
Sedari bergabung di meja makan, Alana terus menunduk menyembunyikan rasa malu yang teramat dalam ketika ketahuan saling bertukar saliva di depan rumah.
Tristan sendiri begitu cuek seakan melupakan kejadian semalam. Dia terlihat biasa saja meski dalam hati merutuk kebodohannya yang tidak bisa menolak untuk tidak menyentuh bibir sang istri. Dia tentu juga merasa malu karena mamanya mengetahui betapa puasnya dia menerkam Alana.
"Enak ya yang sudah memiliki ayang, di berbagai tempat pun langsung saja main sosor sembarangan. Sampai melupakan ada orang lain di sana," sindir Mama Jihan sambil menuangkan nasi goreng ke atas piring.
Dalam hatinya begitu senang melihat adegan mesra nan romantis di depan matanya. Sedari awal hingga mereka ber pangutan Mama Jihan memperhatikannya.
"Jelaskan enak dong, Mah. Di manapun, kapanpun, bebas melakukannya. Apalagi sudah ada cap label halal dari negara dan agama, itu pasti jauh lebih nikmat dari segala-gala nya," balas Tristan seakan mengerti ke mana arah pembicaraan mamanya.
Sedangkan Alana semakin menunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Ia teramat malu ketahuan mesum duluan.
"Tapi harus lihat situasi dan kondisi juga dong. Masa ada orang sampai tidak kelihatan? Tubuh Mama gede loh, bukan seuprit," balas Jihan menyerahkan sepiring nasi goreng ke depan suaminya.
"Ya, salah Mama sendiri. Ngapain memperhatikan adegan romantis sinetron nyata di depan mata? Bukannya pergi malah menonton. Pakai acara ADUH GUSTIIII MAMA ENGGAK LIHAT. Eh, malah tahu sedari awal. Kan sue."
"Kan kapan lagi bisa nonton adegan romantis kisah nyata di depan mata? Makanya Mama tonton saja dari awal sampai akhir. Eh tak tahunya si pemeran pria malah kebablasan sampai meraba-raba. Kan mata Mama ternoda."
"Ck, bilang saja Mama iri."
"Kalian ngomongin apa sih? Adegan romantis apa? Kisah nyata apa? Apa Papa ketinggalan Info penting? Bagi cerita dong? Siapa tahu film ini sangat bagus dan Papa dan Mama bisa nonton secara berduaan." Papa Marko tidak mengerti ke mana arah pembicaraan keduanya. Namun, jiwa keponya begitu menuntut ingin mengetahui cerita Apa yang dimaksud Jihan.
"Kepo..." jawab Jihan dan Tristan bersamaan. Ibu dan anak itu begitu kompak tertawa menertawakan kekonyolan keduanya.
"Dih... aneh." Gumam Marko menggelengkan kepala.
************
Di sebuah ruangan yang cukup luas, ada sebuah meja panjang yang sudah di tata sedemikian rupa.
Puluhan mikrofon dan alat perekam lainnya sudah tergeletak dan tersusun rapi di atas meja tepat berada di tengah-tengah.
Puluhan wartawan dari berbagai media pun sudah berkumpul dan sudah siap mengambil gambar maupun rekaman dari konferensi pers ini.
Mereka semua nampak sudah tidak sabar ingin melihat dan bertanya mengenai sebuah berita yang sedang beredar.
Ini adalah berita menggegerkan datang dari kalangan biasa namun mampu menarik perhatian semua orang.
Karena rasa penasaran dan rasa tak sabar membuat ruangan tersebut terdengar gaduh dan riuh. Hingga pada saatnya ruangan tersebut terasa hening saat kemunculan dua orang memakai seragam oranye bertuliskan tahanan.
Para wartawan bertanya-tanya siapa kedua orang itu? Dan kenapa sampai bisa di tahan? Karena yang mereka tahu kedua orang itu tidaklah terlalu terkenal. Tapi kasusnya cukup menggegerkan awak media karena hampir seluruh stasiun televisi harus meliput kejadian ini.
Aneh bukan? Seberapa pening orang yang memenjarakannya? Siapakah di balik peristiwa ini yang kedua tahanan itu usik? Begitulah pemikiran mereka semuanya.
Apalagi Ica, dia nampak sembab dengan wajah kacau serta rambut acak-acakan. Penampilan yang selalu terawat kini terlihat menyedihkan.
Pertama yang di lakukan adalah pembukaan yang di ucapkan pihak polisi. Kemudian di susul oleh El dan Ica.
"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Alana Rahmadianti karena sudah menyebarkan berita hoax di media sosial. Apa yang tersebar beberapa hari ini merupakan foto editan. Dan saya berkata sejujur-jujurnya jika wanita yang ada di gambar tersebut bukanlah Alana Rahmadianti," ucap Ica menunduk sendu tidak menyangka berakhir di dalam jeruji besi.
Kilat cahaya kamera, terus menerpa mereka. Lalu pihak polisi kembali bersuara.
"Jerat Hukum Pencemaran Nama Baik di Media Sosial. Ancaman hukum pencemaran nama baik di media sosial, pelaku yang melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU 19/2016 yang berbunyi:
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp750 juta.
Kemudian pelaku yang melanggar Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA, diancam hukuman dalam Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016, yakni:
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar."
************
Dewi memperhatikan berita ramai mengenai Ica. Dia terduduk lesu putri yang di besarkannya kini mendekam di penjara.
Yanto dan Dimas pun tidak percaya kalau apa yang di lakukan Ica menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"Kira-kira siapa yang sudah melaporkan Ica?" tanya Dimas penasaran sebab dirinya belum bertindak sejauh ini.
Yanto terdiam berpikir, "Ini pasti ada hubungannya dengan keluarga Delano. Syukurlah, setidaknya anakku berada di dalam lingkungan yang tepat," batin Yanto sedikit lega ada orang yang mau menyangi putrinya.
"Siapa pun dia, ini sangat membantu Alana. Setidaknya nama baik Alana kembali bersih."
Lain halnya dengan Alana yang tengah syok mengetahui berita di media televisi. "Tristan itu Ica!"
"Iya, dia sudah di tangkap dan dia juga harus membersihkan nama baik mu di depan semua orang agar mereka tahu kalau orang yang ada di gambar setiap media sosial yang viral bukanlah kamu."
Alana menengok ke samping. "Tapi ini sangat berlebihan," Alana merasa iba dan kasihan pada Ica.
Tristan pun menoleh. "Tidak ada yang berlebihan bagi mereka yang berbuat kriminal. Ica harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah ia lakukan. Mungkin dengan cara ini dia bisa mengerti dan bisa bertaubat untuk tidak melakukan hal tanpa berpikir dulu. Aku lakukan ini semua deki dirimu."
Alana terharu dan berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Tristan merasa beruntung mendapatkan suami dan keluarga yang mampu melindunginya.
"Makasih, Tristan. Aku sayang kamu."