My Imperfection

My Imperfection
Mengantarkan Pulang



"Bagaimana Dok, Apa ada yang terluka?"


"Semuanya baik-baik saja tidak ada luka serius yang Ibu ini rasakan."


"What?! Pak dokter, apa Anda tidak melihat saya ini masih muda? masa sudah dibilang ibu-ibu. Mata Anda rabun atau buta sih, masa wanita cantik seperti ini terlihat seperti emak-emak? keterlaluan dokter." Protes Alana kesal dirinya dikatain ibu-ibu. Padahal kan dia belum menikah umur masih muda masa dikatain ibu-ibu kan kurang ajar banget tuh dokter.


Sang dokter beserta Tristan saling lirik.


"Hei kenapa kau protes? Kau memang terlihat seperti ibu-ibu. Wajahmu saja kusam lalu tuh di hidung banyak bintik-bintik hitam. Macam persis seperti ibu-ibu," seru Tristan tidak mau mengalah.


Alana mendelik tajam, "Hello tuan, wajah saya seperti ini karena memang tidak pernah mendapatkan perawatan. Coba kalau dirawat sedemikian rupa, pasti wajah saya cantik glowing Paripurna bagaikan Dewi rembulan."


"Hahaha cantik dari mananya? dari Hongkong? Kau bilang bagaikan Dewi rembulan? Halah Dewi comberan kali.


Sumpah demi apapun Alana kesal bukan main kepada pria ini. Sudah dia menyerempetnya, menariknya secara paksa, ngomel-ngomel nggak jelas, dan sekarang bikin dia kesal. Ingin rasanya Alana membanting kepala pria ngeselin ini ke calomberan selokan.


"Kau ngeselin."


"Bodo amat."


Dokter yang ada di sana malah lirik sana lirik sini macam orang bingung menghadapi dua orang yang tengah bertengkar Nggak menjawab nggak melerai hanya bengong diam saja macam orang cacicang.


"Nyesel saya ikut sama kamu. Kalau tahu kamu ngeselin kayak gini Ogah dah ikut sama kamu.


"Hai wanita bintik-bintik hitam, kalau bukan karena rasa tanggung jawab saya terhadap apa yang saya lakukan kepadamu, mana mungkin saya mau membawamu ke sini. saya juga ogah nona bintik-bintik hitam."


"Lah, siapa suruh kau memaksaku ke sini? sudah tahu aku menolaknya tapi kau malah memaksanya. Dasar kutu kupret."


Hei....


"Sudah. sudah, kalian ini kalau mau mengurusi masalah rumah tangga, kalian mending di luar sana jangan di tempat kerja saya."


"Siapa yang mengurusi rumah tangga? kami bukan suami istri," sergah Alana dan Tristan sedikit membentak dokter itu hingga sang dokter terlonjak kaget.


"Wah malah ribut di ruangan saya, sudahlah cepat-cepat kalian keluar dari sini! Bisa-bisa kepala saya pecah pusing tujuh keliling mendengarkan keributan pasangan suami istri gila macam kalian." Hardik dokter menggeram kesal ada pasien membentaknya. Sang dokter itu menggiring paksa Tristan dan Alana Bahkan dia sedikit kasar mendorong tubuh Alana.


Tangan Tristan sigap memegang tubuh Alana agar tidak terjatuh di saat dokter itu tidak sengaja mendorong alana.


"Wah, Pak, Kalau Anda tidak suka bisa bicara baik-baik jangan main kasar begini! Kau tidak lihat wanita ini tidaklah sempurna? tanganmu itu kurang ajar sekali sudah mendorongnya."


Eh.. Alana terperangah atas pembelaan pria ini. Dia juga tidak tahu kalau Tristan begitu sigap membantunya.


"Seorang dokter kok sikapnya begitu. Tidak mencerminkan dokter baik," sindir Tristan dengan sinis.


"Kalian juga pasien, bukannya menghormati dokter tapi malah membuat keributan dan menyentak dokter. Harusnya kalian juga berpikir kalau sikap kalian itu sedikit kurang ajar," balas dokter tidak ingin mengalah.


Alana menghelakan nafas, "Sudahlah banding kita keluar saja dari sini. Toh sudah tidak ada kepentingan lagi kan?" Alana pun melenggang duluan keluar.


Kemudian disusul oleh Tristan tapi matanya melirik tajam sebentar dokter itu. "Dokter kok tidak punya sopan santun."


*******


"Hei cewek bintik-bintik hitam, kemana kau akan pulang biar saya antarkan?" Meskipun Tristan bicaranya suka kasar tapi dia tidak akan tega melihat seorang wanita di depannya tengah kesulitan seperti ini.


"Bisa tidak sih panggilnya tidak nona bintik-bintik hitam? Saya itu punya nama nama saya Alana. rasanya kuping gatal sekali mendengar Kau bilang seperti tadi," proses Alana kembali.


"Bodo amat, pertanyaan saya kenapa tidak dijawab, kau pulang ke mana saya antarkan kau pulang?"


Tristan tidak akan membiarkan Alana pulang sendirian di tengah langit malam meski jam baru menunjukkan 7 malam.


"Ya, iyalah kau harus mengantarkan aku. Toh kamu yang membawaku ke sini maka kamu juga yang harus mengantarkanku tepat di depan rumah ku."


"Ck.. marah-marah tapi malah menyuruhku mengantarkan pulang." Tristan membantu anak-anak duduk di kursi mobil.


"Ck, kau ini, sebenarnya mau nganterin aku atau tidak sih? dari tadi malah ngomel mulu macam ibu-ibu belum dikasih uang bulanan baceo kayak beo."


"Bodo amat," jawab Tristan singkat lalu menjalankan mobilnya secara perlahan.


Lana tidak menolak ajakan Tristan untuk mengantarkannya sudah malam pula. Dan ongkos ojeknya sudah tinggal sedikit dipakai membayar tukang ojek.


"Di mana rumahmu?"


Jalan mawar RT 1 RT 2 nomor 12." Tristan menggangguk-angguk, kemudian melanjutkan perjalanannya Untuk mengantarkan wanita di sampingnya.


Walau bagaimanapun Tristan masih memiliki rasa iba apalagi wanita di sampingnya. Ini berjalannya kurang sempurna dan itu sedikit membuat Tristan harus mengantarkan wanita ini.


Dan tidak butuh cukup waktu lama keduanya telah sampai di depan rumah Alana. Rumahnya tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, tidak berlantai 2, hanya berlantai satu namun indah asri dan sejuk apabila memasuki area di depannya.


Tepat mobil itu berhenti Ibu Dewi baru pulang dari warung tempat ia bergosip ria.


"Mobil siapa tuh parkir di depan? sepertinya anak orang kaya?" dia mendekati namun matanya terbelalak ketika tahu siapa yang turun dari mobil.


"Alana..! Oh jadi begini ya kelakuan kamu sedari tadi siang keluyuran nggak jelas pulang malam diantar pria kaya. Mau jadi pelacur kamu," hardik Dewi bertolak pinggang melotot marah.


Deg..


"Ibu...!"


"Tante..!" keduanya terperangan tidak suka ibunya bicara begitu Tristan pun tidak menyangka ada seorang ibu yang menuduh anaknya tanpa bertanya dulu apa yang sedang terjadi.


"Sudahlah kau masuk ke dalam jangan lupa siapkan makan malam untuk makan Ibu dan juga kakakmu."


"Kenapa harus selalu aku yang menyiapkan kalian makanan, Bu? bukankah Ibu juga bisa memasak? kenapa harus aku terus?" Sikap ibunya membuat Alana menjadi sedikit pembangkang apalagi kasih sayang yang ia dapatkan hanyalah sebuah makian hinaan siksaan semata.


"Alana, jangan jadi anak pembangkang kamu. Cepat masuk tahu ibu tidak akan memasukkan muka dalam rumah.


Tristan terkesiap, dia bertanya-tanya di dalam hati apa wanita paruh baya ini ibu kandungnya Alana atau ibu tirinya? sifatnya sungguh benar-benar membuat Tristan geleng kepala.


Alana menunduk sedih dan itu dapat dilihat jelas oleh Tristan. Gadis itu pun masuk ke dalam secara perlahan. Ada rasa kasihan yang Tistan rasakan.


"Hei, kau pergi dari sini jangan kau ganggu Alana lagi! wanita cacat sepertinya tidak pantas untukmu. Kau itu sempurna tampan dan juga kaya, mending kau pergi saja jauhi dia!" ujar Dewi mengibas-ngibaskan tangannya memberikan kode agar Tristan pergi.


Meski Tristan kurang memahami situasi saat ini dia lebih memilih meninggalkan tempat tersebut dengan sejuta pertanyaan terhadap wanita yang ia tolong.


"Ada apa dengan kisah gadis ini?"