My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Ayo Kita Hadapi Bersama



Anne sangat terkejut ketika mendapatkan laporan itu dari sang rektor mengenai apa yang dilakukan oleh Jansen dan Elena. Karena banyaknya uang sogokan yang dia berikan pada rektor baru yang dia pilih sendiri oleh sebab itu, berita mengenai Jansen dan Elena sampai kepadanya terlebih dahulu sebelum sampai pada Bob Howard. Itulah tujuannya menjadikan orang kepercayaannya sebagai rektor di kampus agar dia bisa segera tahu apa yang dilakukan oleh Elena dan Jansen.


Sungguh, sekali tepuk dua lalat mati. Dia tidak menduga jika apa yang dia tunggu akhirnya datang meski itu bukan campur tangannya tapi itulah yang dia inginkan. Dia ingin Jansen ditendang dari kampus akibat tidak bisa memenuhi syarat yang ayahnya berikan dan dia pun ingin Elena keluar dari kampus itu agar Richard tidak mencarinya lagi. Dia masih mengkhawatirkan hal ini karena pertemuan waktu itu gagal sehingga Richard gagal mendapatkan lima puluh persen saham yang dijanjikan oleh Bob. Karena gagal, kemungkinan Ricahrd masih akan mengejar Elena sangatlah besar. Sangat disayangkan putri pejabat yang mereka temu hari itu menolak. Sebenarnya apa kekurangan yang ada pada Richard? Dia sungguh tidak bisa terima tapi Richard justru senang luar biasa dan dia tahu itu.


Rekaman perkelahian yang melibatkan Elena dan Jansen pun dia dapatkan. Anne sempat terkejut namun dia melihatnya dengan ekspresi senang, ini adalah kesempatan besar yang dia tunggu apalagi dia tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak untuk membayar orang untuk melalukan hal itu.


Sebelum pergi ke kampus, Anne menunggu Bob pulang. Dia akan menunjukkan rekaman itu pada Bob lalu menghasutnya. Dia yakin kali ini Bob tidak akan bisa menghindar lagi dan akan menendang Jansen seperti yang dia katakan jika dia akan mengeluarkan Jansen jika putranya berkelahi. Perkataan itu, harus Bob tepati. Bob tampak kesal padahal dia sedang sibuk tapi dia dipaksa pulang.


"Apa kau tidak bisa menunggu nanti? Aku sedang sibuk!" ucap Bob yang sudah kembali.


"Abaikan pekerjaanmu terlebih dahulu. Kau harus melihat apa yang dilakukan oleh anak semata wayangmu itu!" ucap Anna yang menghampirinya dengan terburu-buru.


"Apa lagi yang dia lakukan?" begitu tahu Jansen lagi-lagi membuat masalah, rasanya darah di kepalanya jadi mendidih.


"kau bisa melihatnya!" Anne memberikan rekaman perkelahian yang melibatkan Jansen dan Elena pada Bob. Pria tua itu terkejut melihat apa yang putranya lakukan dengan dosen baru itu.


"Apa yang sedang dia lakukan!" teriaknya marah.


"Kau lihat, dia semakin berulah di luar sana. Dia benar-benar ingin menghancurkan reputasimu dan dosen itu? Apa kau tahu kabar apa yang berhembus tentangnya?"


"Apa?" Bob sudah tampak marah bahkan ponsel istrinya sudah dicengkeram dengan erat.


"Elena Jackson, dia preman berkedok dosen karena dia adalah ketua preman dan dialah pemimpin sesungguhnya dari geng motor di mana Jansen berada dan dia pula yang telah mengajari Jansen sehingga dia menjadi berandalan di jalanan. Kabarnya dia pula yang mengajari Jansen untuk melawanmu!" ucap Anne dengan sedikit bumbu. Kabar yang sudah berhembus dari mulut ke mulut tentu saja sudah tercampur banyak bumbu dari mulut yang satu ke mulut yang lainnya dan dia melakukannya agar Bob semakin membenci Jansen dan Elena.


"Apa kau bilang?" Bob semakin marah mendengar perkataan istrinya.


"Ini kabar yang sedang berhembus kencang di kampus. Elena adalah preman yang sedang menyamar menjadi dosen jadi sebaiknya kau segera mengambil tindakan agar citra kampus tidak semakin rusak. Sebelum berita ini menyebar luas, sebaiknya kau segera menendang mereka agar kau tidak semakin malu nantinya!"


"Kurang ajar! Aku justru meminta bantuannya waktu itu tanpa tahu jika dialah yang telah merusak masa depan Jansen. Sebenarnya apa yang dia inginkan sampai menyamar menjadi dosen? Aku sungguh lengah sampai tidak tahu jika ada yang menyusup!" tapi yang paling tidak dia ketahui adalah pergaulan putranya selama ini. Dengan siapa Jansen berteman, apa yang dia lakukan dengan teman-temannya dan yang paling tidak dia ketahui adalah, apa yang Jansen lakukan setelah keluar dari rumah dan rekaman video itu menunjukkan jika Jansen benar-benar dipengaruhi oleh berandal berkedok dosen itu.


"Kau harus mengambil tindakan secepatnya, Bob. Jangan beri mereka banyak waktu karena isu yang menyebar akan semakin kencang dan semakin hari akan semakin memperburuk keadaan. Jika kau tidak bertindak hari ini juga, maka besok saham yang kau miliki akan turun drastis akibat kabar buruk yang akan mempengaruhi banyak hal jadi kau harus mengambil tindakan hari ini juga!"


"Aku tahu, aku akan pergi ke kampus sekarang juga untuk membereskan semua kekacauan ini!"


"Aku ikut, tunggu aku sebentar!" Anne bergegas, dia tidak boleh melewatkan tontonan menarik di mana Jansen akan ditendang keluar dari kampus begitu juga dengan Elena. Dia pun harus berada di sana karena dia harus menghasut Bob. Kali ini tidak akan dia biarkan Bob bermurah hati lagi pada Jansen bahkan jika bisa dia ingin Bob mencoret Jansen dari kartu keluarga sehingga semua yang dia miliki menjadi milik Richard.


Anne sudah siap, mereka pun bergegas pergi untuk meredakan isu juga memberikan pelajaran pada Jansen juga Elena dan akibat paling buruk yang akan didapatkan oleh mereka berdua adalah, Elena dan Jansen akan diberhentikan secara tidak terhormat.


Baiklah, sepertinya dia harus menginterogasi seseorang agar dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sikap para mahasiswa pada Jansen biasa saja karena semua tahu pemuda itu adalah berandalan namun semua terkejut dengan aksi Elena apalagi bumbu yang telah diberikan dari mulut ke mulut.


"Sebelum kalian pergi, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kalian seperti takut padaku?" tanya Elena.


Semua saling pandang, Jansen sampai heran kenapa Elena bertanya demikian. Elena menunggu jawaban tapi tidak ada yang berani menjawab pertanyaannya bahkan tidak ada yang berani melihatnya. Mendadak semua jadi takut apalagi isu yang beredar mengenai Elena yang adalah seorang berandalan membuat mereka semakin takut.


"Tidak ada yang mau menjawab?" tanya Elena namun semua diam seribu bahasa.


"Baiklah, kalian boleh keluar sekarang!" sepertinya dia harus memanggil seseorang untuk diinterogasi agar dia tahu apa yang sebenarnya terjadi apalagi bisik-bisik para murid membuatnya penasaran.


"Semua bersikap aneh, apa yang terjadi?" tanya Jansen yang tinggal seorang diri di dalam kelas.


"Entahlah, aku merasakan firasat buruk. Sepertinya akan terjadi sesuatu pada kita!" ucap Elena.


"Tidak perlu khawatir, Elena," Jansen mendekati Elena dan meraih pinggangnya, "Apa pun yang terjadi, aku pasti akan melindungimu dari ayahku yang bodoh itu dan istrinya yang jahat!" ucapnya.


"Aku tahu kau mampu, Jansen. Tapi kau harus memikirkan posisimu, sedangkan aku tidak jadi soal karena aku bisa mencari pekerjaan lain sedangkan aku, sangat sulit jika kau dikeluarkan secara tidak terhormat!"


"Aku tidak takut meski aku dikeluarkan. Sekalipun aku tidak menyelesaikan kuliahku, aku tetap akan menjadi orang sukses," ucapnya seraya menempelkan dahi mereka.


"Tidak, jangan asal bicara. Hanya tinggal beberapa bulan, jangan kau sia-siakan!" Elena mendorong Jansen hingga menjauh, "Aku pasti akan membantu asalkan kau mau bekerja sama denganku!" ucap Elena seraya melangkah menuju meja.


"Tapi aku tidak mau kau berada di dalam masalah, Elena."


"Tidak perlu khawatir, Jansen," Elena berbalik dan tersenyum, "Apa pun yang terjadi, ayo kita hadapi bersama!"


"Aku sungguh tidak akan mengecewakan," Jansen hendak mendekati Elena untuk memeluknya namun suara mahasiswa lain di luar sana mengurungkan niatnya.


"Pergilah, jangan sampai ada yang curiga dengan hubungan kita!"


"Baiklah, ingat kau harus memanggil aku jika ada apa-apa," Jansen berkata demikian agar Elena mengandalkan dirinya. Dia tidak akan membiarkan Elena berada di dalam masalah hanya karena ayanya dan istrinya yang jahat.


"Tentu," jawab Elena. Dia memang tidak meragukan Jansen karena dia tahu pemuda itu memiliki kemampuan.


Jansen bergegas keluar, sebelum ada yang curiga. Elena pun keluar dari ruangan setelah Jansen pergi tidak lama namun tanpa mereka duda, mereka berdua di panggil untuk datang ke ruangan sang rektor dan karena mereka akan diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan tentunya ini adalah kesempatan untuk Anne.