
"Sialan tuh Tristan. Beraninya dia mengusirku dari rumah orang tuanya. Kan aku ini juga mertuanya. Seharusnya dia menghormati ku bukan malah terus saja sewot seakan saya ini tidak diharapkan olehnya."
"Ditanya anak malah jawab ketus dan ngomel-ngomel gak jelas. Merasa tidak dihargai jadi ibu mertua." Omel Dewi di perjalanan yang entah ke mana ia akan melangkah pergi.
Sepanjang jalan Dewi terus saja menggerutu kesal. Bibirnya terus monyong me ngomong gak jelas ke sana kemari.
Dia mampir ke rumah makan yang ada di pinggir jalan. Rasa kesal dan lelahnya membuat perut dia keroncongan.
"Yanti, gue pesan makan dong."
Orang bernama Yanti itu menoleh. "Eh, Mpok Dewi. Tumben mampir di mari, Mpok? biasanya lu selalu ogah tuh mampir di warung makan gue. Secara kan gue mantan bininya kasih lu," seru Yanti.
Dewi mendelik jengah. "Lu jangan bahas-bahas masalah kita lah. Itu udah lama kali. Biarpun mantan suami lu mantan gue juga, gue ogah balikan lagi sama tuh si Yanto. cuma tampang doang. Kaya kagak, kere iya. Mana rentenir, pula."
Yanti mendengus kesal. "Bilangnya kagak mau, bilangnya kagak doyan, tapi suka dilayani sampai menghasilkan anak diluar nikah. Lu pikir gue kagak tahu kalau anak lu si Alana itu anaknya bang Yanto."
Deg...
Dewi terbelalak, tentu dia terkejut dari mana Yanti mengetahui masalah itu karena setahunya dia tidak pernah membicarakan ataupun mengungkap Ayah Alana yang sebenarnya.
"Lu ngomong apaan sih Yan? gue kagak ngerti?" Dewi mulai gelisah, dia mengedarkan pandangannya di mana mata dan telinga orang-orang yang ia kenal sedang memperhatikan dia.
Bagaimana tidak kenal toh kebanyakan yang belanja di warung makan yanti warga situ saja.
"Jangan sok tidak tahu tapi hati lu berkata kalau kau tengah gelisah. Gue tahu semuanya kok, Mpok. Ini Salah satu alasan mengapa gue lebih memilih selingkuh dan cerai dari bang Yanto dibandingkan terus bertahan tapi perasaannya bukan untuk gue," balas Yanti sedikit mengeluarkan keluh kesahnya selama menjalani biruk rumah tangga dengan Yanto, mantan kekasih Dewi.
Dewi terdiam tengah berpikir benarkah Yanto benar-benar menyukainya hingga tidak bisa melupakannya sampai saat ini?
"Udahlah, ngapain bahas masa lalu. Itu sudah berlalu dan tidak mungkin diulang kembali. Gue pesen satu piring nasi, jangan lupa orek tempe, ditambah ayam goreng sama sambal lalap dan segelas teh hangat," pinta Dewi mengalihkan pembicaraan mereka.
Yanti mengangkat bahunya. "Ya sudah, padahal gue cuman mau ngingetin menikah saja sama bang Yanto. Gue yakin di hati kecil lu masih terbesit rasa cinta untuknya. Jangan terus terlena oleh buayan dunia apalagi silauan harta yang tidak akan pernah terbawa mati meskipun kau terus-terusan mengejarnya." Papar Yanti menasehati Dewi.
"Udah lu jangan berisik! Jangan banyak ngoceh! Jangan banyak nasehatin gue, urus aja diri lo sendiri. Gue udah dewasa jadi gue tahu apa yang harus gue lakukan tanpa harus kau kasih tahu," balas Dewi sewot.
"Ck, gue di bilangin malah bodo amat. Terserah lu saja, lah." Yanti pun melayani Dewi melakukan pelayanan.
********
"Mah, Tristan sama Alana mau pamit pulang dulu." Tristan berpamitan kepada orang tuanya.
"Kenapa nggak nginep di sini saja? Ini udah mau isya," seru Mama Jihan menyimpan kopi ke atas meja.
"Iya, mending kalian kalian tidur di sini saja. kami merasa sepi jika tanpa kalian. Kanaya dan Andre Andrian sudah memiliki keluarga masing-masing. Ariel selalu ikut Claudia dan Mike. Sekarang kamu yang juga terpisah dari rumah mama. kami merasa kesepian jadinya," ujar Mama Jihan murung.
Dia duduk dengan wajah ditekuk menyiratkan sebuah kesedihan. Papa Marko mengusap tangan Jihan. Tugas orangtua kian menyusut seiring berjalannya waktu sampai anak-anak mereka beranjak dewasa.
"Mah..." Tristan berjongkok di hadapan Mama Jihan. Dia menggenggam tangan wanita yang sudah membesarkannya penuh kasih sayang.
"Rumah kita tidak jauh hampir setiap hari Tristan juga sering mampir ke sini. Kanaya dan anak-anak yang lainnya pun sering mampir ke sini. Mama jangan merasa kesepian, Mama jangan merasa sendirian dan jangan merasa kita melupakan Mama."
"Iya, kalau dipikir kita memang memiliki kesibukan masing-masing. Tapi kita akan berusaha terus meluangkan waktu untuk bersama kalian di sini."
"Iya, Mama percaya kalian akan selalu meluangkan waktu untuk kita. Kalau kalian mau pulang silakan masih belum malam. Kasihan Alana kalau sampai terkena angin malam."
Tristan berdiri dari jongkoknya. "Besok Alana kesini lagi menemani Mama di rumah. Malam ini Tristan mau mengajak dia ke suatu tempat."
"Kemana?" kali ini Alana yang bersuara. Dia penasaran suaminya akan membawanya ke mana.
Tristan hanya tersenyum menatap Alana. "Kita pamit dulu, Mah, Pah." Tristan pun menyelami kedua orang tuanya. Lalu disusul oleh Alana.
Tristan menggandeng tangan sang Istri sembari membantunya berjalan.
*****
"Tadi kamu bilang mau membawaku ke suatu tempat, memangnya kita mau ke mana?" tanya Alana setelah berada di dalam mobil.
"Ada, lah. Pokoknya surprise. Aku tidak mungkin memberitahukannya sebelum kita sampai di sana," balas Tristan membuat Alana semakin dibuat penasaran.
Di tengah malam keramaian kota, Tristan membelah jalanan ibu kota menghindari lalu lalang kendaraan beroda dua dan tiga. Dengan lihai penuh seriusan, pria itu menjalankan mobilnya penuh kehati-hatian supaya tidak mengalami sebuah kecelakaan.
Setelah menyusuri jalan sepanjang waktu 30 menit, mereka tiba di hotel berbintang 5 di salah satu pinggir pantai.
"Hotel? Kenapa kamu ngajakin aku ke hotel?" Alana Kemabli di buat penasaran. Dia menatap bangunan megah yang ada di hadapannya tetapi juga terdengar deburan ombak di lautan menambah keindahan di telinganya.
"Udah turun saja, nanti kamu juga akan tahu, yuk?" ajak Tristan sambil membuka seat belt.
Lalu Tristan turun memutari mobilnya dan membukakan pintu ke samping Alana.
"Tapi kamu harus tutup mata dulu," pinta Tristan mengambil sapu tangan yang telah Ia siapkan sebelumnya.
"Kenapa pakai ditutup segala?"
"Biar surprise sayang." Tanpa emang gue jawaban dari Alana Tristan langsung menutup mata istrinya.
"Tristan..."
"Sebentar saja, sayang. Nanti aku buka lagi sapu tangannya." Lalu Tristan membopong tubuh sang Istri membawanya ke tempat yang telah ia persiapkan.
Alana repleks mengalungkan tangannya ke leher Tristan. "Kejutan apa sih? Aku jadi penasaran?"
"Bentar lagi kamu akan tahu, kok."
Setibanya di sana, Tristan menurunkan tubuh Alana. Ia merangkul pinggang sang istri dengan erat sampai tidak ada jarak diantara keduanya. "Sekarang kamu boleh buka ikatan penutup matanya!"
Alana melepaskan penutup mata tersebut. Hal pertama yang ia lihat tentu saja mata suaminya. "Surprise nya mana?"
"Ini, kamu bisa lihat di sekeliling kita."
Alana mengedarkan pandangannya kesekitar. Matanya menatap takjub tidak mempercayai ini.
"Tristan...! Ini...?"