
Serangkaian acara pernikahan telah selesai diselenggarakan. Semua tamu undangan pun sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini yang tersisa di kediaman Tristan hanyalah keluarga besarnya saja.
"Aku pikir kau akan menikah dengan Lisa, Tan. Karena setahuku kekasihmu itu Lisa. Eh, tak tahunya dengan gadis cantik lebih muda dari Lisa," seri Mike suaminya Claudia.
"Mau bagaimana lagi, kan jodohnya Alana. Sekalipun pacaran lama dengan orang lain jika bukan jodohnya, ya pasti tidak akan bersatu. Seperti aku dan Lisa," balas Tristan namun pandangannya tidak teralihkan di wajah cantik Alana yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Alana juga tengah berbincang-bincang dengan para wanita. Terlihat istrinya sedang menunduk malu bersemu merah entah apa yang mereka bicarakan membuat Tristan penasaran.
"Berarti malam ini buaya buntung mu akan berenang dong," timpal Andrian.
"Pastinya harus. Sekalian mau uji coba."
Mike dan Andrian saling lirik mereka berdua tersenyum senang bisa melihat Tristan akan menguji hasil berobatnya. Mereka sudah tahu apa yang menimpa Tristan. Dia sendiri yang membicarakannya kepada kedua orang itu.
"Semoga saja uji coba-mu berhasil dan membuahkan hasil," balas Mike.
Seketika Tristan mematung. Dia jadi teringat jika kualitas mayones kentalnya hanya 30 persen saja dan itu kemungkinan akan sulit untuk mendapatkan momongan. Setelah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan impotensi, kualitas peranakannya ternyata tidak terlalu bagus.
"Sepertinya akan sulit untuk membuahkan hasil. Dokter bilang, kemungkinan membuahi hanya 30% dan itu artinya tidak mungkin," jawab Kristen menghilangkan nafas beratnya.
"Hei, dokter itu bukan Tuhan, karena yang membuat istrimu hamil itu bukan Dokter tetapi Tuhan. Dokter memang bilang jika kemungkinan nya 30%. Tapi kan kalau menurut Tuhan bisa jadi 100% kita hanya bisa berdoa dan berusaha," kata Andrian menyemangati.
"Bener banget kata Andrian. Mending sekarang kau fokus untuk menceburkan buaya buntung mu itu ke rawa-rawa. Sudah, mending sekarang pergi tuh bawa istrimu ke kamar! Sepertinya dia malu terus digoda oleh para wanita. Lagian sebentar lagi magrib, sebaiknya kalian beristirahat siap-siap untuk malam pertama," ujar Mike di angguki oleh Andrian.
"Kalian benar, aku sudah tidak sabar untuk berenang di lautan penuh kenikmatan." Tristan kembali tersenyum. Lalu dia berdiri menghampiri para wanita.
"Mah, aku sama Alana ke kamar dulu, ya. Kita mau bersih-bersih dulu, kasihan tuh Alana kayaknya dari tadi tidak nyaman dengan pakaiannya."
Alana mendongak menatap Tristan. Jantungnya berdebar-debar. "Apa malam ini dia akan menggarap ku seperti yang di katakan Kanaya? Apa yang harus ku lakukan kalau itu benar adanya? Apa aku harus menyerahkan keperawananku kepadanya? Tapi kata Mama sekarang Tristan itu suamiku, jadi aku harus nurut apa katanya. Aduh... aku takut sakit seperti kata Jenny," batin Alana gugup bercampur takut.
"Ah, benar. Kalian harus membersihkan badan kalian. Istirahat lah, sayang. Kamu pasti lelah seharian sudah menyambut tamu undangan." Kata Jihan.
Meski tamunya tidak terlalu banyak tetapi itu cukup membuat Alana lelah.
Alana semakin bimbang antara ikut dan menolak. Namun, Mama Jihan terus menatapnya kemudian Alana mengangguk.
Dia pun berdiri, tetapi Tristan langsung menghampiri kemudian membopongnya. Sontak sang pengantin wanita langsung melingkarkan tangannya ke leher Tristan.
"Hati-hati, Al. Nanti buayanya menerkam kamu." Kanaya berteriak menggoda keduanya.
"Hati-hati juga jangan terlalu kedebag-gedebug. Ingat, Alana masih tersegel, Tristan." Timpal Claudia ikut menggoda. Mama Jihan dan Kanaya ikut terkekeh.
"Asiaaap... tentu saja akan pelan-pelan." Balas Tristan sambil menaiki tangga. Alana semakin di buat dag dig dug.
Tristan mendudukkan Alana di pinggir kasur. Dia berdiri di hadapan istrinya. Alana terus saja menunduk meremas jari-jari tangannya.
"Aku tidak menyangka kalau akhirnya kita menikah juga." Tristan berjongkok di depannya Alana kemudian menggenggam kedua tangan itu.
"Aku gugup. jantungku saja sangat berdebar coba deh kamu rasakan?" Dengan polosnya Alana menjawab jujur serta membawa tangan Tristan ke dadanya.
Benar saja, jantung Alana terus saja berdetak sangat kencang. Tristan bisa merasakan itu. ada yang membuat perhatiannya teralihkan. itu gumpalan daging kembar yang kini ia rasakan di bawah tekanan tangannya.
Kini dia juga merasakan debaran yang sangat luar biasa. Apalagi Alana sudah resmi menjadi istrinya.
"Sayang, saat ini kita sudah resmi menjadi suami istri." Alana mengangguk, masih belum berani menatap suaminya.
Tristan mengampit Dago Alana menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Perlahan wajah yang menunduk itu mendongak sampai mata keduanya saling bertatapan.
"Apa yang kamu lihat di bawah Kenapa menunduk terus hmmm? Apakah ada yang jauh lebih menarik dibandingkan aku?"
"A-aku ha-hanya gu-gup saja," jawab Alana terbata tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Apalagi suara nasehat-nasehat dari para wanita membuatnya semakin berdebar.
"Sayang.."
Entah kenapa, panggilan sayang dari suaminya terasa mesra dan mendayu merdu. Binar mata terpancar jelas dari sorot mata Sang suami, ketampanan penuh pesona pun terpancar jelas di wajahnya. Alana sampai tidak bisa berpaling dari wajah tampan Tristan.
"Sayang, gugup, takut serta jantung terus berdebar adalah hal yang wajar. Akupun sama denganmu yang juga sama-sama merasakan hal itu. Tapi ada hal yang akan membuatmu semakin berdebar."
"Hal apa?" Alana penasaran. Dia mendadak melupakan sesuatu.
Tristan tersenyum, dia begitu menyukai kepolosan Alana. "Apa kamu mau tahu hal itu?" tanya Tristan menyeringai.
Dan dengan bodohnya kepala Alana mengangguk membuat senyum jahat semakin mengembang. "Baiklah, kalau begitu siap-siap." Tristan berdiri sambil melepaskan jasnya. Lalu, menyimpan jas itu sembarang tempat kemudian membuka kancing kemejanya.
"Ka-kamu ke-kenapa buka baju?" tambah gugup pula gadis itu.
Tristan mencondongkan lalu berbisik mesra menggoda. "Mau berlayar di lautan cinta bersama kamu." bisiknya mengecup lembut pipi sebelah kiri Alana.
Alana di buat merinding merasakan hal yang berbeda. Tristan sedikit menjauhkan wajahnya menatap nakal sang istri.
"Saling menikmati kehangatan dalam balutan selimut yang sama." Dia kembali beralih berbisik di sebelah kanan, lalu mengecup pipinya lagi.
"Membuat kesyahduan dalam irama musik yang mengalun merdu dari bibir indahmu," lanjutnya sambil menatap dalam mata Alana.
Gadis itu tidak bisa menolak pesonanya Tristan. Dia terhipnotis oleh suara serta tatapan mata.
"Menjadikan kita satu dalam kesatuan menghasilkan calon bibit-bibit unggul penerus kita." Nafas Tristan semakin memburu menerpa bibir Alana. Perlahan mendekati bibir indah itu.
Tangan kanan Tristan perlahan terulur mengusap punggung Alana, mencoba membuka setiap kancing baju yang di kenakan nya.
"Aku menginginkan kamu, Alana."
Cup.....