
"Selamat datang dokter."
Pekikan Jihan dan Kanaya mengagetkan dokternya.
"Astagaaa...." dokternya langsung terlonjak kaget memegang dada terkejut dengan sambutan dari dua orang wanita berbeda usia itu.
"Dokter ayo buruan masuk periksa nanti saya." Jihan sampai menarik paksa Dokternya. Kanaya mendorong pelan punggung dokter itu.
"Tapi alat-alatnya."
"Tenang, ada para pria yang akan bantu. Andrian, pak Yanto, Papa, buruan bantu bawa alat-alat tes kehamilan ke kamar Tristan." Jihan menyuruh mereka yang sedang berdiam diri. Dan tanpa banyak bicara, para pria bergotongroyong membantu Dokternya mengeluarkan alat-alat periksa.
Setibanya di dalam sana, Tristan kembali berbicara. "Dok, tolong kau periksa istri saya!" ucap Tristan langsung pada intinya sembari menggiring dokternya ke kamar mereka.
Dokter itu mengernyit. "Ni orang-orang aneh-aneh deh. Begitu antusiasnya," batinnya.
"Baik, kalian tunggu saja di sana terkecuali para wanita dan suami yang ingin mengetahui hasilnya."
"Kok saya tidak boleh masuk? Saya juga ingin tahu hasilnya," papa Marko protes tidak di bolehkan masuk.
"Papa, Andrian sama Papa Yanto tunggu saja di luar. Ayo dokter periksa istri saya." Tristan mengusir Yanto dan Papa Marko agar tidak masuk ke dalam.
"Dasar anak durhakim, papanya malah di usir." gerutu Marko sembari duduk menunggu.
"Sudahlah besan, kita tunggu saja di sini," ujar Yanto.
"Beber, Pah. Mungkin ada rahasia yang tidak boleh kita tahu," seru Andrian.
"Rahasia apa?" tanya Marko.
"Mana ku tahu." Andrian mengangkat bahunya tidak tahu rahasia tersebut. Dia hanya asal berkata saja.
Sedangkan di dalam, Alana sudah berbaring menunggu dokter memeriksa perutnya. Dokter itupun duduk di dekat Alana sedangkan Tristan berdiri di dekat kaki Alana dan yang lainnya duduk di tepi ranjang.
Pertama Alana di periksa tensi darah, lalu berat badan dan kemudian perutnya mulai di raba oleh Dokter itu.
"Apakah Anda mengalami mual, atau pusing?"
"Iya, Dok. sudah dua hari ini saya sering mual dan pusing. Apalagi mencium aroma tubuh suami saya makin puyeng nih kepala." jawab Alana dan Dokter itu mengangguk mengerti.
Lalu Dokternya mengambil alat pemeriksaaan berupa alat Ultrasonografi 2D.
Ultrasonografi 2D merupakan jenis USG kehamilan standar yang biasanya juga dilakukan ketika awal kehamilan. Jenis USG ini hanya menampilkan gambar dalam warna hitam putih.
Dokter itu begitu teliti dengan gambar yang tertera di layarnya. Dia menyunggingkan senyuman dengan hasilnya.
"Bisa kalian lihat ini, titik hitam ini merupakan Zigot yang nantinya akan menjadi embrio," tutur dokternya menyuruh mereka yang ada di sana memperhatikan laptop yang terhubung dengan alat canggih tersebut.
Zigot adalah sel yang terbentuk sebagai hasil bersatunya dua sel kelamin yang telah masak. Zigot adalah ronde perkembangbiakan sebelum janin atau yang akan menjadi janin/embrio pada rahim perempuan. Lama kelamaan, Zigot ini akan berkembang menjadi janin dan embrio yang lalu akan dilahirkan menjadi bayi.
Tristan, Alana dan yang lainnya memperhatikannya, mereka masih belum mengerti dengan istilah-istilah yang dokter sebutkan.
"Intinya saja, dok!" celetuk Dewi yang juga penasaran dan mendengarkan secara serius. Dewi senang jika Alana beneran hamil.
"Intinya, Nyonya Alana positif hamil dan usianya baru tiga Minggu."
"Benar Tuan. Istri Anda hamil."
"Waaahhhh Tristan, buaya buntung mu sungguh luar biasa bisa bikin Alana bengkak!" pekik Mama Jihan secara tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Buaya Tristan gitu loh." balas Tristan berbangga diri mampu membuat istrinya hamil dalam kurun waktu dua bulan.
"Ternyata pemeriksaan waktu itu salah ya? Buktinya Tristan bisa menghamili Alana dalam waktu dekat." Kanaya bersuara menerka jika pemeriksaan terhadap Tristan pasti ada yang salah seperti yang ia pikirkan selama ini. Kenapa begitu? Karena buktinya Claudia mampu hamil sampai melahirkan Ariel, itu tandanya Tristan tidak bermasalah.
"Benar, Nay. Waktu itu hasil pemeriksaan tertukar dengan milik orang lain yang kebetulan nama kita sama. Dan sekarang buktinya aku baik-baik saja," balas Tristan menceritakan kenapa bisa hasilnya bisa tertukar dan menceritakan dia kembali memeriksa keadaan dirinya sendiri.
"Oawalah, ternyata tertukar toh."
"Ayah... Bunda... adik Ariel mana?" pekik Ariel membuka pintu kamar masuk secara tiba-tiba bareng dengan putranya Andrian.
"Om uncle, kakak cepupu Andrew nana?" timpal pria kecil anaknya Andrian dan Kanaya.
Tristan tersenyum lalu membawa kedua anak kecil itu mendekati Alana yang sudah duduk dengan kaki di selonjorkan. Sedangkan Dokter sedang membereskan barang bawaannya seraya tersenyum bahagia melihat keantusiasan mereka menyambut anggota baru.
"Adik kalian ada di perut Bunda. Nanti, kalian bantu jaga adik ya? Sayangi adiknya juga."
"Siap Ayah."
"Siap om uncle."
"Tapi kalau adik bandel boyeh kita jewel kan om uncle?" Andrew bersuara.
Tristan melolot. "Tidak boleh, kan adiknya masih kecil. Kalau udah sebesar kalian baru boleh. Itu pun kalau adiknya bandel dan salah, ok."
"Ok." jawab keduanya secara bersamaan.
Tristan lalu menatap Alana, keduanya saling pandang terharu dan Tristan lalu memeluk Alana merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Matanya sampai berkaca-kaca tidak pernah merasakan kebahagiaan yang begitu besar seperti sekarang ini.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, terima kasih sudah mau menerima setiap kekuranganku, terima kasih sudah bersedia menjadi ibu dari anak-anakku. Aku mencintaimu sekarang, esok dan selamanya. Tetaplah bersamaku hingga usia di makan waktu. Jangan pernah tinggalkan aku sebelum aku lebih dulu tiada. Aku mencintaimu, Alana." ucap tulus Tristan katakan pada Alana lalu mengecup lembut kening sang istri penuh cinta.
Alana bisa merasakan kasih sayang serta cinta luar biasa dari Tristan untuknya. "Tidak ada hal yang membuatku bahagia selain bisa memiliki suami seperti mu. Jangan pernah tinggalkan aku meski di luaran sana banyak wanita yang jauh lebih sempurna dariku. Aku pun berterima kasih karena kamu audah mau menerima wanita cacat seperti ku dan menjadikanku ratu di hati dan di rumahmu. Aku juga mencintaimu, Tristan. Selamanya."
"Aaaakkhhh so sweet." seru semua orang yang ada di sana terharu sekaligus bahagia bisa melihat Tristan dan Alana bahagia setelah berbagai macam cobaan datang.
Alana dan Tristan mengurai pelukannya tersenyum memperhatikan seluruh anggota keluarganya. Tristan mengambil Ariel dan Andrew membawanya duduk di paha dia.
"Keluarga no satu. Dan sekarang, keluarga kita bertambah satu. Jadi..." Mama Jihan menggantung ucapannya.
"Welcome new baby..." teriak semuanya sampai ada yang menyalakan terompet siapa lagi kalau bukan Claudia dan Mike yang hadir atas undangan Jihan.
Semua orang tertawa bahagia. Dewi dan Yanto yang juga melihat kebahagiaan Alana dan kehangatan keluarga Tristan tidak bisa berkata-kata. Dewi yang tadinya berkeras hati tiba-tiba luluh melihat wajah bahagia Alana yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dia sampai meneteskan air mata menyesali segala perbuatannya.
Yanto merangkul pundak Dewi. "Putrimu sudah bahagia, jangan kamu usik kebahagiannya. Biarkan dia dengan pilihannya dan bersama orang-orang yang menyayanginya." Dewi mengangguk.
"Ketidaksempurnaan ku bukanlah penghambat segala kebahagiaan yang ingin di capai. Tapi, ketidaksempurnaan ku merupakan salah satu hal dari sekian ujian tuhan yang harus ku syukuri agar aku mengerti jika ketidaksempurnaan bukanlah akhir dari segalanya," Alana.
"Ketidaksempurnaan yang ku miliki menyadarkan ku jika masih ada orang yang benar-benar menerima setiap kekurangan kita. Jika kita mencari orang yang sempurna kemanapun tidak akan pernah menemukannya. Tapi, jika kita berusaha menjadikan ketidaksempurnaan itu menjadi hal yang sempurna menurut kita, maka bahagia akan datang tanpa memikirkan ketidaksempurnaan," Tristan.
TAMAT...