My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tidak Bercanda



Jansen pergi menjenguk Leo terlebih dahulu sebelum dia pergi bekerja karena masih ada waktu. Dia ingin melihat keadaan Leo yang mengalami luka tusuk dan luka akibat peluru yang di tembakan oleh Adam. Leo dibawa dalam keadaan kehabisan darah oleh sebab itu, keadaannya cukup memprihatinkan.


Tidak saja Jansen, beberapa anggotanya sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk Leo. Jansen cukup terkejut saat melihat anak buahnya berkumpul untuk melihat keadaan Leo yang sudah terlihat cukup baik. Meski Leo dan Rai sempat berselisih tapi hubungan mereka sudah kembali seperti semula.


"Kami kira kau tidak akan datang, bos," ucap salah satu anak buahnya.


"Aku hanya sebentar saja karena setelah ini aku harus pergi!"


"Mana kakak ipar? Kenapa dia tidak datang bersama denganmu, Bos?"


"Kami tidak boleh terlihat bersama, mungkin dia akan datang sebentar lagi!"


"Apakah yang dikatakan oleh kakak ipar saat itu benar?" tanya Leo. Dia pingsan gara-gara para sahabatnya sehingga dia tidak lagi mendengar lebih lanjut akan perkataan Elena.


"Entahlah, aku rasa yang dia katakan benar karena dia tidak mungkin bercanda untuk hal ini!"


"Keluargaku?" tanya Leo lagi. Dia jadi ingin tahu apa yang sudah bosnya lakukan pada keluarganya dan dia harap mereka mendapatkan hukuman yang setimpal meski disayangkan mereka tidak jatuh ke tangan Blood's Rose.


"Tidak perlu kau pikirkan, mereka kami tinggalkan dalam keadaan seperti itu. Jika mereka berani mengganggumu lagi, jangan ragu untuk melawan mereka!" ucap Jansen.


"Terima kasih, Bos. Kau menyelamatkan aku untuk kedua kalinya padahal aku mengkhianatimu!"


"Lupakan, kalian semua adalah sahabatku jadi aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian. Aku sudah membuang waktuku begitu banyak hanya untuk sesuatu yang sia-sia, kita pun memiliki masalah yang sama karena kita sama-sama dari keluarga yang bermasalah. Sekarang aku sangat sadar aku telah membuang waktu lima tahunku untuk mencari perhatian ayahku yang sama sekali tidak peduli. Seperti aku, kalian juga sama oleh sebab itu, mulai sekarang sebaiknya kita berubah. Perbaiki hidupa kalian karena aku sedang melakukannya. Seseorang mengatakan padaku, aku berubah bukan untuk orang lain tapi untuk diri kita sendiri!" kali ini dia ingin semua anak buahnya berubah untuk diri mereka sendiri dan tidak membuang waktu mereka lagi.


Elena yang sedari tadi sudah datang sengaja tidak masuk ke dalam karena dia tidak ingin mengganggu percakapan mereka. Elena bersandar di dinding, senyuman menghiasi wajah. Akhirnya mereka mulai sadar betapa berharganya waktu yang mereka miliki. Dia yakin satu persatu dari mereka akan berubah setelah mendengar perkataan Jansen. Itu sangatlah bagus dan sebagai seorang pemimpin, Jansen memang harus mengubah anak buahna. Dia harap setelah ini para pemuda itu mendapatkan tujuan hidup mereka masing-masing.


Elena tidak masuk ke dalam, dia melangkah menjauh sambil mengambil ponsel karena dia ingin menghubungi ayahnya untuk meminta ijin mengangkat seorang adik laki-laki yang mendadak dia temukan. Leo memiliki kemampuan dan kemampuannya itu bisa berkembang jika diasah dengan benar dan Leo bisa mengajari si kembar nantinya.


"Elena, apa kau sudah mau pulang?" tanya ayahnya yang sudah sangat merindukan putrinya.


"Tidak, aku belum pergi lama jadi aku tidak cepat kembali!"


"Ayolah, Daddy sudah merindukan dirimu!"


"Dad, aku belum pergi lama. Aku menghubungi Daddy karena ada hal penting yang hendak aku sampaikan pada Daddy."


"Katakan, apa kau membutuhkan uang?" tanya ayahnya.


"Aku ingin mengangkat seorang adik laki-laki, Dad."


"Apa kau bilang?" ayahnya terkejut mendengar apa yang Elena inginkan.


"Dia korban bullying yang dilakukan oleh keluarga sendiri dan pemuda itu memiliki kemampuan yang bagus. Aku iba dengannya yang dicampakkan oleh keluarganya sendiri oleh sebab itu aku mengangkatnya sebagai adik dan aku harap, Daddy dan Mommy tidak keberatan."


"Siapa Elena, apa kau tidak salah mengambil tindakan?"


"Tentu tidak, Dad. Aku yakin tidak mengambil keputusan yang salah!" ucap Elena dengan yakin. Edward menghela napas, mungkin saja putrinya iba dengan pemuda itu dan sebagai anak yang juga diadopsi, dia tidak boleh mencegah.


"Jika memang itu yang kau inginkan, maka Daddy tidak akan keberatan. Daddy akan membicarakan hal ini pada Mommy dan kakakmu tapi Daddy harap kau tidak salah mengambil keputusan!"


"Tentu saja tidak, aku tahu apa yang aku lakukan dan aku tidak akan merugikan Daddy!"


"Thanks, Dad. I love you!" ucap Elena. Dia tahu ayahnya tidak akan melarang dan dia pun tahu dia tidak mungkin salah mengambil keputusan. Setelah berbicara dengan ayahnya, Elena kembali melangkah menuju ruangan di mana Leo dirawat. Jansen masih berbicara dengan anak buahnya di dalam sana namun kali ini Elena masuk tanpa ragu sehingga percakapan mereka terhenti.


"Apa aku mengganggu?" tanya Elena basa basi.


"Kakak ipar!" para pemuda itu hendak menggoda Jansen oleh sebab itu mereka berlari ke arah Elena untuk memeluk Elena namun Jansen pun berlari dengan cepat sehingga dia bisa menarik Elena dari keisengan anak buahnya.


"Sudah aku katakan jangan menyentuhnya!" ucap Jansen yang sudah menarik Elena menjauhi anak buahnya.


"Ayolah, Bos. Jika bos cemburu maka kami akan memeluknya bersama dengan bos!"


"Enak saja, jangan menyentuh wanitaku!"


"Sejak kapan kakak ipar menjadi wanitamu, Bos?" goda para anak buahnya.


"Jangan berisik!"


"Bagaimana dengan keadaanmu, Leo?" tanya Elena.


"Aku sudah baik-baik saja, maafkan tuduhanku waktu itu kakak ipar," Leo menunduk karena dia merasa bersalah.


"Tuduhan yang mana? Aku tidak mengingatnya," ucap Elena pura-pura tidak tahu.


"Aku benar-benar minta maaf, tolong maafkan aku. Aku telah salah paham tentang kakak ipar dan berkata begitu kejam tapi kakak ipar masih mau membantu aku, aku sungguh minta maaf!"


"Lupakan, Leo. Aku tidak akan mempermasalahkan hal yang tidak penting. Aku sudah menolongmu jadi mulai sekarang, hiduplah dengan benar!"


"Mengenai perkataanmu waktu itu?" Leo kembali menunduk, dia terlihat ragu.


"Aku tidak bercanda. Kau akan menjadi adikku jika kau mau. Kedua orangtuaku pun tidak keberatan tapi satu hal yang harus kau ingat, kau tidak boleh mengecewakan aku setelah menjadi adikku karena anggota keluargaku tidak boleh ada yang gagal dan kami tidak suka pengkhianat!" ucap Elena.


"Tapi aku?"


"Tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya. Kau akan mendapatkan pendidikan di tempat yang benar di mana kemampuanmu dapat dikembangkan dan soal tempat tinggal, aku pasti usahakan!"


"Terima kasih, terima kasih!" ucap Leo dengan mata berkaca-kaca.


"Wah, si kaca mata menangis!" para sahabatnya mulai menggoda dan mengerumuninya.


"Aku tidak menangis!" sangkal Leo.


"Leo menangis, cepat foto dia!" teriak salah satu dari mereka.


"Jangan lakukan!" Leo tak berdaya saat para sahabatnya justru mengambil fotonya. Elena melangkah sedikit menjauh, dia akan meminta bantuan pamannya untuk membantu Leo. Pemuda seperti Leo benar-benar tidak boleh diremehkan sama sekali.


"Terima kasih, Elena. Mereka jadi berubah berkat dirimu."


"Bagaimana denganmu, Jansen?"


"Aku sudah pasti," Jansen meraih tanngan Elena menggenggamnya. Mereka saling pandang sesaat, senyuman menghiasi wajah mereka karena anak buah Jansen menggoda Leo tanpa henti. Kebersamaan mereka yang seperti itu sangatlah berarti.