
"Bu, bisa jelaskan maksud dari perkataan pria itu? Kenapa dia bilang kalau aku ini anak tiri bukan anak ibu? Apa yang Ibu sembunyikan selama ini dari ku, Bu?" Ica melontarkan beberapa pertanyaan mengenai siapa dirinya yang sebenarnya.
Dewi terduduk lemas, masih mematung atas perkataan Marko. Iya tersadar apa yang telah ia lakukan kepada anak kandungnya.
"Alana anak kandungku, anak yang aku lahir kan dari rahim ku. Tapi kenapa aku memperlakukannya seperti seorang anak tiri. Sedangkan anak yang tidak ku lahir kan ku perlakukan begitu istimewa," batin Dewi menyadari kesalahannya. Apalagi melihat Alana sampai memukuli kakinya membuat dia tersayat perih.
Alana yang rapuh, Alana yang terluka, Alana yang begitu menginginkan pelukannya. Dewi mengingat apa saja yang pernah ia lakukan kepada Alana. Mulai dari perlakuan, perkataan, semuanya tidak ada yang baik. Dia kembali teringat kata-kata Alana. 'Sayangi aku, Bu. Aku juga anakmu. Aku benci kaki cacat ku, karena ini Ibu tidak sayang padaku.'
Air mata Dewi meluncur deras secara tiba-tiba bersamaan dengan kata menyesal tidak memperlakukan anaknya dengan baik. "Apa yang ku lakukan? Aku begitu menyakiti anakku sendiri," batin Dewi memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Bu, jawab Ica! Apa benar aku ini hanya anak tiri?" pekik Ica mengguncang bahu Dewi menyadarkannya dari keterdiaman atas keterkejutannya.
"Ica.. Kamu.." Dewi mendongak.
"Apa benar aku ini anak tiri?" Ica kembali bertanya menekankan kata anak tiri ingin mengetahui dengan pasti siapa dia sebenarnya. "Jawab, Bu. Aku bertanya siapa aku yang sebenarnya?"
Dewi bingung harus berkata apa. Ia begitu menyayangi Ica tetapi lupa jika ada anak kandungnya yang juga membutuhkan kasih sayangnya.
"Kamu.. kamu bukan anak kandung Ibu." pada akhirnya Dewi memilih jujur atas rahasia yang selama ini ia sembunyikan hingga sampai melupakan kenyataan.
Deg...
Ica merasa lemas, dia melepaskan tangan yang ada di pundak Dewi terduduk terdapat ibunya.
"Ja-jangan bohong, Bu. Aku anak Ibu kan? Aku anak papa. Aku Bukan Anak tiri kan?" Ica menggelengkan kepalanya menolak percaya atas apa yang ia dengar.
"Ibu tidak bohong, Ca. Kamu memang bukan darah daging Ibu. Tapi ibu menyayangimu melebihi anak kandung ibu sendiri."
"Kalau aku anak tiri kenapa Ibu memperlakukan Alana seperti anak tiri? Selama ini Ibu membohongi aku mengatakan jika aku ini anak kandungmu tapi nyatanya aku bukan anak kandungmu, Ibu." Seketika Ica merasa bersalah kepada Alana karena sudah memperlakukannya tidak baik.
Ica begitu memang atas didikan Dewi untuk Jangan mudah ditindas, jangan mudah mengalah meski itu adik kandungnya sendiri. Ica pikir Alana memang adik kandungnya, sehingga dia berani berbuat seperti itu kepada Alana. Namun tidak kepada orang lain.
"Maafkan Ibu Ica, Ibu terlalu senang memiliki anak yang sempurna. Makanya selama ini Ibu menyembunyikan siapa dirimu dan menganggapmu anak Ibu sendiri." Dewi ingin memegang pundak Ica tapi di tepis olehnya.
Ica berderai air mata seakan menyadari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.
"Dengan cara Ibu membohongiku, kau menyakiti dua orang sekaligus. Aku dan Alana. Yang lebih parahnya lagi Ibu sangat-sangat menyakiti anakmu sendiri."
Deg...
Dewi kembali tertegun. Dia juga menyadari kesalahannya jika selama ini perlakuan begitu menyakiti anak kandungnya sendiri.
"Siapa orang tuaku?" tanya Ica ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya.
"Mereka sudah meninggal, tepat di usia kamu 2 tahun."
"Dulu orang tuamu menitipkan kamu kepada ibu. Mereka bilang kalau mereka akan bekerja. Setelah orang tuamu berangkat bekerja, kami mendapatkan berita jika mereka mengalami kecelakaan beruntun dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Dari sana ibu dan suamiku kasihan kepadamu. Tentu ibu juga merasa senang ada anak perempuan terlihat begitu sempurna. Ibu yang malu memiliki anak yang cacat menjadikanmu anak ibu. Hingga Ibu sampai melupakan jika masih ada Alana yang juga membutuhkan perhatian ibu."
"Maafkan Ibu Ica, maafkan Ibu sudah menyembunyikan ini semua darimu. Tapi Ibu melakukan ini karena tidak mau kehilangan kamu Ibu menyayangimu."
Ica diam seribu bahasa. Entah ini keberuntungan atau apa, ia tidak tahu. tapi yang pasti dari Dewi lah dia merasakan kasih sayang seorang ibu. Tetapi Alana yang harus menjadi korbannya.
"Ada angin topan kah hingga kaca rumahmu pecah?" ucap seseorang mengagetkan keduanya.
"Yanto..."
"Wow, ada apa dengan kalian? Kenapa kalian seperti sedang menangis?" rentenir itu masuk ke dalam rumah Dewi sambil memperhatikan pecahan kaca agar tidak ke injak.
"Tidak apa-apa, pasti kau ingin bertemu dengan Ica?"
"Tentu saja, aku datang ke sini untuk menagih syarat kedua yang harus kau penuhi."
"Syarat? Syarat apa?" tanya Ica bingung dan juga penasaran. Dia menatap silih berganti Dewi dan Yanto.
Dewi diam tidak berani menjelaskannya. Yanto mengernyit dia melirik Dewi. "Kau belum membicarakannya dengan Ica?"
"Membicarakan apa?" Ica semakin di buat bingung.
Dewi diam tidak menjawab. Dan pada akhirnya Yanto lah yang berkata, "Kamu harus menikah dengan saya sebagai pelunas hutang-hutang Dewi."
"Apa..!"
**********
Tristan membawa Alana ke kantornya. Bahkan beberapa karyawan memperhatikannya turun dari mobil lalu menggendong seorang wanita.
"Kamu tidak perlu menggendong ku seperti ini, aku bisa berjalan sendiri." Alana menolak saat hendak di gendong. Dia malu menjadi perhatian orang.
"Iya, kamu memang bisa berjalan, tapi apa mungkin kakimu akan kuat jika berjalan ke dalam? Ku tidak menjamin itu. Bukankah kakimu selalu sakit apabila berdiri lama-lama?"
Memang benar, Alana selalu merasakan sakit di kaki bagian kiri saat lama berdiri. Di tambah akibat tadi dia memukuli kakinya sendiri. Salah siapa coba? salah Alana sendiri lah, jadi sakit, kan.
"Tapi aku malu dilihat orang." keluhnya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tristan.
Tristan mendesis di saat nafas Alana menghantam kulit bagian ceruk lehernya. Hasrat itu kembali datang seakan memancing sesuatu yang telah lama Tristan pendam.
"Al..." lirih Tristan pelan sambil berjalan masuk ke dalam menuju ruangannya yang ada di lantai atas.
"Hmmmm."
"Bisa tidak wajahnya jangan menerpa kulit leherku?"
"Aku malu di lihat orang dalam keadaan di gendong seperti ini."
"Tapi aku tidak bisa menahan sesuatu, Al. Ku Mohon jangan seperti ini!" pinta Tristan.
Alana menjauhkan wajahnya dari leher Tristan. Dia mengerutkan alisnya tidak mengerti. "Kenapa?"
"Kamu membangkitkan gairahku, sayang." Bisik Tristan menunduk kemudian mengecup pelan bibir Alana di saat mereka ada di ujung tangga atas.
"Kamu...! Ishh selalu saja menciumku tiba-tiba." Alana memukul pelan dada Tristan memberenggut kesal.
Tristan mendudukkan Alana di sofa secara perlahan. "Habisnya kalau dekat kamu aku tidak bisa menahannya. Besok kita nikah, yuk?"
"Apa?! Nikah?! Besok?!"