
Wajah Tristan berseri-seri. Bahkan senyumnya pun tidak pernah luntur menghiasi wajah tampannya. Bagaimana tidak terlihat bahagia kalau kini senjatanya sudah benar-benar berdiri dengan sempurna.
Ditambah dia mendapatkan istri yang masih bersegel rapi. Dan itu menjadi hal yang paling membanggakan bagi dirinya. Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan seorang perawan? Semua pria pun pasti mau. Tapi, semua kembali ke jodoh yang Tuhan berikan.
Dia terus memandangi wajah istrinya yang tengah duduk di depan meja rias. "Makasih ya sudah menjaganya untukku."
Alana yang tengah menyisir rambut melirik cermin sehingga bisa menatap Tristan lewat kaca tersebut. Pipinya terlihat bersemu merah tidak bisa menyembunyikan rona malu yang dirasa. Dia mengangguk kemudian menunduk.
Tristan semakin ingin menggoda istrinya. "Bagaimana rasanya berlayar di pulau cinta?" dia mendekati Alana kemudian berdiri di belakang istrinya. Lalu mencondongkan wajahnya ke depan menatap wajah sang istri di balik cermin.
Gadis pemilik lesung pipi itu mengerutkan dahinya tidak mengerti. Dia menoleh ke samping kiri namun, bibirnya malah mengecup pipi Tristan.
"Sayang, kamu mesum sekali pagi-pagi sudah menggodaku dengan ciumanmu ini."
Alana melotot menyikut perut Tristan. "Aku tidak sedang menggodamu, kamu sendiri yang tiba-tiba berada di belakangku, aku kan tidak tahu," protesnya mencebik kesal.
Tristan tertawa melihat wajah Alana yang tengah cemberut. Dia pun memeluk istrinya dari belakang masih dalam posisi menatap wajah Alana. Kini raut wajahnya terlihat serius.
"Al, apapun yang terjadi, aku harap kamu selalu berada di sampingku, suka maupun duka. Dan aku berharap, kamu menerima kekuranganku. Ada satu hal yang menjadi beban dalam pikiranku, Al."
Alana yang tadi menunduk sekarang mengangkat wajahnya sehingga mata mereka saling bertatapan lewat cermin di depan.
"Apa?" Alana menjadi penasaran beban apa yang suaminya sedang ia sembunyikan.
Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulutnya Tristan. "Aku memiliki ketidaksempurnaan, Al. Aku akan sulit membuatmu hamil."
Deg...
Alana terhangat mengetahui kekurangan tersebut. Tapi sedetik kemudian wajah yang tadi terkejut kini tersenyum tulus sembari mengusap dengan suaminya yang tengah memeluk dirinya.
"Aku tidak mempermasalahkan itu karena ku sadar kalau aku pun memiliki ketidaksempurnaan. Kamu mau menerima aku dengan segala kekuranganku pun aku sangat bahagia, Tristan. Aku juga tidak mengapa jika kita lama memiliki momongan. Terpenting bagiku saat ini, kamu selalu menerimaku, terus berada di sampingku, membimbingku, menjagaku, membahagiakanku, dan mencintaiku. Maka aku pun akan selalu berusaha melakukan itu semua dan tentunya berusaha membuka hatiku untuk mencintaimu. Aku menyerahkan segala kehidupanku terhadapmu. Hanya kamu saat ini tumpuan hidupku. Hanya kamu saat ini tujuanku, hanya kamu saat ini tempat ku bernaung. Tolong, cintai aku setulus hatimu. Akupun akan mencintaimu setulus hatiku." Alana berkata seraya berkaca-kaca.
Dia tidak memiliki lagi kehidupan yang ia harapkan selain dengan suaminya sekarang. Dia kini berpegang pada tiang kokoh sang suami agar hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Alana sadar tidak ada yang ia harapkan selain Tristan. Dia takut jika suaminya pergi atau mengkhianati setelah dia benar-benar cinta dan berharap.
"Tentu saja sayang. Aku akan berusaha membahagiakan mu semampuku, mencintaimu dan selalu menjagamu. Terima kasih sudah mau menerimaku. Dan janganlah terlalu berharap padaku tentang seorang anak."
Alana menggelengkan kepalanya. Dia melepaskan pelukan Tristan kemudian mengubah duduknya menjadi berhadapan. Lalu, mendongak memegangi kedua tangan Tristan.
"Soal anak, semua kita serahkan kepada Tuhan. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Aku yakin jika suatu saat nanti kita akan memiliki anak. Sekarang kita nikmati waktu kita berdua saja pacaran setelah menikah."
"Isshhh... apaan sih." Alana membuang muka kesal bercampur malu karena sudah lebih dulu mengutarakan keinginannya. Mengenal Tristan secara halal.
"Pacaran halal jauh lebih nikmat," katanya membawa Alana ke dalam pelukannya. "Hari ini kita harus bertemu ibumu untuk meminta Restu pernikahan kita. Cepat atau lambat kita harus bertemu dengannya."
"Tapi aku takut Ibu marah-marah sama kamu."
"seharusnya kamu mengkhawatir kan dirimu sendiri. Kalau aku tidak mengapa dimarahi tapi kamu, aku tidak rela."
"Semoga ibu menyetujui pernikahan kita," balas Alana membalas pelukan Tristan yang terasa nyaman.
*********
Di tengah keberhasilan sang mantan duda berenang di rawa, ada jiwa yang tengah cemas melanda serta terus saja berdebat. Siapa lagi kalau bukan Dewi, ibundanya Alana.
Wanita berusia 48 tahun itu tengah bersitegang dengan rentenir Yanto.
"Sudah kukatakan aku tidak tahu keberadaan Alana. Sudah seminggu ini dia tidak pulang ke rumah. Aku pun tidak mengetahui dimana tempat tinggalnya. Kenapa kau tidak mencarinya ke tempat kerjanya saja!"
"Kau jangan bohong Dewi, jangan sembunyikan anakmu dengan alasan tidak mengetahui keberadaannya. Saya tahu jika kau tidak pernah menyayangi Alana, maka dari itu katakan di mana anakmu berada? Saya akan mengurusnya sebaik-baiknya."
Sudah 3 hari ini Yanto mencari Alana. Bukan tanpa alasan dirinya menginginkan anaknya Dewi. Tetapi karena dia merasa kasihan kepada Alana yang terus diperlakukan tidak baik oleh ibunya dan Kakaknya sendiri.
Sehingga cara inilah yang Yanto gunakan untuk membebaskan Alana dari tekanan batin yang dideritanya. Meskipun dia seorang rentenir tapi dirinya tidak akan pernah tega jika melihat seorang anak disakiti oleh orang tuanya sendiri apalagi ini adalah anak perempuan dan dia tidak menyukai itu.
Dewi terperangan mendengar kata terakhir yang yang Yanto ucapkan, MENGURUS SEBAIK-BAIKNYA. Dirinya seakan tertampar oleh kenyataan jika dia tidak pernah mengurus anaknya sebaik layaknya seorang ibu kepada anaknya.
"Aku tidak tahu, ya tidak tahu. Harus bicara apalagi agar kau percaya jika aku ini tidak tahu keberadaan Alana." sentak Dewi kesal tersulut emosi.
Jika mengingat apa yang sering diperbuat kepada putrinya, Dewi selalu marah. marah karena apapun dia tidak tahu. Tapi yang pasti ada perasaan menyesal karena tidak pernah melakukan putrinya dengan baik.
"Ibu macam apa kau ini yang tidak pernah tahu keberadaan anaknya sendiri? Jika kau tidak bisa memberikan Alana kepada saya maka saya akan menjebloskan mu ke penjara dengan pasal berlapis." Ancam Yanto menunjuk wajah Dewi sebagai peringatan keras kepada wanita itu.
"Kau mengancam ku demi anak pincang itu? Apa kau lupa jika aku ini mantan kekasihmu dulu? Seharusnya kau mendukungku bukan menekan ku dengan utang puluhan juta mu itu." Suana semakin memanas. Dewi yang memang memiliki riwayat suka marah-marah semakin tambah marah di saat Yanto menekannya.
"Aku tidak melupakan itu, Dewi. Tapi aku tidak terima anakku kau terus-terusan sakiti!" sentak Yanto marah.
Deg...