
"Kalian pulang juga, sini dulu, Al?" minta Mama Jihan kepada Alana yang baru saja masuk rumah bareng Tristan.
"Mah, aku ke kamar dulu."
"Tan, Nanti kalau kamu sudah membersihkan diri kamu, Papa ingin bicara di ruangan kerja," ujar Papa Marko.
"Iya, Pah." Tristan mengangguk malu meninggalkan Alana bersama orang tuanya.
Alana bingung harus ngapain di antara keluarga atasannya. Dia tidak mengerti kenapa Mama Jihan meminta dirinya tinggal di rumah ini padahal dia bukanlah siapa-siapa.
Diapun duduk di samping Mama Jihan. Meski masih canggung dan malu, namun ia berusaha tenang.
"Sekarang kamu kan tinggal di sini sama tante sama papa Marko. Kamu jangan panggil kami om dan tante, ya. Sekarang panggil papa dan Mama!" ucapan Mama Jihan terdengar begitu tegas berdiri bawa serta penuh perintah.
"Tapi Tante, Alana merasa tidak enak harus tinggal di sini." dia memberanikan diri mengungkapkan apa yang ia rasa.
"Kan ini sudah dibahas tadi pagi, kalau kamu akan tinggal di sini dan tante menganggap kamu sebagai anak tante. Meskipun kamu tidak terlahir dari rahim tante, tapi Tante dan papa Marko akan menerima kamu di sini sebagai anak. Tidak peduli siapa orang tuamu? Tidak peduli dari mana kamu berasal. Bagi tante kamu anak kita yang luar biasa." Mama Jihan kekeh dengan keinginannya untuk menjadikan Alana anak dan tinggal di rumahnya.
Alana menatap silih berganti 2 orang tua yang masih terlihat muda meski usianya sudah menginjak kepala 5. Matanya berkaca-kaca tidak pernah merasakan diinginkan seperti ini tidak pernah merasakan hal sekecil ini.
"Apakah hadiranku di sini tidak akan merepotkan kalian? Apa keadaanku yang cacat ini tidak akan membuat kalian malu? Sedangkan aku tahu jika kalian bukanlah orang biasa, kalian keluarga terpandang."
"Dengarkan kami, kami tidak akan merasa direpotkan ketika kamu tinggal di sini. Dan keadaanmu yang seperti ini tidak akan membuat kami malu karena di mata Tuhan, kita ini sama. Sama-sama tidak sempurna. Jangan hiraukan omongan orang di luaran sana karena kita yang menjalaninya. Tetaplah berpendirian teguh dan tetaplah pada tujuanmu mencari kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Kami tahu apa yang kamu alami selama ini kami tahu semuanya, Alana." Kali ini Marko yang bicara.
Marko sudah mencari tahu siapa Alana yang sebenarnya. Tentunya bukan hal yang sulit bagi seorang Marco Delano mencari identitas seseorang apalagi ada Andrian yang juga membantu dirinya untuk mengetahui orang-orang di sekitar mereka.
Tentunya Marko bukanlah orang yang berdiam diri. Dia akan mencari tahu dulu siapa orang itu sebelum membuat keputusan.
Marco dan Jihan sepakat untuk menjadikan Alana anak angkat dan menyuruhnya tinggal di rumahnya. Mereka merasa kasihan terhadap gadis kurang beruntung itu yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuanya dan selalu diperlakukan semena-mena oleh Kakak dan ibunya.
Alana semakin tidak bisa menahan air matanya. Benarkah mereka mengetahui kisah hidupnya? Rasa sedih kembali menghampirinya hingga Ia tidak mampu menahan desakan butiran cairan bening di pelupuk matanya.
Jihan merangkul Gadis itu, memberikan pelukan hangat terhadapnya. Memberikan kekuatan dan meyakinkan kalau masih ada orang di luaran sana yang menyayangi Alana.
"Jangan menangis, sekarang ada Mama yang akan menjadi Mama kamu. Anggap saja Mama adalah ibu kandung kamu dan papa adalah Papa kandung kamu."
"Tante.."
"Bukankah istriku sudah bilang, jangan panggil tante tapi panggil MAMA!" ujar Marko menegaskan kata Mama."
Alana mengangguk. Dia merasakan pelukan berbeda yang tidak pernah ia dapatkan dari ibunya. "Mama."
Jihan tersenyum dia mengusap air mata di wajah Alana. Hatinya tersayat perih mengetahui kenyataan jika gadis ini diperlakukan tidak baik oleh ibu kandungnya sendiri.
"Kau tidak perlu tahu ini masalah perempuan," jawab Jihan.
"Berarti Papa termasuk perempuan dong, Mah? kan Papa ada di antara kalian berdua," sahut Tristan terkekeh.
"Itu mah beda. Papa kepala keluarga, jadi Papa harus tahu." Marko berdiri dari duduknya, dia menepuk-nepuk pundak Tristan.
"Papa ingin bicara denganmu sekarang juga!" Marko berjalan duluan Tristan mengganggu lalu mengikuti Papanya. Dia penasaran apa yang ingin Papanya ungkapkan.
"Sekarang kamu mandi. Mama sudah menyiapkan luluran khusus untuk kamu dan juga sudah menyiapkan pakaian yang bagus dan cocok untuk kamu. Ayo, Mama bantu." Jihan sungguh memperlakukan Alana secara lembut dia membatu Gadis itu berdiri berjalan menuju kamar yang telah Ia siapkan.
Alana terpesona terhadap kamar yang saat ini akan ia tempati. Terlihat mewah dan juga elegan.
Jihan membantu Alana ke kamar mandi. benar saja di dalam kamar mandi tersebut sudah tersedia beberapa lulur serta air berwarna putih di dalam bathub. Sepertinya dia akan mandi susu untuk merawat kulitnya.
******
Tristan dan Marko tengah duduk saling bersebelahan di kursi yang menghadap jendela memperlihatkan taman belakang rumah.
"Tan, Papa sudah mencari tahu asal usul Alana. Siapa dia dan tentang kehidupannya."
"Apa yang Papa ketahui tentang gadis itu?" Tanya Tristan penasaran.
"Alana seorang gadis yatim, ibunya tidak menerimanya sejak lahir karena terlahir tidak sempurna. Gadis itu juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari ibu kandungnya. Dulu mereka orang kaya tetapi usahanya bangkrut setelah Papanya Alana tiada. Menurut informasi yang Papa dapat, Alana sering disalahkan atas kematian Papanya, dan sering di siksa lahir batinnya." Marko menjelaskan sedetail mungkin apa yang ia ketahui tentang Alana kepada Tristan.. Tanpa di sadari Marko, jika informasi nya tidak seakurat yang mereka dapatkan.
Ada satu rahasia yang hanya di ketahui oleh Ibunya Alana saja.
Tristan menghelakan nafasnya geram kepada kelakuan Ibu dan kakaknya Alana. "Mereka sungguh keterlaluan. Aku baru menemukan seorang ibu kandung yang memperlakukan anak kandungnya melebihi Anak tiri. Tapi anak tiri justru di anak emas kan, benar-benar tidak adil. Setidaknya seorang ibu harus adil kepada anak-anaknya meski salah satu dari mereka Anak tiri. Kalau begini caranya kasihan Alana."
"Maka dari itu, Papa minta sama kamu menjaga Alana. Ini permintaan Papa sebagai seorang orangtua. Meskipun Papa bukan Papa kandung Alana, tapi Papa ikut sakit mendengar cerita kehidupan gadis itu. Papa pernah merasakannya. Rasanya sakit di perlakukan tidak adil oleh Ibu. Bedanya, Papa hanyalah anak tiri sedangkan Alana anak kandung."
"Itulah sebabnya Papa juga menyayangi aku begitu tulus tanpa meminta balasan atas kasih sayang yang kalian berikan meski aku bukan anak kandungan kalian," ucap Tristan terharu teringat kembali jika dirinya juga anak tiri. Lebih tepatnya anak adopsi, tapi Marko dan Jihan memperlakukannya seperti anak kandung.
Marko tersenyum mengampit leher Tristan. "Bagi Papa dan Mama tidak ada yang namanya Anak tiri. Semua anak sama saja. dan Papa harap kamu tidak keberatan kalau Alana kami angkat menjadi anak Papa dan Mama. Kalau perlu jadi menantu sekalian pun Papa setuju."
"Ceritanya Papa mau menjodohkan Tristan sama Alana, nih?"
"Hahahaha kalau kalian berjodoh Papa tidak keberatan."
Tristan menyunggingkan senyum tipisnya. "Sebenarnya Alana tidak buruk dan cantik. Kalau kita pandai merawat nya pasti akan terlihat memukai," tanpa sadar Tristan memuji kecantikan Alana yang tersembunyi di balik wajah kusam serta bekas jerawatnya.
"Kalau memang dia di takdirkan menjadi jodoh pilihan Author atas kehendak Tuhan, Tristan akan menerimanya dan berusaha mencintai gadis itu," lanjut Tristan.