinya dan hanya berharap pada Richard saja? Entah kenapa ayahnya berkata demikian, apakah ayahnya merasa tidak enak hati ataukah ada alasan yang lainnya? Tapi dia memang tidak pernah peduli dengan ayahnya, wajar jika ayahnya beranggapan demikian.
"Bagus jika dia bertanggung jawab. Seperti yang aku katakan tadi, tidak sia-sia Daddy membesarkan dirinya. Aku datang hanya untuk melihat keadaan Daddy saja. Aku tidak bisa lama karena ada yang hendak aku lakukan!" ucap Jansen seraya beranjak.
"Jensen, Daddy senang kau mau datang, Tolong maafkan perbuatan Daddy yang tidak pernah peduli denganmu selama ini," ucap ayahnya.
"Lupakan, aku bukan pendendam!"
"Lain kali datanglah lagi saat Richard ada di rumah. Meski kalian tidak memiliki hubungan darah, aku ingin kalian menjadi saudara," pinta ayahnya.
"Aku akan datang nanti!" Jansen melangkah pergi namun langkahnya terhenti sebentar. Jansen mengambil sesuatu dari kantong jas yang dia pakai lalu dia kembali mendekati ayahnya.
"Untukmu!" Jansen meletakkan segumpal kertas ke atas telapak tangan ayahnya, "Terserah kau mau gunakan atau mau kau robek, aku tidak peduli. Jangan lupa menjaga kesehatan!" setelah berkata demikian, Jansen kembali melangkah pergi.
Bob memandangi kepergian putranya dari teras. Jansen menghilang dari pandangan begitu cepatnya. Bob melihat gumpalan kertas yang ada di telapak tangan lalu membukanya. Dia kira Jansen menulis sebuah pesan tapi ternyata itu sebuah cek senilai satu juga dolar. Bob jatuh berlutut, air mata tak bisa dia bendung. Dia kira sikap cuek yang ditunjukkan oleh putranya karena dia benar-behar tidak peduli tapi ternyata Jansen masih memiliki hati nurani. Bukan karena jumlah uang itu yang membuatnya menangis tapi karena Jansen masih peduli dengannya.