My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tidak Peduli



Isu tak sedap akan Elena dan Jansen mulai reda meski masih ada yang berbicara tentang mereka di belakang namun tidak lagi secara terang-terangan karena jika ada yang ketahuan membicarakan hal itu lagi maka orang itu akan mendapatkan hukuman. Sang rektor yang melihat apa yang terjadi tentu saja jadi takut dan segan dengan Elena. Dari pada kariernya terancam, lebih baik dia patuh dari pada dia kehilangan pekerjaan.


Elena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan sedangkan Jasen pulang terlebih dahulu. Elena sudah banyak membantunya dan membantu teman-temannya, sepertinya dia harus mengajak yang lain untuk memberikan sebuah kejutan untuk Elena sebagai ungkapan terima kasih. Tidak perlu yang mewah, dia tahu Elena akan menghargai apa pun yang mereka berikan nanti.


Sambil memikirkan hal itu, Jansen melangkah menuju parkiran motor karena dia masih memakai motor milik Elena. Hari ini dia sangat senang karena dia bisa melihat ayah dan istrinya yang sombong itu mendapatkan lawan. Tak menduga seorang gadis muda bisa mengalahkan mereka. Elena bahkan lebih muda dua atau tidak tahun darinya. Bagus, dia sudah sangat tidak sabar melihat ayahnya kalang kabut begitu juga dengan si rubah itu. Da ingin melihat, apa yang akan ayahnya lakukan dan keinginannya itu tidak perlu menunggu lama karena ayahnya sudah menunggunya. Bob memutuskan untuk menemui putranya tanpa membuang waktu karena hanya putranya saja yang bisa menghentikan semua yang sedang terjadi.


Jansen berjalan santai sambil memutar kunci motor di tangan. Dia bahkan sambil bersiul namun kesenangannya terganggu saat asisten ayahnya berlari menghampiri dan memanggil dirinya. Jansen terkejut tapi dia menebak jika ayahnya ada di sana.


"Tuan Muda, Tuan sedang menunggu anda di mobil," ucap asisten ayahnya.


"Apa? Untuk apa?" Jansen acuh yak acuh, ternyata lebih cepat dari dugaan.


"Ada hal penting yang hendak dia bahas, tolong ikut denganku."


"Jika dia ingin bertemu denganku maka katakan padanya dia harus datang sendiri menemui aku!"


"Tolong jangan mempersulit keadaan Tuan Muda, tidak baik ada jika ada yang melihat."


"Cih, orangtua yang congkak!" mau tidak mau Jansen mengikuti asisten ayahnya menuju sebuah mobil yang sudah menunggu. Pintu mobil dibuka, Jansen dipersilahkan masuk oleh asisten ayahnya karena Bob sudah menunggu di dalam mobil.


"Aku tidak bisa lama!" ucap Jansen setelah duduk di samping ayahnya. Dia tidak memandangi ayahnya, Jansen tampak acuh tak acuh.


"Apa untuk berbicara dengan ayahmu saja kau tidak memiliki waktu?" tanya ayahnya.


Jansen menghela napas, entah kenapa dia tidak suka dengan situasi di antara mereka. Mungkin karena hubungan mereka yang tidak pernah akrab dan tidak pernah akur sehingga membuat mereka berdua tampak canggung seperti itu.


"Tidak perlu basa basi, aku sibuk jadi katakan saja apa yang hendak kau bicarakan!" ucap Jansen.


"Tidak perlu sok sibuk, kau hanya menghabiskan waktu dengan para berandalan itu saja jadi tidak perlu berpura-pura seolah-olah kau sedang melakukan bisnis besar saja!"


"Dad, kau tidak pernah memberi aku uang lagi bahkan aku harus mencari makan sendiri. Uang kuliah pun harus aku bayar sendiri, apa menurutmu aku mendapatkan uang secara tiba-tiba untuk semua itu? Jadi segera katakan, aku tidak punya banyak waktu!"


Ayahnya melirikĀ  sejenak namun dia diam dan tidak bertanya lagi. Apa putranya sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Rasanya tidak mungkin tapi entah kenapa dia jadi penasaran.


"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan maka aku pergi!" ucap Jansen.


"Bagaimana dengan kehidupanmu?" tanya ayahnya.


"Baik-Baik saja, aku justru merasa hidup saat berada di luar karena di rumah ada setan yang kau pelihara!"


"Kenapa kau begitu membenci mereka? Mereka tidak mengganggumu tapi kenapa kau begitu membenci mereka?"


"Jangan memulai karena kau tahu alasannya dan jangan membuat aku mengulangi perkataanku!"


"Jika begitu pergi ke makam Mommy dan gali lalu tanyakan pada tulang-tulangnya apakah dia bunuh diri atau tidak!" Jansen pun mulai terpancing.


"Jangan keterlaluan, Jansen. Ibumu sudah mati lama!" teriak ayahnya.


"Cukup, aku yang akan mencari tahu nanti!"


"Dengan cara apa? Kekuatan saja kau tidak punya lalu dengan cara apa kau ingin membuktikannya!"


"Tidak perlu memikirkan hal itu. Lebih baik Daddy memikirkan masalah Daddy saja dan nikmatilah dengan perlahan!"


"Kurang ajar, kau benar-benar ingin aku hancur rupanya!" teriak ayahnya marah.


"Terus terang, Dad. Aku lebih suka kau miskin tapi kau peduli padaku dari pada kau memiliki banyak uang tapi kau bodoh dan mudah dimanfaatkan!"


"Jaga mulut kurang ajarmu, Jansen!" ayahnya kembali berteriak.


"Yang aku katakan memang nyata. Kau pandai berbinis, kau pun pandai berpolitik tapi kau mudah ditipu oleh seorang wanita. Kenapa, Dad? Apa yang dia berikan padamu sehingga kau bertekuk lutut padanya? Apa dia memberikan pelayanan yang extreme karena dia mantan ja*ang sehingga kau jadi Bodoh?"


"Kau benar-benar kurang ajar!" Bob hendak memukul namun Jansen berteriak dan menghentikan niat ayahnya.


"Seharusnya kau memikirkan perkataanku ini salah atau tidak. Semenjak kau membawa mereka pulang, Mommy jadi sering sakit lalu meninggal tidak lama. Kau menelan mentah-mentah perkataan rubah itu yang mengatakan Mommy bunuh diri tanpa melakukan penyelidikan. Kau pun mulai menjauh dariku dan lebih menyayangi putranya. Sejak hari itu kau sudah berubah. Kau membela mereka sedemikian rupa dan lihatlah, sebentar lagi kau akan hancur karena kesombongan istri yang kau banggakan itu!"


"Mengenai itu, kau harus berbicara dengan Elena Jackson dan mintalah padanya untuk menghentikan semua ini!" ucap ayahnya tanpa ragu.


"Apa Daddy bilang? Kenapa harus aku yang berbicara pada Elena? Jika kau mau semua kembali seperti semula, pergilah menemui dirinya dan berlutut di bawah kakinya. Tidak perlu khawatir, dia gadis yang baik dan aku rasa dia akan memaafkan kalian jika kalian merangkak di bawah kakinya sambil memohon!"


"Kau benar-benar kurang ajar. Kau tidak peduli sama sekali dengan apa yang sedang terjadi padaku!"


"Aku memang tidak peduli karena kau tidak pernah peduli padaku. Saat aku berada di dalam penjara, kau tidak datang untuk melihat keadaanku. Kau tidak membela aku bahkan kau tidak tahu apa yang aku alami di dalam penjara. Aku mati atau hidup, kau tidak peduli. Kau mengusir aku dengan kejam lalu membakar motorku seolah benda itu ada salahnya. Kau memperlihatkan wajah sok kecewamu saat mengusir aku padahal kau tidak tahu apa yang terjadi jadi jangan harap aku akan peduli dengan apa yang sedang terjadi. Lagi pula sudah aku katakan, aku lebih suka kau jatuh bangkrut. Tidak perlu meminta bantuanku karena aku tidak akan membantu. Lebih baik kau introspeksi diri apalagi kau sudah tua!" setelah mengucapkan perkataan itu, Jansen keluar dari mobil dan berjalan pergi.


Bob diam saja, dia tidak bisa membantah perkataan putranya karena dia memang tidak peduli saat Jansen berada di dalam penjara bahkan dia yang meminta para polisi untuk menangkap putranya. Jika Jansen tahu hal itu, dia pasti akan semakin marah dan kecewa.


"Sir?" sang asisten memanggil karena Jansen sudah melesat pergi menggunakan motornya.


"Ikuti dia, aku ingin tahu apa yang sedang dia lakukan!"


Sang asisten mengikuti perintah, mereka mengikuti Jansen yang pergi bekerja sebagai kuli bangunan. Bob sungguh terkejut, dia bahkan keluar dari mobil untuk melihat apa yang sedang putranya lakukan. Meski dari jauh tapi dia dapat melihatnya. Apa ini yang selalu putranya lakukan? Bukankah dia selalu bersama teman-teman berandalannya itu? Dia bahkan mengira Jansen merampas hal milik orang lain untuk mendapatkan uang tapi sepertinya dia salah. Bob kembali ke mobil, dia diam seribu bahasa. Sepertinya dia sudah salah paham pada putranya sendiri.


"Sir, kita mau pergi ke mana?" sang asisten bertanya karena Bob tidak memberinya perintah.


"Ke makam, aku ingin pergi mengunjungi almarhum istriku," ucapnya. Ini kali pertama dia pergi ke makam setelah istrinya meninggal. Apakah yang Jansen katakan mengenai kematian ibunya adalah benar? Dia jadi memikirkan banyak hal terutama apa yang telah dia lakukan pada putranya sendiri selama ini dan memikirkan kematian istri pertamanya.