My Imperfection

My Imperfection
Masih tidak taubat juga Ica



Tiada hal yang lebih menyakitkan dari sebuah kenyataan jika Alana bukanlah anak kandung dari Papanya. Papa yang begitu tulus menyayanginya, papa yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya ternyata bukanlah ayah kandung dari Alana.


"Kenapa Ibu mempermainkanku seperti ini Tristan? Kenapa dia menyembunyikan kebenaran ini dari ku? Selama bertahun-tahun, ibu menyembunyikannya. Dia juga telah membohongi papaku." Isak tangis Alana dalam dekapan Tristan.


Dia tidak menyangka kalau dirinya bukanlah anak kandung Ramli, papa yang ia yakini Papanya. Ternyata, selama ini mereka semua telah ditipu oleh Dewi. Dia, Yanto, bahkan Papanya.


Tristan juga tidak mengerti kenapa ada orang seperti itu? Menyembunyikan sebuah kebenaran hanya karena harta dunia.


"Jangan terus-terusan menangisi sebuah takdir yang sudah Tuhan gariskan kepada kita, sayang. Ini sudah menjadi jalan takdirmu. Ini sudah menjadi perjalanan hidupmu supaya kamu terus menjadi wanita yang bisa bersabar dan ikhlas dalam menghadapi semua cobaan. Justru aku bersyukur kalau kamu sampai memiliki garis takdir seperti ini."


Alana melepaskan pelukan Tristan, terhenyak kesal pada ucapannya. "Kok kamu bilangnya begitu sih malah bersyukur aku mendapatkan peristiwa seperti ini?"


"Enggak bersyukur bagaimana, dengan kejadian ini aku bisa bertemu dengan wanita yang sangat teramat kuat dalam menghadapi semua ujian. Itu tandanya wanita tersebut hebat bukan. Dan aku bersyukur bisa memilikimu."


"Tapi aku takut.." lirihnya pelan sambil menunduk memainkan jari-jari tangannya


"Takut kenapa hmmm?"


"Aku takut Pak Yanto dan ibu memisahkan kita. Tadi mereka bilang tidak merestui pernikahan kita. Aku takut Tristan."


Sebelum meninggalkan rumah Dewi mereka sempat adu mulut mengenai pernikahan keduanya. Dewi begitu marah mengetahui Alana menikah diam-diam tanpa izin darinya. Yanto juga marah karena bagaimanapun saat Alana menikah ialah yang harus menjadi wali nikahnya.


Yanto sampai bilang akan memisahkan Alana dari Tristan. Mengambil putrinya dan menikahkan anaknya dengan pria yang di pilihkan nya.


Tristan memegangi kedua pipi sang istri. Menghapus air mata, menatap dalam mata indahnya, mengecup mesra penuh perasaan kening Alana.


"Tidak akan ada yang memisahkan kita sekalipun mereka berusaha sekuat tenaga memisahkan kita. Sampai kapanpun kamu dan aku akan terus bersatu." Lalu Tristan membawa Alana dalam dekapan.


"Tapi aku takut. Masa baru nikah udah dipisahkan lagi sih, baru saja pecah perawan udah ditinggalkan lagi, aku tidak mau itu terjadi. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup." balas Alana menginginkan sebuah harapan besar dalam pernikahannya dia tidak ingin gagal dan tidak mau jika pernikahannya dipisahkan oleh orang yang mungkin karena sayang.


"Udah, mending sekarang kita mengulangi hal yang semalam kita lalui. Berlayar di lautan asmara penuh cinta. Menyemplungkan kembali buayanya di rawa-rawa." Mendengar kata perawan membuat otak Tristan kembali travelling ke peristiwa menyenangkan yang ia dapatkan semalam dari istrinya.


"Masih perih," rengeknya manja sambil mengeratkan pelukannya. Namun Tristan di buat merana oleh suara manja Alana yang membuatnya semakin gigih dalam melakukan lagi hal panas penuh gairah.


Pria itu justru membawa tubuh istrinya terlentang ke atas kasur. Kemudian menghukumnya menatap Alana penuh damba.


"Masih perih ya?" Alana mengangguk polos.


"Mau tahu caranya supaya tidak perih lagi?" dia kembali mengangguk sambil saling memandang.


"Caranya bagaimana? Tapi kita tidak harus mengulang yang semalam lagi kan? Tapi..." Alana menunduk memalingkan tatapannya menggigit bibirnya.


"Aku.. hmmm ingin lagi merasakannya." Jawab Alana begitu jujur. "Rasanya perih, tapi juga ada enaknya. Rasanya sulit di rasakan," lanjutnya menatap polos Tristan.


Pria yang sedang menghukumnya begitu tertawa lepas atas kejujuran yang Alana ungkapkan. "Baiklah, kalau begitu kita akan mengulanginya lagi sayang," balas Tristan menyatukan kedua benda kenyal tersebut.


Keduanya kembali terhanyut dalam gelora asmara penuh cinta. dalam setiap sentuhan yang Kristen lakukan terhadap istrinya, Terbesit sebuah keinginan besar berharap jika benihnya mampu menumbuhkan seorang bayi di dalam perut istrinya. Meskipun dia sudah memiliki putra, tapi dia juga menginginkan anak lagi.


********


"Kenapa mereka menikah tampa sepertujuan ku? Alana benar-benar anak kurang ajar, dia sampai tidak melibatkan diriku dalam pesta pernikahannya. apalagi ini pernikahan anak seorang pengusaha fashion ternama di kota ini. Sungguh, aku tidak terima itu. Setidaknya jika aku dilibatkan pasti aku sudah kecipratan uang orang kaya itu."


Dewi uring-uringan sendiri. Kesal pada Alana menyembunyikan pernikahannya. Yang ada di otaknya hanyalah uang uang dan uang. Dia sampai tidak memperdulikan apapun lagi selain uang.


Apalagi saat ini Alana menikah dengan orang kaya dan itu pasti tentunya akan menguntungkan Dewi juga. Cuman saking gengsinya mengakui pernikahan Alana, dia sampai tidak merestui hubungan keduanya.


"Bu... Ibu..." Ica memangil-manggil dari luar.


"Ada apa sih, teriak-teriak? Kamu pikir ini hutan berteriak terus." Sergah Dewi kesal hidupnya begini terus.


"Apa Alana sudah pulang?" tanya Ica membuat Dewi mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu cari Alana? Mau ngapain?" tanya Dewi ketus.


"Aku mau membuat perhitungan sama anak ibu itu. Berani-beraninya dia mendekati calon suamiku. Seharusnya dia itu sadar diri kalau orang pincang sepertinya tidak pantas bersanding dengan pria tampan dan kaya seperti Tristan. Seharusnya akulah yang menjadi calon pendampingnya."


Dewi melebarkan matanya kaget atas ucapan Ica. "Meskipun Alana tidak sempurna dirimu dia tetap anak ibu. Tidak sepantasnya kau terus-terusan mengatai dia. Dan Ibu tidak setuju Kalau kau berusaha mengambil Tristan dari Alana."


"Kenapa Ibu jadi membela dia? Bukankah ibu yang bilang kalau akulah anak ibu dan aku harus merebut apapun yang Alana miliki. Ibu bilang aku tidak boleh kalah darinya."


"Ica...! Kau.. Ibu tidak setuju. Jangan coba-coba kamu merusak lagi kebahagiaan Alana. Jangan coba-coba kamu mengusik lagi kehidupan Alana. Sudah cukup ibu mengajarkanmu hal yang tidak benar. sudah cukup Apa yang kamu lakukan kepada Alana stop sampai di sini!" tentu saja Dewi tidak akan lagi membuat Alana nya menderita. Dia sadar akan hal itu meski dirinya tidak mengakui di depan putrinya sendiri.


"Halahh... persetan dengan itu. Aku tidak peduli. Aku kesini mencari dia untuk memperingatinya. Bilang padanya kalau sampai Alana tidak menjauhi Tristan aku akan menyebarkan foto miliknya," ancam Ica.


"Foto..! Foto apa yang kamu maksud?" Dewi semakin di buat merasa bersalah pada Alana. Kini Ica, anak yang ia besarkan justru tumbuh menjadi wanita pembangkang, kasar, selalu menginginkan milik Alana.


Ica menyeringai. Diapun menunjukannya. Foto yang pernah ia tunjukan pada Jihan saat di toko baju. Ica akan menggunakan Foto tersebut untuk mengancam Alana. Ica tahu jika wanita itu pasti akan menurutinya hanya dengan ancaman bohongan saja.


Dewi terkejut.