My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Duel



Letusan senjata api kembali terdengar, senjata api yang ada di tangan Adam menjadi sasaran. Semua orang masih terkejut dengan kedatangan si pengendara yang datang secara tiba-tiba. Mereka cukup lengah begitu juga dengan Adam yang tak menyadari peluru yang ditembakkan mengenai tangannya.


Adam berteriak, senjata apinya jatuh ke tanah. Adam melangkah mundur sambil memegangi tangannya. Para anggota Blood's Rose segera berkumpul mengelilingi bos mereka. Leo pun segera diamankan oleh rekannya begitu juga dengan Jansen yang mendapatkan banyak luka akibat dikeroyok.


"Kurang ajar, siapa kau?!" teriak Adam tidak terima. Jika dilihat baik-baik, yang ada di atas motor seperti seorang perempuan. Dia tahu anggota Black Circle memiliki anggota seorang perempuan tapi dia tidak yakin jika yang ada di atas motor itu adalah anggota Black Circle karena mereka tidak sehebat itu.


Motor sudah berhenti, ternyata dari gerbang berlari masuk beberapa anak buah Jansen yang tadi pergi membawa kedua rekan mereka di rumah sakit dan di antara mereka ada Rai yang datang setelah diajak dan dibujuk untuk menyelamatkan Leo.


"Apa kalian baik- baik saja?" tanya Mereka. Rai yang sesungguhnya enggan akibat perkelahiannya dengan Leo melihat sekitar, dia cukup ketika melihat Leo masih dalam keadaan hidup.


"Kenapa kalian datang, apa kalian sudah membawa rekan kalian ke rumah sakit?" tanya Jansen.


"Tentu saja. Kami bertemu dengan kakak ipar sebab itu kami ikut dan mengajak Rai serta," saat mendengar itu, Leo melihat ke arah Rai yang berdiri tidak jauh darinya dan setelah itu dia melihat Elena yang melangkah mendekati mereka.


Kenapa wanita itu datang? Bukankah dia sudah berkata kejam dan menuduhnya sedemikian rupa? Rai yang berselisih dengannya pun datang padahal Rai bisa mengabaikan dirinya begitu juga dengan Elen.


Elena menatap anggota Blood's Rose dengan tajam, ternyata hanya berandalan yang sok memiliki kekuatan tapi sepertinya memang tidak bisa diremehkan karena Jansen dan anak buanya sudah babak belur namun jumlah yang tak seimbang tentu saja menjadi pemicu besar kekalahan mereka.


"Kenapa kau datang, bukankah sudah aku katakan aku bisa menghadapi mereka?" ucap Jansen saat Elena sudah berdiri di sampingnya.


"Tidak perlu sombong, lihatlah dirimu!" Elena mengusap wajah Jansen yang dipenuhi oleh darahnya sendiri akibat luka yang dia dapatkan, "Aku tidak bisa menunggu di rumah dan membiarkan kalian mati!" ucapnya lagi.


"Tapi mereka berbahaya, Elena!"


"Kita lihat, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah nanti!" ucap Elena seraya melangkah maju.


"Well... Well, ternyata kau dibantu oleh wanita," cibir Adam.


"Apa ada masalah dengan itu?" tanya Elena.


"Sebaiknya kau bergabung dengan kami, jangan bersama dengan pecundang itu!" teriak Adam.


"Bagaimana jika aku tidak mau. Apa kau akan memaksa aku?"


"Jangan salah memilih, Nona. Mereka hanya pecundang yang telah di kalahkan oleh wanita!"


"Wah, aku baru mendengarnya dan aku rasa sebentar lagi kau akan dikalahkan oleh wanita juga!" ucap Elena.


Adam menatap Elena tajam lalu gelak tawanya terdengar karena dia merasa ucapan Elena seperti lelucon saja. Para anggotanya pun tertawa dengan keras, mereka semua menganggap Elena sedang bercanda.


"Apa kau ingin melawan aku?" tanya Adam dengan nada mencibir.


"Lawanmu adalah aku!" teriak Jansen.


"Diam! Pecundang yang sudah pernah kalah oleh wanita tidak akan bisa melawan aku!" teriak Adam dan setelah ucapannya itu, anak buahnya tertawa terbahak-bahak.


"Sudah aku katakan bos, jika aku jadi dia maka aku akan memakai rok dengan high heel!" teriak anak buahnya di sela tawanya.


"Kurang ajar kalian!" Jansen sangat marah, kekalahannya saat melawan Elena memang tidak bisa dia pungkiri.


"Jadi kalian akan memakai rok jika dikalahkan oleh wanita?" tanya Elena.


"Kenapa? Apa kau mau menantang aku?" cibir Adam.


Elena melihat ke arah Leo, semoga saja pemuda itu tidak salah paham lagi padanya. Helm dilepaskan dan ketika melihatnya, Adam bersiul di susul dengan anak buahnya. Wanita yang memiliki wajah manis itu ingin mengalahkannya, sepertinya dia bercanda.


"Aku akan menantangmu!" ucap Elena tanpa ragu.


"Apa?" Adam menatap Elena dengan tajam namun setelah itu, gelak tawanya terdengar di susul dengan tawa anak buahnya. Wanita itu memang memukul dan menembak tangannya tadi tapi dia tidak yakin wanita itu memiliki kemampuan untuk melawannya.


"Menarik, bagaimana jika membuat taruhan!" ucap Elena.


"Taruhan? Apa yang kau inginkan, Nona? Apa kau mau menjadi pacarku jika kau kalah?"


"Baiklah, jika aku kalah maka aku akan menjadi pacarmu!" saat Elena mengatakan hal itu, Jansen sangat terkejut.


"Elena, apa yang kau katakan!" teriak Jansen karena dia tidak senang dengan taruhan yang Elena lakukan dengan ketua Blood's Rose yang jahat itu.


"Serahkan mereka padaku, Jansen. Kau sudah dipenuhi dengan luka, sebaiknya kau beristirahat!"


"Tapi aku tidak mau kau terlihat dan terluka," Jansen meraih tangan Elena, dia harap Elena tidak melakukannya.


"Percayalah padaku," Elena tersenyum, darah yang ada di wajah Jansen kembali di usap. Jansen sudah mendapatkan banyak luka, dia tidak akan tinggal diam untuk hal itu.


"Wah.. Wah, sangat menarik. Aku harap kau tidak menyesal dengan keputusanmu!" ucap Adam. Mengalahkan seorang wanita? Itu perkara yang sangat mudah.


"Bagus, tapi ingat satu hal. Saat kau kalah dariku, kau dan seluruh anggotamu harus merangkak ke kantor polisi menggunakan rok!" Elena mengambil tongkatnya yang terlempar tadi, dia akan memukul pria itu sampai babak belur dan membuat pria itu menghenti mencibir Jansen yang hanya kalah satu kali darinya.


"Sebaiknya kau berhati-hati, Nona. kau pasti menjadi milikku!" Adam pun mengambil sebuah tongkat, dia pasti bisa mengalahkan wanita itu.


"Elena, jangan!" Jansen masih berusaha mencegah. Jika dia tidak dikeroyok, dia pasti sudah memukul Adam sampai mati.


"Aku tidak meremehkanmu, Jansen. Aku percaya kau bisa mengalahkan mereka tapi mereka bermain curang. Kau bereskan yang lain, jangan sampai mereka bisa membantu baj*angan itu dan mengeroyok aku. Segera selesaikan karena Leo butuh pertolongan!"


"Tapi taruhanmu?"


"Tidak perlu khawatir, tantangan untukmu masih berlaku!"


"Apa?" Jansen tampak tidak mengerti tapi Elena sudah melangkah maju untuk menghadapi Adam.


Adam terlihat bersemangat. Tatapan matanya tak lepas dari Elena yang sudah berdiri di hadapannya. Jika dia bisa memukul wanita itu, maka dia benar-benar mendapatkan keuntungan besar. Elena tersenyum dengan manis, dia tidak terlihat takut sama sekali untuk menghadapi Adam yang bertubuh besar dan menakutkan.


"Kau pasti akan menjadi? Arrgghhh!" Adam berteriak keras karena tiba-tiba saja Elena memukul wajahnya dengan tongkat dan merontokkan dua gigi depannya.


"Beraninya kau?!" Adam kembali berteriak dan memegangi mulutnya yang mengeluarkan darah namun Elena bukan orang yang suka berbasa-basi sehingga satu pukulan lagi dia berikan. Adam kembali berteriak, lagi-lagi giginya terlepas. Melihat itu, anak buahnya tidak terima. Mereka hendak menyerang Elena tapi Jansen dan anak buahnya kembali menyerang mereka.


Perkelahian sengit kembali terjadi, Leo menonton dalam keadaan lelah akibat banyaknya darah yang mengalir dari lukanya. Dia pun tidak bergerak agar darah tidak semakin mengalir. Bentrokan dua kubu tak terelakan lagi, sekarang tidak ada lagi jeda untuk mereka.


Elena tak memberikan kesempatan pada Adam untuk melawan balik. Dia terus menyerang pria itu tanpa memberikan kesempatan padanya untuk melawan. Dia selalu diajarkan untuk melawan musuh tanpa perlu banyak bicara dan tak boleh memberikan kesempatan pada musuh karena kesempatan yang dia berikan bisa merugikan dirinya sendiri.


Adam tak berdaya, dia terus mendapatkan pukulan dari Elena. Tenaga yang Elena miliki cukup kuat meski lengannya sangat kurus. Tidak ada kesempatan bagi Adam untuk memberikan serangan berarti meski dia dapat memukulkan tongkatnya namun dapat Elena tangkis tapi beberapa pukulan juga Elena dapatkan namun Adam lebih banyak mendapatkan pukulan darinya. Darah bahkan sudah mengalir dari kepala Adam akibat pukulan yang Elena berikan.


"Kurang ajar, kurang ajar kau!" teriaknya.


"Saat menghadapi musuh dilarang banyak bicara!" teriak Elena seraya berlari ke arah Adam. Elena melompat lalu mengayunkan tongkatnya dan pukulan keras mendarat di kepala Adam.


"Arrgghhh!!" Adam kembali berteriak keras, satu pukulan itu tidak cukup karena Elena kembali memukul kepala Adam sehingga pria itu jatuh ke atas aspal dengan bagian atas kepala pecah sehingga darah mengalir dengan deras.


"Kurang ajar kau!" teriak Adam namun Elena sudah meletakkan satu kakinya ke atas bahu Adam agar pria itu tidak bisa bangkit.


"Nikmati waktumu di penjara!" ucap Elena yang kembali mengayunkan tongkatnya ke kepala Adam dan akibat pukulan itu, Adam pingsan tak sadarkan diri.


Anggota Blood's Rose terkejut melihat pemimpin mereka yang tak pernah kalah selama ini justru dikalahkan oleh seorang wanita. Salah satu dari mereka tidak terima. Sebilah pisau diambil lalu anggota Blood's Rose itu berlari ke arah Elena untuk menusuknya.


"Awas, Elena!" Jansen berteriak lalu mengayunkan tongkatnya ke arah anak buah Blood's Rose. Satu pukulan keras cukup untuk membuat anak buah Blood's Rose terpental tapi itu belum cukup karena Jensen menendangnya hingga membuat pemuda berandalan itu terpental lalu menghantam tembok lalu pingsan.


Para anak buah Blood's Rose ketakutan, mereeka hendak melarikan diri namun  anggota Black Circle tidak membiarkan mereka lari dan menangkap mereka semua.