My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Peraturan



Peraturan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh Jansen selama tinggal di rumahnya sudah dibuat. Elena pun keluar dari kamar karena dia harus berbicara dengan Jansen akan hal itu. Dia tidak mau Jansen berbuat seenak hati dan jika dia mau tinggal di rumahnya maka Jansen harus mengikuti setiap peraturan yang dia buat.


Jansen pun sudah makan mie instan yang baru pertama kali dia lihat dan dia makan. Rasanya tidak buruk, cocok untuk mengganjal perutnya yang lapar dan dia ingin memakannya lagi nanti. Jansen sedang duduk di sofa ketika Elena keluar dari kamarnya, kebetulan sekali pemuda itu sedang tidak berbuat ulah jadi bisa dia ajak bicara dan semoga saja tidak membuatnya sakit kepala.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Elena sambil duduk tidak jauh dari Jansen.


"Mau bicara apa? Apa mau membahas berbagi kamar denganku?"


"Jangan sembarangan! Kau lihat kamar yang ada di pojok sana?" Elena menunjuk sebuah ruangan yang tidak jauh dari kamarnya, "Kau tidur di sana dan harus kau bersihkan sendiri!" ucap Elena lagi.


"Ck, aku tidak pandai bersih-bersih!" ucap Jansen dengan santai.


"Tidak mau maka kau tidak akan mendapatkan tempat untuk tidur. Kebetulan ada banyak peraturan yang harus kau lakukan selama tinggal di sini jadi kau harus mendengarkannya!" kertas yang berisi peraturan yang sudah dia buat pun diangkat sedikit tinggi karena dia akan membacakan poin pentingnya pada Jansen.


"Kenapa harus menggunakan peraturan segala? Merepotkan sekali!"


"Kau mau atau tidak? Jika tidak maka pintu terbuka lebar untukmu!" ucap Elena.


"Baiklah, baik. Peraturan apa yang harus aku patuhi, katakan saja padaku!"


"Dengarkan baik-baik dan jangan kau langgar peraturan yang sudah aku buat!" Elena melotot ke arah permuda yang acuh tak acuh itu. Jansen bahkan terlihat tak tertarik sama sekali dengan peraturan yang akan Elena katakan.


"Pertama, jangan masuk ke dalam kamarku, Ingat, jangan masuk!" Elena mengatakannya dengan nada penuh penekanan.


"Aku tahu, yang lain?" Jansen masih bersikap acuh tak acuh.


"Tinggal di rumahku tidaklah gratis jadi kau harus bekerja!"


"Apa maksudmu?" kini Jansen melihat ke arahnya.


"Rumah ini aku sewa jadi kau harus membantu aku membayar uang sewanya. Kau separuh dan aku separuh. Adil, bukan?"


"Tapi aku tidak punya uang!" ucap Jansen.


"Oleh sebab itu, kau harus bekerja. Mulai besok, kau harus mencari pekerjaan karena aku bukan ibumu yang akan memberikan biaya hidup untukmu. Kau harus mandiri, makan dan minum tidaklah gratis. Selama ini mungkin kau bisa mendapatkan apa yang kau mau dari ayahmu tapi mulai sekarang, aku rasa dia tidak akan memberikan kau uang sepeser pun lagi agar kau mandiri jadi kau harus bersikap mandiri!"


"Ck, benar-benar ayah yang tega!" Jansen mengacak rambut, sepertinya perjuangan hidupnya akan segera di mulai.


"Aku tahu, cuma aku tidak memiliki apa pun saat ini. Uang yang aku miliki hanya puluhan dolar saja, bisa apa aku dengan uang itu?"


"Aku tidak memintamu bayar sekarang. Aku tahu keadaanmu tapi mulai besok kau harus mulai mencari pekerjaan. Apa pun itu asalkan bukan pekerjaan yang merugikan orang lain. Buang egomu dan mulailah bangkit karena aku pun akan memperhitungkan uang yang telah aku keluarkan untuk membayar pengacara yang telah membebaskanmu!"


"Apa?" Jansen melotot dengan ekspresi terkejut.


"Tidak perlu terkejut, sudah aku katakan tidak ada yang gratis. Kau bisa membayarnya setelah kau memiliki uang. Aku tidak akan memberikan bunga padamu asalkan kau membayarnya sampai lunas!" meski dia bukan orang yang kekurangan uang tapi dia tetap akan memperhitungkannya agar Jansen tahu bagaimana sulitnya mencari uang. Lagi pula dia pun sedang berusaha untuk mandiri jadi dia pun akan belajar bagaimana hidup tanpa mengandalkan keluarganya.


"Baiklah, aku akan menggantinya. Tulis saja berapa hutangku padamu, aku akan berusaha mencari pekerjaan mulai besok!" dia memang harus memulai dari nol jika dia ingin sukses tanpa mengandalkan ayahnya. Sesungguhnya mereka tidak jauh berbeda tapi yang membedakan, Elena yang ingin hidup mandiri dengan keinginan sendiri.


Padahal dia sudah mendapatkan pekerjaan di New York dan sudah hampir berangkat tapi dia berubah pikiran karena impiannya adalah menjadi dosen tapi dia tidak menduga, dia harus bertemu dengan pemuda yang merepotkan. Tidak jadi soal, dia pasti bisa mengubah Jansen menjadi pemuda yang jauh lebih baik.


"Apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Jansen.


"Kau harus membantu membersihkan rumah ini. Saat di kampus jangan sok kenal dan sok dekat. Kau murid dan aku dosen, jangan lupa. Selama tinggal denganku, jangan membuat ulah karena aku akan menendangmu keluar tanpa ragu. Jangan membuat keributan dengan geng motormu itu dan mulailah meminta mereka untuk memperbaiki diri. Sisanya kau bisa baca sendiri!" Elena memberikan beberapa helai kertas yang sudah dia jepit rapi di mana terdapat peraturan yang harus Jansen patuhi.


Jansen menghela napas, dia tahu sudah pasti berat tapi dia tidak bisa mundur lagi apalagi dia akan semakin dihina oleh Richard dan ibunya. Tidak akan dia biarkan mereka menghina dirinya terlalu lama, sudah pasti akan dia tunjukkan pada mereka jika dia mampu dan setelah itu dia akan kembali untuk menendang mereka keluar dari rumahnya. Meski dia tahu tidak mudah tapi jika dia berusaha, dia yakin dia bisa membuat ibunya bangga.


Elena beranjak, sudah cukup karena Jansen bisa membaca peraturan yang tersisa. Saatnya pergi membeli makanan karena tidak ada apa pun lagi di rumahnya. Dia harus membeli bahan makanan dan sekarang yang makan sudah dua orang. Entah kenapa dia begitu bermurah hati pada pemuda itu, dia harap keluarganya tidak ada yang tahu karena ayah dan kakaknya pasti akan datang untuk menariknya pulang. Bisa-Bisa Jansen di tendang sampai ke bulan dan yang paling buruk adalah, pemuda itu digantung di atas kolam sampai kering.


"Aku mau pergi membeli bahan makanan, kau bersihkan kamar itu sendiri!" ucap Elena.


"Aku antar, bagaimana?" Jansen pun beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak perlu. Sebisa mungkin kita tidak boleh terlihat berdua agar tidak ada yang curiga sama sekali. Jangan sampai menimbulkan skandal yang tidak diinginkan oleh sebab itu, kita tidak boleh terlihat bersama. Bersihkan saja kamar itu agar bisa kau tempati," ucap Elena.


"Aku tahu, akan segera aku kerjakan!"


"Ingat, jangan membuat masalah. Lakukan dengan bersih tanpa membuat kekacauan. Ingat pesanku ini, jangan membuat kekacauan!" Elena kembali menekan perkataannya agar Jansen mengerti dengan apa yang dia ucapkan.


"Aku tahu, tidak perlu diulangi!" Jansen menggerutu sambil berjalan menuju kamar yang harus dia bersihkan.


Elena pun melangkah pergi, masuk ke dalam kamar tapi dia keluar tidak lama karena dia sudah harus pergi. Elena melihat Jansen yang sedang berdiri di depan pintu kamar yang sudah terbuka. Semoga saja Jansen tidak membuat ulah saat dia tinggalkan. Hanya membersihkan kamar itu saja, dia yakin Jansen pasti bisa.


Tidak mau membuang waktu, Elena pergi untuk berbelanja dan meninggalkan pemuda yang masih berdiri di dalam kamar sambil berpikir. Dari mana dia harus memulainya? Sekarang dia benar-behar sadar jika dia hanya pemuda yang tidak bisa melakukan banyak hal.