
"Pah, bagaimana? Apa Tristan mau menikah denganku? Apakah Papa berhasil membujuknya?" Lisa langsung bertanya mengenai hasil tawaran bapaknya mengajak Tristan menikah dengannya.
Dia sampai menggunakan cara ini untuk menjadikan Tristan sebagai incarannya.
"Mending kamu lupakan saja pria itu, dia sudah menikah. Tidak mungkin bagi kita untuk membujuknya menikahi dirimu. Ini salahmu sendiri sudah menolak dia. Lihatlah, sekarang dia meninggalkanmu dan tidak ingin kembali padamu." Pak Cahyo masuk ke dalam rumah dengan tangan tengah berusaha melepaskan dasinya.
Dia lebih baik menyerah daripada nama baiknya hancur dan usahanya terancam bangkrut. Dia tidak ingin Marko melakukan hal yang sangat merugikan dirinya.
"Tapi, Pah. Bukannya Papa ingin pria kaya? Ya, Tristan orangnya. Aku yakin dialah pria kaya." Lisa masih kekeh ingin memperjuangkan Tristan.
Dari Tristan dia bisa mendapatkan segalanya. Perhatian, kasih sayang, materi, pengertian, pokoknya pria itu paket lengkap. Lisa menyesal telah melepaskannya demi pria lain yang ia anggap jauh lebih baik dari Tristan tapi nyatanya seorang baji ngan.
"Papa bilang lupakan pria itu. Dia sudah menikah, Lisa. Kau mau menjadi seorang pelakor? Kau mau keluarga terpandang kita tercoreng oleh tindakan yang kau perbuat? Kau mau menanggung malu atas tindakan yang kau lakukan? Papa tidak mau itu terjadi. Papa tidak ingin ambil jalan ini karena ini jalan menuju kehancuran karir kita sebagai orang terpandang di kota ini."
"Tapi Pah..."
"Tapi apa? Papa tidak lagi mendengar keluhan mu, rengekan mu membujuk Tristan. Bujuk saja pria yang kau pilih setelah menolak Tristan, bujuk saja dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya padamu yang sudah berani memukul mu. Jangan libatkan Tristan dalam masalah yang kau hadapi dengan cara melemparkan kotoran ke wajahnya. Apalagi mencoba menyebarkan berita hoax, atau mencoba menjebak, atau mencoba menuduhnya atas kehamilan mu. Papa tidak akan mengizinkan itu terjadi." Sentak Pak Cahyo memarahi Lisa.
Lisa menunduk merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam atas apa yang telah ia lakukan. Alasan kuat mengapa Lisa menolak Kristen dengan alasan keturunan karena dia memilih pria lain. Namun, lelakinya malah menghianatinya dengan sahabatnya setelah dia menyerahkan segalanya mulai dari materi hingga kesuciannya.
Sang kekasih tidak ingin bertanggung jawab atas jadi yang ia kandung. Itulah sebabnya wajah Lisa babak telur karena mendapatkan pukulan dari bola itu. Ditambah Mamanya menampar keras hingga nampak merah di pipi.
"Lisa harus apa, Pah? Lisa bingung dengan anak ini." Lirihnya terduduk lesu menangisi kesalahannya sendiri.
"Kamu yang bodoh telah terlalu percaya kepada seorang pria yang jelas-jelas hanya memanfaatkan saja. Dengan ini saja kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Lihat, Mama mu sampai terkena serangan jantung akibat ulahmu. Dan Papa mohon jangan lagi menambah malu dengan cara mu yang berusaha menjadikan Tristan kambing hitam. Papa mohon untuk tidak mengusik keluarga Tristan!" pinta Cahyo sangat serius. Ya sudah kepikiran hal apa saja yang akan terjadi ketika mereka mengusik ke tanaman keluarga Delano. Membayangkannya saja membuat dia lemas tidak berdaya apa lagi sampai itu terjadi bisa-bisa dia bisa mati hari itu juga.
"Gugurkan kandungan mu!"
Deg...
Lisa terlonjak kaget. "Gugurkan? Tidak, Pah. Dia tidak berdosa. Dia tidak bersalah, Lisa tidak mau menggugurkannya."
"Hanya itu satu-satunya cara agar keluarga kita tidak mendapatkan malu akibat ulahmu."
"Tapi tidak dengan cara menggugurkannya, Pah. Lisa tidak setuju." Dia pun berdiri meninggalkan Papanya enggan lagi mendengarkan saran kotor itu.
********
Sudah ke sana kemari mencari keberadaan sang istri, Tristan tidak menemukannya hingga saat ini. Ke setiap tempat yang ia tahu, ke temannya Alana yang ia tahu, tapi hasilnya tidak ada.
"Akhh... Al, kamu kemana? Maafkan aku tidak bisa mengontrol kata-kata ku." Tristan menjambak rambutnya prustasi tidak bisa menemukan keberadaan istrinya.
Dia juga memukul-mukul setir mobil saking kesalnya dan marah kepada dirinya sendiri. "Sial, brengsek kau Tristan. Seharusnya kau tanya baik-baik Alana, bukan malah menuduhnya. Akhh... bodoh." Tristan sampai membentur-benturkan keningnya ke stir.
"Kemana lagi ku harus mencari kamu, sayang?" Tristan berpikir kemana biasanya pergi. "Ibu... ya, rumah ibunya."
Tristan pun langsung tancap gas ingin segera mengetahui dan menanyakan Alana pada ibunya.
********
Tok.. tok.. tok..
Tak lama setelah itu, pintu terbuka. Dewi lah yang membuka kannya.
"Tristan..?!"
"Hmmm Alana mana?" tanpa basa-basi lagi Tristan menanyakan keberadaan Alana. Dia tidak ingin berlama-lama di sana.
Dewi mengerutkan keningnya. "Kenapa menanyakan Alana ke sini? Bukankah dia bersamamu?"
Tristan mematung. "Itu artinya Alana tidak kesini. Kemana dia ya, Tuhan?" batin Tristan bingung sambil mengusap kasar wajahnya.
"Kalau gitu makasih, saya permisi dulu." Tristan enggan berbasa-basi lagi. Hal yang ada di benaknya hanya Alana, ingin mencari istrinya.
"Alana kemana?" langkah Tristan terhenti, ia menoleh.
"Ada." Hanya itu jawabannya. Singkat, padat, jelas.
Dewi belum puas atas jawaban menantunya. Tapi, dia tidak lagi bertanya. Rasa canggung hadir diantara keduanya mengingat mereka pernah bersitegang.
Tristan kembali meneruskan pencariannya. Dia kembali menjalankan mobilnya menyusuri setiap jalanan berharap menemukan Alana. Sampai malam pukul 23:00 pun dia tidak berhasil menemukan Alana. Langkah Tristan gontai saat memasuki rumahnya.
"Den, tadi nyonya datang membawa ini untuk Aden." Bi Surti menyerahkan paper bag pada Tristan. Dengan setia Bi Surti menunggu majikannya pulang.
Pria yang baru saja masuk rumah itu mengernyit, dia mengambilnya. "Makasih, Bi." Jawabnya kemudian melangkah masuk menuju kamar.
Tristan melemparkan paper bag itu ke atas kasur. Dia juga menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hatinya terus gelisah tidak menentu mengingat sang istri.
"Al, kamu dimana? Maafkan aku sayang, aku salah." Ya, Tristan mengakui kesalahannya. Dia tidak memiliki pikiran jika sang istri berada di rumah orangtuanya.
Drrrrt... drttt...
Dia mengambil ponsel di saku celananya. "Mama." Lalu mengangkatnya.
"Cepat datang ke rumah mengenakan pakaian yang ada di paper bag sekarang juga!"
Tut...
Belum juga menjawab, panggilan sudah ditutup.
"Ada apa? Kenapa Mama menyuruhku mengenakan pakaian di paper bag?" Tristan mengambil bungkusan itu kemudian mengeluarkan isinya.
"Bagaimana ini? Pasti Mama akan menanyakan Alana jika aku datang sendirian ke dana. Apa yang harus ku katakan pada Mama?" bingung, risau, panik, itulah yang sedang Tristan rasakan saat ini.